DERITA NONA MUDA

DERITA NONA MUDA
SEKALI LAGI SAYANG


__ADS_3

Bastian bersama istrinya menemui kedua orang tua Aisyah diruang keluarga.


"Assalamualaikum."


Bastian dan istrinya mengucap salam secara bersamaan.


"Waalaikumussalam." Adiguna Cokrominoto menjawab salam anak dan menantunya.


"Waalaikumussalam." Nyonya Adiguna Cokrominoto langsung menoleh kearah pintu.


"Umiii..." Aisyah memeluk uminya dengan manja setelah mencium punggung tangan uminya.


"Bi..." Bastian langsung mencium punggung tangan Adiguna Cokrominoto.


"Ihhh... Gak malu sama suaminya." Nyonya Adiguna Cokrominoto mencubit hidung putrinya. "Masak udah jadi istri orang masih manja gini."


"Mi Aisyah mau ngomong susuatu yang penting."


"Hemmms... Umi sudah curiga dari awal, klo putri umi jadi manja gini, pasti ada maunya."


"Mi Aisyah bosan dirumah terus." Aisyah masih memeluk uminya dengan manja.


"Sudah jangan terlalu lama basa-basi, katakan apa yang kalian inginkan." Adiguna Cokrominoto melihat kearah wajah putrinya.


"Mi klo Aisyah pergi keluar kota boleh gak?" Aisyah menatap wajah uminya dengan pandangan memelas.


Istri Adiguna Cokrominoto terdiam beberapa saat, dia coba menerka apa yang sebenarnya di inginkan oleh putrinya.


"Gak boleh." Nyonya Adiguna Cokrominoto menggelengkan kepalanya.


"Gak boleh..?!" Wajah Aisyah terlihat sedih.


Bastian langsung kaget mendengar jawaban mertuanya itu.


"Boleh kok sayang. Umi cuma bercanda." Istri Adiguna Cokrominoto menekan-nekan hidung putrinya dengan pelan.


Nyonya Adiguna Cokrominoto dari dulu memang suka menekan-nekan hidung mancung putrinya, terutama ketika putrinya itu sedang bertingkah manja pada dia.


Hidung Aisyah biasanya akan terlihat memerah kalau terus-terusan ditekan oleh uminya.


Bagi nyonya Adiguna Cokrominoto ketika hidung putrinya itu sudah mulai memerah, putrinya itu akan terlihat lebih cantik.


"Sakit mi..." Aisyah menepis tangan jahil uminya yang terus-terus menekan hidungnya.


"Tuh kan kamu lebih cantik sayang." Nyonya Adiguna Cokrominoto tersenyum bahagia, melihat hidung putrinya mulai memerah.


"Sebenarnya kalian mau bulan madu kemana?" Adiguna Cokrominoto sedikit banyak sudah bisa membaca mau kemana arah pembicaraan putrinya itu.


"Bi... Boleh gak klo Aisyah kesumatra?" Aisyah lagi-lagi memasang wahah memelas.


"Kamu mau kerumah mertua kamu?" Adiguna Cokrominoto bertanya pada putrinya.


Aisyah hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan abinya itu.


Adiguna Cokrominoto terdiam beberapa saat.


Keadaan tiba-tiba menjadi hening. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Kapan..?" Adiguna Cokrominoto bertanya dengan pelan, memecah kesunyian.

__ADS_1


"Besok bi." Aisyah menjawab singkat.


"Kok dadakan nak..?!" Nyonya Adiguna Cokrominoto seperti terdengar berat untuk memberi izin putrinya itu, untuk berangkat kesumatra.


"Ada sesuatu yang harus suami Aisyah kerjakan mi."


"Berapa lama kalian disana?" Umi Aisyah mulai terlihat sedih.


"Umi jangan sedih." Aisyah langsung memeluk umi nya.


"Nakkk..! Umi sudah terbiasa bertahun-tahun melihat kamu berada dirumah ini. Jadi umi bingung, kalau tidak bisa lagi melihat putri umi ada dirumah ini."


"Umi jangan lupa, seorang kalau sudah menikah yang menjadi prioritasnya adalah pasangannya, bukan lagi kedua orang tuanya." Adiguna Cokrominoto mengingatkan istrinya.


"Umi ingat bi." Umi Aisyah menoleh arah suaminya dengan pandangan sedih.


"Nak kamu berkewajiban mematuhi suamimu, kerena suamimu, kamu yang memilihnya sendiri, jadi turuti semua permintaan suamimu, dari sesuatu yang kamu suka sampai yang tidak kamu suka." Adiguna Cokrominoto memberi nasehat pada putrinya.


"Ya bi." Aisyah menganggukan kepalanya.


"Dan kamu juga nak harus tau, bahwa seorang suami itu tidak akan bisa masuk surga, kalau dia tidak bisa membahagiakan dan memuliakan istrinya." Adiguna Cokrominoto juga memberi wejangan pada menantunya.


"Ya bi." Bastian menjawab singkat.


"Tapi kalian berdua harus benar-benar tepat menempati apa yang abi katakan tadi, kerena sekarang banyak orang yang mencari celah untuk kepentingan pribadi dari kebenaran-kebenaran yang seperti itu. Abi sebutkan salah satunya contohnya, seorang suami yang dengan egoisnya berkata pada istrinya bahwa seorang laki-laki itu diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu orang. Itu benar mereka tidak salah, agama tidak melarang seorang suami memiliki istri lebih dari satu orang, tapi mereka lupa bahwa seorang suami itu tidak akan bisa masuk surga kalau dia tidak mampu membahagiakan dan memuliakan istrinya. Boleh memiliki istri lebih dari satu, tapi harus ada keiklasan dari istri pertamanya, dan jangam lupa juga setelah dia memiliki istri lebih dari satu, dia berkewajiban membahagiankan kedua istrinya itu. Kalau tidak mampu membuat kedua istrinya bahagia, jangan harap dia bisa mencium aroma surga, walaupun dia taat dalam beragama, kerena sholat itu tidak menjamin seorang masuk surga, harus ada faktor-faktor lain yang menunjang sholat kita, agar kita bisa diterimah disurga." Adiguna Cokrominoto terdengar seperti sedang memberi ceramah pada menantunya.


"Ya bi Bastian paham."


"Abi harap kalian bukan hanya sekedar paham, tapi harus selalu ingat. Percuma paham kalau kalian lupa."


"Ya bi." Lagi-lagi Bastian hanya bisa menjawab singkat.


"Semoga Aisyah dan suami Aisyah selalu ingat dengan apa yang tadi abi katakan." Aisyah melirik kearah suaminya.


"Biar umi panggil bi ina untuk membantu mempersiapkan barang-barang kalian."


"Gak usah mi, Aisyah sendiri bisa."


"Yakin gak mau dibantu.?" Umi Aisyah bertanya sekali lagi.


"Gak mi. Ya udah Aisyah mau beresin barang-barang Aisyah mi."


Sesampainya dikamar.


Aisyah langsung membuka lemari untuk memilih pakaian yang akan dia bawah nanti.


"Sayang kamu dengar gak kata abi tadi." Bastian tiba-tiba memeluk istrinya dari belakang.


"Sayang kamu mulai lagi."


"Abi tadi bilang istri berkewajiban mematuhi permintaan suaminya, dari yang dia suka sampai yang tidak dia suka." Bastian mulai menggigit pelan punggung dan bahu istrinya.


"Geli sayang."


"Tapi suka kan..!" Tangan Bastian mulai bergerak liar didalam baju istrinya.


"Sayang kita harus beresin barang-barang dulu." Aisyah mencoba menahan gerakan liar tangan suaminya.


"Sayang kamu pasti sudah merasakannya, dia sudah mulai mengeras." Bastian berbisik ditelinga istrinya.

__ADS_1


"Ihhh..! Kamu jorok sayang." Aisyah berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.


Tapi Bastian malah semakin kuat memeluk tubuh istrinya.


"Sayang aku mandi dulu ya." Aisyah mencari alasan agar terlepas dari suaminya.


"Kamu tetap cantik sayang walaupun belum mandi." Bastian membalikan tubuh istrinya agar menghadap kearah dia.


Aisyah memandang wajah suaminya sambil menahan debaran jantungnya yang semakin tidak teratur. Tarikan napas suaminya dapat Aisyah rasakan, kerena wajah mereka sudah berada sangat dekat.


Aisyah hanya bisa memejamkan mata, saat bibir suaminya mulai mendarat dibibirnya. Jiwa Aisyah seakan terbang, saat lidah suaminya mulai melakukan aksi-aksi nakalnya.


Secara perlahan Bastian merebahkan istrinya diatas kasur. Tangan Bastian mulai melepaskan satu persatu pakaian yang melekat pada istrinya.


"Lakukan dengan perlahan sayang." Aisyah berbisik pelan ditelinga suaminya dalam keadaan mata terpejam.


"Buka mata kamu sayang, lihat apa yang akan suami kamu lakukan." Napas Bastian semakin mulai tidak beraturan.


Aisyah hanya mengelengkan kepalanya dengan pelan, mendengar apa yang suaminya katakan. Mata Aisyah masih dalam keadaan terpejam.


Pagi jam 07:30


Bastian terbangun kerena ponselnya terus-terusan berbunyi.


Dengan malas-malasan Bastian melihat kelayar ponselnya.


"Adik sialan." Bastian menggerutu setelah melihat panggilan telpon dari adiknya.


"Ya ada apa..?!" Bastian langsung bertanya dengan kesal.


"Aku sama Serly udah nunggu dari tadi." Nada bicara Abimayu juga terdengar sedang kesal.


"Yaaa..! Sebentar lagi kami sampai."


"Kakak jangan bohong, pasti kakak belum bangun."


"Kamu stres ya..?! Mana ada orang tidur bisa ngomong. Ini kami sekarang udah ada digarasi, siap-siap mau berangkat." Bastian berbohong pada adiknya.


"Sayang siapa?" Aisyah baru keluar dari kamar mandi.


Bastian menempelkan jari telunjuk dibibirnya, untuk memberi tanda agar istrinya diam.


"Ya udah tunggu aja, bentar lagi kami sampai." Bastian langsung mematikan telpon dari adiknya.


Bastian turun dari kasur berjalan mendekat kearah istrinya.


"Jangan macam-macam, kita sebentar lagi mau berangkat." Aisyah melotot tajam pada suaminya.


Bastian tidak memperdulikan tatapan tajam istrinya itu, Bastian malah merangkul tubuh istrinya.


"Sekali lagi sayang." Bastian berbisik ditelinga istrinya.


"Gak mau."


"Dosa kalau menolak."


"Bodohhh..." Aisyah tidak memperdulikan ucapan suaminya.


"Mau dipaksa atau melakukannya secara sukarela." Seperti biasa tangan Bastian mulai melakukan aksi-aksi yang membuat istrinya kewalahan.

__ADS_1


__ADS_2