
Arif terus menarik nafas dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Kemana kak..? Disini aja, jangan jauh jauh.." Tutur Arif mencoba menghentikan langkah Aima.
Namun Aima masih terus melangkahkan kakinya yang membuat Arif terus mengekor hingga akhirnya mereka sampai di taman rumah sakit.
Sesampainya di taman, Arif mempersilahkan Aima duduk terlebih dahulu.
“Saya tau ini sulit untuk kamu.. Ini juga sangat berat buat saya..” Ucap Aima ketika mereka duduk bersebelahan di kursi taman.
Aima menatap lurus kedepan tanpa menoleh sedikitpun pada lawan bicaranya.
Arif hanya diam menyimak. Otaknya belum bisa mencerna dengan baik.
“Awalnya saya tidak tau soal lamaran itu.. Tiba tiba Aini menginginkan posisi kami di tukar.. Saya syok dengan permintaannya itu..” Ujarnya lagi.
Arif hanya diam membiarkan Aima menyelesaikan semua apa yang ingin dia sampaikan kepadanya. hingga selesai.
Dia juga ingin tahu keputusan apa yang Aima ambil nantinya. Namun dia sangat berharap Aima menolak keputusan adiknya itu.
“Apa alasan kamu melamar adik saya..?” tanya Aima menoleh ke arah Arif.
“Pertanyaan macam apa itu..” Sarkas Arif menatap Aima aneh.
“Bukan karena kasihan kan karna dia sakit..?” Tanya Aima lagi.
Arif membuang nafasnya kasar kemudian meruba posisi duduknya menghadap Aima.
“ Saya tanya sama kak Aima, kalau dua orang saling mencintai, tujuan ke depannya apa kalau bukan untuk menikah..? ” Tanya Arif menatap mata Aima intens.
"Banyak kok yang saling mencintai tapi gak ada tujuan.. Alasannya ya karena masih ingin itu ini.. Dan banyak yang gak saling cinta pengen nikah karena ada sesuatu juga.." Elak Aima
Arif menatap mata Aima kesal.
"Itu menurut kak Aima. Tapi tidak dengan saya" tegas Arif.
“Sekarang saya tanya, terus ini gimana..? sekarang adik saya meminta kita menikah yang gak mungkin buat saya.." Ucap Aima
"Saya punya pilihan saya sendiri. Tapi melihat gimana kondisi adik saya saat ini, saya bingung harus gimana.. Saya gak bisa bisa mikir lagi..” Lanjut Aima dengan frustasi.
“Aku juga bingung kak..” Jawab Arif tak kalah frustasi.
Keduanya kembali diam. Larut dalam pikiran mereka masing masing.
“Kalian disini rupanya.. Papa cariin dari tadi.. Ayo masuk, Aini belum siuman..” suara pak Samsul mengagetkan keduanya.
Tanpa pikir panjang keduannya langsung beranjak meninggalkan pak Samsul yang masih berdiri di tempatnya.
Mereka saling mengejar dan mendahului satu sama lain menuju ruangan rawat Aini.
__ADS_1
Tak berselang lama, keduanya pun akhirnya tiba di depan ruangan Aini.
“Ma, gimana keadaan Aini ma..? ” tanya Aima dengan nafas memburu karena ia berlari cepat begitu pun Arif.
“Dokter masih di dalam, mama juga belum tau..” ucap bu Ineke dengan tangisnya.
Aima memeluk sang Ibu dengan sayang. Meski tak kalah jauh dengan perasaan sang ibu, Aima mencoba untuk menguatkan.
Arif mengusap mukanya kasar. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya.
Jelas saja, karena pembahasan dan penolakan Arif atas permintaan Aini tadi membuat Aini seperti ini.
"Kenapa harus bertengkar sih tadi? kenapa aku harus keras kepadanya seperti itu. Kenapa aku tidak mencoba menanggapinya dengan sedikit lebih sabar." Monolog Arif dalam batin
Arif menghampiri Aima dan menarik tangan Aima menjauh dari bu Ineke.
Melihat interaksi itu, pak Samsul yang baru tiba di ujung koridor karena tertinggal jauh oleh Arif dan Aima, sjenak menghentikan langkahnya.
“Mari kita menikah.. Ayo kita wujudkan permintaan Aini, agar dia bahagia. Nanti kita bikin kesepakatan dalam pernikahan kita.." Tutur Arif frustasi
Aima menatap wajah Arif dengan tatapan tak terbaca.
"Silakan kak Aima menulis apapun yang ingin di ajukan sebagai kesepakatan.. Aku pun demikian. Akan aku tulis dalam satu lembar kertas.. Dan masing masing dari kita akan menandatangninya..” tutur Arif mengutarakan niatnya.
Aima melototkan matanya mendengar ide Arif. Dia tersenyum miring menanggapi dan memalingkan wajahnya ke samping dengan kedua tangan berada di pinggangnya.
Belum mendapati jawaban, mereka dikejutkan dengan tangis bu Ineke. Mereka saling pandang dan berlari menemui bu Ineke.
“Gimana keadaan Aini dok..? Tanya mereka hampir serentak.
“Kami sudah berusaha, tapi Tuhan sudah berkehendak lain.. Mohon bersabar, biar Aini juga tenang disana..” Jelas dokter Marchel lembut.
Tangis bu Ineke dan Aima pecah memenuhi ruangan. Tak dapat lagi terbendung, dunia mereka terasa hancur seketika.
Sedangkan Arif, jangan di tanya lagi seperti apa perasaannya saat ini. Dia bahkan tersungkur di lantai mendapati jawaban dokter Marchel yang menangani Aini.
Arif menyalahkan dirinya atas kematian Aini. Hatinya perih bahkan sangat perih.
Mereka semua saling mendahului masuk ke dalam ruangan Aini. Kecuali Arif.
Arif masih mematung di lantai koridor rumah sakit dengan tatapan kosong.
Di dalam ruang perawatan Aini, tangisan Aima dan kedua orang tuanya semakin pecah.
"Dek.. Kenapa kamu pergi secepat ini sayang.. Kakak sendirian sekarang.. Gak ada kamu, apa jadinya hari hari kakak.." Tangis Aima memeluk jasad Aini yang terbujur kaku di ranjang.
"Aima, sudah nak.. Kasihan adik kamu.. Kita doa kan agar dia bahagia disana dan mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah swt.." Ucap pak Samsul mengelus kepala Aima penuh sayang.
Meski hati pak Samsul hancur, namun dia berusaha kuat demi anak dan istrinya.
__ADS_1
***
Setelah semua proses administrasi di rumah sakit selesai, Aima dan keluarganya membawa Aini pulang ke rumah.
Disana kerabat dan warga sudah menunggu kedatangan mereka. Warga sekitar cukup merasa sedih akan kepergian Aini.
Mereka mengenal Aini dan kedua orang tuanya dengan begitu baik. Sikap santun dan ramah tama mereka, membuat warga sekitar mengaggumi keluarga sultan itu.
Selama proses kepulangan Aini, hingga proses pemakaman berlangsung, Arif terus bersama keluarga Aini hingga selesai.
Bahkan saat ini, Arif merasa berat meninggalkan makam Aini.
Begitu pun Aima dan orang tuanya. Mereka tak ada sedikit pun beranjak dari sana.
Mereka sama sama terpukul dengan kepergian Aini yang terasa terlalu cepat bagi mereka.
“Arif, ayo kita pulang nak.. Ihklaskan Aini.. Biarkan dia beristrahat dengan tenang..” Bujuk pak Malik pada sang anak.
Arif diam tak bergeming. Dia terus saja tertunduk lesu depan pusara Aini. Matanya cukup sembab akibat terus menangis tanpa suara.
“Iya nak, nanti malam kan kita balik lagi ke rumah pak Samsul untuk tahlilan.. Kamu harus istrahat, dari kemarin kamu belum istrahat sejak dari rumah sakit..” Sambung bu Nana membenarkan ucapan sang suami.
Arif bergeming. Dia sadar, orang tuanya cukup khawatir akan kondisinya. Dia tidak boleh egois. Pikirnya.
"Sayang.. Aku balik pulang dulu ya.. Beristrahatlah dengan tenang disana sayang.. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.." Lirihnya dalam batin
"Insya Allah, Allah menempatkan kamu di sisi-Nya yang paling indah..Aamiin Allahuma Aamiin.." Lanjutnya.
"Ayo nak.. Kita pulang.." Ajak bu Nana lagi.
Arif beranjak, menuruti orang tuanya. Dengan berat hati, Arif pamitan kepada pak Samsul dan bu Ineke yang juga masih berada disana.
Dia sengaja mengacuhkan Aima padahal dia juga berada di tengah mereka. Arif bingung dengan sikap Aima yang suka berubah ubah.
Selama di perjalanan pulang ke rumahnya, Arif hanya diam menatap jalanan dari balik kaca jendela mobil.
Air mata masih terus jatuh dari sudut matanya. Bayangan kebersamaannya dengan Aini terus menari indah di ingatannya.
Tawa, canda, bahkan ambekkan Aini terus memenuhi memorinya. Hingga terdengar isakan keluar dari bibirnya meratapi semua itu.
Bu Nana hanya bisa mengelus lengan Arif. Mencoba menenangkan perasaan sang anak yang terlihat kacau.
Sesampainya di halaman rumah, Arif turun dan langsung masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.
Kedua orang tuanya hanya menatapnya dengan sedih. Mereka mengerti bahwa perasaan anaknya saat ini sangat sakit atas kepergian orang yang begitu di cintainya.
“Mama masuk aja, susul Arif dan ajak dia makan dulu.. Papa mau nganter mobil Ibnu dulu..” Ucap pak Malik pada istrinya.
"Ajak dia ngobrol, kuatkan dia.. Meski dia anak laki dan sudah dewasa, tapi perasaannya tetap perasaan manusia biasa.. Bisa sakit bisa rapuh." Tutur pak Malik pada sang istri.
__ADS_1
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR MEMBACA.. 😇🙏🙏💞**