
"Ajak dia ngobrol, kuatkan dia.. Meski dia anak laki dan sudah dewasa, tapi perasaannya tetap hati dan perasaan manusia biasa.. Bisa sakit bisa rapuh.." Tutur pak Malik pada sang istri.
“Iya pah.. Papa hati-hati di jalan.. Cepat balik ya pah jangan lama lama..” Jawab bu Nana yang di angguki pak Malik.
Sementara pak Malik mengantarkan mobil Ibnu adiknya yang mereka pinjam untuk menghadiri pemakaman Aini, di dapur bu Nana menyiapkan makan siang mereka.
Bu Nana menatap sedih pintu kamar anaknya. Dia pun ikut merasakan kesedihan sang anak.
Arif yang baru saja ingin merengkuh kebahagiaan, setelah cintanya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan, justru merasakan kesedihan yang paling dalam karena harus kehilangan orang yang di cintainya untuk selama lamanya.
Sementara di dalam kamar, Arif masih begitu terpukul atas kepergian Aini.
"Ya Allah, terimalah dia (Aini) disisi-Mu ya Allah.. Berilah dia tempat yang indah disana.. Sayangilah dia.. Ampunilah segala dosa dosanya.. Dia orang yang baik ya Allah, tulus pada orang lain.."
Dan teruntuk dirimu wahai sang pujaan hati..
Bahagialah disana.. Tersenyumlah sayang..
Meski ragamu tak lagi disini, tak lagi bersamaku, tak lagi bisa ku sentuh, kamu akan tetap hidup di dalam disini.. Di hatiku..
Maafkan aku yang terlambat menyadari..
Maafkan aku yang tak bisa mengerti inginmu..
Maafkan aku yang tak bisa membuatmu tersenyum di hari terakhirmu..
Maafkan aku sayang, tapi percayalah aku sangat mencintaimu.
Perasaan yang begitu hancur, hanya mampu Arif tuangkan dalam buku deary milik Aini yang ada padanya saat ini.
Matanya terpejam sembari memeluk buku itu dengan erat. Ingatannya kembali berkelana jauh. Mengenang kebersamaan manis mereka kemarin.
Tok.. tok.. tok..
“Arif, ayo makan dulu.. Mama sudah siapkan makan siangnya di meja..” Panggil bu Nana dari balik pintu kamar Arif.
Arif menoleh ke arah pintu. Rasa malas gerak bahkan selera makan hilang, membuat Arif sedikit mengabaikan.
Namun sang ibu tidak berhenti disitu. Sampai akhirnya pintu kamar pun di buka.
Arif kembali masuk dan berbaring di ranjang tidurnya setelah membukakan pintu untuk ibunya.
“Rif, kamu gak boleh seperti ini.. Mama tau ini berat, ini gak mudah. Tapi kamu harus pikirkan juga kesehatan kamu nak.." Tutur bu Nana mengingatkan.
"Kasihan Aini. Jika dia tau, dia pasti akan sedih kalau tau kamu seperti ini..” Rayu bu Nana.
Arif bangun dan duduk di tepi tempat tidurnya sambil menundukan kepalanya. Air matanya terus menetes tak terbendung.
“Mama mengerti perasaan kamu. Tapi hidup kamu harus terus berlanjut. Masih banyak yang bisa kamu lakukan untuk Aini.” Ujar bu Nana mengelus pundak sang anak.
Mendapati ucapan seperti itu, Arif sontak menatap wajah bu Nana.
Dia baru ingat akan permintaan terkahir Aini yang mendapati penolakan darinya hingga menyebabkan Aini sedih dan drop. Tangis Arif pun semakin terisak
Bu Nana tak kuasa melihat keadaan anaknya seperti itu. Dia menarik tubuh Arif ke dalam pelukannya dan menenangkannya.
__ADS_1
“Sudah nak, kamu gak boleh seperti ini.. Kamu harus kuat demi Aini..” Tutur bu Nana lembut.
“Iya ma..” Jawab Arif singkat.
"Makan dulu ya..? Atau nunggu papa balik biar makan bareng..?" Tanya bu Nana.
"Nunggu papa aja.." Jawab Arif pelan sambil menghapus bersih air mata yang masih tersisah di pipinya.
Bu Nana tersenyum menatap sang anak dari samping. Ternyata benar kata suaminya. Arif adalah anak lelaki yang gagah.
Tapi jika sudah seperti ini, sisi rapuh dan manjanya tetap unggul.
***
Selama tahlilan berlangsung, Arif dan Ayahnya terlihat begitu khusyu. Mereka duduk di antara para undangan yang hadir disana.
Aima dan orang tuanya tidak mengetahui kehadiran Arif dan Ayahnya karena begitu banyak warga dan kerabat yang hadir disana.
Setelah tahlilan selesai, Arif dan Ayahnya pun ikut berdiri serentak dengan para tamu yang ada.
Mereka pun bergegas berniat pulang kembali ke rumahnya sebelum malam semakin larut.
Namun saat pandangan pak Samsul tidak sengaja melihat sosok Arif dan Ayahnya di tengah para tamu yang mulai sibuk keluar menuju halaman rumah.a
“Pak Malik, Arif..” Sapa pak Samsul menghampiri.
Mendengar ada yang menyebut nama mereka, pak Malik spontan menengok kebelakang.
“Eh pak Samsul..” Sapa balik pak Malik sambil menyaliminya yang kemudian di ikuti oleh Arif.
"Ahh gak apa apa pak Samsul.." Sopan pak Malik tersenyum.
“Mari masuk dulu pak, nak Arif..” Ajak pak Samsul kemudian.
Pak Malik dan Arif pun mengurungkan niat mereka untuk pulang lebih awal.
Mereka mengikuti langkah pak Samsul untuk masuk kembali ke dalam rumah mewah itu.
Disana masih banyak keluarga dan kerabat pak Samsul yang masih duduk bercengkrama satu sama lainnya.
Terlihat juga bu Ineke yang sedang mengobrol dengan kedua mertuanya.
Arif sedikit melebarkan pandangannya hingga keseluruh ruangan. Sosok Aima tidak terlihat berada disana.
“Bang Arif..?” Sapa para sahabat Aini menghampiri.
“Rani, Inaya.. Kalian belum pulang..?” Sapa Arif ketika keduanya.
“Belum bang, kami niatnya mau menginap nemanin kak Aima..” Ucap Mila yang baru datang ikut bergabung.
"Oh begitu." Ucap Arif tersenyum simpul.
“Aima minta kalian nginap..?” tanya Arif penasaran.
“Iya bang, kak Aima siang tadi demam. Mungkin karena terlalu terpukul dengan kepergian Aini juga." Jawab Inaya.
__ADS_1
"Kami juga sangat sedih sih, maka nya kami putuskan untuk berkumpul malam ini di kamar Aini..” Tutur Mila ikut menjelaskan.
"Hhmm gitu.. Aima sekarang dimana..?" Tanya Arif pada ketiganya.
"Tadi sih aku liat di kamar Aini.." Jawab Mila.
"Pantas tidak keliatan dari tadi" Gumam Arif dalam hati
"Hmmm tunggu sebentar dulu.." Ucap Arif pada ketiganya.
Arif beranjak dari duduknya dan menghampiri kedua orang tua Aima yang sedang mengobrol dengan Ayahnya.
“Maaf om, tante, saya mau minta izin sama om dan tante boleh? ” Ucap Arif gugup.
Kedua orang tua Aima dan Ayahnya serentak menatap Arif dengan bingung.
“Soal apa nak Arif..? ” Tanya bu Ineke mengerutkan alisnya.
“Saya, mau bertemu Aima sebentar boleh..? kata Mila sama teman-temannya, Aima di kamar Aini.." Ucap Arif gugup
"Mungkin dia sekarang lagi sedih disana.. Apa saya boleh menemui dia disana? "
Jelasnya kemudian. melihat bu Ineke dan pak Samsul saling tatap satu sama lain.
Pak Samsul dan bu Ineke kembali saling pandang. Sedangkan pak Malik menarik nafas menatap kedua orang tua Aini merasa tak enak hati.
Pak Malik tidak menyangkah anaknya bisa selancang itu. Meminta izin menemui anak gadis yang berada di dalam kamar.
“Pak Samsul, bu Ineke, maafkan anak saya yang sudah tidak sopan..” tutur pak Malik karena segan.
“Maaf..” ucap Arif lirih sambil menunduk menyesal.
“Ya sudah tak apa.. Temuilah..” Ucap pak Samsul mengizinkan.
“Maaf pak..” Ucapnya lagi merasa tidak enak hati.
Pak Samsul mengangguk memberi isyarat lewat anggukan kepalanya.
Arif beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tangga. Namun kemudian dia berhenti dan membalikan badanya.
Dia lupa bertanya dimana letak kamar Aini kepada orang tuanya.
Merasa segan, Arif pun memilih melanjutkan langkahnya manaiki anak tangga mencari letak kamar Aini berada.
Sesampainya di lantai dua, terdapat tiga kamar disana. Dia pun kebingungan menebak dimana kamar Aini.
Dengan hati hati takut nanti salah kamar, dia mencoba menghampiri pintu kamar yang berada di sudut ruang lantai dua itu.
Dan benar saja itu kamar Aini saat terdengar isakan tangis di dalam kamar tersebut.
“Astaga, itu pasti Aima..” Gumamnya.
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA..🙏🙏💞
__ADS_1
DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGANNYA UNTUK AUTHOR BIAR LEBIH SEMANGAT LAGI DALAM BERKARYA.. 😇🙏🙏💞💞**