
Tanpa bisa dia cegah, air mata Aima menetes membasahi pipinya. Tangis yang coba untuk di tahannya, akhirnya pecah dalam pelukan Ineke ibunya.
“Ada apa nak..? Apa yang mau kamu sampaikan..?” Tanya Ineke dengan lembut
“Gak ada ma.. Semuanya gimana baiknya aja..” pasrah Aima
Melihat semua itu, Arif masih bingung menangkap maksud dari semuanya. Namun dia tetap memilih diam
Pak Samsul yang sejak tadi menundukan kepala, mencoba bersikap bijak untuk mengambil keputusan untuk masa depan kedua anaknya.
Biar bagaimanapun, kebahagiaan kedua anaknya adalah keharusan baginya sebagai orang tua.
Jika salah sedikit saja mengambil keputusan, maka fatal akibatnya.
"Aima, bicaralah nak.. Papa mau dengar.." Ucap pak Samsul lembut.
"Aku gak tau.. Nanti saja.." Jawab Aima
"Karena semua sudah di putuskan. Aku ikut yang terbaik aja" Ucapnya
“Baiklah.. Nak Arif, biar lebih jelas, biar Aini yang menyampaikan langsung soal keputusannya mengenai lamaran nak Arif kemarin pada Aini..” ucap Samsul menepuk Arif.
“Ayo nak, mama, ayo kita keluar dulu..” Ajak pak Samsul kepada anak dan istrinya.
Aini yang melihat Aima menangis, hatinyapun terasa sakit. Tapi dia yakin ini yang terbaik untuk kakaknya.
Aini berharap, suatu saat nanti kakaknya akan mengerti dan tahu apa tujuan dari rencananya.
Terlebih sifat Aima yang terlihat tegas namun manja di dalamnya. Sedangkan kekasih kakaknya orang yang tidak cukup peka akan perasaan sang kakak.
Setelah Aima dan orang tuanya keluar, Arif beranjak dari duduknya menghampiri Aini.
Arif merai jemari Aini dan menyematkannya di jari jemarinya.
“Ada apa ini sayang..? apa kakakmu gak setuju aku menikahimu..?” tanya Arif menatap manik mata Aini.
Aini menatap tangannya yang berada dalam genggaman Arif. Arif mengikuti arah pandang Aini.
“Apa kamu benar benar mencintaiku?" Bukannya menjawab pertanyaan Arif, Aini justru memberikan pertanyaan lain.
Arif mengerutkan alisnya menatap mata Aini.
“Apa aku terlihat main-main..?” Arif balik bertanya dengan sedikit kesal.
Aini hanya diam memandangi wajah Arif. Sesekali dia memegangi kepalanya yang terasa pusing. Wajahnya begitu pucat.
“Sayang.. Sayang, aku panggil Dokter ya..?” ucap Arif sambil beranjak dari tempat duduknya.
Dengan sigap Aini mencekal tangan Arif, memintanya untuk duduk kembali.
“Aku ingin bicara..” Ucap Aini.
"Gak sayang.. Biar aku panggilkan dokter dulu sebentar.. " Tolak Arif.
“Aku takut umurku tidak akan lama lagi..” Ucap Aini menahan cekalannya pada tangan Arif.
__ADS_1
"Ngomong apa sih kamu ini..?" Frustasi Arif.
“Aku mau kamu menyanggupi permintaan terkahirku.. Aku mohon Rif, semua keputusan yang aku ambil nanti sudah aku pikirkan dengan baik, dan itu juga untuk kebahagiaanku..” Ucap Aini pelan dan terbata bata.
Arif hanya diam memandangi wajah Aini. Dia ingin mendengarkan apa yang mau Aini sampaikan padanya.
“Aku sayang sama kamu Arif..” Ucap Aini dengan deraian air mata sembari memegangi kepalanya yang semakin terasa pusing.
Arif yang belum bisa mengkap maksud dari ucapan Aini pun mengerutkan darinya memandang mata Aini begitu intens.
Mengerti akan hal itu, Aini merai tangan Arif dan menggenggamnya dengan erat.
“Aku mau kamu menikahi kak Aima, itu permintaanku yang terakhir sebelum aku menghembuskan nafas ini..” ucap Aini dengan begitu yakin dan tegas.
Bagai di sambar petir, dada Arif terasa terbakar. Perasaannya hancur.
Arif menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang baru dia dengar dari mulut pujaan hatinya itu.
"Gak Aini. Kamu jangan becanda. Ini sama sekali tidak lucu." Sanggah Arif.
Nafasnya terasa tercegat. Arif menepuk nepuk dadanya yang terasa sulit untuknya bernafas.
Aini terisak melihat reaksi Arif. Sungguh dia tidak tega, namun tekadnya sudah bulat. Dia yakin ini yang terbaik.
Arif terus menggelengkan kepalanya berharap Aini hanya mengerjainya kali ini. Tidak sedang bersungguh sungguh.
“Aku mohon..” ucap Aini lagi dengan air mata yang terus menetes di pipinya.
Arif tertawa sumbang. Arif terus menyangkal bahwa Aini hanya sedang bergurau.
"Gak Aini.. Aku gak mau.. Aku melamar kamu, bukan kakak kamu.. Aku ingin menikahimu, bukan kakak kamu.. Jika kamu menolak lamaran ku, katakan saja.. Bukan mencari pengganti seperti ini.." Tutur Arif dengan perasaan yang pedih.
Aini menggeleng menatap Arif sendu.
“Gak Arif.. Bukan begitu.. Aku ingin kamu terus berada di tengah keluargaku, melengkapi hidup mereka setelah kepergianku..” Ujarnya lagi.
Arif terus menggeleng menatap Aini.
“Aku gak mau kamu menikah dengan orang lain setelah kepergianku. Aku ingin semua orang yang aku sayangi terus bersama dan dekat denganku meski berbeda dunia..” lirih Aini.
Kesabaran Arif terkikis.
“Tapi tidak begini caranya Aini.. Kita bisa menikah sekarang jika kamu mau.. Aku akan menyiapkan saat ini juga biar kamu gak harus mencari pengganti untuk aku seperti ini Aini..” tolak Arif menahan kecewa.
“Tapi aku inginnya begini Arif.. Karena aku sayang sama kamu. Aku ingin kamu menikah dengan kak Aima.. Aku ingin dia yang menggantikan aku menjadi istrimu Arif..” Ucap Aina memegangi kepalanya yang semakin terasa pusing.
"Kalau pun kita bisa menikah, saat aku pergi, kamu juga harus turun ranjangkan menikahi kak Aima?" Lanjutnya lagi dengan suara yang semakin melemah.
"Aini.." Panggil Arif memohon.
“Dia baik, cantik, dan yang terpenting bisa memenuhi semua kebutuhanmu sebagai suami.. Aku gak percaya sama perempuan di luar sana untuk kamu jadikan istri setelah kepergianku..” ujar Aini dengan tegas.
“Aku mau menikah, tapi menikahimu bukan orang lain..” Tegas Arif tak mau di bantah.
Dia tidak peduli meski Aini terus memohon.
__ADS_1
“Terserah.. Tapi aku nanti aku tidak mau lagi melihat kamu sampai aku menutup mata..” Ancam Aini dengan terus memegangi kepalanya.
Wajahnya semakin pucat, membuat Arif panik dan menekan tombol darurat. Dengan segera petugas medis berlari menuju kamar tempat Aini di rawat.
Melihat petugas medis berlari kecil menuju kamar Aini, di susul dokter Marchel kemudian, pak Samsul dan istrinya beserta Aima ikut panik dan ikut berlari masuk ke kamar rawat.
“Maaf, kami akan menangani pasien dulu, silakan tunggu di luar dulu ya..” tutur perawat yang berada di ruangan Aini.
Mau tidak mau, Arif harus menurut. Dengan perasaan tak menentu, Arif keluar dari ruangan tersebut.
"Melihat Arif di ambang pintu, Pak Samsul menghampiri.
“Apa yang terjadi nak..?” tanya pak Samsul pada Arif dengan raut wajah khawatir.
Arif menunduk lesu.
"Arif. Apa yang terjadi? Aini kenapa?" Desak bu Ineke.
Sementara Aima, sudah sejak tadi terlihat kesal pada Arif.
“Aini mengeluh pusing tante..” Jawab Arif merasa bersalah.
"Bukannya tadi dia baik baik aja..? Apa yang sebenarnya terjadi.." Desak bu Ineke lagi
"Ma, jaga emosi mama.." Ucap pak Samsul mengelus lengan sang istri.
"Nak Arif.. Apa kamu bertengkar dengan Aini..?" Tanya pak Samsul dengan nada pelan.
Arif menunduk lesu tak berani menjawab. Dan diamnya Arif sudah bisa menjawab dugaan pak Samsul bahwa benar mereka sedang bertengkar hingga menyebabkan Aini drop.
Namun pak Samsul tidak menyalahkan Arif sama sekali atas apa yang terjadi pada anaknya. Wajar jika Arif menolak, karena yang dia inginkan Aini, bukan Aima.
Arif memilih duduk di kursi depan ruangan rawat Aini. Dia menundukan kepala dan menutupi mukanya dengan telapak tangan. Perasaannya terasa begitu kacau.
“Aku harus bagaimana ya Allah..” Gumam Arif lirih.
Sementara Aima tak kalah kacau. Dia memejamkan matanya dengan posisi jidat bersandar menghadap ke tembok.
“Gak boleh begini.. Ini harus di selesaikan sekarang juga..” batin Aima.
Aima menoleh ke arah Arif berada. Tatapannya yang tajam, membuat Arif diam tak bergeming.
“Arif, aku mau bicara berdua sama kamu..” Ucap Aima menghampiri Arif.
Arif perlahan menengadakan kepalanya ke atas kemudian kembali menatap Aima. Arif diam tak bergeming.
"Ayo..?" Ucap Aima tanpa mau di tolak.
Arif menatap Aima. Dia berdiri perlahan dan mengikuti langkah Aima yang menjauh dari pak Samsul dan bu Ineke berada.
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR.. 🙏💞💞
MOHON DUKUNGANNYA TEMAN TEMAN.. TERIMA KASIH SEBELUMNYA.. 😇🙏🙏💞💞💞**
__ADS_1