
"Hahh..? Pulang kampung..? Seminggu..? Dimana..?" Aima terdengar seperti tekejut bakal di tinggal lagi olehnya, membuat Arif tersenyum.
"Di salah satu desa yang berada di sukabumi.. Kakek memang dari jogja, tapi beliau menetap di sukabumi hingga beliau meninggal disana.." Jawab Arif sedikit menjelaskan asalnya.
"Aku ikut.. Jangan berangkat dulu, tunggu aku disana.." Aima langsung mematikan panggilannya tanpa meminta persetujuan Arif.
Aima yang ingin menghindari Fatur, memilih ikut Arif ke sukabumi. Aima ikut bukan karena tidak ingin berpisah lama dengan sang suami, tapi karena ingin menghindari Fatur.
Arif menatap layar ponselnya yang tidak tersambung lagi dengan panggilan ke ponsel istrinya.
Terbit senyum kecil dari sudut bibirnya mengingat kata dari istrinya yang memintanya untuk menunggunya.
Sebuah kata yang sebagian orang terdengar biasa saja, tapi begitu berharga bagi Arif.
Arif tidak tahu maksud Aima ikut di karenakan dirinya ingin menghindari Fatur. Bukan karena hal lain seperti yang di pikirkan Arif.
"Ma, jika mama sama papa berangkat duluan gak apa apa..? Aku mau nunggu Aima dulu.. Tadi katanya dia mau ikut juga.." Ucap Arif menghampiri sang Ibu yang sedang meracik bumbu masakannya untuk mereka sarapan.
"Aima mau ikut..? Apa dia gak apa apa nak ikut kita ke desa..?" Bu Nana menghentikan kegiatan masaknya dan menatap Arif yang sedang bersandar di dinding samping bu Nana berada.
"Dia yang mau ma, biar saja.. Biar dia juga tau seperti apa hidup yang kita jalani.." Arif terlihat cuek dengan apa yang akan terjadi pada Aima disana seperti kekhawatiran Ibunya.
"Gak boleh begitu nak.. Dia istrimu, dan kamu wajib tau apa yang menjadi keinginannya dan apa yang tidak dia inginkan."
"Serta apa yang akan terjadi padanya itu adalah tanggung jawabmu sepenuhnya.." Bu Nana kembali melanjutkan kegiatan masaknya setelah menasehati Arif.
Arif diam tak bergeming. Hatinya membenarkan ucapan sang Ibu.
Dia yang lupa bahwa dirinya kini sudah menjadi seorang suami, dan memiliki tanggung jawab baru dalam hidupnya.
Secara tidak langsung sang Ibu sudah mengembalikan ingatannya itu.
***
"Pagi mbok.."
Mbok Lala yang sedang fokus memasak sarapan untuk keluarga majikannya kaget melihat Aima berdiri di belakangnya dengan dandanan dan pakaian rapi.
"Non Aima ngaggetin aja.." Ucap mbok Lala memegangi dadanya.
"Lohh non mau kemana pagi pagi gini..?" Mbok Lala melirik tampilan Aima dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ngeliatin apa mbok..? Mbok gak pernah liat cewek cantik ya..? Aima mencoba mengajak asisten rumah tangga mereka becanda.
"Eh non ini.. Non Aima memang udah cantik dari sononya.. Gak dandan juga cantik non.. Tapi ini nonnya mau kemana udah dandan gini pagi pagi gini..? " Tutur mbok Lala dengan mata melirik jam yang menempel di dinding.
"Aku mungkin gak bisa nunggu mama sama papa bangun mbok.. Nanti titip pesan ya mbok, aku mau ikut Arif dan orang tuanya liburan ke kampung di sukabumi.. Mungkin mereka mau panen hasil kebun.." Ucap Aima yang asal tebak.
"Non ini, mertua sendiri nyebutnya orang tua Arif gitu.. Kalo manggil suami tuh harus ada kata mesranya non.. Terus kalo manggil mertua itu harus sama kayak suami manggil orang tuanya.. Non non.." Ujar mbok Lala geleng geleng kepala menatap anak majikannya itu.
"Mbok mbok.. Orang cuma niat nitip pesan, masih sempatnya nyeramahin.."
"Jangan lupa kasih tau mama papa.. Aku berangkat dulu, Assalamualaikum.." Aima bergegas keluar dengan menarik koper pakaian miliknya menuju garasi mobil.
Tak berselang lama, Aima keluar dari halaman rumahnya masuk ke jalan utama menuju rumah Arif yang memakan waktu 35 menit.
Karena jalanan yang belum terlalu ramai kendaraan, Aima menaikan kecepatannya dengan tetap memperhatikan keselamatanya dan pengguna jalan lainnya.
***
__ADS_1
Arif yang masih betah sandaran di sandaran sofa dengan mata terpejam, di kejutkan dengan suara klakson mobil depan rumahnya.
Arif menoleh ke arah depan lewat jendelah rumah, melihat wanita yang kini telah sah menjadi istrinya itu turun dari kemudianya. Cantik. Itulah kesan pertama yang terlihat oleh mata Arif.
Aima menoleh ke seluruh sudut halaman mencari keberadaan penghuni rumah.
Arif sengaja tidak keluar, dia ingin tahu apakah istrinya itu mau mengetuk pintu rumahnya atau hanya berdiam diri saja di samping mobilnya.
Namun sedetik kemudian, Aima melangkah maju dan memanggil manggil namanya dan sang Ibu.
Arif tersenyum kecil melihat istrinya dari balik jendela rumahnya itu.
"Mas Arif.. Ma, mama.. Assalamualaikum.." Aima terus mengetuk pintu dan memanggil suami dan mertuanya dari balik pintu dengan sabar.
Merasa tidak ada sahutan dari dalam, Aima mulai kesal karena mengira Arif tidak mau menunggunya untuk ikut dengannya dan orang tuanya.
"Waalaikumsalam istriku.." Jawab Arif membuka pintu rumahnya.
Nampak raut wajah cantik sang istri terlihat begitu mempesona menoleh ke arahnya.
Tak bisa di pungkiri, Arif mulai merindukan istri cantiknya itu.
Aima menatap wajah suaminya dengam lega karena ternyata Arif menunggunya.
Entah ada rindu atau hanya karena pelampiasan perasaannya kepada Fatur, yang membuat Aima tersenyum manis.
"Aku pikir mas udah berangkat di panggil gak nyaut nyaut." Ucap Aima menatap Arif.
Arif menanggapi dengan senyum manisnya tanpa suara.
"Mas apa kabar..? Baru empat hari gak ketemu, mas keliatan seperti gak terurus aja.." Ujar Aima niat bercanda.
Pasalnya candaan Aima menjadi senjata makan tuan. Ada dan tidak bersamanya, toh Arif mengurusi keperluannya sendiri tanpa bantuan darinya.
"Apa aku gak boleh masuk ni..? Kaki aku pegel berdiri terus. " Arif sontak menggeser posisinya memberi jalan pada Aima untuk masuk ke dalam rumah.
Saat keduanya baru mulai duduk, suara mobil terdengar memasuki halaman rumah Arif dan berhenti tepat di samping mobil Aima.
Terlihat pak Malik turun dari mobil dan melirik sebentar ke arah mobil mewah yang terparkir, kemudian kembali melangkah masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum.. Loh nak Aima..?" Pak Malik kaget melihat menantunya itu berada di rumahnya.
"Waalaikumsalam.. Pah.." Aima meraih tangan pak Malik dan mencium punggung tangannya takzim.
Hal itu membuat Arif menoleh ke arah Aima dan Ayahnya, merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Kejutan apa yang kamu berikan ini Aima..
Hari ini kamu dengan sukarela kesini dan meminta ikut pulang ke desa bersama keluargaku.. Kenapa kamu selalu mampu menarik ulur perasaanku.." Batin Arif
***
Kini mereka tengah berada di meja makan untuk sarapan sebelum berangkat. Aima yang baru kali ini makan masakan mertuanya, begitu terlihat menikmati.
Hingga tanpa sadar, Aima menambah porsi sarapannya. Sesekali Aima memuji masakan mertuanya dan ikut bercanda dengan mereka, juga melibatkan Arif ke dalam bahasanya.
Arif yang sejak tadi memperhatikan Aima, merasa heran dengan sikap istrinya itu.
__ADS_1
Jelas saja, karena selama empat hari mereka pisah rumah, tidak sekalipun Aima menanyakan kabarnya.
Bahkan pesan yang dia kirimkan untuk Aima empat hari lalu, hanya di baca dan di biarkan begitu saja oleh Aima.
"Arif, motornya gimana, apa di titip aja sama paklekmu..? Biar kamu sama Aima aja di mobil.." Ucap bu Nana yang sedang merapikan sisa makanan di wadah untuk bekal mereka nanti di jalan.
Arif menoleh ke arah Aima, sementara Aima fokus berkirim pesan entah dengan siapa.
"Papa sama mama aja di mobil.. Aku sama mas Arif di motor, pengen boncengan.." Ucap Aima menyodorkan kunci mobilnya kepada pak Malik.
"Lohh nak Aima jangan.. Perjalanan ke kampung jauh, nanti nak Aima kena debu dan terik matahari.." Bu Nana merasa tidak enak.
Menantunya berboncengan menggunakan motor matic dengan anaknya. Sementara dia dan suaminya menggunakan mobil mewah milik Aima. Bu Nana menolak itu.
"Mmm begini aja.. Motor Arif biar di titipin aja sama pakleknya Arif.. Nak Aima sama Arif di mobil nak Aima.. Biar papa sama mama juga tenang selama perjalanan.." Pak Malik mencoba memberi solusi biar semuanya merasa nyaman.
"Padahal Aima pengen motoran pa." Kecewa Aima.
***
Menjelang siang.
Di rumah pak Samsul, Fatur dan kedua orang tuanya sedang berkunjung dengan niat melamar Aima untuk anak mereka Fatur.
Rupanya Fatur benar benar sedang membuktikan ucapannya pada Aima untuk menjadikannya istri.
Pak Samsul bersama istrinya bu Ineke, yang belum tahu Aima sedang kerkunjung di kampung halaman mertuanya karena mbok Lala lupa menyampaikan pesan Aima, sedang bingung mendapati kamar Aima yang kosong. Mobilnya pun tidak ada dalam garasi.
"Begini pak Haris, bu Nola, saya dan istri saya sebelumnya minta maaf pada pak Haris dan bu Nola juga Fatur.." Bu Ineke memotong ucapan pak Samsul dengan menunjukkan isi pesan dari Aima di ponselnya.
"Berhubung anak kami Aima tidak berada di rumah, dia titip pesan untuk tidak usah menunggunya." Ucap pak Samsul
"Loh kenapa? " Tanya Fatur
" Karena ternyata dia sedang keluar kota bersama Arif dan keluarganya.." Pak Samsul melihat raut kesal di wajah Fatur.
Mendengar Aima yang tidak mengindahkan kehadiran mereka di rumahnya, membuat bu Nola kecewa. Sementara pak Haris cukup terlihat santai. Tapi Entah hatinya.
"Arif itu siapa om..?" Tanya Fatur cukup penasaran.
Pak Samsul dan bu Ineke saling menoleh. Dengan tarikan nafas, pak Samsul mau tak mau harus jujur dengan status sang anak saat ini.
Meski Aima sendiri tidak ingin status pernikahannya di dengar oleh pihak luar mana pun.
"Nak Fatur, kami bukannya menolak niat baik nak Fatur dan kedua orang tua nak Fatur. Tapi anak kami Aima, sebenarnya dia sudah menikah dua minggu yang lalu." Ujar pak Samsul tenang.
Wajah Fatur memerah menahan emosi mendengar penuturan pak Samsul. Tangannya mengepal menahan amarah.
"Dan saat ini, dia sedang berada di rumah suaminya.." Lanjut pak Samsul.
Kedua orang tua Fatur semakin merasa kecewa. Fatur meminta mereka melamar kekasih, tentu Aima tidak jujur akan statusnya. Dan sangat keterlaluan menurut orang tua Fatur.
Fatur tersenyum miring sambil menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari pak Samsul
"Gak mungkin om.. Aima hanya mungkin masih marah sama saya, makanya dia menghindari saya hari ini.. Gak mungkin dia menikah dengan laki laki lain, dia mencintai saya om.." Fatur merasa pak Samsul dan istrinya sedang mengikuti permainan Aima untuk menghindarinya.
"Ini benar nak Fatur. Kami minta maaf atas hari ini." Ucap bu Ineke
"Jika begitu, artinya Aima berselingkuh dari saya." Emosi Fatur.
__ADS_1
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR KESINI.. 😇🙏💞💞**