
"Hahaha..! Dalam situasi seperti ini pun kau masih bisa mengancam kami. Hei jagoan kau tidak pernah memperhitungankan kalau malam ini adalah ajalmu? Bagaimana kau mau membalasnya pada kami, kalau malam ini kami membunuhmu." Anggota Laba-laba Merah yang bicara menatap sinis pada Bastian.
Dorrr..! Anggota Laba-laba merah menembak paha kanan Bastian.
Akkk..! Bastian langsung jatuh berlutut sambil menjerit menahan sakit.
"Bastiannn..!" Keren berteriak lalu langsung memegang kedua bahu Bastian. Keren terlihat sangat mengkhawatirkan Bastian.
"Aku tidak apa-apa." Bastian berusaha terlihat tegar dihadapan Keren, agar Keren tidak terlalu mengkhawatirkan dia.
"Dasar bajin*an apa sebenarnya yang kalian inginkan?" Keren berteriak marah pada anggota Laba-laba Merah yang tadi menembak Bastian.
"Tenang saja manis pacarmu itu adalah seorang jagoan, klo hanya sekedar dua peluru yang bersarang dibagian tubuhnya, saya yakin itu tidak akan mampu membunuhnya!" Anggota Laba-laba Merah yang menembak Bastian tertawa mengejek.
Sebenarnya bisa saja kalau Bastian berniat memberi perlawanan, tapi Bastian tidak mau mengambil resiko, seandainya dia melawan pasti anggota Laba-laba Merah benar-benar akan membunuh Siti Nurlela dan Adi, walaupun mereka berdua tidak memiliki hubungan darah dengan Bastian, tapi bagi Bastian mereka berdua sudah seperti ibu dan adik kandung bagi Bastian.
"Mas Suman." Adi menangis ketakutan setelah melihat darah yang terus keluar dari bahu dan paha Bastian.
"Nak maafkan ibu, gara-gara ibu nak Suman jadi begini." Siti Nurlela juga tidak bisa menahan air matanya. Siti Nurlela sadar kerena dia dan Adi yang dijadikan sandera, maka Bastian tidak bisa melawan, sehingga dengan mudah anggota Laba-laba Merah melakukan apa saja pada Bastian.
"Ibu tidak usah sedih, justru seharusnya Bastianlah yang meminta maaf pada ibu dan Adi, kerena Bastianlah maka ibu dan Adi jadi ikut terlibat kedalam masalah ini." Bastian memandang kearah Siti Nurlela dan Adi secara bergiliran dengan perasaan sedih.
"Hahaha..! Drama keluarga sangat bagus. Mungkin kalian akan bisa menjadi keluarga lebih bahagia lagi diakhirat nanti, kalau aku membunuh kalian semua."
"Jangannn..! Kumohon jangan kalian bunuh mereka." Bastian langsung memotong perkataan anggota Laba-laba Merah tadi yang bicara. Bastian sampai merapatkan kedua tangannya kearah anggota laba-laba untuk memberikan permohonan.
"Nak jangan jatuhkan harga dirimu, hanya kerena ingin menyelamatkan kami." Siti Nurlela semakin sedih setelah melihat apa yang dilakukan oleh Bastian. Siti Nurlela tahu inilah pertama kalinya bagi Bastian sampai melakukan permohonan seperti itu.
"Bu harga diri Bastian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nyawa kalian berdua." Bastian berkata sambil memandang haru pada Situ Nurlela.
Srettt..! Keren tiba-tiba menarik keras lengan bajunya sampai sobek.
Semua orang yang ada disitu melihat penuh tanda tanya apa yang akan dilakukan oleh Keren, terutama Bastian.
Apa yang dia lakukan?. Bastian menatap kearah Keren.
"Pendarahannya harus dihentikan, kalau tidak itu bisa membahayakan nyawa kamu." Keren berkata pada Bastian sambil mengikat potongan sobekan lengan bajunya untuk pembalut luka tembak dipaha Bastian.
"Terimah kasih. Maaf kalau sebelumnya kalau aku telah salah menilai kamu." Mata Bastian terlihat berkaca-kaca. Apa yang dilakukan Keren itu cukup membuat Bastian terharu.
Srettt..! Keren menarik lengan bajunya yang satu lagi.
__ADS_1
"Gak perlu kamu berbuat sejauh ini." Bastian sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Keren dengan sobekan lengan bajunya itu.
"Kamu harus tetap hidup, kerena masih banyak orang yang masih berharap kamu untuk tetap hidup, termasuk saya." Keren mencoba tersenyum untuk menghibur Bastian.
"Kamu wanita yang baik, saya harap kamu bisa menemukan pria yang baik." Bastian sangat terharu dengan apa yang dilakukan Keren pada dia, sehingga membuat Bastian secara replek langsung memeluk Keren.
"Itu kalau saya masih hidup." Keren tersenyum pada Bastian.
"Aku pasti menyelamatkan kalian semua." Bastian berkata bersungguh-sungguh.
"Sebelum kamu menyelamatkan kami semua, kamu harus terlebih dulu memikirkan keselamatan kamu. Bagaimana kamu mau menyelamatkan kami, kalau keselamatan kamu sendiri terancam." Lalu Keren melepaskan tubuhnya dari pelukan Bastian.
"Kamu mengiangatkan aku pada seseorang." Bastian tiba-tiba mencium kening Keren sambil meneteskan air matanya.
"Pasti orang itu bukan Aisyah."
"Bukan" Bastian menggelengkan kepalanya.
"Anita"
Bastian tidak menjawab perkataan Keren, tapi Bastian langsung menarik Keren kedalam pelukannya. Bastian memeluk Keren dengan sangat erat sambil memejamkan matanya.
"Pendarahan luka dibahu kamu juga harus dihentikan." Keren berbisik ditelinga Bastian.
Tanpa menjawab apa yang dikatakan oleh Keren, Bastian langsung melepaskan pelukannya pada Keren.
Setelah Bastian melepaskan pelukannya, Keren lalu mengikat sobekan lengan bajunya pada bahu Bastian yang tertembak.
"Hahaha kisah cinta kalian cukup menarik, seandainya ada seorang sutradara yang menyaksikan apa yang sedang kalian lakukan sekarang, mungkin sutradara itu tertarik untuk membuat film tentang kisah cinta kalian." Anggota Laba-laba Merah yang menembak Bastian tadi tertawa mengejek.
"Dasar laki-laki bajin*an aku harap kamu yang mati terlebih dulu!" Keren menatap tajam kearah anggota Laba-laba Merah yang tadi tertawa.
"Wanita sialan mungkin kau yang harus aku bunuh terlebih dulu, biar aku tidak mendengar ocehanmu lagi."
Dorrr..! Anggota Laba-laba Merang langsung menembak dada Keren.
Keren jatuh tersungkur kelantai saat peluru menembus dadanya. darah terlihat langsung membasahi baju Keren.
"Anitaaa..!!!" Bastian berteriak sambil memeluk tubuh Keren.
"A.. Ak.. Aku gak.. Mau.. Mati sebagai Anita.. Aku.. Hanya mau.. Mati sebagai.. Keren." Suara Keren terputus-putus.
__ADS_1
"Kamu gak boleh mati." Bastian mencium kepala Keren. Air mata Bastian ikut tumpah bersama kata-katanya.
"Kamu.. Harus.. Jaga Aisyah.. Baik-baik.. Jangan sampai dia pergi.. Seperti Anita." Keren berusaha sekuat tenaga meneruskan kalimatnya.
"Kamu jangan terlalu banyak bicara dulu." Bastian mengusap kening Keren dengan lembut.
"Aku sangat senang.. Disaat terakhir hidup aku.. Aku berada dalam pelukan kamu." Tangan Keren berusaha membelai pipi Bastian, tapi tubuh keren sangat lemah sehinga membuat Keren tidak sanggup menggerakan tangannya untuk membelai pipi Bastian.
Bastian menggenggam tangan Keren untuk membantu Keren meletakan tangan Keren dipipinya.
"Ternyata syarat untuk dekat sama kamu sangatlah berat. Aku harus kehilangan nyawa dulu baru aku bisa dekat dengan kamu seperti ini." Keren tersenyum lembut pada Bastian.
"Aku tidak mengizinkan kamu mati."
"Kematian seseorang bukan atas izin manusia, tapi atas kehendak tuhan." Keren tersenyum hambar.
"Kamu pasti selamat."
"Hanya aku yang paling tau kondisi tubuh aku seperti apa."
"Gak..! Gak.. Kamu gak boleh mati dengan cara seperti ini." Bastian menggeleng-gelengkan kepala. Air mata Bastian semakin tidak terbendung.
"Sebelum aku mati, aku ingin mengatakan apa yang ada dalam hatiku. Jujur awalnya aku hanya ingin merebut kamu dari Aisyah, kerena aku ingin merusak hubungan kalian berdua, tapi sekarang aku berubah pikiran, kalau seandainya ada kehidupan kedua, aku pasti akan mencintai kamu dengan sungguh-sungguh." Selesai berkata mata Keren terlihat langsung terpejam.
"Gadis bodoh kamu gak boleh meninggalkan aku dengan cara seperti ini. Aku gak mau kehilangan untuk kedua kalinya."
Bayangan kematian Anita wanita yang pertama mengisi hatinya belum sepenuhnya hilang menghantui Bastian, sekarang ada lagi wanita yang sangat berani mengatakan cinta pada dia dan wanita itu juga harus mati dihadapan Bastian.
Bastian meletakan tubuh Keren secara perlahan dilantai, setelah itu Bastian langsung berdiri menghadap pada anggota Laba-laba Merah yang tadi menembak Keren.
"Kau harus membayar mahal dengn apa yang telah kau lakukan." Bastian menatap tajam kearah anggota Laba-laba Merah.
"Kalau kau berani macam-macam maka mereka berdua akan mati."
"Suatu saat aku pasti membunuh kalian semua." Bastian hanya bisa memandang geram pada anggota Laba-laba Merah tanpa bisa berbuat apa-apa, kerena mereka menyandera Siti Nurlela dan adi.
"Sebelum terjadi kamu membunuh kami semua, makanya aku harus membunuhmu terlebih dulu."
Dorrr..! Anggota Laba-laba Merah mengarahkan tembakannya kearah dada Bastian. Bastian langsung terjatuh kelantai.
Dor.. Dor.. Dor.. Terdengar suara tembakan beberapa kali saat Bastian telah kehilangan kesadarannya.
__ADS_1