
"Kak, jangan gitu dong kak.. Kita masih bisa ngobrolin ini baik baik.." Rengek Aima memintah
"Aku tau sayang. Tapi ini sudah kesepakatan kami sebelumnya.." Ujar Fatur menolak.
Mendengar kata panggilan sayang dan nada lembut dari Fatur, otak Aima mendadak menemukan ide untuk merayu Fatur agar menuruti inginnya.
"Kak.." Panggil Aima manja.
Fatur menatap manik mata Aima dengan lembut.
"Kak Fatur masih sayang sama aku..?" Tanya Aima seolah ragu padahal dia tahu apa yang di lakukan Fatur semata karena perasaannya yang terlalu besar.
"Aku begini karena apa..? Masih bisa nanya..?" Jawab Fatur terpancing.
"Kalau memang kak Fatur sayang, kenapa kak Fatur gak mau menuruti keinginanku untuk gak lagi mencelakai diri sendiri dan orang lain..?" Ujar Aima menatap wajah Fatur dengan serius.
Fatur tak berniat menjawab. Dia hanya diam menatap manik mata Aima dengan segala perasaan yang ada di hatinya.
"Terus gimana dengan perasaan kamu sendiri..? Apakah gak ada lagi rasa itu untuk aku..?" Aima tercengang mendapat pertanyaan balasan dari Fatur.
Bingung mencari kalimat yang tepat agar Fatur tak merasa sedang di tarik ulur olehnya, otaknya sampai pusing tuju keliling.
"Tak apa. Aku tau apa yang kamu pikirkan.. Pulanglah, aku masih ada urusan lain lagi.." Tutur Fatur menunduk dan tanpa ada amarah.
"Kak.. Kalau aku jawab aku masih sayang, apa kak Fatur mau memenuhi keinginanku..?"
Fatur mendongak menatapa wajah Aima.
"Aku datang menemui kakak disini tidak lain karena aku sayang sama kak Fatur. Aku gak mau kak Fatur kenapa napa.."
"Kakak itu kan seorang dosen. Kakak akan jadi panutan mahasiswa. Apa jadinya jika mahasiswa kakak tau apa yang di lakukan dosen mereka. Apalagi itu hanya karena seorang wanita yang tak pantas untuk di perebutkan.." Ujar Aima lembut.
Fatur bergeming. Kata di ujung kalimat yang di lontarkan Aima sungguh membuat hatinya nyeri.
"Kamu tau perasaanku Aima.." Protes Fatur.
"Iya kak. Tapikan kakak tahu apa resikonya pada masa depan kak Fatur.." Decak Aima.
Sesungguhnya dia pun tahu akan hal itu. Dan saat kalimat itu keluar dari mulut Aima, dirinya pun merasa malu.
Akan tetapi egonya dan rasa sakit hatinya karena perasaan cintanya yang dalam, membuatnya gelap mata.
"Kak.. Aku janji aku gak akan menghindari kak Fatur.. Kita masih bisa jadi sahabat seperti dulu sebelum kita menjadi sepasang kekasih.. Bukankah dulu saat jadi sahabat kita terlihat lebih bahagia..?
Aima berharap, kali ini hati Fatur bisa luluh.
Hati Fatur berdesir melihat senyum Aima. Entah kapan dirinya bisa mengikhlaskan Aima di miliki orang lain. Rasanya masih begitu terasa berat baginya.
"Kamu pulanglah dulu. Aku harus pergi sekarang. Masih ada urusan yang harus aku selesaikan.." Tak ada jawaban pasti yang terucap dari bibir Fatur akan permintaan Aima.
Aima tahu ini akan sulit bagi Fatur mengingat apa yang sudah dia lalui belakangan ini.
Namun hatinya terus berharap tanpa henti, Fatur bisa berdamai dengan masa lalunya sehingga tak ada lagi adu fisik yang mengerikan antara Fatur dan Arif suaminya.
"Baiklah.. Aku balik pulang ya..? Aku harap kak Fatur mau mendengarkan aku kali ini.. Demi kak Fatur juga.." Ujar Aima pamit.
Seperti biasa. Fatur hanya diam menatapnya tanpa berniat menjawab. Terlalu dingin memang. Itulah Fatur dengan segala sikapnya.
Selepas kepergian Aima, Fatur mendesah. Sebenarnya Fatur tak ada tujuan lain lagi setelah bertemu Aima.
__ADS_1
Hanya saja hatinya tak sanggup terlalu lama bersama dengan Aima saat ini. Dia takut akan sulit mengendalikan perasaannya yang kian menggebu.
***
"Mbok, kopi dimana ya..?" Tanya Arif yang kebingungan mencari letak toples kopi dimana.
Mbok Lala baru saja selesai membereskan dapur sebelum dirinya beranjak ke kamar untuk istrahat.
Mbok Lala menghampiri Arif dengan perasaan yang masih canggung. Jujur saja kejadian di kamar majikannya kemarin masih begitu jelas di ingatannya.
"Mbok kok melamun aja..?" Arif mengerutkan keningnya menatap mbok Lala yang berdiri tidak jauh darinya.
"Aden kok tumben minum kopi..? Biasanya non Aima nyuruh mbok bikinin teh buat den Arif.." Heran mbok Lala.
"Biar gak ketiduran mbok nungguin Aima pulang.." Jawab Arif santai.
"Non Aima belum pulang..?" Batin mbok Lala menatap jarum jam dinding yang tergantung di dinding ruang makan.
"Sini den biar saya yang bikinin.." Ucap mbok Lala mengambil alih gelas yang berada di depan Arif.
Sesaat kemudian, suara mobil Aima terdengar tengah memasuki garasi samping ruang keluarga.
Arif yang baru saja hendak menyeruput kopi buatan mbok Lala, meletekan kembali gelas kopi di atas meja dan menyambut sang istri di depan pintu masuk.
"Sayang..? Kok baru pulang..? Untung mama sama papa sudah istrahat di kamar.." Ujar Arif mengekori Aima saat Aima bergegas masuk langsung menuju ke kamarnya dengan cuek.
Arif sungguh di buat bingung dengan sikap Aima. Namun dirinya terus mengikuti Aima hingga kini mereka telah berada di dalam kamar.
Aima meletakkan tas dan melepas jam tangan serta perhiasan yang di gunakan ke dalam kotak dan menyimpan kembali ke tempatnya kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Arif membuang nafas kasarnya dengan kedua tangan berada di pinggangnya.
"Harus lebih sabar lagi. Harus.." Batinnya menatap ke sembarang arah.
Arif tercengang menatap sang istri yang begiti seksi. Apakah Aima lupa kalau di kamarnya saat ini tak hanya ada dirinya saja..?
Begitu batin Arif bermonolog.
Dengan santainya Aima melangkah menuju Walk in closet. Sementara Arif masih terpaku di posisinya semula.
"Bobo mas. Udah malam.." Ucap Aima membuyarkan lamunan Arif setelah beberapa saat.
Arif melangkah menghampiri Aima yang duduk di tepi tempat tidur. Arif menatap Aima dengan segala pertanyaan yang menumpuk dalam benaknya.
"Aima. Aku boleh nanya sesuatu..?" Tanya Arif ingin menuntaskan rasa penasarannya.
Aima menatap wajah Arif dengan santainya sembari mengangguk.
"Apa aku ada salah..? Apa salah aku fatal hingga kamu bersikap dingin seharian ini sama aku..?" Tanya Arif menelisik mata sang istri menunggu jawaban secepatnya.
"Gak ada mas. Aku cuma males ngobrol aja.." Elak Aima dengan nada santai sembari fokus mengeringkan rambut basahnya.
"Jangan bohong Aima. Tolong katakan letak salah ku biar aku bisa memperbaikinya.." Desak Arif.
Aima menatap wajah Arif dengan kesal. Karena Arif tidak peka juga, akhirnya Aima membeberkan kesalahannya dengan jenga.
"Mas kemarin janji apa sama aku..?" Tanya Aima tanpa menjawab pertanyaan Arif terlebih dahulu.
"Janji..? Janji apa..?" Bingung Arif.
"Tuh kan lupa..?" Cebik Aima kesal.
__ADS_1
Arif masih terlihat berpikir keras akan janji apa yang dia katakan pada sang istri.
"Sini handphone nya.." Aima menengadakan tanganya di depan wajah Arif.
Arif yang belum mengerti arah pembicaraan sang istri, dengan pelan menyerahkan ponselnya tanpa protes.
Terlihat Aima mulai mengutak atik isi ponsel suaminya. Sesaat kemudian dia kembali menuerahkan ponsel sang suami dengan wajah pias.
Arif menunduk menatap layar ponsel yang dimana salah satu aplikasi chat tengah menampakkan isi obrolan antara dirinya dan Fatur.
Arif kemudian mendesah. Di tatapnya sang istri dengan wajah memelas.
"Udah tau kenapa aku diemin kamu..?" Aima mendelik.
Arif yang baru sadar kemarin sudah berjanji untuk tidak menyembunyikan sesuatu apapun tentang chat Fatur padanya, terus menampakkan wajah memelas karena telah abai.
Pagi tadi saat Aima masuk ke kamarnya saat Aima memberikan waktu dan privasi pada Arif dan tamunya, Aima tak sengaja melihat isi chat dari Fatur di ponsel sang suami di atas nakas.
Bukan hanya sekali, tapi lebih dari lima chat. Aima hanya membaca isi pesan Fatur lewat notif saat ponsel menyala tanpa membuka layar ponsel.
Seharian dia sengaja diam. Menunggu apakah suaminya membahas isi chat itu atau tidak. Dan benar saja dugaannya. Arif diam seribu bahasa.
Saat dalam rasa kesalnya, Aima memilih menemui Fatur untuk meminta Fatur membatalkan niatannya itu.
"Sayang.. Maaf, aku lupa ngasih tau karna aku pikir nanti saja setelah waktu yang tepat.." Ucap Arif pelan.
Aima mendesah. Terlihat ada kekesalan di matanya.
"Waktu yang tepatnya itu kapan..? Setelah beres berantem..?" Amarah Aima
"Bukan sayang. Tadi kan kamu masih kesal karena cemburu ada cewek datang ke rumah.." Ujar Arif mengerutkan alisnya.
"Mana ada aku kesal karena cemburu..? Kalau aku cemburu, tentu sudah aku introgasi cewe itu sebelum kamu datang.." Elak Aima
"Jadi, kamu gak ada rasa cemburu sama sekali saat aku dekat sama cewek lain..?" Tanya Arif kecewa.
"Enggak.." Jawab Aima tersenyum.
Arif menunduk kecewa. Hatinya mendadak ngilu. Padahal dia berharap benih benih cinta mulai tumbuh di hati Aima untuknya.
Kali ini Arif harus mengubur dalam lagi harapannya itu.
.
.
,
.
BERSAMBUNG..
HAY TEMAN TEMAN.. 😊💖
TERIMA KASIH YA SUDAH MAMPIR LAGI DISINI.. 🙏💖💖💖
MOHON DUKUNGANNYA TERUS AGAR LEBIH SEMANGAT LAGI DI EPISODE BERIKUTNYA..😇😇
JANGAN LUPA VOTE DAN LIKE YA.. 🙏🙏
MAKASIH SEBELIMNYA.. 🙏💖💖💖
__ADS_1