DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
ARIF DAN FATUR


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu.


Setelah sholat isya, Arif meraih Alqur'an yang tersimpan di atas nakas.


Arif melantunkan ayat ayat suci seperti biasa. Tak lupa sebait doa dia selipkan untuk mendiang Aini dan juga istrinya Aima.


Dia berharap Aima bisa membuka hatinya untuk menerima pernikahan mereka sepenuhnya seperti halnya dirinya.


Di tengah tengah Arif melantunkan ayat suci, suara pintu kamarnya terdengar di ketuk dari luar.


Arif menoleh ke arah ketukan kemudian menutup pelan kitab suci di tangannya.


Disimpannya kembali kitab suci itu di tempatnya semua dan melangkah maju membuka pintu kamarnya tersebut.


Terlihat wajah sang Ibu dari balik pintu tersenyum menyapanya.


"Sini dulu sebentar. Ada yang mau mama sama papa sampaikan." Ajak bu Nana


Arif pun mengikuti sang ibu yang berjalan menuju sofa ruang keluarga.


"Besok papa sama mama harus pulang kampung. Pakde mu sudah mulai panen sayur, dan kali ini giliran papa yang mengelolah kebun kakek mu.." Ucap bu Nana memberi tahu.


"Kalau kamu gak sibuk, kamu ikut kami pulang.." Tutur pak Malik menimpali.


"Iya pah.. Aku ikut.. Kebetulan tugas kampus juga sudah selesai, masih bisa di tinggal dalam seminggu.." Ucap Arif menanggapi.


"Iyasudah kalau begitu.. Besok setelah subuh papa ke tempat paklek mu dulu ngambil mobil. Biar nanti jam 8 pagi kita berangkat.." Ucap pak Malik lagi.


"Iya pah.. Aku dengan motor ku aja.." Ucap Arif tersenyum.


"Istrimu gimana nak..? Apa dia gak ikut di ajak juga..?" Tanya bu Nana ikut menimpali.


Arif tersenyum kecil menatap Ibunya.


"Dia sibuk ma.. Perusahaannya sedang maju majunya.. Nanti kalau dia udah punya waktu luang, aku ajak kesana.." Jawab Arif seadanya.


Dia takut Ibunya curiga karena dirinya tidak pandai dalam hal berbohong.


"Iya sudah kalau begitu.. Berarti besok kamu ke rumah mertua mu dulu.. Pamit dulu sama mereka.." Ucap sang Ibu, dan di angguki oleh Arif.


Di tempat lain. Aima yang baru pulang dari kantor karena lembur, di hadang oleh Ibunya saat melewati ruang keluarga.


"Jangan bohong Aima.. Mama tau kamu membohongi kami.." Celetuk bu Ineke menahan emosinya.


"Ma, aku capek.. Aku mau istrahat.." Ucap Aima yang terus berusaha menghindari pertanyaan mamanya.


"Jawab mama.. Ada masalah apa kamu sama suamimu sampai dia gak pulang dari kemarin.. Biasanya Arif kalau keluar rumah, pulang telatpun dia ngasih tau sebelum di tanya.. Tapi ini apa..?" Ujar bu Ineke yang mulai kesal dengan kelakuan anak satu satunya itu.


Aima diam tidak berani menjawab. Dia tahu jika Ibunya mulai bertanya sesuatu, tidak akan selesai sebelum dia merasa puas dengan jawabannya.

__ADS_1


Aima juga dua hari terkahir ini mulai merasa kehilangan akan sikap hangat Arif yang setiap dia merajuk, disaat dirinya tidur, setiap dirinya bertingkah. Yang kini tidak dia rasakan setelah Arif pulang ke rumah orang tuanya.


"Ma, aku mau mandi dulu.. Nanti aku hubungi dia, minta dia pulang malam ini juga.." Ucap Aima pelan sambil melangkah meninggalkan sang Ibu menuju kamarnya.


"Anak ini.. Arif itu anak yang baik nak.. Adikmu tidak salah dalam memilih.. Tidak seperti Fatur yang selalu sesuka hatinya memperlakukanmu.." Gumam bu Ineke yang tidak terdengar lagi oleh Aima yang kini sudah di ujung anak tangga menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar. Aima menghempas tubuh lelahnya di ranjang empuknya.


"Mandi dulu lah." Gumamnya bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dari keringat seharian.


Tuuttt.. Tuuuttt.. Tuuttt..


Getar suara ponsel milik Aima yang dia letakkan di atas kasur terus berlanjut hingga kesekian kali.


Aima baru keluar dari kamar mandi, belum sempat memeriksa ponselnya.


Hingga pada saat dia mulai merebahkan tubuhnya setelah selesai berpakaian, tangannya meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas ranjang dengan perasaan malas.


Aima membelalakan matanya saat melihat empat panggilan tak terjawab dari Fatur. Saat Aima hendak menonaktifkan ponselnya, ponselnya kembali berdering dan tak sengaja tersambung.


"Hallo Assalamualaikum.." Sapa Fatur di seberang telephone


"Waalaikumsalam.. Ada apa menghubungiku..? Dari mana kamu dapatkan nomorku..?" Tanya Aima jutek.


"Aku ada di depan, turunlah.. Aku mau bicara.." Ucap Fatur langsung mematikan panggilannya sepihak, membuat Aima menggerutu.


Dengan menahan amarah, Aima terpaksa turun menemui Fatur yang kini berada di teras rumahnya. Dia takut orang tuanya tahu kedatangan Fatur, bisa muncul masalah besar lagi untuknya.


"Kamu ngapain lagi kesini..?" Kesal Aima menghampiri Fatur.



"Begini caramu menyambut tamu..?" Celetuk Fatur mendelik.


"Gak usah basa basi deh.. Cepat katakan ada urusan apa kamu kesini..?" Sarkas Aima.


"Sayang.. Gak bisakah kamu maafin aku..?" Tanya Fatur lembut.


"Tumben kamu marahnya lama." Lanjutnya lagi.


"Jika kamu kesini cuma untuk minta maaf, aku udan maafin sebelum kamu minta maaf.. Pulanglah dan jangan datang lagi kesini.." Ucap Aima menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Sayang.. Kamu sebenarnya kenapa..? Gak biasanya loh kamu bersikap seperti ini.." Tanya Fatur mengerutkan keningnya menatap Aima bingung.


"Aku minta kak Fatur pergi dari sini sekarang juga.. Aku mau istrahat.." Ucap Aima dengan mata mulai berkaca kaca.


"Sayang.. Tolonglah bersikap dewasa sedikit.. Coba kasih aku penjelasan, kenapa kamu jadi bersikap seperti ini.." Tanya Fatur menarik pelan lengan Aima.


"Lepas.. Jangan lagi pernah sentuh aku.. Kak Fatur seharusnya tau kenapa aku jadi seperti ini.." Ucap Aima menahan gejolak dalam batinnya.

__ADS_1



"Mboookkk.. Mbookkk.." Suara Aima menggema memanggil asisten rumahnya.


"Iya non.. Ada apa..?" Tanya Mbok Lala menghampiri.


"Cepat tunjukan pintu keluar buat kak Fatur.." Ucap Aima menoleh ke arah mbok Lala yang berada di belakangnya.


Aima bergegas masuk meninggalkan Fatur di ruang tamu rumahnya, namun lengannya di cekal oleh Fatur.


"Aima.. Tatap aku dan coba katakan bahwa kamu tidak lagi mencintaiku.." Tantang Fatur yang mulai jengah dengan sikap Aima.


Aima menepis tangan Fatur dan berlalu dari hadapannya. Sesungguhnya Aima masih mencintai Fatur, namun rasa kecewanya pada Fatur juga teramat dalam.



"Aku gak akan melepaskanmu Aima.. Aku akan buktikan kalau aku layak menjadi suamimu.. Aku akan melamarmu nanti.." Gumam Fatur di tengah frustasinya akan sikap Aima.


***


"Loh Arif..? Kamu gak kerumah mertuamu..?" Tanya bu Nana melihat Arif duduk melamun dengan muka khas baru bangun.



"Aku udah kirim pesan sama Aima.. Aku capek bolak balik, belum lagi perjalanan ke kampung makan waktu cukup lama.." Jawab Arif pelan.


Tuuttt.. Tuuuttt.. Tuuutttt..


"Hallo, Assalamualaikum.." Sapa Arif


"Waalaikumsalam.." Suara serak khas baru bangun begitu merdu di telinga Arif.


"Belum bangun..? Ini udah jam setengah 6 loh, emang gak sholat..? " Tanya Arif lembut.


"Udah tapi tidur lagi karna ngantuk lagi.. Kapan pulang..?" Arif tersenyum kecil mendengar pertanyaan yang membuatnya bahagia.


Bu Nana mengerutkan keningnya menatap sang anak yang sedang mengobrol by phone dengan wajah bahagia.


"Nanti, setelah kamu yang meminta.." Jawab Arif menguji.


"Mceehhh.. Kalau mau pulang ya pulang aja.. Ngapain nunggu di minta.. Kalau aku gak minta, emangnya mas gak akan pulang pulang gitu..?" Ucap Aima, dengan nada kesal seperti biasa.


"Hehe, bukan gitu sayang.. Oh iya, aku nelphone kamu pagi pagi cuma mau pamit.." Ucap Arif menatap wajah sang Ibu yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan aneh.


"Pamit..? Pamit kemana..?" Tanya Aima pelan.


"Aku mau ikut papa ke kampung selama seminggu.. Sebentar lagi kami berangkat.." Jawab Arif pelan.


**BERSAMBUNG..

__ADS_1


TEMAN TEMAN, TERIMA KASIH YA SUDAH MAMPIR LAGI KESINI.. 😇🙏🙏💞


TERIMA KASIH JUGA SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGANNYA.. 😇🙏💞💞**


__ADS_2