DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
KECURIGAAN AIMA


__ADS_3

Setelah semua telah selesai di urus, baik itu administrasi dan surat perserujuan operasi, Arif pin segera di bawa menuju ruang operasi.


Kedua orang tua Aima juga sudah hadir disana. Mereka semua nampak duduk dengan diam tanpa ada yang bersuara.


Semua nampak diam dengan pikiran mereka masing masing.


Hanya Aima yang sesekali melirik ke arah mertuanya dengan segalah pikiran yang hanya dia yang tahu itu apa.


3 jam berlalu. Namun pintu ruang operasi belum juga di buka. Menandakan kegiatan para dokter di dalam belum selesai.


Hingga waktu terus berjalan. Tanpa terasa waktu operasi sudah 4 jam lamanya. Dan saat itu pula pintu ruang operasi di buka dari dalam hingga menampakan wajah 2 orang dokter.


"Keluarga pak Arif..?" Sapa seorang dokter.


"Kami semua keluarganya dok.." Ucap bu Ineke mendahului.


"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Semua teratasi dengan baik dengan izin Allah.." Ucap sang dokter tersenyum.


Semua serentak dengan ucapan Alhamdulillah. Ketegangan yang sejak tadi, kini terasa lepas tanpa beban.


"Pasien masih dalam pengaruh bius. 5 jam lagi pasien akan segera sadar. Dan untuk sementara, pasien masih tetap berada di ruang intesif. Besok baru boleh di pindahkan.." Jelas sang dokter lagi.


***


"Ma, aku mau nanya sesuatu sama mama.." Ucap Aima dengan mode serius menatap bu Ineke.


Saat ini Aima dan kedua orang tuanya tengah berada di ruang vvip yang baru saja mereka urus untuk ruang perawatan Arif setelah keluar dari ICU.


Bu Ineke hanya merespon dengan tatapan yang tak kalah serius.


"Mama kenal dengan perempuan yang bernama Fika..? Perempuan yang kalau aku gak salah dengar, dia selalu ada buat mas Arif dan keluarganya saat ini.." Ucap Aima dengan nada yang terdengar tidak suka.


Bu Ineke yang duduk di samping Aima, sekilas menangkap rasa penasaran tingkat dewa di wajah sang anak.


Aima yang terkesan cuek, dingin dan tegas, kini mendadak seperti seorang wartawan media yang memburu informasi.


"Iya mama sempat melihat ada seorang wanita muda yang akhir akhir ini sering mengunjungi Arif di rumah sakit. Bahkan beberapa hari lalu mama juga lihat mertua kamu sedang ngobrol lama dengan gadis itu.." Kata bu Ineke tanpa menutupi.

__ADS_1


Melihat raut wajah sang anak yang terlihat sedang memikirkan sesuatu, bu Ineke pun mendadak sama penasarannya.



"Kenapa Aima..? Ada apa..?" Tanya sang ibu


"Ahhkk gak ma.. Aku cuma nanya aja.." Aima tersadar dalam lamunannya.


Sementara di depan ruang ICU, kedua mertua Aima serta pak Samsul tengah berbincang soal kelanjutan perawatan Arif.


Pak Samsul sedang memberi pengertian kepada pak Malik dan bu Nana soal Aima yang saat ini membiayai pengobatan dan lanjutan perawatan Arif karena biar bagaimanapun Aima adalah istri sah dari Arif.


Sebagai orang tua, tentunya pak Samsul ingin kedua besannya itu tidak mempermasalahkan berapa pun besar kecilnya uang yang Aima keluarkan sebab sang anak melakukannya dengan sukarela.


"Terima kasih sebelumnya pak Samsul. Mengenai hal ini, akan kami bicarakan dulu berdua.." Ucap pak Malik menatap pak Samsul dan sang istri secara bergantian.


"Iya pak Malik. Saya mengerti. Tapi sekali lagi saya harap, pak Malik dan bu Nana tidak mencegah Aima. Karena itu bisa saja melukai perasaannya.." Ucap pak Samsul.


Bukan tanpa alasan. Pak Samsul tahu niat buruk Fika kepada Aima. Dengan kondisi yang saat ini, Aima tentu akan mudah terpojok.


Dan hal itu tentu dengan mudahnya di manfaatkan oleh Fika untuk semakin menyudutkan Aima.


"Pak, bu.. Gimana keadaan kak Arif..?" Ketiga padangan orang dewasa itu pun teralihkan pada sosok gadis cantik yang tiba tiba muncul di hadapan mereka dengan sorot mata penuh tanya.


Seolah sedang menunjukkan sisi khawatirnya yang tingkat tertinggi pada Arif.


"Nak Fika..?" Bukannya menjawab, bu Nana justru merasa tak enak pada pak Samsul akan kedatangan Fika.


Fika mengikuti arah pandang bu Nana yang sedang menatap pak Samsul. Namun bukannya menyapa, Fika justru menatap cuek dan kembali mengulangi pertanyaannya.


"Alhamdulillah Arif sudah membaik.." Ucap pak Malik seadanya.


Karena sama seperti sang istri. Pak Malik pun merasa tak enak hati pada besannya.


"Syukurlah.. Ayah sama ibu juga mau kesini jenguk kak Arif. Mungkin sebentar lagi sampai.." Jelas Fika tersenyum tanpa di tanya.


Bu Nana dan pak Malik sontak saling tatap satu sama lain.

__ADS_1


Dan semua gerak gerik tak lupa raut wajah ketiganya saat berkomunikasi satu sama lain tentu tak luput dari pengamatan pak Samsul yang sejak tadi hanya memilih diam.


Tak butuh waktu lama, kedua orang tua dari Fika pun benar benar datang menjenguk Arif seperti yang di sampaikan oleh Fika lengkap dengan buah tangan yang mereka bawa.


***


"Setelah mas Arif sembuh, aku akan menawarkan dia untuk kerja di perusahaan aku ma.. Biar aku bisa fokus di salah satunya saja.. Gimana menurut mama..?" Ujar Aima masih di ruang perawatan Arif.


"Mama setuju setuju aja. Tergantung Arif mau apa gak. Tapi sebaiknya kamu bahas soal ini sama papa kamu dulu. Karna biar bagaimanapun Arif masih kerja di hotel papa.." Tutur bu Ineke memberi saran.


Aima mengangguk anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Kalau mas Arif ternyata memilih ikut orang tuanya seperti yang mama bilang, gimana dong ma..?" Tanya Aima mengangkat kedua alisnya menatap sang Ibu.


"Ya gimana kamu lah sayang. Mama maupun papa ya gak bisa larang Arif untuk tidak ikut. Karna yang ngajakkan orang tuanya sayang.." Ucap bu Ineke.


"Kecuali kamu yang mencegahnya pergi. Karna kamu istrinya, yang punya hak untuk suami kamu. Ya meski orang tuanya tetap yang utama bagi seorang anak laki laki meski sudah menikah.." Imbuhnya lagi.


Aima menunduk. Entah apa yang di pikirkannya. Bu Ineke pun tidak paham dengan sikap sang anak. Tidak terlihat cinta, tapi ogah ogahan Arif pergi dari hidupnya.


"Liat nanti deh ma setelah mas Arif bisa di ajak ngobrol. Jika mas Arif memilih tinggal sama orang tuanya, ya sudah gak apa apa.." Ucap Aima tersenyum tipis.


"Aima. Mama mau nanya sama kamu. Apa perasaanmu saat ini takut kehilangan..?" bu Ineke menatap intens manik mata sang anak.


Yang di tatap kini merasa bingung dengan pertanyaan sang ibu.


"Maksud mama..?"


Belum juga bu Ineke kembali bersuara, keduanya di kagetkan dengan suara pintu yang di dorong dari luar.


.


.


...BERSAMBUNG...


...Terima kasih atas segalah dukungan dari temab teman semua.. Terima kasih juga karena sudah mampir disini sampai pada episode kali ini.. 🙏🙏💖...

__ADS_1


...Mohon dukungannya terus biar lebih semangat lagi UP episode selanjutnya dengan bantu vote, like.. 🙏💖💖💖...


__ADS_2