
"Nak Bas, maaf kalau pertanyaan bapak kurang nyaman didengar oleh nak Bastian. Apa benar nak Bas saudara pak Sunarto?" Pak alam menatap langsung kearah wajah Bastian.
Bastian hanya terdiam mendengar pertanyaan pak Alam. Bastian berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari pak Alam.
"Tadi bapak sudah bilang, kalau bapak mengenal baik keluarga pak Sunarto. Jadi bapak tau banyak tentang pak Sunarto. Termasuk orang-orang terdekat pak Sunarto."
"Sebenarnya saya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan pak Sunarto." Akhirnya Bastian mau berkata jujur.
Pak Alam hanya manggut-manggut mendengar jawaban Bastian.
"Saya lebih tau banyak masa lalu pak Sunarto dibandingkan kedua orang tua pak Sunarto sendiri." Saat berkata seperti itu pikirin pak Alam seperti menerawang jauh.
Perkataan pak Alam itu membuat Bastian penasaran, seperti apa sebenarnya hubungan pak Sunarto dengan pak Alam dimasa lalu.
"Entah kenapa saya tiba-tiba ingin menceritakan masa lalu saya dan pak Sunarto pada nak Bastian." Pak Alam berkata tanpa eksperesi.
Bastian hanya diam mendengar pak Alam bercerita.
"Pak Sunarto dulu dijuluki iblis berhati emas oleh anak buahnya."
Mereka pasti memiliki masa lalu yang tidak biasa. Bastian menjadi sedikit kaget mendengar gelar pak Sunarto.
"Saya bekas tangan kanan sang iblis berhati emas, jadi saya tau, siapa orang-orang yang memiliki hubungan dengan mantan bos saya itu." Pak Alam lagi-lagi melihat kearah mata Bastian. Kali ini pak Alam sambil tersenyum hambar.
"Tentu saja pak Alam memanggil saya, kerena pak Alam berpikir kalau saya orang yang akan membahayakan ketentraman keluarga pak Sunarto." Bastian menatap tajam kearah mata pak Alam.
Kali ini nyali pak Alam bergetar menerimah tatapan dingin dan menusuk dari Bastian. Pak Alam merasa kalau Bastian terlihat berbeda dari sebelumnya. Akhirnya pak Alam memalingkan wajahnya kearah lain, untuk menghindari tatapan dingin Bastian.
Siapa dia sebenarnya? Dia terlihat lebih bahaya dari iblis berhati emas. Pak Alam hanya berani melirik sebentar kearah Bastian.
"Pak Alam saya tidak ada niat apa-apa. Saya hanya ingin mengetahui kebenaran cerita yang selama ini saya dengar dari masyarakat luas."
"Soal apa?" Sekarang pak Alam mulai berhati-hati mengeluarkan kata-katannya. Pak Alam sadar, bahwa Bastian bukan orang yang bisa dia buat main-main.
"Cerita yang selama ini saya dengar bahwa seorang pengemis, atau peminta-minta itu sebenarnya adalah orang-orang yang kaya, dan katanya dikampung mereka memiliki rumah yang besar dan mewah."
"Jadi kerena alasan itu, nak Bastian mendatangi rumah nak Indra?" Sikap pak Alam sudah kembali lembut dan ramah seperti pertama kali tadi mereka bertemu.
"Ya... Tapi sekarang saya sadar bahwa cerita itu tidak sepenuhnya benar."
"Nak Bastian pasti tau, bahwa image orang-orang kaya selama ini, sombong, suka pamer, suka bertindak semenah-menah. Masih banyak lagi hal-hal jelek lainnya, tapi bapak tau gak semua orang kaya seperti itu. Begitupun pengemis, tidak semua pengemis itu orang kaya."
__ADS_1
"Ya saya telah menyadari hal itu, setelah melihat keluarga Indra."
"Pak Sunarto memang bukan orang yang berpendidikan, tapi bukan berarti pak Sunarto orang yang bodoh, kalau keluarga pak Sunarto orang kaya, anaknya tidak akan jadi pengemis, pasti mereka sudah membuka usaha, walaupun usaha kecil-kecilan."
Bastian sangat tertarik dengan statement-statement dari pak Alam. Cara pak Alam bercerita menunjukan, bawha pak Alam orang yang memilik wawasan luas.
"Nak Bastian ingat? Rocky Gerung pernah perkata, bahwa ijazah itu tanda bahwa orang itu pernah sekolah, bukan tanda dia pernah berpikir."
"Hahaha kalau begitu pak Alam ingin mengatakan orang berpendidikan belum tentu pintar, orang pintar belum tentu berpendidikan." Bastian tertawa senang mendengar perkataan cerdas dari pak Alam.
"Kita harus merubah cara pikir masyarakat yang selama ini salah. Mereka selalu berpikir orang yang memiliki gelar sarjana adalah orang yang pintar, dan orang tidak berpendidikan adalah orang yang bodoh."
"Mereka lupa piramida, borobudur, pramban dibangun oleh arsitek tanpa gelar insinyur." Bastian terlihat semakin tertarik pada pak Alam.
"Mereka juga lupa, kalau nabi Sulaiman menjadi raja tanpa gelar sarjana, Ken Arok, kertajasa Jayawardana raja majapahit juga bukan seorang yang lulus dari kampus harvard waktu menjadi raja." Pak lukman terkeke, kerena geli mengingat pemikiran dangkal orang-orang sekarang.
"Zaman sekarang orang-orang banyak mengukur kepintaran orang lain dengan ijazah yang mereka punya."
"Hahaha anak muda, kau cocok mencalonkan diri menjadi presiden 2024 untuk bersaing dengan Ginanjar Pranowo. Cara pikirmu bukan seperti orang-orang ortodok. Cara pikir mu sudah sangat terbuka." Pak Alam semakin tergelak.
"Ginanjar pelawak pak, kalau maksud bapak gubernur jawa tengah, itu Ganjar Pranowo."
"Hahaha ya ya itu maksud bapak. Bapak lupa, kerena bapak bukan teman mereka."
"Sebaiknya nak Bastian pulang, istri nak Bastian sudah lama menunggu."
"Saya senang berbagi cerita dengan orang berpikiran terbuka seperti pak Alam."
"Mungkin lain kali takdir akan mempertemukan kita lagi." Pak Alam terlihat sedih.
"Saya berharap seperti itu." Bastian memeluk pak Alam dengan erat. "Assalamualaikum" Bastian lalu berdiri.
"Wa'alaikumsalam. Jaga diri nak Bastian baik-baik."
Beberapa menit kemudian Bastian sudah sampai dirumah pak Sunarto.
"Ayah kak." Indra langsung memeluk Bastian sambil menangis.
"Kenapa Ayah kamu?"
"Ayah Indra tiba-tiba muntah-muntah, tidak lama setelah itu dia pingsan." Aisyah yang memberi keterangan.
__ADS_1
Bastian segera bergegas kearah kamar tempat pak Sunarto berada.
Sesampainya dikamar.
Iblis berhati emas, kalau kau menganggap pertolonganku adalah hutang, lain kali kau boleh membayarnya. Bastian menatap sedih kearah ranjang tempat pak Sunarto terbaring lemah.
Beberapa jam kemudian. Disalah satu rumah sakit terbesar yang ada dilampung.
"Bagaimana keadaannya dok?" Bastian bertanya pada dokter yang baru keluar dari ruangan.
"Alhamdullilah kondisi pasien sudah mulai membaik." Sang dokter memberi keterangan.
"Terimah kasih dok."
"Tolong jaga pola makannya. Jangan sampai telat makan, itu yang paling penting." Pesan dokter pada Bastian.
"Pasti dok, sekali lagi terimah kasih."
"Apa saya sudah bisa melihat suami saya dok?" Istri pak Sunarto bertanya pada dokter.
"Bisa." Sang dokter tersenyum ramah.
"Terimah kasih dok." Lalu istri pak Sunarto segera masuk kedalam ruangan tempat suaminya sedang dirawat, dengan dituntun oleh anak prempuannya.
"Ayahhh..!" Indra langsung memeluk pak Sunarto, setelah Indra berada didalam.
"Indra... Maafin ayah ya, ayah selalu merepotkan kamu." Pak Sunarto berkata dengan suara yang masih terdengar lemah.
"Ayah jangan sakit lagi." Anak prempuan pak Sunarto juga memeluk pak Sunarto sambil menangis.
Pak Sunarto melihat kearah sekelingnya. Pak Sunarto melihat ada beberapa orang yang tidak dia kenal, berada dalam ruangan tempat dia sedang dirawat.
"Saya Bastian pak, Ini istri saya." Bastian menunjuk kearah Aisyah.
"Saya Abimayu, adik kak Bastian, dan dia tunangan saya." Abimayu melihat kearah Serly.
Bastian dan yang lainnya memperkenalkan diri pada pak Sunarto.
"Pasti kalian yang telah membawah saya kerumah sakit."
Mendengar perkataan pak Sunarto, istri pak Sunarto khawatir suaminya akan marah, kerena selama ini pak Sunarto selalu menolak bantuan dari orang lain.
__ADS_1
"Iblis berhati emas, lain kali aku akan menagihnya kalau kau menganggap pertolongan ku sebagai hutang."
Pak Sunarto terlihat sangat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Bastian.