
"Oh iya, pak Randu gimana selama kerja disini, betah..?" Tanya Arif menoleh ke arah pak Randu yang sedang menyeruput kopi dari gelas di tangannya.
“Alhamdulillah den betah.. Ibu sama bapak sangat baik soalnya.. Beliau berdua juga sering kasih bonus kalau lebaran..” Jelas Randu dengan senyum.
Arif mengangguk nganggukan kepalanya menanggapi pak Randu.
“Anak-anaknya gimana, baik juga ke pak Randu..?” Tanya Arif menuju inti yang ingin dia ketahui.
“Maksud den Arif, neng Aima sama neng Aini den..?" Tanya Randu memastikan, dan di angguki oleh Arif.
"Neng Aima dan neng Aini juga sama den.. Mereka juga sering kasih makanan, barang.. Kadang juga suka ngasih THR, Gak hanya ke saya, sama semua yang kerja disini den..” Ucap pak satpam itu jujur.
"Bahkan den, kami yang kerja di rumah ini tidak di anggap sebagai pekerja den.. Kami di perlakukam seperti teman, saudara gitu den sama keluarga ini.." Sambungnya lagi.
"Neng Aima dan neng Aini selalu menghargai yang lebih tua sekalipun itu pembantu rumahnya den.. Makanya siapun yang kerja disini, pasti akan betah den.." Lanjutnya lagi.
Arif tak lagi melanjutkan pertanyaannya ke pak Randu. Dia khawatir Aima tahu kalau dia mengintrogasi satpam untuk menggali informasi tentang keluarganya.
Dalam hati Arif, dia mengagumi keluarga barunya itu setelah dia mendengar penuturan dari satpam rumah mertuanya.
Cukuplah baginya mengetahui informasi itu, tanpa melanjutkannya lagi.
Dari balkon kamar, Aima memperhatikan suaminya yang berada di pos satpam sedang asik bercengkrama dengan satpam rumahnya.
Karena jaraknya yang sedikit jauh, Aima tidak dapat mendegar obrolan antara suaminya dan satpam rumahnya itu secara jelas.
Namun dari gerak gerik mereka, Aima bisa menebak kalau suaminya menanyakan sesutau yang serius pada pak Randu, satpan rumahnya itu.
Sesekali mereka tertawa dan saling tos. Entah apa yang mereka bahas.
Menjelang malam, pukul 20.30, Arif masih saja betah berada di pos satpam. Ia bahkan belum melaksanakan sholat isya.
Terlalu asik dengan teman ngobrolnya, Arif lupa jika waktu sudah semakin malam.
Aima yang masih menggunakan mukena berwarna dasty itu sampai heran melihat suaminya masih saja duduk becanda dengan pak Randu.
Arif di kagetkan dengan dering handphone yang berada di tanganya. Di liriknya pesan chat dari nomor baru yang tidak dia kenali.
“Betah amat sampe sholat pun lupa..” Sebuah pesan yang ternyata dari istrinya.
Tanpa di sadari oleh Arif, senyum manis terbit di bibirnya ketika membaca isi pesan tersebut. Bergegas ia pamit pada pak Randu dan menuju kamarnya.
“Dari mana nak Arif..? ” Tanya pak Samsul yang duduk di ruang tv bersama istrinya saat Arif melewti ruangan tersebut.
“Maaf pa, ma.. Tadi barusan dari pos satpam, ngobrol sama pak Randu..” Jawab Arif merasa tak enak hati.
“Sejak kapan disitu..? ” Tanya pak Samsul lagi.
“Seusai magrib tadi pa..” Jawab Arif jujur.
“Loh dari tadi di pos..? gak keman mana..?” Tanya bu Ineke kaget.
“Iya ma.. Keasikan ngobrol jadi lupa waktu..” Ucap Arif membenarkan.
__ADS_1
“Aima bener bener pa.. Katanya suaminya keluar, jadi gak bisa ikut kita makan malam..” Tutur bu Ineke kesal dengan kelakuan anaknya.
"Astaga. Salah ngomong saya" Monolog Arif dalam batin
Arif yang baru sadar kesalahannya yang tidak memberi tahu keberadaannya pada Aima bahkan sampai lupa waktu, merasa tidak enak hati pada mertuanya.
Dia khawatir istrinya di marahi lagi seperti pagi tadi.
“Maaf ma, pa, Aima gak salah.. Aku yang lupa ngasih tau dia kalau aku ke pos satpam.. Mungkin Aima mengira aku keluar ada urusan..” Tutur Arif melindungi istrinya dari amarah mertuanya.
Pak Samsul menarik nafas menatap istrinya.
“Aku ke atas dulu ya ma, pa..” Pamit Arif sopan.
“Ya sudah, nanti minta istrimu temani kamu makan..”. Jawab pak Samsul kemudian.
“Iya pa..” Jawab Arif singkat dan langsung berjalan menuju kamarnya dan Aima.
Sesampainya di kamar, Arif melihat Aima melipat mukena. Dia langsung menuju kamar mandi dan menunaikan sholat isya setelahnya.
Seusai sholat, Arif masih duduk di atas sajadah. Entah apa yang pikirkannya.
“Mas..” Panggil Aima dari belakang Arif.
Arif menoleh ke arah sumber suara, ia melihat tangan Aima terulur meminta tangannya untuk di salimi olehnya.
Arif merasa tersentuh oleh perlakuan Aima terhadapnya. Dengan tulus dia mengusap kepala Aima dan tersenyum.
Arif terus memandangi wajah istri cantiknya itu.
“Untuk apa..? ” Tanya Arif mengerutkan dahinya.
“Aku gak tau kamu ada di depan, aku pikir kamu keluar rumah karna marah sama aku yang seharian keluar dan gak pamit..” Ucapnya pelan sambil memejamkan mata duduk menyamping menghindari tatapan Arif.
Arif tersenyum mendengar penuturan istrinya itu. Tanpa sadar tangannya terulur mengusap lembut kepala Aima
“Aku tau pada dasarnya kamu baik dan patuh.. Hanya saja hatimu tidak mencintaiku, itulah kenapa kamu bersikap cuek terhadapku..” Batin Arif
“Gak apa-apa.. Kamu ga salah..” Jawab Arif tersenyum tulus.
Aima membuka kedua matanya menatap sang suami dari samping. Arif menatap balik wajah sang istri.
"Mas kenapa menatapku seperti itu..?" Tanya Aima mengerutkan keningnya.
“Hah..? Eh maaf.." Ucap Arif
Aima memutar badannya kembali menghadap sang suami.
"Mas mau makan..? Ayo biar aku temanin..” Ajak Aima mencairkan suasana.
__ADS_1
“Mmmm, boleh..” Sambut Arif tersenyum.
"Tapi aku gak ikut makan gak apa apa..?" Tanya Aima.
"Aku udah kenyang." Jelasnya
"Iya gak apa apa.." Jawab Arif mengangguk mengerti.
"Iya sudah ayo.." Ajak Aima mendahului Arif.
Arif mendongak menatap Aima yang berjalan mendahuluinya menuju pintu dan hilang dari balik pintu kamar.
Tak ingin Aima menunggu lama, Arif pun beranjak dari tempat menyusul sang istri di dapur.
Di depan kamar, Arif menunduk menghembuskan nafas pelan dan tersenyum simpul menatap pintu kamar Aini yang tertutup rapat.
"Ya Habibbi ya Rabbi.. Ya Allah yang Agung, aku mohon berilah dia (Aini) tempat yang indah di sisi-Mu.. Lapangkan kuburnya, ampuni segalah kekhilafannya.. Aku bersaksi dia orang yang baik ya Allah.." Arif bermunajat dalam hatinya.
"*Sayang.. Kini aku sudah menjadi suami dari kakakmu, kakak kesayanganmu.. Aku berharap kamu bahagia disana."
"Aku akan melanjutkan hidupku dengan baik, seperti harapanmu.. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuknya.. Terima kasih sudah pernah hadir dalam hidupku meski hanya sebentar.. Aku bahagia*.." Batin Arif menatap pintu kamar Aini dengan sendu.
***
Seusai makan, kini Arif dan Aima sudah berada di kamar mereka untuk istrahat.
Meski masih canggung, Aima berusaha bersikap biasa saja di depan Arif.
Arif yang duduk di sofa, terus memperhatikan gerak gerik istrinya itu dengan seksama.
Melihat Aima mulai membaringkan tubuhnya di ranjang tidurnya, Arif kemudian melangkah menuju lemari untuk mengganti pakaiannya dengan baju serta mengambil selimut disana.
Arif masih menggelar selimut di lantai sebagai alas untuk dia tidur.
Aima yang ternyata belum tidur, memperhatikan suami brondongnya itu yang kini tidur di lantai membelakanginya.
Dia kemudian duduk bersandar di sandaran tempat tidur dan memejamkan matanya.
"Aku gak tahu apa kamu menerima pernikahan ini dengan ikhlas atau terpaksa hanya karena cintamu pada adikku.. Aku juga masih banyak belajar dari pernikahan ini.." Batin Aima
Aima menoleh ke arah sang suami yang tidur di lantai dengan hanya beralaskan selimut.
“Mas Arif.. “ Panggil Aima pada akhirnya.
Arif terkejut mendengar Aima memanggilnya.
“Mmm..” Gumam Arif masih dengan posisi membelakangi Aima.
“Mas..” ulang Aima lagi.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN YANG SUDAH MAMPIR KESINI.. 🙏🙏💞
DAN TERIMA KASIH JUGA SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGANNYA.. 🙏💞💞**