
"Turunin mas.. Apaan sih kamu mas.. Aku gak mau.." Aima terus berontak membuat Arif cukup kewalahan menahan tubuh sang istri agar tidak jatuh dari gendongannya.
Sesampainya di kamar, Arif belum menurunkan Aima dari gendongannya. Aima yang sudah kewalahan kini tinggal diam pasrah.
Arif menatap istrinya yang keras kepala itu dengan senyum. Aima yang melihat Arif tersenyum menatapnya, kembali merasa ketakutan.
Dalam bayangan Aima, Arif akan merebut mahkotanya dengan paksa malam ini juga tanpa ampun.
Melihat wajah Aima yang mulai pucat, matanya yang mulai berembun, Arif buru buru meletakan Aima di atas tempat tidurnya dengan sangat hati hati.
"Kamu kenapa..? Takut..?" Tanya Arif dengan perasaan bersalah.
Aima hanya diam menatap wajah Arif. Tubuhnya yang gemetaran, air matanya yang berhasil lolos dari pelupuk matanya, semakin membuat Arif merasa bersalah.
Arif menggaruk pangkal lehernya yang tidak gatal sama sekali berkali kali. Bingung lebih tepatnya.
"Aima.. Aku ini suami mu, kamu halal untukku aku halal untukmu.. Gak ada yang salah, kenapa kamu harus takut..?"
"Aku bukan penjahat loh.. Aku juga bukan bajingan yang merampas yang bukan haknya.." Ucap Arif menatap Aima.
Bukannya tenang, Aima justru semakin ketakutan. Bahkan isakan tangisnya terdengar begitu lirih membuat Arif kelabakan.
"Sayang, sayang.. Sayang dengar aku.. Aku gak akan nyakiti kamu, aku gak akan memperkosa kamu Aima.. Aku ini masih waras.." Aima menyumpal bibirnya bermaksud meredam tangisannya.
__ADS_1
"Tidurlah.. Biar aku tidur di sofa.." Ucap Arif datar.
"Segitu takutnya dia sama aku.. Padahal itu hak aku.." Batin Arif
Arif meraih kupluk yang tergeletak di kasur dengan dan keluar dari kamarnya. Sikap Aima kali ini di nilai Arif sangat berlebihan.
Seolah dia adalah penjahat kelamin yang harus di takuti sebegitunya oleh istrinya sendiri.
"Tidurlah.. Kunci pintunya.." Ucap Arif menatap Aima dari ambang pintu.
Aima diam tak bergeming. Isakannya masih terdengar oleh Arif. Arif putuskan untuk menahn diri untuk tidak kembali ke kamar itu sampai pagi.
***
Fatur yang begitu pusing mencari cara untuk menghancurkan nilai akademik Arif.
Fatur merasa cukup sulit mencari ide. Merasa tidak bisa menemukan caranya di karenakan Arif begitu jenius di bidang akademi.
Bahkan saking jeniusnya, Arif bisa di pastikan lulus tanpa skripsi. Kenyataan Itu hampir menbuat Fatur stres.
__ADS_1
Arif adalah asset besar universitas yang akan di promosikan menjadi dosen disana.
"Kenapa harus dia Aima..?" Keluh Fatur dalam batin
***
...Bintang.. Andai engkau dapat ku ajak bercerita.. Andai engkau dapat ku ajak bercanda...
... Tentu aku tidak akan merasa sesepi seperti saat ini.....
......Langit malam tidak akan menjadi indah tanpamu.. Langit malam tidak akan di pandang tanpa gemerlap cahayamu.. Kamu tahu..? Aku iri padamu.....
......Bintang malam.. Mustahil engkau dapat ku raih dengan tangan ini.. Mustahil engkau dapat ku sentuh dengan ujung jari ini.....
...Seperti hatinya, mustahil bisa ku masuki meski aku tulus.....
Udara di puncak yang begitu dingin, tidak di pedulikan lagi oleh Arif saat ini.
Dia yang terlanjur kesal dengan sikap istrinya, masih betah berada di luar memandang langit malam yang perlahan mampu mendamaikan hatinya.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH YA BUAT KALIAN YANG MASIH BERKUNJUNG DISINI.. 🙏🙏
MOHON DUKUNGANNYA TEMAN TEMAN, UNTUK SAYA BISA LEBIH SEMANGAT LAGI DALAM BERKARYA.. 🙏🙏💞💞**