
Sesampai dikamar Aisyah langsung menghempaskan tubuhnya diatas kasur dan Aisyah terlihat memejamkan matanya. Aisyah tampak seperti tidak memperdulikan kehadiran Bastian.
Yang membuat Aisyah bertingkah seperti itu bukan hanya kerena Aisyah merasa kelelahan, tapi rasa ketakutan mulai menghantui perasaannya.
Sekarang Aisyah telah berstatus menjadi istri, tentu saja Aisyah harus membiasakan diri dengan hal itu. Mulai malam ini dia akan berbagi dalam segala hal dengan sang suami, dari hal yang kecil sampai hal yang besar.
Mulai malam ini Aisyah harus berbagi tempat tidur, kamar mandi dan berbagi selimut, yang pasti banyak hal yang tidak bisa dia lakukan sendiri lagi.
Krekk... Bastian mengunci pintu kamar dan langkah kaki Bastian terdengar secara perlahan mendekat kearah Aisyah.
Detakan debar jantung Aisyah semakin kencang, seiring langkah kaki Bastian mendekat kearah Aisyah. Rasa ketakutan mulai menghantui Aisyah.
"Heiii..!!" Bastian menyentuh bahu Aisyah.
Sentuhan tangan Bastian dibahu Aisyah itu semakin membuat jantung Aisyah berdetak semakin kencang.
"Tidurlah klo kamu lelah." Bastian membelai lembut kepala Aisyah.
Aisyah masih memejamkan matanya dan sekarang mulai berpura-pura tidur.
Bastian menyentuh bibir Aisyah menggunakan telunjuknya dan Bastian mengerak-gerakan telunjukan untuk mengelus bibir Aisyah.
Ya tuhan apa yang sedang dia lakukan? Aisyah belum berani membuka matanya. Gemuruh didadanya semakin kencang.
"Sayang buka mata kamu." Bastian berkata dengan pelan hampir tidak terdengar, jari tangan Bastian masih belum berhenti menyentuh bibir Aisyah.
"Dalam hitungan ketiga kamu masih belum membuka matamu, maka aku akan pergi dan jangan harap aku akan kembali kesini." Bastian terdengar seperti mengancam.
Aku tau kamu hanya menggertak sayang. Kamu menghitung sampai sepuluh pun aku tidak akan membuka mataku. Aisyah masih melanjutkan aksinya yang berpura-pura tidur.
"Satu." Bastian mulai menghitung.
Bastian masih belum melihat Aisyah membuka matanya.
"Dua..!" Bastian melanjutkan hitungannya.
Mana ada seorang laki-laki meninggalkan kamar pengantinnya saat malam pertama. Aisyah sangat yakin kalau Bastian cuma mengertaknya saja.
"Tiii..." Bastian menatap sekali lagi kewajah istrinya. "Ga. Baik aku akan pergi."
Aisyah masih belum mau membuka matanya, tapi Aisyah mendengar langkah kaki Bastian menjauh dari dia.
Krekkk terdengar pintu dibuka dan tidak lama kemudian Aisyah mendengar pintu ditutup kembali.
Aku tau sayang kamu hanya pura-pura pergi. paling juga kamu hanya berdiri didekat pintu, kamu gak akan keluar kamar.
Beberapa menit kemudian Aisyah tidak mendengarkan apa-apa.
"Masak si dia pergi?" Aisyah membuka matanya, lalu Aisyah segera bangun duduk dan melihat kearah pintu kamar.
"Sayanggg..!" Aisyah segera turun dari kasur dan segera berjalan kearah kepintu.
Krek Aisyah membuka pintu kamar dari dalam.
Saat baru beberapa detik Aisyah membuka pintu tiba-tiba ada yang menyambar tubuh Aisyah dan langsung membopong tubuh Aisyah.
"Aku akan menghukummu, kerena telah berani mempermainkanku." Bastian langsung membawah Aisyah kedalam kamar kembali dan meletakan Aisyah dengan perlahan diatas kasur.
"Sayanggg..!"
"Diam... Aku akan menghukummu sampai pagi kerena tadi telah berani berpura-pura tidur."
"Sayang pintunya."
"Biarinnn... Siapa yang berani masuk. Aku akan membunuh orang itu."
"Hei aku akan memberikan apa yang kamu inginkan, tapi please jangan biarkan pintunya tetap terbuka."
"Gak mau kamu pasti akan mempermainakan aku lagi."
Aisyah tiba-tiba mengenggam kepala Bastian menggunakan kedua tangannya dengan erat, lalu mencium bibir Bastian.
Apa yang dilakukan Aisyah itu membuat Bastian tidak bisa berkata-kata lagi, kerena bibirnya dalam keadaan menempel dibibir Aisyah.
__ADS_1
Sekitar sepuluh detik kemudian baru Aisyah menarik bibirnya dari bibir Bastian. Muka Aisyah terlihat sangat merah, kerena menahan malu.
"Wowww..! Ternyata istriku seoarang wanita yang sangat agresif." Bastian menggoda Aisyah, Bastian tahu pasti Aisyah sangat malu dengan apa yang dilakukannya tadi.
"Aku melakukan itu kerena aku mau menutup mulut kamu yang terus-terus bicara." Aisyah melotot kearah Bastian.
"Hahaha memang menutup mulut seseorang harus dengan cara seperti itu." Bastian tersenyum simpul.
"Sudah jangan dibahas lagi. Sekarang please tutup pintunya." Wajah Aisyah terlihat memelas.
"Baik aku akan menutup pintunya, tapi setelah itu berikan apa yang aku inginkan." Bastian tersenyum genit.
"Iyaaa..!!" Aisyah menjawab setengah berteriak, setelah itu Aisyah menghempaskan kembali tubuhnya kekasur.
Beberapa detik kemudian setelah Bastian menutup pintu, Bastian naik keatas kasur lagi dan segera mendekat kearah istrinya.
"Basss..!" Aisyah berkata sambil menutup matanya.
"Iya sayang."
"Tolong lakukan dengan pelan dan perlakukan aku dengan cara yang lembut."
"Apa aku terlihat seperti laki-laki yang kasar?"
"Soalnya dulu kamu melakukannya dengan cara yang sangat kasar."
"Itu dulu sayang, sekarang situasinya sudah berbeda."
"Kenapa si dulu kamu kasar banget Bas. Kamu tega merampas sesuatu yang satu-satunya sangat berharga bagi setiap prempuan." Saat Aisyah berkata seperti itu air mata Aisyah ikut menetes.
"Maafin aku sayang iya, klo dulu aku sudah sangat jahat sama kamu dan juga telah membuat kamu trauma." Bastian mengelap air mata istrinya dengan telapak tangannya.
Keadaan tiba-tiba menjadi hening.
"Tidurlah sayang klo kamu capek." Sengaja Bastian berkata seperti itu agar Aisyah tidak lagi membahas apa yang dilakukan Bastian pada Aisyah dulu.
Bastian turun dari kasur lalu berjalan kearah sakral untuk mematikan lampu, setelah itu Bastian menyalakan lampu meja.
"Sayang apakah kamu akan melewatkan pertama kita seperti ini?" Aisyah bertanya pelan pada Bastian.
"Sayang kamu jangan membuat aku melakukan dosa."
"Melakukan dosa?"
"Berdosa besar bagi seorang istri kalau menolak berhubungan badan, ketika sang suami menginginkannya."
"Baiklah kalau kamu takut dosa mari kita lakukan sampai sepuluh kali." Bastian terlihat bersemangat kembali dan Bastian mulai membuka pakaiannya.
"Iya gak harus sepuluh kali juga kali sayang." Aisyah tertawa geli.
"Sayang kamu lupa suamimu ini mantan tertara? Apa kata orang kalau tahu mantan tentara saat malam pertamanya hanya bisa melakuannya tiga kali."
"Emang hal seperti ini suatu perlombaan. Siapa yang paling banyak melakukannya akan dikatakan hebat."
"Kerena itu harga diri seorang laki-laki sayang."
"Iya sudah lakukanlah seberapapun yang kamu mau, kerena sekarang aku telah jadi milik kamu." Aisyah berkata dengan wajah masam.
Malam itu malam yang sangat bersejarah bagi Bastian dan Aisyah, yang pasti malam itu malam yang sangat membahagiakan bagi mereka berdua, tapi tidak bisa dipungkiri pula kalau malam itu malam yang sangat melelahkan bagi meraka. Malam itu tulang-tulang mereka seperti terlepas semua dari persendiannya.
Setelah merasa tidak ada lagi tenaga yang tersisa, Akhirnya mereka tertidur dengan lelap dengan mimpi-mimpi indah dan senyum merekah dibibir mereka.
*****
Pagi hari.
"Sayang bangun." Aisyah menggoyang bahu Bastian untuk membangunkan suaminya.
"Aku kamu masih ngantuk bu."
"Ibu..?!" Aisyah menjadi bingung mendengar suaminya itu menyebut ibu.
Bastian masih berpikir kalau sekarang dia masih berada dirumah tempat tinggal yang selama ini dia tinggal bersama Situ Nurlela dan Adi.
__ADS_1
"Sayang bangun." Aisyah sekali lagi menggoyangkan bahu suaminya.
Bastian membuka matanya dan mengusap-usapkan matanya menggunakan jari-jari tangannya.
"Sayang..." Bastian menatap kearah wajah istrinya.
"Bangun sayang. Abi sama umi sudah nunggu kita dimeja makan."
"Aku gak mau makan, aku maunya kamu." Bastian menarik tubuhnya istrinya keatas kasur dan segera menindihnya.
"Sayang kamu gak pernah merasa cukup iya." Aisyah mencoba melepaskan dirinya dari suaminya.
"Hal seperti itu mana pernah merasa cukup sayang." Bastian masih berusaha menahan tubuh istrinya tetap berada diatas kasur.
Tok tok tok suara pintu kamar ada yang mengetuk. Orang yang mengetuk pintu itu telah berdiri didepan pintu, tentu saja orang itu bisa melihat apa yang sedang Bastian lakukan pada istrinya.
Aisyah segera turun dari kasur lalu merapikan baju dan rambutnya yang mulai berantakan akibat perlakuan suaminya tadi.
"Maaf non tuan sudah menunggu non dan suami non." Orang yang berada dipintu itu berkata dengan gugup.
Bastian menatap tajam kearah pelayan wanita yang berada dipintu, sehingga membuat pelayan itu menundukan kepalanya.
Melihat tingkah pelayannya yang seperti sedang ketakutan itu Aisyah langsung melihat kearah suaminya. Aisyah yakin pasti suaminya yang telah mengintimidasi pelayannya itu.
"Sudah keluarlah." Aisyah menyuruh pelayannya itu pergi.
Setelah pelayan wanita itu pergi.
"Dia sudah menikah belum?" Bastian bertanya tentang pelayan itu pada istrinya dengan wajah kesal.
"Belum... Kenapa kamu mau menjadikan dia istri kedua kamu?" Aisyah sengaja berkata seperti itu untuk menggoda suaminya agar kekesalan suaminya hilang.
"Wajar." Bastian berkata singkat dengan wajah yang masih terlihat kesal.
"Wajar kenapa?" Aisyah pura-pura bingung.
Bastian segera turun dari kasur lalu segera memeluk istrinya. Tangan Bastian mulai bergerilya kemamana-mana pada tubuh istrinya.
"Sayang aku ingin melakukannya sekali lagi." Bastian berbisik pelan ditelinga istrinya.
"Sayang kamu apa-apaan si, masak pagi-pagi begini?" Aisyah berusaha melepaskan dirinya dari perbuatan nakal suaminya.
"Ingat tadi malam kamu sendiri yang bilang, kalau menolak maka kamu akan berdosa." Tangan Bastian semakin aktif menyentuh bagian-bagian sensitif istrinya.
"Iya gak pagi-pagi gini juga kali sayang."
"Sebentar saja sayang."
"Hal seperti itu mana bisa dilakukan sebentar sayang. Memang kamu ayam dalam beberapa detik bisa selesai." Muka Aisyah mulai memerah, kerena mulai terpengaruh dengan gerakan-gerakan nakal tangan suaminya.
"Kerena aku bukan ayam makanya aku membutuhkan hal itu berkali-kali." Nafas Bastian mulai terdengar tidak teratur.
"Sayang mereka sudah menunggu kita lo." Aisyah mencoba menghindari bibir suaminya.
"Aku gak peduli." Bastian semakin agresif melakukan serangan pada istrinya.
"Dibawah ada papa sama mama kamu dan adik kamu juga, mereka nunggu kita."
"Papa sama mama..?!" Bastian terlihat panik dan langsung menghentikan aksi nakalnya.
"Iyaaaa..." Aisyah merapikan rambut dan pakaiannya yang mulai berantakan.
"Ngapain mama sama papa kesini?"
"Iya gak tau."
"Sayang sebelum aku mandi." Bastian menyentuh bibirnya sendiri.
"Apa-apaan si sayang jangan aneh-aneh deh." Aisyah mulai kesal dengan tingkah manja suaminya itu.
"Sayang aku gak mau mandi klo kamu gak mau." Bastian menunjuk kearah bibirnya sendiri.
Aisyah langsung mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya, lalu dengan gerakan yang cepat langsung mencium bibir suaminya.
__ADS_1
"Sudah sana mandi." Wajah Aisyah lagi-lagi terlihat memerah.