
Semakin Aima diam, semakin pula Arif mengimbangi. Membuat Aima geram sendiri akan sikap Arif yang di rasa tidak peka oleh Aima akan situasi yang tercipta.
Aima memilih bangun dari tidurnya dan menoleh ke arah sang suami yang berada di sofa ujung ruangan kamar.
"Mas. Beneran ninmau tidur disitu sampe besok..?" Ujar Aima dengan nada dingin, membuat Arif membuka matanya tanpa bergeming.
"Yasudah kalau begitu, terserah.." Ujar Aima masa bodoh.
Aima bangkit dari ranjangnya berniat mau ke kamar mandi, namun Arif mengiranya Aima mau keluar kamar lagi untuk menghindarinya seperti sebelum sebelimnya. Hingga
"Mau menghindar lagi..? Aku sudah cukup mengalah dengan mau bertanya baik baik soal pertemuan kamu dengan dia. Tapi kamu malah bersikap kasar dan marah marah gak jelas gitu sama.."
Aima yang mendengar penuturan Arif mengenai pertemuannya dengan Fatur itu, sontak menghentikan langkah kakinya tepat sejajar dengan posisi Arif yang berada di sofa.
"Kenapa diam..? Heran kenapa aku bisa tau..? " Tanya Arif dingin.
Jujur saja apa yang barusan Arif tanyakan memang benar adanya di benak Aima. Seolah sang suami bisa membaca isi pikiran dia saat ini.
"Aku bisa jelaskan. Bentar dulu, aku mau ke kamar mandi sebentar.." Ucap Aima tanpa menoleh ke arah sang suami.
Arif hanya menatap punggung sang istri yang mulai hilang dari balik pintu kamar mandi dengan menghembuskan nafas kasarnya.
"Di omong, baru sadar kamu.. Tadi mah marah marah aja. Sekarang, baru baik lagi nadanya.. Harus di sekolahin berapa lama lagi ni betina satu ini.." Batin Arif mendumel.
Mungkin lapisan sabarnya sudah mulai menipis. Beruntung kali ini Aima tidak keras ketika mendengar ucapan Arif soal pertemuannya dengan lelaki di masa lalunya.
Beberapa menit berlalu, pintu kamar mandipun terbuka. Menampakkan wanita cantik yang sejak tadi di tunggu oleh Arif keluar dari dalam sana untuk menagih penjelasan soal masalah yang ada.
Bukannya menghampiri sang suami di sofa, Aima justru kembali ke ranjang untuk melanjutkan istrahat malam.
Arif mendumel kesal. Namun hanya kalimat "Gini amat punya istri yang gak perasa" yang terdengar jelas di telinga Aima.
"Tadi mas bilang apa..?" Tanya Aima menahan emosinya agar tidak menimbulkan keributan lagi.
Melihat Arif diam, bahkan memilih membenarkan posisi tidurnya agar sedikit nyaman berbaring di sofa.
Membuat Aima menghembuskan nafas kasar sekedae meredam emosinya.
Mungkin kali ini dirinyalah yang harus memilih mengalah dan menjelaskan kronologi pertemuannya dengan sang mantannya itu sebelum berlarut larut.
Rasa lelah dan kantuk yang ada, harus dia tepiskan dulu demi menyelesaikan masalah di antara keduanya.
"Mas. Pindah tidur sini. Nanti badan kamu sakit semua tidur di sofa.." Ucap Aima lembut.
Tak bergeming, Aima memejamkan matanya sejenak untuk meredam emosinya lebih dalam lagi.
"Mas. Kamu dengar gak aku ngomong..? Sini, aku mau bobo peluk.. Hari ini aku capek banget banyak kerjaan di kantor.." Ucap Aima menepihkan sejenak rasa malunya.
__ADS_1
Dan benar saja, kali ini Arif menurut pindah ke tempat tidur meski wajahnya masih terlihat kesal.
"Mukanya gak usah di tekuk kayak gitu. Gak suka aku liatnya.." Ucap Aima pelan.
"Jelaskan, kenapa kamu marah marah sama aku tadi..? Aku buat salah apa..?" Desak Arif tanpa jeda.
Aima membenarkan posisi duduknya sebelum menjawab agar nyaman untuknya menjelaskan.
Namun Arif yang merasa kali ini tidak sabaran, membuat Aima menyentil jidat sang suami melampiaskan gregetnya.
"Punya suami boca tuh gini ya..? Sabar kenapa..?" Celetuk Aima greget.
"Oh jadi aku tuh boca di mata kamu..? Yang gak punya rasa sabar menghadapi kamu gitu..? Terus apa kabar dengan kamu yang suka ambekan dan marah marah tanpa jelas..? Sarkas Arif tak mau kalah.
Lagi lagi Aima terlihat menghembuskan nafas kasar.
"Mau ribut sampai pagi atau mau masalahnya selesai malam ini..?" Ucap Aima pelan memberi pilihan.
"Jelaskan.." Pinta Arif menyela ucapan sang istri
"Mas. Aku mau nanya dulu sama kamu.." Ucap Aima menatap wajah Arif serius.
Jujur, tatapan sang istri yang terlihat serius seperti ini seakan sebuah magnet yang menarik daya pikat tersendiri di mata Arif.
Tak jarang Arif memilih menghindari tatapan sang istri karena merasa salah tingkah.
"Iya Aima, mau nanya apa..? Pintanya.
"Mas ada rasa khawatir gak sih sama aku kalau aku gak lagi berada di rumah..?" Tanyanya
"Kenapa kamu nanyanya seperti itu..? Kalau aku gak khawatir, kemarin kenapa aku harus jauh jauh meninggalkan papa sama mama sendirian di sukabumi cuma buat mastiin kamu baik baik aja disini..?" Jawab Arif panjang
"Itu aku tau mas. Tapi bukan itu maksud aku.." Celetuk Aima greget.
"Lah terus..?" Heran Arif tak mengerti.
"Tadi, sebelum aku pulang, mas gak khawatir kah aku belum pulang..? Padahal hari sudah malam.." Tanya Aima pada intinya.
"Mas gak ada rasa cemas gitu..?" Tambahnya lagi.
Arif menarik tangan Aima sedikit mendekat ke arahnya yang sedang berbaring sejak tadi.
"Kamu pikir, aku gak kelabakan gitu pulang pulang ke rumah istriku ternyata belum pulang dari kantornya gitu..?"
"Kamu pikir aku diem aja, duduk manis aja di rumah nunggu istriku pulang dan gak niat menjemputnya gitu..?"
Mendengar penuturan sang suami, Aima yang masih di posisi menunduk karena di tarik sang suami, hanya diam mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut sang suami.
__ADS_1
"Dan aku kesana lumayan stres terjebak macet lumayan parah, gak sabar pengen buru buru sampai. Dan sialnya pas disana aku justru mendapati kamu sedang ngobrol berdua dengan dia."
"Mas kenapa gak ngubungin aku sebelum kesana jemput aku.."
"Buat apa..? Biar aku gak tau kamu berduaan sama dia di kantor kamu sampe kamu telat pulangnya..?" Pertanyaan Aima membuat Arif salah paham.
"Iiisshhh mulutnya. Heran aku jadi kemana mana ngomongnya.." Kesal Aima menyentil bibir Arif dengan pelan.
"Bukan gitu mas. Mas tau gak aku tadi kenapa bisa sekesal itu sama kamu..?" Tanya Aima yang hanya di respon tatapan oleh Arif.
"Tadi di kantor lagi banyak kerjaan. Aku jadi lupa waktu. Aku kesal pas cek Hp gak ada pesan dari kamu.."
"Aku jadi mikir kamu gak ada khawatir khawatirnya gitu aku pulang telat.. Kalau aku kenapa napa kamu pasti gak akan peduli gitu.." Tutur Aima menjelaskan alasannya.
"Aku mikirnya sampe kesana loh mas. Aku gak tau kamu ternyata ada disana mau jemput aku.. Mana gak ngubungin, ga ngirim pesan, kan aku jadi mikir aneh aneh.." Tambahnya dengan nada manja.
"Ponsel aku lowbet. Tuh masih di charger belum aku aktifin lagi.. Aku pengen buru buru aja ngejemput takut kamu kenapa napa.." Ucap Arif menanggapi.
Aima tersenyum. Di elusnya pipi sang suami sejenak.
"Badan aku pegel mas. Ayo tidur.." Ajak Aima menyudahi sembari berbaring membenari selimut.
"Aku laper. Aku belum makan malam.." Ujar Arif pelan membuat Aima sontak menatap ke arahnya.
"Mas belum makan..? Mas gak ikut makan malam sama mama papa..?" Tanya Aima memastikan yang di tanggapi gelengan kepala oleh Arif.
"Ya ampun mas. Aku pikir mas udah makan. Makanya aku tadi ke bawah makan sendiri.." Ujarnya merasa bersalah.
"Yasudah mas mau makan disini aja apa di bawah..? Biar aku siapkan.." Tanya Aima sembari turun dari tempat tidur.
Mendengar ucapan makan di bawah biar aku siapin, membuat otak Arif menjadi traveling dan mesum.
"Makan di bawah..? Makan kamu maksudnya..?" Ucap Arif dengan ekspresi menggoda.
Aima mengerutkan keningnya bingung. Sesaat kemudian otaknya sudah mampu mencerna maksud ucapan sang suami.
Mendadak wajahnya memerah. Tangannya spontan meraih bantal dan melemparkannya tepat ke wajah sang suami membuat Arif tergelak tawa.
"Dasar mesum.. Orang lagi serius juga.." Celetuk Aima menahan malu dan kesal bersamaan.
"Ya aku juga serius sayang.." Jawab Arif tertawa.
"Gak akan.. Aku gak mau.. Udah ahk, kamu makan di dapur aja biar aku siapkan.." Ucap Aima kemudian berlalu meninggalkan Arif disana yang masih dengan tawanya.
**BERSAMBUNG..
HAYY TEMAN TEMAN, MAKASIH YA SUDAH MAMPIR LAGI DI EPISODE KALI INI.. 😇🙏💖
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA DENGAN BANTU LIKE DAN VOTE YA TEMAN TEMAN..
TERIMA KASIH SEBELIMNYA.. 😇🙏🙏💖💖**
__ADS_1