
"Bangun wanita bodoh... Aku mohon bangunlah." Bastian masih terus berbicara sendirian sambil menggenggam kedua tangannya pada tangan kanan Keren.
"Kamu siapa..?" Mami Keren bertanya pada Bastian.
"Pergiii..!" Bastian menunjuk dan menatap tajam kearah mami Keren.
Apa yang dilakukan oleh Bastian itu membuat mami Keren menjadi sedikit ngeri.
"mayor Bastian mereka adalah kedua orang tua nona Keren." Andre memberi tahu pada Bastian siapa orang yang sedang dia tunjuk.
"Orang tua?!" Bastian terlihat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Andre.
"Ini adalah tuan Krisyanto Kuncoro papi non Keren." Andre melirik kearah papi Keren.
"Kenapa mereka baru datang sekarang?" Bastian masih belum begitu percaya mendengar apa yang Andre katakan.
"Sebelumnya mereka sedang berada di itali, sedang liburan. Saya yang menelpon orang tua non Keren."
"Jadi kamu sebelumnya sudah kenal sama Keren?" Bastian masih terlihat bingung.
"Andre sudah seperti anak sendiri bagi kami, tentu saja Andre sudah sangat dekat dengan putri kami. Mereka sudah seperti saudara kandung." Papi Keren memberi keterangan pada Bastian.
Jadi selama ini dia sudah punya hubungan yang sangat dekat dengan keluarga wanita bodoh ini, tapi kenapa dia bersikap seolah-olah tidak saling kenal? Bastian memandang heran kearah Andre.
"Keluarga tuan Krisyanto sudah berjasa besar pada saya, kerena mereka makanya saya bisa berada dikepolisian."
"Jangan terus membahas hal itu Dre, om tidak suka."
"Iya tuan." Andre mengangguk hormat pada papi Keren.
Papi Keren memang dari dulu tidak suka kalau Andre membahas apa yang sudah mereka pernah lakukan pada Andre. Mereka menolong Andre murni kerena mereka benar-benar telah menganggap Andre seperti anak mereka sendiri.
Beda halnya dengan Andre, walaupun Andre tahu Krisyanto dan istrinya telah menganggap dia seperti anak sendiri, tetap saja Andre tidak berani bersikap seperti seorang anak pada keluarga Krisyanto. Makanya Andre selalu memanggil tuan pada Krisyanto.
"Basss... Kamu harus tetap hidup, kerena masih banyak yang mengharapkan kamu tetap hidup." Keren terdengar kembali seperti mengigau.
"Keren buka mata kamu aku ada didekat kamu." Bastian semakin kuat menggenggam tangan Keren.
"Bas aku rela kamu bersama Aisyah, asal kamu gak mati."
"Kerennn... Aku gak kenapa-kenapa." Bastian berkata dengan wajah sedih. "Kamu lihat aku baik-baik aja." Kali ini Bastian tidak kuat lagi menahan air matanya untuk tidak menetes. Sebenarnya sejak dari tadi Bastian menahan agar dia tidak menangis dihadapan Keren.
Melihat apa yang terjadi antara Keren dan Bastian kedua orang tua Keren menjadi sangat terharu. Mami Keren pun tanpa sadar ikut meneteskan air matanya.
Mayor Bastian kau laki-laki yang sangat beruntung, begitu banyak wanita yang mencintai dan siap mengorban nyawa mereka untukmu, meskipun wanita-wanita itu belum mengenalmu begitu jauh. Andre menatap nanar kearah Bastian.
"Nak bangun mami sama papi sekarang sudah ada disini." Mami Keren membelai kepala putrinya dengan lembut.
"Bastian." Keren menggenggam tangan maminya dengan erat. Keren mengira tangan yang membelai kepalanya adalah Bastian.
"Bangun Ker ini mami." Mami Keren berkata sambil menangis.
Keren secara perlahan membuka matanya dengan pelan-pelan. Tangan Keren masih menggenggam tangan maminya.
"Ker ini mami nak."
"Mamiiii..!" Keren langsung memeluk maminya dengan erat.
"Alhamdullilah kamu sudah sadar nak."
"Bastian dimana mi?" Keren belum sadar kalau Bastian duduk disamping dia.
__ADS_1
"Dia maksud kamu?" Mami Keren melihat kearah Bastian.
Keren mengikuti arah pandangan maminya.
"Bas... Bastiannn..!" Keren melepas pelukan dia kemaminya lalu langsung memeluk Bastian.
"Aku baik-baik aja." Bastian berkata pelan ditelinga Keren.
"Aku rela kamu sama Aisyah Bas, asal kamu masih tetap hidup." Keren tiba-tiba menangis.
"Terimah kasih kamu masih tetap hidup." Bastian balas memeluk Keren dengan erat.
Bastian sangat lega Keren telah siuman. Bastian tadinya sangat khawatir kalau terjadi apa-apa dengan Keren, kerena sampai sekarang Bastian masih trauma dengan kematian wanita bernama Anita yang dulu pernah menjadi pacarnya. Sampai sekarangpun Bastian masih berpikir kalau kematian Anita penyebabnya adalah dia.
"Bas aku sayang sama kamu." Keren masih belum berhenti menangis.
"Iya aku tau." Bastian menghapus air mata Keren menggunakan tangannya.
"Tapi aku tau kamu sangat mencintai Aisyah Bas." Keren terlihat semakin sedih.
"Kamu tau kan Aisyah sedang mengandung anak aku."
"Iya itulah yang membuat kalian tidak bisa terpisah lagi."
"Aku akan selalu menjadi kakak yang baik buat kamu." Bastian mencoba tersenyum untuk menghibur Keren.
"Aku sudah punya seorang kakak Bas."
"Maksud kamu dia." Bastian melirik kearah Andre.
Keren melihat kearah lirikan Bastian.
Keren seperti baru menyadari kalau didalam ruangan tempat dia sedang dirawat telah hadir Andre dan papinya.
"Iya ini papi nak." krisyanto langsung berjalan mendekat kearah Keren.
"Papiii..." Keren langsung memeluk papinya.
"Ingat nak kita selalu kalah dalam segala hal kalau bersaing dengan keluarga Adiguna Cokrominoto."
"Keren sangat kesal kerena hal itu pi." Keren menjadi menangis lagi.
"Aisyah yang kalian maksud tadi anak Adiguna Cokrominotokan?" Krisyanto bertanya pada putrinya ingin memastikan kalau Aisyah yang disebut Keren tadi beberapa kali memang Aisyah anak dari Adiguna Cokrominoto.
"Iya pi anak manja itu selalu bikin Keren kesal."
Bastian menjadi sangat penasaran apa yang membuat Keluarga Krisyanto sangat membenci keluarga Adiguna Cokrominoto, tapi tidak mungkin kalau Bastian menanyakam perihal itu, Bastian merasa tidak pantas menanyakan sesuatu hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan dia.
"Mungkin ini sudah takdir kita nak, kita harus selalu kalah dari keluarga Adiguna Cokrominoto." Mami Keren membelai kepala Keren agar putrinya itu tidak terlalu sedih.
"Mereka sudah terlalu arogan mi, mereka hampir merampas semuanya dari kita. Om macan salah satu orang kepercayaan papi juga mereka ambil." Keren semakin terlihat kesal.
"Mungkin itu juga salah dari kita, kita tidak melakukan pembelaan secara hukum waktu dia dipenjara, jadi wajar kalau dia sakit hati sama kita."
"Kalau keluarga Adiguna Cokrominoto tidak mencuci otak om macan, Keren yakin om macan tidak akan menghianati kita mi."
"Dia tidak berhianat, dia pergi kerena dia merasa telah tidak dibutuhkan lagi." Mami Keren tidak mau keluarga mereka terus-terusan membenci keluarga Adiguna Cokrominoto.
"Orang seperti Harimau Kumbang selalu dibutuhkan banyak orang mi." Kali ini Krisyanto yang menjawab perkataan istrinya.
Harimau Kumbang? Apa Harimau Kumbang yang mereka maksud orang yang sama dengan Harimau Kumbang yang menjadi salah satu orang kepercayaan Adiguna Cokrominoto Group? Bastian semakin penasaran.
__ADS_1
"Iya mi om macan dulu selalu setia sama keluarga kita, tapi sejak kenal Keluarga Adiguna Cokrominoto om macan menghianati kita."
Ternyata nona Keren masih memanggil Harimau Kumbang dengan om macan. Andre jadi senyum-senyum sendiri. "Itukan panggilan nona Keren lima tahun yang lalu buat Harimau Kumbang. Andre tahu kalau Keren belum bisa melupakan begitu saja Harimau Kumbang.
Andre tahu sebelum Harimau Kumbang menjadi orang kepercayaan Adiguna Cokrominoto sebelumnya Harimau Kumbang adalah pengikut setia dari keluarga Krisyanto.
"Sudahlah mungkin Harimau Kumbang sudah bosan melayani keluarga kita." Mami Keren masih berusaha menghilangkan kekesalan suami dan anaknya.
"Mi papi tau pasti orang seperti apa Harimau Kumbang. Harimau Kumbang bukan orang yang memiliki jiwa penghianat. Makanya Papi heran apa yang menyebabkan Harimau Kumbang sampai memohon pada keluarga Adiguna Cokrominoto agar diterimah dalam Adiguna Cokrominoto Group." Krisyanto heran sekaligus kesal.
"Kerena saya merasa tidak pantas lagi berada didalam keluarga tuan." Tiba-tiba ada suara seorang laki-laki menjawab perkataan Krisyanto.
"Harimau Kumbang?" Krisyanto berkata secara bersamaan dengan istrinya.
"Om macannn..." Keren terlihat sangat senang melihat kehadiran Macan Kumbang.
Sejak kapan dia berada disini? Andre memandang heran kearah Harimau Kumbang.
Ternyata benar dia. Bastian juga melihat kearah Harimau Kumbang.
"Syukurlah nona Keren sudah siuman." Harimau Kumbang terlihat senang Keren telah sadar.
"Om macan Keren senang om macan masih peduli sama Keren." Keren tersenyum ceria pada Harimau Kumbang.
"Om macan tidak akan pernah melupakan kebaikan keluarga nona Keren pada om macan." Harimau Kumbang berkata sambil meneteskan air matanya.
"Tapi kenapa om macan menghianati kita om?" Keren juga ikut merasa sedih.
"Om macan tidak pernah menghianati keluarga non Keren." Harimai Kumbang masih terlihat sedih.
Bastian sadar apa yang membuat Keren memanggil Harimau Kumbang dengan panggilan om macan. Itu kerena nama depannya Karimau Kumbang, kata lain dari harimau adalah macan. Jadi wajar kalau Keren Memanggil Harimau Kumbang om macan.
"Tapi om macan sekarang pergi kekeluarga Adiguna Cokrominoto, om macankan tau papi pernah sakit dan dirawat beberapa bulan gara-gara Adiguna Cokrominoto."
"Nak papi kamu sakit tidak ada hubungannya dengan Adiguna Cokrominoto." Mami Keren tidak mau Keren Terus-terusan menyalahkan keluarga Adiguna Cokrominoto.
"Tapi nyatanya papi sakit gara-gara kalah tender dengan Adiguna Cokrominoto Group mi."
"Nak saat itu kamu masih terlalu kecil, jadi kamu belum terlalu paham apa yang sebenarnya terjadi."
"Mami kok belain keluarga musuh kita miii..!" Nada bicara Keren mulai meninggi.
"Kita tidak pernah bermusuhan dengan keluarga Adiguna Cokrominoto nak." Istri Krisyanto tidak mau putrinya terus membenci keluarga Adiguna Cokrominoto.
"Tapi mereka terus merampas apa yang seharusnya menjadi milik kita mi." Keren masih terlihat kesal.
"Tidak ada yang mereka ambil dari kita."
"Ini salah satunya om macam mereka ambil dari keluarga kita, dia juga mulai membela keluarga Adiguna Cokrominoto." Keren menunjuk kearah Andre.
"Non salah paham." Andre tidak enak mendengar apa yang dikatakan oleh Keren barusan.
"Mami tau persis Andre, jadi mami yakin kamu salah nak." Istri Krisyanto masih bicara dengan lembut pada putrinya.
"Nyonya benar non, tidak ada yang menghianati keluarga non."
"Tapi faktanya sekarang om macan jadi orang kepercayaan Adiguna Cokrominoto Group."
"Om pergi dari keluarga non Keren, kerena om macan merasa malu telah gagal menjalankan tugas dari papi non Keren."
Krisyanto dan istrinya langsung melihat kearah Harimau Kumbang, mereka tidak menyangka kalau penyebab Harimau Kumbang pergi dari keluarga dia kerena rasa malu, bukan kerena sakit hati yang selama ini mereka pikirkan.
__ADS_1