
Aima menatap kedua manik mata Arif begitu lama. Aima teringat kekasihnya yang juga selalu bisa menarik perhatiannya.
Yang membedakan mereka ialah, Arif yang mau mengalah, terlepas dari salah dan tidaknya dia. Sedangkan kekasihnya lebih memilih diam memendam amarah sebelum akhirnya mengutarakan semua hingga berujung pada nasehat yang harus di sepakati.
Aima bangun dari pangkuan Arif dan berjalan menunju lemari pendingin.
“Besok sepulang dari kampus, aku nginap ke rumah orang tua ku dulu..” Ucap Arif menatap punggung istrinya.
Sontak Aima membalikan badannya menatap wajah Arif. Aima pikir masalah sudah selesai. Tapi ternyata Arif tetap akan pulang juga.
“Besok pagi setelah sarapan biar aku yang minta ijin papa sama mama.. Aku mau nginap untuk beberapa hari disana.." Ucap Arif lagi
"Tapi mas." Cegah Aima
" Nanti kalau mama sama papa nanya, kamu bantu jawab kalau aku banyak tugas yang harus aku selesaikan bareng teman teman.. Bahkan bisa sampai larut malam, gitu..” Lanjut Arif.
"Emangnya bener begitu..?" Tanya Aima yang masih berdiri di tempatnya semula.
"Ya nggak.. Itu cuma alasan aja kalau mama sama papa nanya biar mereka gak curiga.. Bilang juga kamu juga sibuk karna banyak kerjaan..” Jawab Arif.
Mendengar apa yang di sampaikan Arif, hati Aima menjadi rasa bersalah. Ia tak menyangka suaminya yang berada di bawa umurnya bisa sedewasa itu mengambil sikap.
Mau menutupi aib rumah tangganya, termasuk melindungi dia dari amarah orang tuanya dengan cara yang berbeda.
Dan ini sudah kedua kalinya Arif melindunginya. Sebelumnya Aima mendengar dengan mata kepalanya sendiri saat Ayahnya marah kepadanya.
Namun Arif melindunginya dengan mengatakan bahwa dirinyalah yang keluar rumah tanpa pamit.
Aima menarik nafas pelan dan menghembuskannya.
“Baiklah.. Dengan jarak yang ada, kita bisa mengukur sejauh mana perasaan kita masing-masing.." Ucap Aima setuju.
"Memberi waktu pada diri kita sehingga nanti saat mengambil langkah selanjutnya seperti apa, itu gak akan berujung penyesalan "
"Bisa saling menerima, atau justru sebaliknya. kita jalani hidup masing-masing tanpa saling menyakiti..” Lanjutnya lagi
Arif tersenyum kecil mendengar ucapan istrinya itu. Ada sedikit perih yang hinggap di hatinya, tapi entah karena apa diapun tak tahu pasti.
“Ya sudah ayo makan.. Nanti keburu dingin, gak enak lagi..” Ajak Arif mencairkan suasana yang ada sambil menatap makanan yang tersaji di depannya.
Aima melangkah pelan menghampiri meja makan dan duduk di samping suaminya.
__ADS_1
“Kamu belum makan..?” Tanya Aima mengangkat kedua alisnya melihat Arif meraih piringnya.
“Belum.. Tadi mbok manggil ikut makan, tapi aku bilang aja udah makan di luar sama teman kampus padahal gak..” Jawab Arif sambil menyendok nasi ke piringnya.
"Kenapa gak ikut makan aja sama mama papa kalau emang laper..?" Tanya Aima lagi.
"Gimana aku mau makan..? Istriku aja belum makan.." Jawab Arif enteng.
"Mceehhh ada ada aja.." Celetuk Aima mendengar kata manis dari suaminya itu.
“Sini piringnya..” Tangan Aima terulur mengambil piring dari tangan Arif.
“Mau lauk apa..? Yang ini mau..? Sayur mau..?” Tunjuk Aima pada satu persatu menu yang tersaji di meja makan.
Setelah selesai makan, Arif membantu Aima membereskan meja dan membantu mencuci piring.
Mereka terlihat sudah seperti pasangan suami istri yang romantic dan harmonis. Tidak ada yang tahu seperti apa rumah tangga mereka sebenarnya.
***
“Mas, Udah tidur belum..?” Tanya Aima setelah mereka berada di ranjang untuk istrahat.
Arif yang tidur terlentang hanya bergumam tanpa membuka mata.
Arif yang sebetulnya belum tidur, merubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Aima.
Saat matanya terbuka, ia melihat Aima tersenyum meski ruangan kamar dalam penerangan kurang.
"Tidurlah, hari sudah sangat larut.." Ucap Arif menatap Aima.
Arif bergeser maju dan membawa Aima masuk kedalam dekapannya. Aima tidak menolak sama sekali bahkan dia bergerak mencari kenyamanan dalam dekapan Arif.
Saat Aima mendongakkan kepalanya menatap wajah Arif, ia tersenyum meski Arif tidak melihat senyumnya karena matanya sudah terpejam.
Arif mencium kening Aima, ia tahu Aima sedang memandangnya karena gerakan kepala Aima menandakan ia menengadakan kepalanya ke atas.
Anehnya Aima tidak menolak saat bibir Arif menempel di keningnya dengan waktu yang cukup lama.
Sehingga Arif terus mengulangi hingga berulang kali.
__ADS_1
“Mas.. Apa kamu mencintaiku..?” Pertanyaan Aima berhasil mengurai dekapan Arif dan menatapnya intens.
Aima terkekeh melihat ekspresi wajah suaminya yang terlihat lucu di matanya.
Aima membenamkan wajahnya di dada Arif dan memeluknya erat. Ia mencium dada Arif meski tak terasa olehnya. Namun Aima bahagia melakukannya.
Entah apa sebenarnya yang Aima rasakan. Mungkin sudah tumbuh cinta namun ia tak mau mengakui itu hingga sikapnyalah yang menunjukan.
"Kak Aima.." Sikap Aima yang selalu menarik ulur perasaannya, membuat Arif kembali memancing emosi Aima.
Sontak Arif memekik kesakitan. Lengan dan dadanya terasa perih akibat di gigit oleh Aima yang masih memeluknya sejak tadi.
Arif mengurai pelukan Aima dan mengelus bekas gigitan di dadanya.
“Kenapa siiihh..? Sakit ya Allah..” Arif terus mendumel sambil mengelus bekas gigitan Aima.
Aima menatapnya sinis.
“Salah sendiri..” Ketus Aima tanpa merasa bersalah.
Arif bangun dari ranjang dan membuka kaosnya. Dia kemudian berjalan kearah meja rias Aima. Memeriksa gigitan Aima lewat pantulan cermin.
Merah kebiru-biruan terpampang nyata disana. Cetakan gigi yang sempurna.
Melihat suaminya terus mengelus bekas gigitannya depan cermin, perhatian Aima teralihkan dengan tubuh Arif yang tanpa baju. Otot-otot tubuh Arif tercetak jelas dengan indah.
Aima langsung menyadarkan pikiranya ketika Arif bertanya kenapa menggigitnya sampai sekeras itu.
Dia hanya niat bercanda tapi malah mendapat luka gigitan yang begitu sakit.
Aima lantas turun dari ranjang dan menghampiri Arif yang berdiri di depannya. Ia memeluk tubuh Arif dengan pelan yang tanpa atasan itu. Arif terdiam pada posisinya karena kaget.
"Maaf.. Aku kebawa kesel kamu manggil aku dengan kakak lagi.." Ucap Aima mendongak menatap wajah Arif.
Arif yang bingung menanggapi sikap sang istri, memilih mengangguk pelan
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
MOHON DUKUNGANNYA TEMAN TEMAN.. 🙏🙏💞
SEMOGA AUTHOR TERUS SEMANGAT SEHINGGA NOVEL INI BISA SAMPE TAMAT..🙏💞💞**