
Flashback.
Dorrr..! Pranggg..! Peluru pistol tembakan mengenai kaca lemari yang ada ruang tengah. Kaca lemari itu jatuh berhamburan jatuh kelantai.
Dorrr..! Peluru kedua diarahkan ketembok rumah.
"Arggghhh..!" Brakkk..! Kali ini meja yang ditendang menjadi sasaran kemarahan seorang pemuda berseragam tentara.
Dor dor dor dor dor lima tembakan beruntun dilepaskan pemuda itu kesofa yang ada dihadapannya.
Semua pelayan yang bekerja dirumah Edi Hartono berhamburan keluar rumah, setelah melihat tuan muda mereka mengamuk. Para pelayan itu tidak tahu pasti kenapa tuan muda mereka terlihat sangat murka.
Tidak lama kemudian setelah para pelayan berlarian keluar dari dalam rumah Edi Hartono, muncul tiga tentara berlarian dengan keadaan panik masuk kedalam rumah keluarga Edi Hartono.
"Lapor mayor, semua pasukan telah berada diposisi. Mereka telah bersiap menunggu perintah." Salah satu tentara yang baru datang itu memberi laporan.
"Lettu Adam beri tahu pada semua pasukan lima belas menit lagi kita melakuan penyerangan." Pemuda yang tadi mengamuk memberi perintah pada salah satu tentara yang baru datang.
"Bastian stoppp..! Apa yang akan kamu lakukan..?!" Terdengar ada suara orang berteriak pada tentara muda yang tadi mengamuk.
Keempat tentara yang ada diruang tengah itu langsung melihat kearah orang yang tadi berteriak. Dibelakang laki-laki separuh baya yang tadi berteriak, terlihat juga seorang pemuda.
Laki-laki separuh baya yang baru datang itu adalah Edi Hartono dan pemuda yang tadi ikut bersamanya tadi putra bungsunya Abimayu Hartono.
"Papa..?!"
"Bastian kamu jangan gilaaa..!" Edi Hartono terlihat marah pada pemuda yang tadi mengamuk.
Pemuda yang sedang murka berseragam terntara itu adalah Bastian Hartono. Putra sulung Edi Hartono.
"Jenderal itu sudah menghina Bastian pa, dia telah menginjak-injak harga diri Bastian." Sang pemuda masih terlihat murka.
"Papa tahu nak, papa tahuuu..! Dia telah menghina dan menginjak-injak harga diri semua keluarga Hartono."
"Kita harus balas perbuatan mereka pa." Abimayu Hartono putra bungsu Edi Hartono juga terlihat sangat marah.
"Diammm..!" Edi Hartono membentak putra bungsunya.
"Akan aku tunjukan pada jenderal tua itu, bahwa mayor Bastian Hartono tidak bisa dia perlakukan dengan sesuka hati dia." Sang pemuda masih terlihat sangat marah.
"Bastian kita sudah kalah. Bukti di pengadilan telah menyatakan kamu telah membunuh tunangan kamu sendiri."
"Bukti-bukti itu palsu paaa..!"
"Papa tau itu bukti palsu, tapi apa kamu lupa pengadilan membuat keputusan berdasarkan saksi dan bukti."
__ADS_1
"Saksi itu juga palsu pa."
"Tapi saksi itu telah menunjukan bukti bahwa rekening dia telah menerimah sejumlah uang ditransfer dari rekening kamu."
"Pa harus berapa kali Bastian ulang..?! Uang itu Bastian transfer untuk membayar sewa gedung pernikahan Bastian nanti. Bukan membayar saksi palsu itu untuk membunuh Anita..!!" Bastian semakin terlihat murka.
"Mereka bukan hanya memiliki saksi, tapi mereka juga mempunyai bukti rekaman CCTV, bahwa sehari sebelum Anita kecelakaan, Anita menemui kamu di hotel dalam keadaan menangis."
"Anita menumui Bastian di hotel itu dia mau memberi tau pada Bastian, kalau ada yang mengancam mau membunuh dia. Makanya Anita menangis kerena ketakutan waktu bercerita sama Bastian."
"Apa pun yang akan kamu katakan nak, pengadilan telah memutuskan kalau kamu telah terbukti bersalah. Kamu telah membayar seorang laki-laki untuk membunuh tunangan kamu sendiri."
"Keputusan pengadilan tidak masuk akal pa. Mana mungkin Bastian membunuh Anita, supaya Bastian terhindar dari tanggung jawab."
"Doktor yang melakukan otopsi pada jenazah Anita juga mengatakan kalau Anita dalam keadaan hamil dua minggu."
"Papa percaya Anita hamilll..?! Dan Bastian yang telah melakukannya..?! Makanya Bastian membunuh Anita agar Bastian terhindar dari tanggung jawab. Ingat pa, Bastian sudah bertunangan dengan Anita, jadi tidak masuk akal kalau Bastian mambunuh Anita untuk menghindar dari tanggung jawab, sedangkan kami sudah bertunangan, kalau benar Anita hamil Bastian tinggal menikah dengan Anita. Bukan malah membunuhnya."
"Kalua tidak ada yang mau membunuh jenderal tua itu biar Abimayu yang melakukannya." Lalu Abimayu bergegas keluar.
Abimayu memang pemuda yang memiliki sipat tengil dan sekilas seperti orang yang tidak pernah bisa serius dalam segala hal, tapi kerena kali ini nama baik keluarganya diinjak-injak, maka Abimayu juga pasti akan menjadi sangat murka.
"Mau kemana kamuuu..!" Terdengar ada suara prempuan yang berteriak.
Bukkk..! Abimayu tiba-tiba terpental masuk lagi kedalam rumah, saat baru saja dia akan melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumah.
"Mama apa-apaan ini..?!" Abimayu memandang kaget pada prempuan yang baru datang, yang tadi langsung menyerangnya.
Prempuan yang baru datang langsung menendang Abimayu itu adalah Nyonya Hartono, ibu dari Bastian dan Abimayu.
"Diam disitu, jangan bertingkah sok jagoan..!" Nyonya Hartono melotot pada putra bungsunya.
Tiga tentara yang tadi datang menemui Bastian hanya diam saja melihat apa saja yang terjadi dihadapan mereka. Mereka bertiga telah terbiasa melihat keluarga atasannya itu saling serang seolah-olah mau saling membunuh, jadi saat tadi nyonya Hartono menghajar putra bungsunya, ketiga tentara itu tidak menujukan eksperesi apa-apa.
"Lettu Adam bawah anak buahmu keluar dari sini, ada masalah keluarga yang harus kami bahas." Nyonya Hartono berkata pada Lettu Adam.
Mendengar apa yang dikatakan oleh nyonya Hartono itu, lettu Adam langsung melihat kearah Bastian.
"Tunggu diluar." Bastian berkata pada lettu Adam."
"Siap mayor." Lalu lettu Adam memberi tanda pada kedua anak buahnya untuk keluar.
"Nak kamu seorang tentara, tentu kamu sudah bertahun-tahun belajar strategi perang, jadi kamu harusnya tahu betapa bahayanya untuk pasukan kamu, kalau kamu membawah pasukan kamu untuk menyerang jenderal Agus Purnomo secara langsung."
"Tapi pa, kalau orang seperti dia didiamkan saja, akan jadi seperti apa negara ini. Dia seorang jenderal yang telah menyalah gunakan jabatanya hanya untuk kepentingan pribadinya."
__ADS_1
"Basss... Kita mungkin bisa saja menang melawan dia, tapi ada kemungkinan juga salah satu dari kita akan menjadi korban." Nyonya Hartono memberi nasehat pada putra sulungnya itu, agar tidak bertindak gegabah.
"Kamu mau mengorbankan pasukanmu hanya demi menuruti amarahmu..?!" Edi Hartono menyambung ucapan istrinya.
"Cukup kamu yang telah dipecat secara tidak hormat, jangan sampai anak buahmu mengalami hal yang sama, gara-gara mengikuti amarahmu." Nyonya Hartono memandang sedih kearah putra sulungnya.
"Kamu mungkin sudah ratusan kali menjebak dengan berbagai cara musuh-musuh kamu, jadi pasti kamu sadar kalau sekarang kamu juga sudah terperangkap kedalam jebakan musuh."
"Tapi Bastian tidak terimah dengan hal ini." Bastian masih terlihat kesal.
"Bas kamu hanya kehilangan jabatan, bukan pasukanmu, mereka semua siap melakukan perintah apa saja dari kamu. itu artinya pasukan kamu masih milik kamu. kamu masih bisa memimpin mereka dari belakang. Kamu harus tahu pemimpin yang paling kuat itu pemimpin yang berada dibalik layar, bukan yang terlihat didepan layar."
"Sekarang keluarga Hartono telah kalah, kita terimah saja dulu itu. Suatu saat kita akan membalasnya, tapi bukan sekarang." Nyonya Hartono memberi keyakinan pada putra sulungnya.
"Papa sudah membuat rencana dengan keluarga pak Bramantio. Kamu lupa? Pak Bramantio memiliki anak laki-laki yang sedang kuliah di Harvard. Setelah meyelesaikan studinya di Harvard dia diminta oleh papanya masuk kepolisian, setelah putra pak Bramantio menjadi polisi, itu akan lebih mempermudah kita dalam menyelidiki kasus ini."
*****
Kembali kewaktu sekarang.
Dihotel tempat Keluarga Edi Hartono menginap.
"Papa tau sekarang kamu sudah menikah nak, tapi papa rasa tidak ada salahnya kamu datang kemakam almarhum Anita, papa yakin istri kamu tidak akan mempersoalkan hal itu."
"Ya pa Bastian pasti datang."
"Kamu masih ingat dengan kakak Anita yang papa sebutkan dulu?"
"Ingat pa."
"Tadi pak Bramantio nelpon papa, kalau anaknya masuk rumah sakit, keadaannya sekarang kritis." Wajah Edi Hortono semakin terlihat sedih.
"Pasti mereka yang melakukan nya..!" Bastian langsung menjadi emosi.
"Ya pasti mereka." Papa Bastian semakin terlihat murung. "Rencana kita sudah mulai terbaca oleh mereka. Kalau kita tidak bergerak sekarang, kita akan kalah lagi nak. Mungkin sekarang kita akan benar-benar hancur." Edi Hartono terlihat sangat khawatir.
"Bastian tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi..!!" Bastian terlihat berapi-api.
"Kita harus memiliki rencana yang matang nak, kalau kita mau menghadapi mereka."
"Kak ada dua orang yang sedang menunggu kakak dikamar." Abimayu menyebut nomor kamar hotel.
"Siapa..?!" Bastian menoleh kearah adiknya.
"Kolonel Robin, saudara sepupu Anita." Edi Hartono yang menjawab pertanyaan putra sulungnya.
__ADS_1
*****
Ada yang masih ingat dengan kolonel Robin..?!