
Tak butuh waktu lama, bu Ineke tiba di rumah sakit tempat Arif di rawat.
Sebelum menemui Aima di ruang perawatam Arif, bu Ineke masih sempat ke ruang administrasi.
Hingga tak berapa lama, bu Ineke pun kembali melanjutkan langkahnya menemui Aima, sang anak kesayangannya itu.
Dari jauh, Aima yang memang sudah menunggu sang ibu, bergegas menghampiri ketika bu Ineke bampak di matanya.
"Mah.. Maaf aku langsung kesini karena aku kepikiran mas Arif.." Ucap Aima ketika mereka saling berpelukan melepas rindu.
"Iya gak apa apa. Tapi mama masih masih kesel sama kamu. Bisa bisanya mengabaikan setiap panggilan dan pesan setiap berada jauh dari kami.." Ujar bu Ineke menggerutu.
"Iya ma maaf.." Jawab Aima menyesal.
"Mah. Tadi kata mama ada yang mau mama urus berdua sama aku.. Apa itu mah..?" Tanya Aima menuntaskan rasa penasarannya sejak tadi.
"Kita duduk dulu.." Ajak bu Ineke menunjuk salah satu kursi panjang di depan ruang ICU.
Sebelum menyampaikan perihal yang di maksudkan, bu Ineke terlebih dahulu meminta Aima untuk tetap tenang.
"Ada apa sih ma..? " Desak Aima tak sabaran.
"Mertua kamu mana..?" Bukannya menjawab, bu Ineke justru bertanya.
"Tadi pamit pulang sebentar. Katanya ada yang mau di urus.." Jawab Aima masih dengan penasarannya.
"Aima. Sebenarnya mertua kamu itu sedang mengurus penjualan rumah milik mereka yang sedang mereka tinggali sekarang.." Ucap bu Ineke menatap Aima dengan serius.
Aima mengerutkan keningnya bingung.
"Mereka mau pindah dari kota ini.." Ucap bu Ineke mengerti kebingungan sang anak.
Aima terkejut mendengar ucapan sang ibu.
"Pindah ma..? Pindah kemana..?" Tanya Aima masih dengan keterkejutannya.
"Mama juga belum tau. Karna mama juga belum sempat membahas ini dengan mertua kamu. Kemungkinan mertua kamu juga mau memindahkan Arif dari rumah sakit ini.." Tutur bu Ineke.
Aima menggeleng tak percaya dengan tindakan mertuanya. Aima merasa jika semua itu benar, artinya mertuanya sengaja memisahkan Arif dari dirinya.
"Terus apa maksud mama di telepon tadi..?" Tanya Aima kembali pada pembahasan awal.
"Administrasi Arif belum di bayar penuh. Mertua kamu masih meminta kebijakan pihak rumah sakit untuk memberi mereka waktu. Kemungkinan setelah rumah mereka terjual.." Ujar bu Ineke menatap mata Aima.
Aima paham akan maksud sang ibu. Bergegas dirinya bangkit dari kursi dan menuju ruang administrasi.
Namun baru beberapa langkah, Aima kemudian memutar tumitnya kembali menghampiri sang ibu yang masih setia di tempatnya semula.
"Ma, dimana ruangan dokter yang menangani mas Arif..?" Tanya Aima tak sabaran.
__ADS_1
"Mari mama antar.." Ajak bu Ineke
Setibanya di ruangan dokter yang di maksud, Aima tanpa berlama lama langsung masuk pada inti tujuannya setelah memperkenalkan hubungannya dengan pasien sang dokter.
"Jadi begitu bu Aima. Kami tinggal menunggu hasilnya mungkin satu jam lagi sudah ada.." Ucap sang dokter menjelaskan kondisi Arif.
"Menyangkut biaya, saya akan lunasi sekarang. Jadi lakukan apapun untuk kesembuhan suami saya dok.." Ucap Aima tegas.
"Kami pasti akan selalu melakukan yang terbaik untuk pasien. Bantu doanya juga dari keluarga untuk kesembuhan pasien.." Tutur sang dokter tersenyum ramah.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi dok.. Terimah kasih sebelumnya.." Ucap Aima santun.
Di tempat lain, pak Malik yang baru saja bersiap siap menaiki motor milik Arif berniat ingin kembali ke rumah sakit, mengurungkan niatnya setelah melihat sang istri yang baru saja turun dari ojek.
"Loh ma, kok pulang..? Siapa yang jagain Arif disana..?" Terlihat raut wajah pak Malik menghampiri sang istri.
"Ada Aima pah.. Mama juga cuma sebentar.." Jawab bu Nana lembut.
"Aima..? kapan dia pulang..?" Tanya pak Malik penasaran.
"Mama juga gak tau. Tiba tiba dia udah ada aja di rumah sakit.. Mama juga belum ngobrol banyak sama dia.." Jelas bu Nana.
"Hmm yasudah mama mandi aja dulu terus makan. Nanti kita berangkat sama sama ke rumah sakit.." Ujar pak Malik lembut.
Sejak kecelakaan Arif beberapa hari lalu, sejak itu pula raut wajah kedua orang tua Arif tidak lagi terlihat cerah.
Bukan cuma sedih akan kondisi sang anak yang hingga saat ini belum menunjukkan perkembangan, namun juga beban pikiran akibat biaya yang tidak sedikit yang harus mereka adakan untuk perawatan sang anak.
Di ruang tengah, pak Malik yang sedang merenung, terlonjak dengan kehadiran bu Nana yang mengelus lengannya dengan lembut.
"Mikirin apa pa..? Papa udah ngurus kepindahan kita ke jogja..?" Tanya bu Nana pelan.
"Sudah ma.. Rumah ini juga sudah ada yang berminat membelinya.. Tapi.." Tutur pak Malik terhenti karena ragu melanjutkan ceritanya.
"Tapi apa pa..?" Tanya bu Nana mengerutkan keningnya bingung.
Pak Malik terlihat berpikir sebentar. Di tatapnya wajah lesu sang istri.
"Tadi papa ketemu Fika. Dan dia menawarkan pinjaman.. Kita boleh mengembalikan pinjamannya sampai rumah ini terjual.." Jelas pak Malik pelan.
Bu Nana terkejut menatap manik mata sang suami.
"Tapi pah. Mama gak mau kita punya utang pah, apalagi sama Fika.. Kalau Arif tau, dia pasti akan marah.." Cegah bu Nana.
"Papa juga tadinya mikirnya begitu ma. Tapi saat ini, kita butuh biaya untuk pengobatan Arif. Tabungan papah tinggal dikit, mana cukup lagi.." Sedih pak Malik menunduk.
Bu Nana terlihat berpikir sejenak. Hingga
"Apa kita terima saja bantuan besan kita pa..? Dari kemarin mereka ingin sekali membiayai pengobatan Arif hingga sembuh.." Usul bu Nana penuh semangat.
__ADS_1
"Gak ma, jangan. Mama kan tau sendiri gimana Aima sama anak kita. Mereka seperti bukan suami istri. Papa gak enak menerima bantuan mereka, bakal jadi beban pikiran terus nantinya.." Cega pak Malik tak setuju.
"Kita harus gimana pa..? Mama bingung. Mama juga takut Arif terhambat penanganan karena terbentur biaya.."
Pak Malik merengkuh sang istri dengan kegundahan yang sama.
Sementara itu, di rumah sakit, Aima sudah melunasi semua biaya perawatan Arif.
Bahkan Aima sudah menyiapkan biaya kemungkinan Arif di operasi nantinya. Aima terlihat sangat ingin menebus kesalahannya karena telat mengetahui kabar sang suami.
Untuk itulah Aima tidak mau menunda lagi jika dokter menyarankan untuk tindakan lanjutan untuk kesembuhan Arif.
Tak peduli akan penolakan sang mertua seperti yang dia dengar dari penjelasan dari ibunya.
***
"Sejak kapan dia pulang ke indonesia..?" Tanya pak Zio terlihat seperti sedang menahan sesuatu di dadanya.
"Kurang tau pak Zio. Bu Aima baru siang tadi menghubungi saya memberi taukan keberadaannya di indonesia.." Jelas sang manager kepercayaan Aima.
"Apa ada masalah pak dengan kesepakatan kerja sama kita..?" Tanya Afif sang manager dengan ragu.
"Tidak ada. Saya hanya ada keperluan bisnis lain dengan bu Aima. Sayang sekali dia tidak mengabari saya.." Ucap pak Zio beralibi.
Zio cukup kecewa mengetahui kepulangan Aima ke indonesia. Rencananya sore ini Zio sengaja datang ke kantor Aima untuk mengundangnya langsung untuk makan malam berdua.
Namun tak di sangkah, Aima ternyata tak berada disana.
Zio yang belum tahu status Aima yang sudah menikah, terus berusaha tanpa gentar untuk mengambil hati Aima dengan caranya.
Zio bahkan yakin jika Aima pasti akan luluh melihat kesungguhannya. Untuk itulah dia terus berusaha bersikap manis di depan Aima.
.
.
.
.
.
...BERSAMBUNG.....
...HAY TEMAN TEMAN.. 😊💖...
...TERIMA KASIH YA SUDAH MAMPIR LAGI DISINI.. 🙏💖💖💖...
__ADS_1
...MOHON DUKUNGANNYA TERUS AGAR LEBIH SEMANGAT LAGI DI EPISODE BERIKUTNYA..😇😇...