
Meski dengan perasaan ragu, Arif tetap membuka pintu kamar tersebut.
Saat pintu kamar di dorong, benar saja, Arif mendapati Aima sedang duduk di lantai dengan posisi tubuh bersandar di sisi tempat tidur Aini sambil memeluk bingkai photo.
Arif masuk perlahan. Menghampiri Aima dan duduk di sampingnya tanpa berniat mengusik.
Lama posisi itu bertahan. Sampai akhirnya dengan pelan Arif menarik tubuh Aima masuk dalam pelukannya.
Aima terlonjak kaget dan melirik siapa yang kini sedang memeluknya.
“Arif..?.. Kenapa kamu bisa ada disini..?” Pekik Aima sambil mendorong tubuh Arif.
Arif bergeming memandang wajah Aima yang sembab. Di pandanginya wajah Aima dengan seksama.
Tak di pungkiri, wajah Aima sekilas mirip dengan wajah Aini. Arif menggeser tubuhnya menjauh dari Aima.
“Maaf aku sudah lancang sudah memelukmu.. Aku hanya ..” Ucap Arif tak melanjutkan ucapannya.
Aima memalingkan wajahnya dari tatapan Arif. Aima mengerti apa yang Arif maksud. Sama sepertinya yang kehilangan.
“Ada apa kamu kesini..?” tanyanya kemudian dengan datar.
Arif menunduk menatap kedua tangannya yang saling bertautan di atas pahanya.
“Gak ada. Aku hanya mau menemuimu saja. Aku juga gak tau kenapa aku mau menemuimu disini..” jawab Arif jujur.
Meski masih terkejut, saat perubahan panggilan dari saya menjadi aku, Aima berusaha bersikap biasa saja depan Arif.
“Dan mengenai ucapanku waktu di rumah sakit, aku minta kak Aima lupakan aja. Aku menarik kembali ucapan ku itu..” Tutur Arif dengan pelan.
Aima menoleh menatap wajah Arif yang tertunduk lesu.
Dia senang Arif tidak melanjutkan perjodohan dari adiknya itu. Dengan begitu, dia masih bisa melanjutkan keinginannya untuk menikah dengan kekasihnya.
“Aku harap juga sebaiknya begitu.. Kita melanjutkan kehidupan kita aja masing-masing." Ucap Aima senang
"Karena saya punya impian dengan pilihan saya.. Dan kamu, kamu masih muda. Masih panjang perjalanan hidup kamu dan kamu masih punya kesempatan bertemu dengan banyak gadis di luar sana..” Sambut Aima dengan semangat.
Arif menganggukan kepala dengan senyuman manis menanggapi ucapan Aima.
Meski dia ingin memenuhi keinginan Aini yang terakhir untuk menikahi Aima dan menjaganya, namun melihat penolakan Aima dia merasa cukup sadar diri.
Jika sama Aini saja dirinya segan dan merasa tak cukup pantas, apalagi untuk Aima. Yang jelas akan kelasnya.
Keduanya tersenyum setelah kesepakatan untuk tidak melanjutkan perjodohan itu di sepakati dengan damai. Hingga pada akhirnya
“Kami sudah memutuskan. Selesai 40 hari kepergian Aini, kalian menikah."
Arif maupun Aima terkejut saat pak Samsul berdiri di ambang pintu kamar dengan suara tegasnya.
"Sebelum adik kamu tidak sadarkan diri hingga akhirnya menghembuskan nafas, Aini sudah sering memohon pada mama dan papa untuk menikahkan kalian." Lanjut pak Samsul lagi
__ADS_1
"Papa sama mama sudah berjanji pada Aini untuk mengabulkan keinginan terakhirnya itu." Tegas pak Samsul yang juga sudah di setujui oleh pak Malik.
"Papa sejak kapan disana?" Tanya Aima mengerutkan keningnya.
"Kamu gak kunci pintunya saat masuk tadi?" Tanya Aima menoleh ke arah Arif.
Arif menggeleng. Dia memang sengaja tidak mengunci pintu kamar agar tidak menimbulkan fitnah.
Terlebih disana masih banyak sanak keluarga Aini yang belum pulang ke rumah mereka masing-masing.
Aima berdiri dari tempat duduknya dan menghampir Ayahnya yang masih setia berdiri di ambang pintu.
“Tapi pah.. Gak bisa seperti itu juga dong pah.. Kami sudah sepakat untuk melanjutkan hidup kami masing-masing pah." Cegah Aima merengek.
"Kami sama sama gak menginginkan pernikahan yang tanpa cinta ini.. Terlebih usia Arif 2 tahun di bawah aku.." Rengek Aima dengan kesal.
“Ini sudah final nak.. Kami harap, baik kamu maupun Arif, bisa menerima semua keputusan ini.. Kasihan Aini.. Dia begitu sayang pada kalian berdua." Ucap pak Samsul lembut.
"Dia ingin menyatukan kalian karena dia gak ingin kalian menikah dengan orang lain yang gak dia kenal. Papa yakin, Aini sudah tahu baik buruknya sehingga permintaan terakhirnya hanya untuk kalian." Ucap pak Samsul dengan raut wajah sedih.
"Tapi pah.." Ucapan Aima terpotong dengan gelengan kepala oleh Ayahnya dengan tangan mengelus lembut di pucuk kepalanya.
Aima memalingkan pandangannya ke arah lain. Jemari lentiknya sibuk menghapus jejak air mata yang jatuh tanpa kompromi.
Sedangkan Arif, dia hanya memilih diam. Lidanya sulit di gerakan antara menolak atau menerima.
"Kami tunggu kalian di bawah" Ucap pak Samsul pada keduanya dan berlalu pergi.
Pak Malik tidak berani ikut bicara pada anak-anak mereka karena dia pun tahu, Arif sebelumnya pernah berniat mengabulkan keinginan Aini meski hatinya menentang.
Semua demi cintanya untuk Aini, dia pun rela melakukan itu. Landasan itulah yang membuat pak Malik menyetujui perjodohan anak mereka.
“Kenapa kamu hanya diam saja, hah..? ” Kesal Aima menatap wajah Arif.
Arif menatap Aima dengan lembut dari arah yang cukup berjarak.
“Aku bisa apa jika itu sudah menjadi keputusan orang tuanmu.. Bahkan papa ku saja hanya diam gak berani menentang papamu..? ” Jawab Arif.
“Alahh alasan klasik. Bilang aja kalau sebenarnya kamu juga setuju..”. Tuduh Aima sinis membuang muka.
Arif menarik nafas dalamnya dan menghembuskannya dengan kasar.
“Terserah kamu aja..” Jawab Arif datar.
“Sana keluar.. Ngapain disini.. Saya pengen sendiri..” Usir Aima kesal.
Arif hanya geleng-geleng kepala mendengar kemarahan Aima. Dia memilih mengalah karena malas untuk berdebat, terlebih dengan perempuan.
"Kalian mirip. Tapi sangat jauh berbeda." Gumam Arif pelan yang masih bisa di tangkap oleh pendengan Aima.
***
Sebulan pun berlalu. Begitu banyak drama yang di lalui oleh keluarga Arif dan Aima karena penolakan Aima.
__ADS_1
Meski dia sangat menyayangi adiknya, namun dia tidak berniat mengorbankan kebahagiaannya demi permintaan adiknya untuk menggantikan posisi sang adik sebagai istri dari Arif.
Meski sebelumnya dia sempat pasrah, namun kemudian dia tolak kembali karena perasaan cintanya pada kekasihnya begitu dalam.
Hari ini Aima sedang berada di kantornya dan sedang memimpin meeting untuk para investor baru.
Perusahaan yang sedang dia kelolah mengalami kemajuan yang pesat.
Kegigihan dan tekadnya yang kuat, membuat Aima berada di deretan pengusaha wanita muda yang di incar banyak investor ternama.
Dan saat ini, perusahaannya sedang bekerjasama dengan beberapa investor untuk cabang baru yang akan dia kembangkan di luar negri. Kepiawaiannya dalam mengelolah bisnis, membawanya ke puncak kesuksesan saat ini.
Tadinya Ayahnya ingin membantu menyuntikan dana besar untuk cabang perusahaannya di luar negri tersebut.
Namun Aima menolak dengan alasan dia ingin berdiri di atas kakinya sendiri untuk mengukur sejauh mana kemampunya dalam dunia bisnis.
Jika dia kalah dengan kemampuannya, maka ia pasti akan kembali kepada orang tuanya untuk meminta bantuan mereka.
Sebagai seorang Ayah, tentu pak Samsul sangat bersyukur anak sulungnya begitu pintar dan mandiri.
Mau maju untuk bersaing dengan pengusaha pengusaha tangguh tanpa rasa takut sedikit pun.
Dengan begitu, pak Samsul pun tak bisa memaksakan bantuannya karena beliau juga tahu seperti apa kerasnya Aima.
Dia sangat jauh berbeda dengan Aini yang selalu penuruti keinginan orang tuanya.
Dan mengenai urusan pernikahan yang sudah di sepakati pak Samsul dengan orang tua Arif, hal itu masih tertunda dikarenakan Aima terus saja menghindar dengan alasan bisnisnya.
Seperti hari ini, Aima tidak mau di temui oleh orang tuanya. Alasannya sudah pasti dengan berbagai alasan.
Dia sampai menghindar hingga keluar negri dengan alasan mengurusi anak cabang perusahaan disana.
"Nak, kapan kamu pulang..? Mama kangen pengen ketemu.. Gak ada Aini, kamu pun susah untuk di temui.." Tanya bu Ineke saat by phone dengan Aima.
"Aku udah di indonesia ma.. Hari ini belum bisa, aku ada meeting siang ini dengan investor.. Nanti kalau ada waktu, aku maen ke rumah mama.." Jawab Aima di seberang sana.
Bu Ineke dan pak Samsul akhirnya menyusun sebuah rencana untuk anak bandelnya itu.
"Baiklah nak.. Nanti kabari mama ya secepatnya.." Ucap bu Ineke
"Iya ma.. Ya udah dulu ya ma.. Aku harus prepare dulu.. Assalamualaikum.." Jawab Aima mengakhiri.
"Waalikumsalam.." Jawab bu Ineke sedih.
"Pah.. Ayo kita temui saja anak itu di kantornya.." Ucap bu Ineke greget
Pak Samsul pun mengangguk setuju dan bergegas menuju garasi menyiapkan mobilnya.
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN YAMG SUDAH BEEKUNJUNG KESINI.. 🙏🙏💞
DAN TERIMA KASIH BAGI YANG SUDAH MEMBERIKAN SUPPORT UNTUK AUTHOR BIAR LEBIH SEMANGAT LAGI DALAM BERKRYA.. 😇🙏🙏💞💞**
__ADS_1