
“ Pagi istriku yang cantik..” Ucapnya menatap Aima.
"Mcceehhh gombal, masih pagi juga.." Aima mendelikan matanya, membuat Arif tersenyum.
Pesona subuh yang indah. Aima terpikat dengan senyuman suaminya itu.
“Apakah aku sudah jatuh cinta sama brondong ini..?” Batin Aima
Cup..
Mata Aima melotot mendapati kecupan tiba tiba dari Arif tepat di bibirnya. Aima memukul dada Arif dengan keras membuat Arif memekik kesakitan.
Aima tidak peduli dan langsung meninggalkan Arif menuju kamar mandi.
“Kenapa kak..? Ko cemberut gitu..? ” Arif menaikan volume suara sambil tertawa ketika Aima sudah masuk kamar mandi.
“Diam, males aku sama kamu..” Teriak Aima dari dalam kamar mandi.
Arif tertawa terbahak bahak mendengar kekesalan dari istrinya itu. Sementara di dalam sana, Aima menggerutu kesal pada suaminya itu.
Di tambah lagi dengan ucapan Arif yang menyebut panggilan kak Aima lagi padanya.
Lama Aima berdiam diri di kamar mandi, suara percikan air pun tidak terdengar sejak ia masuk.
Tiba-tiba timbul rasa khawatir di hati Arif. Ia menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuknya terus menerus sambil memanggil nama istrinya itu berulang kali, namun tidak ada sahutan dari dalam.
“Aima.. Aima kamu ngapain di dalam Aima..? Waktu subuh udah mau abis Aima..” Panik Arif dari depan pintu namun tetap sama, tidak ada sahutan.
"Aima. Ayo dong jangan becanda." Panik Arif.
Ceklekk..
“Gak usah teriak, aku belum tuli..” Sinis Aima setelah pintu di buka.
Arif terpaku saat Aima membuka pintu dan muncul tepat di depannya yang terlihat baik baik saja.
Aima melongos keluar kamar dan turun ke dapur tanpa melirik ke suaminya yang sejak tadi menunggunya untuk sholat subuh berjamaah.
Seperti biasa, Aima langsung menuju lemari pendingin mencari buah untuk sarapan paginya.
Sedangkan Arif langsung masuk ke kamar mandi dan bergegas menunaikan sholat subuhnya yang sudah sangat telat karena ulah istrinya yang mengurung diri di kamar mandi hanya karena tidak terima Arif mencium bibirnya dan menyematkan panggilan kakak untuknya.
***
"Gila, kemana aja kemarin..? Syukur dirimu pintar, coba kalau kayak otak ku ini, bisa abadi kamu di kampus ini.." Celetuk Andra saat menghampiri Arif yang baru turun dari motornya di parkiran kampus.
"Aku ada urusan penting, biasa urusan keluarga.. Oh iya, kenapa emangnya dirimu sehebo ini..?" Tutur Arif pada Andra saat mereka memasuki gedung kampus
"Itu dosen baru, namanya Fatur Abdilah.. Gila kiler banget.. Mana materinya susah lagi buat kita pahami.." Tutur Andra menjelaskan.
Arif tersenyum miring menatap lurus ke depan. Andra masih terus memberinya info soal dosen yang menggantikan pak Yusuf karena beliau ada tugas luar beberapa hari kedepan.
Sesampainya di kelas, ternyata dosen yang sedang mereka bahas sudah berada di kelas, tengah menyiapkan materi kuliah.
__ADS_1
Andra yang masuk terlebih dahulu daripada Arif, langsung bergegas mencari tempat duduk yang kosong.
Sedangkan Arif, masih terpaku di ambang pintu menatap Fatur, dosen baru yang di ceritakan oleh sahbatnya Andra.
"Wajahnya seperti gak asing.. Tapi liat dimana ya..?" Monolog Arif dalam hati.
"Kenapa masih berdiri disana..? Jika tidak suka, silakan anda keluar dari kelas saya.." Ucap Fatur sang dosen menatap Arif dengan datar.
Arif tidak menjawab. Namun dia melangkah masuk menuju bangku kosong yang berada di belakang Andra.
Arif terus memperhatikan wajah Fatur dengan sekasama dan terus mengingat dimana dia pernah melihatnya.
***
Sudah dua hari Aima selalu menghindari Arif. Ada saja caranya untuk menjaga jarak dengan suaminya itu.
Seperti saat ini, malam kedua setelah kejadian subuh itu, Aima sibuk dengan laptopnya di ruang kerja Ayahnya.
Bahkan ketika malam sudah mulai larut, ia masih saja belum beranjak dari tempat duduknya.
Orang tuanya tidak mengetahui konflik antara menantu dan anak mereka. Karena yang mereka tahu Aima wanita yang sangat disiplin dalam bekerja dan selalu fokus pada karirnya.
Saat ini, meski sang Ayah sudah menegurnya untuk istrahat karena hari sudah larut malam, namun selalu saja ada jawaban yang ia lontarkan.
Sejak sore Arif tidak melihat Aima di rumah mertuanya. Dia sendiri sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya.
Sehingga jarak yang tercipta antara dirinya dan sang istri, tidak begitu terasa.
Oleh sebeb itulah Arif memilih fokus pada tugas kuliahnya.
Malam sudah semakin larut.. Jam sudah menunjukan pukul 11.25 menit, Aima belum juga muncul dari balik pintu kamar. Membuat Arif yang sejak tadi sudah berbaring, gelisah di buatnya.
Arif meraih ponsel yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya dan mencari kontak yang bertuliskan kak Aima. Ia belum mengubah nama itu meski mereka sudah menikah.
📱
“Kamu dimana..?”
Pesan terkirim dan centang dua, namun tidak di baca oleh Aima. Lama Arif duduk termenung menunggu balasan pesan sang istri, namun tak jua kunjung ada.
Hingga akhirnya dia mengirimi pesan lagi untuk yang kedua kalinya.
📱
“Kemarin kamu terus menghindariku.
Dan hari ini, seharian ini aku gak ada melihat mu di rumah. Kamu dimana biar aku jemput..?”
📲
“Aima, jangan kayak anak kecil gini dong.. kamu yang mulai, aku mengimbangi, kamu malah marah sama aku bahkan semalam tidur di kamar Aini..”
📲
__ADS_1
“kalau aku salah, aku minta maaf.. Besok biar aku balik dulu ke rumah orang tua ku kalau kamu gak nyaman.. kamu tenang aja, orang tua kita gak akan tau soal masalah kita”
Berderet pesan terus Arif kirimkan untuk Aima. Dia sudah terlanjur kesal dengan sikap Aima yang menurutnya kenanak-kanakan.
Masalah bukan di hadapi dan di selesaikan tapi malah terus di hindari oleh istrinya itu tanpa niat menyelesaikannya.
Arif meraih sweater di lemari pakaian dan keluar kamar berniat keluar rumah bergabung dengan pak Randu, satpam yang sedang duduk di pos jaga depan rumah mertuanya untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
Pada saat berbalik mengunci pintu kamar, ia terlonjak karena kaget tangannya di tarik oleh seseorang yang ternyata itu adalah Aima.
Dengan perasaan bingung, Arif terus mengikuti langkah Aima yang membawanya menuruni anak tangga.
"Pelan-pelan doonng, ntar jatuh..” Ucap Arif mengingatkan istrinya yang berada di depan tanpa melepas cengkramannya di pergelangan tangannya.
Sesampainya di dapur, Aima menyuruh Arif duduk di kursi meja makan. Arif masih dengan pikiran bingungnya terus menurut.
Arif memperhatikan gerak gerik Aima.
"Istri cantikku susah di tebak. Ada aja kelakuannya." Batin Arif tersenyum tipis menatap sang istri.
“Temani aku makan..” Ucap Aima seakan tahu kebingungan suaminya tanpa melirik ke arahnya.
Arif hanya memperhatikan semua aktifitas Aima mulai dari bikin jus sampai menyiapkan makanan di meja makan dengan diam.
Arif mencegat Aima dengan menarik pergelelangan tangannya saat Aima hendak berbalik lagi menuju dapur.
Kepala Arif menjadi pusing melihat Aima yang terus saja mondar-mandir di depannya.
Dengan lembut Arif menarik Aima hingga mendudukan Aima di pangkuannya. Aima berniat menolak dan menghindar namun dengan cepat Arif menahan tubuhnya dengan memeluk pinggangnya.
“Jangan kayak gini.. Jangan bikin aku bingung..” Lirih Arif menyandarkan keningnya di punnggung Aima.
Aima sedikit merasa risih. Dia terus bergerak melepaskan diri, namun Arif terus menahannya dengan semakin mengeratkan dekapannya.
Aima yang menyadari kesalahannya, memilih mengalah. Perlahan tangannya terangkat mengusap lengan Arif yang berada di pinggangnya.
Jujur, Aima mulai terpengaruh dengan sifat dewasa Arif. Aima sadari bahwa sifat Arif dan kekasihnya hampir sama. Tidak suka memperpanjang masalah.
"Lepas dulu tangannya.." Ucap Aima pelan.
Arif menatap wajah Aima dari samping dan perlahan melemahkan pelukannya.
"Kak Aima sebenarnya kenapa..? Aku bingung dengan sikap kakak.." Ucap Arif menatap sendu wajah Aima.
Aima yang kembali kesal, menyentil mulut sang suami sedikit keras. Arif mengadu kesakitan.
"Mas..! Aku gak suka panggilan itu.." Ucap Aima kesal.
"Eh iya maaf.. Maaf sayang.." Tutur Arif mencoba menenangkan istrinya dari kekesalannya.
BERSAMBUNG.. 😇💞💞
__ADS_1