
"Sudah ah. Ayo kita masuk. Udara semakin dingin di luar.." Ajak Arif menarik pelan tangan sang istri.
"Tapi jangan aneh aneh ya nanti..? " Ucap Aima menahan tangan sang suami.
Arif tertawa melihat raut wajah Aima yang terlihat lucu ketika takut.
"Iya sayang. Gak akan kok.." Janji Arif membuat Aima lega.
Pagi menjelang, tepat pukul 05.00 dini hari, alarm di ponsel Arif berdering kencang.
Arif yang tidak biasanya telat bangun, kali ini justru tidak terusik meski bunyi alarm yang di setel di ponselnya terus bergema memekakkan telinga.
Aima yang masih merasa ngantuk, terpaksa harus bangun.
Dalam suasana pagi yang sejuk, mata masih terasa berat karena kantuk masih terus menyerang, namun suara alarm sangat mengganggu baginya.
Aima duduk bersandar. Melihat Arif yang masih tidur dengan begitu pulasnya. Aima turun dari ranjang tanpa berniat untuk membangunkan Arif.
Selesai menunaikan sholat subuh, Aima berdandan alakdarnya dan keluar bermaksud menikmati udara pagi di sekitar tempat tinggal mertuanya.
Mentari pagi mulai naik dan menampakkan sinar indahnya. Memberi kehangatan pada setiap penghuni puncak.
Perlahan menghapus jejak embun pada dedaunan.
Terlihat dari jauh, para petani mulai di sibukkan dengan aktivitas mereka di kebun, padahal matahari baru saja terbit.
__ADS_1
"Sayang..? Kamu ngapain disini..?" Suara bariton itu tiba tiba mengagetkan Aima yang sedang tersenyum menatap hamparan kebun sayur di depannya.
Aima memutar badannya perlahan menghadap ke arah suara yang sedang menyapanya.
Hati dan perasaannya yang belum bisa melupakan sepenuhnya kisah masa lalunya, membuatnya terpaku. Rindu dan benci jadi satu.
Sejenak Aima terkenang kembali pertemuannya dengan kekasih di masa lalunya yang persis seperti ini yang tanpa di duga.
Bertemu di tempat perkemahan, Fatur menyapanya di saat dia duduk merenung di tepi sungai.
"Kak Fatur ngapain disini..?" Pertanyaan Aima yang terdengar bersahabat di telinga Fatur, membuat Fatur melupakan kekecewaannya pada Aima.
"Aku pengen nikmatin sejuknya udara pagi.. Disini nyaman, enak, sejuk tanpa polusi.."
"Kak, kak Fatur kenapa bisa ada disini..?" Pertanyaan Aima sontak membuat Fatur tersadar kembali akan tujuan awalnya.
Buru buru dia melepaskan tangannya yang berada di kedua lengan Aima.
Fatur mundur beberapa langkah untuk menjaga jaraknya dengan Aima. Sakit hati dan rasa kecewanya kembali bermunculan.
Aima yang melihat perubahan Fatur, menyadari bahwa Fatur pasti sudah mengetahui soal pernikahannya dengan Arif.
Namun keberadaan Fatur di puncak itu, Aima belum bisa menebak karena apa.
__ADS_1
"Aima.. Ada banyak hal yang ingin aku dengar darimu.. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan pula padamu.." Tutur Fatur menahan gemuru di hatinya.
"Kenapa kamu begitu tega mengkhianatiku Aima.. Kenapa kamu tega melukai perasaanku.. Jika memang kesalahanku yang terlalu sibuk sehingga kamu merasa di abaikan, kenapa harus berakhir dengan pengkhianatan seperti ini Aima..?" Fatur begitu emosional
"Apa kamu gak mikir gimana perasaanku..? Gimana hancurnya aku..?" Fatur seakan tidak sanggup lagi meneruskan ucapanya.
Aima diam tak bergeming. Suaranya terasa tercekat di kerongkongan. Aima tidak mau Fatur menyudutkannya seperti itu.
Yang seolah olah dirinyalah yang menyebabkan semua ini. Sedangkan dia yang hilang tanpa kabar berhari hari adalah hal yang wajar wajar saja.
Dengan tarikan nafas, Aima melangkah menghampiri Fatur.
"Kak Fatur.."
"Kamu tau..? Disini aku yang sakit.. Sakit yang kamu rasakan, gak sebanding dengan apa yang aku rasakan.."
" Kamu hanya mau tau dari sudut pandangmu tanpa ingin tau keseluruhan perjalananku hingga aku menikah dengan orang lain.." Aima menekankan di setiap kata dengan tegas
"Kak Fatur gak tau kan gimana rasanya di abaikan berhari hari..?"
"Gak tau kan gimana rasanya di saat butuh, tapi pasangan kita pergi tanpa kabar berita..?"
"Kamu tau kenapa aku menerima pernikahan yang di siapkan oleh kedua orang tuaku..? Hahh kamu tau gak..?" Bentak Aima yang tidak dapat lagi mengontrol emosinya
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG MASIH SETIA DISINI.. 🙏🙏💞💞**