DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
ACU TAK ACU


__ADS_3

Tangan Arif terulur mengelus puncak kepala Aima lembut sebelum ia duduk di kursi samping sang istri.


“Eh pagi nak.. Sejak kapan disitu..?” Tanya bu Ineke tak enak hati, takut kalau Arif mendengar obrolan mereka.


“Baru ma, aku baru turun dari kamar..” Jawab Arif tersenyum.


Arif yang duduk di kursi samping Aima, meraih tangan Aima di bawah meja dan menggenggamnya erat.


Ia berusaha menenangkan Aima dari nasehat mertuanya yang belum bisa di terima olehnya.


Aima tak menolak, dia membiarkan saja apa yang di lakukan oleh Arif.


Sampai pada saat pak Samsul bergabung di meja makan, baru lah Arif melepaskan genggaman tangannya.


Mereka pun sarapan bersama dengan begitu hening.


Setelah selesai sarapan pagi, pak Samsul pamit berangkat ke kantor di hantar bu Ineke hingga di depan rumah.


Sedangkan Arif dan Aima masih berdiam diri di meja makan. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


“Kamu gak kuliah..? ” Tanya Aima basa basi.


“Hari ini gak ada kelas..” Jawab Arif dengan senyum.


"Oh.." Jawab Aima hanya ber oh ria.


Aima berdiri dari kursinya dan meninggalkan Arif sendirian di meja makan tanpa berniat mengajak suaminya.


Arif hanya menarik nafas dan menghembuskannya pelan menatap punggung istrinya yang perlahan berlalu dari pandangannya.



Arif beranjak dari duduknya dan berniat kembali ke kamar. Lagi-lagi Arif termenung di depan pintu kamar Aini.


Ingin rasanya ia masuk, namun di urungkannya kembali niatnya itu. Ia pun melanjutkan langkanya menuju kamar Aima dan merebahkan tubuhnya di ranjang.


Arif merasa cukup bosan karena tidak ada aktivitas, tidak ada pula teman ngobrol.

__ADS_1


Akhirnya ia berjalan kearah balkon dan duduk di kursi yang ada disana. Dari atas sana ia melihat aktivitas pak Amat tukang kebun dan pak Randu satpam yang bertugas menjaga rumah pak Samsul.


Arif sedikit terhibur melihat tingkah laku mereka yang saling melempar candaan konyol.


Dari atas balkon, Arif melihat mobil Aima keluar halaman. Pak Randu berlari membuka pintu gerbang untuk nona majikannya itu.


“Mau kemana dia..? ” Gumam Arif


Setelah mobil Aima keluar pintu gerbang, Arif bergegas keluar kamar dan turun mencari mbok Lala di dapur.


“Mboook.. Mbok Lala..” Panggil Arif dari arah dapur, namun mbok Lala muncul dari arah ruang tengah


“Ada apa Den..? ” Tanya mbok Lala.


“Aima tadi ngomong ke mbok gak kalau dia mau keluar..? ” Tanya Arif penuh selidik.


“Kata neng Aima sih dia mau keluar sebentar tapi gak tau mau kemana.. Coba Aden tanya ibu deh..” Jawab mbok Lala.


Arif terdiam. Tidak mungkin dia mau menanyakan ke mertuanya. Yang ada malah Aima kenak marah lagi karena keluar rumah tanpa pamit sama suami.


“Ya sudah, makasih ya mbok..” Tutur Arif.


Arif pun memutuskan untuk menunggu Aima di rumah saja. Itu lebih baik pikirnya.


Hari semakin sore. Sebentar lagi magrib akan tiba. Namun Aima belum juga pulang ke rumah.


Arif khawatir di tanyai mertuanya kemana Aima pergi dan dia gak tahu harus menjawab apa pada mertuanya.


Hingga magrib pun telah tiba. Arif melaksanakan sholat magrib sambil menunggu Aima pulang.


Setelah melipat sajadah dan menyimpan peci di lemari, Arif yang masih menggunakan kain sarung, keluar kamar berniat menunggu Aima di teras depan rumah.


Namun baru saja dia keluar kamar dan hendak menutup pintu kamar dari luar, dia di kejutkan dengan Aima yang tengah berada tepat di belakangnya.


“Mau kemana mas..? ” tanya Aima menatap sang suami heran.


__ADS_1


“Ehh, Aima.. Kamu sudah pulang..? ” Ucap Arif kaget.


“Mas kenapa..? ” Tanya Aima menatap Arif dengan tatapan aneh.


“Ehh nggak, nggak apa apa..” Jawab Arif mendadak canggung.


"Dari mana..?" Tanya Arif memberanikan diri bertanya.


"Tadi ada urusan pekerjaan.." Jawabnya singkat dan datar.


Arif tersenyum simpul menatap sang istri.


Aima menggeser tubuh Arif dan masuk ke kamar. Lagi-lagi Arif hanya menarik nafas dan menghembuskan nya kasar melihat tingkah sang istri yang baru ia nikahi itu.


“Jika boleh jujur, aku juga sama seperti mu yang terpaksa menerima pernikahan ini. Tapi aku berusaha ikhlas dan mau mencoba menerima ini sebagai jalan takdir yang harus di lalui..” Lirih batin Arif menatap pintu kamar yang di tutup oleh Aima setelah dia masuk.


Arif tak ingin merusak mood istrinya. Ia memutuskan untuk keluar rumah menuju pos satpam.


“Assalamualaikum pak Randu..”. Sapa Arif pada pak satpam dengan sopan.


“Ehh waalaikumsalam.. Maaf den, saya kira siapa..” Jawab Randu dengan sopan.


“Iya pak Randu gak apa apa..” Tutur Arif tersenyum.


“Ada yang bisa saya bantu den..? ” Tanya pak satpam.


“Gak ada pak Randu.. Saya Cuma bosen aja kok karena gak ada teman ngobrol.." Jawab Arif.


"Boleh saya duduk disini..? “ Tanya Arif menunjuk kursi kosong yang berada di depan pos tersebut.


“Oh iya den silakan.. Dengan senang hati saya..” Jawab Randu antusias.


Arif pun menggeser kursi sedikit merapat ke arah dinding pos dan duduk menatap lurus ke depan menghadap arah taman.


“Pak Randu sudah lama bekerja disini..?” Tanya Arif kemudian.


“Lumayan den, sudah 3 tahun.. Dulu saya di kantor bapak, tapi kemudian saya di minta pindah ke rumah sini menggantikan pak Amat yang sudah pensiun..” Jawab Randu menjelaskan.

__ADS_1


"Apa aku harus nanya nanya pak Randu aja kali ya soal Aima..? Setidaknya aku bisa tau seperti apa sifat istriku itu.." Batin Arif bermonolog


BERSAMBUNG.. 🙏💞💞


__ADS_2