DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
HARGA DIRI


__ADS_3

Subuh menjelang.


Arif yang terbangun terlebih dahulu, hanya menatap wajah sang istri di sampingnya tanpa berniat mengusik tidur sang istri.


Arif turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk hajatnya dan berwudhu.


Ketika mulai menggelar sajadah, Arif kembali menatap sang istri yang masih betah berada di balik selimut.


Menghampiri sang istri, dan memandangnya penuh cinta. Mungkin Arif sudah mencintai Aima sejak mereka mulai berbagi ranjang pada malam kedua mereka resmi menjadi sepasang suami istri.


Namun karena sering selisih paham, dan Aima yang sering menghindarinya lah yang membuat Arif belum menyadari perasaannya sedalam itu pada sang istri.


Arif mendaratkan pantatnya pada sisi ranjnag samping sang istri berniat mengajaknya ibadah bersama.


"Bangun sayang. Sholat jamaah yuk..?" Suara Arif yang terlalu lembut, justru semakin membuat Aima betah di balik selimut.


Terpaksa Arif membatalkan wudhunya dengan mengulurkan tangannya tepat di pipi sang istri.


Aima menggeliat merasakan sentuhan tangan yang terasa dingin.


"Bangun yuk..? Kita sholat dulu.." Ajak Arif dengan lembut.


Aima yang masih belum sepenuhnya sadar dari rasa kantuknya, sesekali mengerjapkan mata tanpa berniat untuk bangun.


"Masih ngantuk ya..? Bangun dulu yuk..? Nanti tidur lagi setelah sholat.." Ucap Arif lembut yang mengerti kondisi sang istri yang baru semalam berobat ke klinik.


"Jam berapa mas..?" Tanya Aima hampir tak terdengar.


"Jam lima kurang sayang.." Jawab Arif mengelus pipi sang istri.


Mendapat perlakuan yang manis sejak tadi oleh sang suami, membuat Aima membuka matanya selebar mungkin lalu tersenyum menatap sang suami.


"Mas belum wudhu..?" Tanya Aima heran ketika melihat sang suami masih ada sisah air di wajahnya.


"Sudah tadi sebelum bangunin kamu.." Jawab Arif enteng.


"Lah batal dong..?" Ucap Aima tersenyum.


"Gimana lagi. Istri aku gak mau bangun bangun dari tadi.." Jawab Arif balas tersenyum.

__ADS_1


Keduanya tertawa akan kelakuan mereka. Kali ini nampak indah tanpa drama lagi.


Setelah keduanya usai melaksanakan ibadah sholat, Aima pun tak lupa mencium punggung tangan sang suami.


Aima yang memang masih kurang fit kondisi tubuhnya, terpaksa harus kembali merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya.


Sedangkan Arif sendiri kini keluar apartemen membeli sarapan untuk mereka berdua.


Hampir satu jam Arif belum juga kembali. Aima yang sudah sangat lapar, terpaksa harus bangun dan mencari sesuatu di kulkas untuk mengganjal isi perutnya.


"Lama banget mas..?" Ucap Aima yang sontak membuat Arif terkejut di ambang pintu dapur apartemen.



"Sayang..? Ngagetin aja.." Ucap Arif terkejut


Aima nampak diam. Jujur saja hatinya sedikit merasa kesal. Sebab sejak sehabis sholat Arif keluar, dan kini baru pulang setelah satu jam lebih lamanya.


Arif sadar akan perubahan wajah sang istri. Namun dirinya tak mau jujur kenapa dirinya bisa selama itu berada di luar.


"Ini sayang sarapannya. Maaf tadi lama.." Arif berusaha meluluhkan hati sang istri.


"Beli dimana..?" Tanya Aima masih dengan wajah kesalnya.


"Di restoran padang sayang. Kan kamu mau sarapan nasi padang katanya tadi.." Jawab Arif.


"Kata siapa..? Emang aku ada bilang tadi..?" Jawab Aima mengerutkan keningnya.


"Ada tadi.." Ucap Arif gugup.


"Ngaco.. Mana ada.. Aku cuma bilang mau sarapan, beliin di luar aja gitu.." Jelas Aima.


Arif diam tak menjawab. Pertemuannya dengan seseorang di luar pagi tadi membuat dia sedikit gugup di hadapan Aima.


"Atau jangan jangan kamu tadi udah sarapan ya sama seseorang di luar tadi sebelum pulang..?" Ucap Aima bergurau.


'Ketemuan sama siapa kamu mas..?" Lanjutnya


__ADS_1


"Enggaaakk.. Mana ada..? Ada ada aja kamu ini.." Elak Arif menutupi gugupnya.


"Ya udah ahk ayo sarapan.. Aku laper.


Ucap Aima menyudahi obrolan.


Sesaat kemudian keduanya pun fokus menikmati sarapan pagi mereka. Sampai pada akhirnya Aima belum juga puas soal kenapa Arif bisa selama itu membeli sarapan.


Karena setau Aima, restoran nasi padang tidak begitu jauh dari apartemen tempatnya berada.


Sesekali matanya melirik curiga pada sang suami yang sedang fokus menikmati sarapan paginya itu.


"Habis sarapan, aku ke rumah papa ya sebentar. Kayaknya aku mau nerima aja tawaran kerja dari papa kemarin. Gak enak juga kan aku gak kerja, sementara aku sudah punya istri yang harus aku nafkahin.." Ujar Arif menatap sang istri.


"Mas beneran mau ikut papa kerja..? Berarti mas gak balik lagi ke sukabumi..?" Tanya Aima santai.


"Udah di omongin kok sama papa juga mama kemarin. Dan kemarin sebelum kesini juga akukan ke rumah papa kamu dulu dan papa kembali menawarkan pekerjaan.."


"Ya aku pikir, apa salahnya aku coba. Aku juga ngajuin syarat sama papa.." Jelas Arif menatap serius wajah sang istri yang berada di depannya.


"Syarat apa..?" Tanya Aima masih dengan santainya.


"Aku minta papa menyama ratakan aku dengan karyawan yang lain. Tidak membeda bedakan. Dan juga memberiku pekerjaan sesuai bidang aku, bukan jabatan yang tinggi seperti yang papa tawarkan sebelumnya.." Jelas Arif serius



Aima menatap wajah Arif yang terlihat seperti sedang tertekan.


"Kamu kenapa mas..? Kalau kamu gak nyaman, jangan di ambil. Aku gak masalah kamu nafkahin aku atau gak." Ujar Aima yang mendadak mengubah ekspresi Arif menjadi horor


"Bukan berarti aku ngomong begitu karna aku punya uang mas. Aku cuma gak mau kamu kerja di tempat yang kamu gak nyaman. Apalagi cuma karna ingin bertanggung jawab atas nafka istri.." Jelas Aima.


"Gak gitu juga dong Aima. Harga diri lelaki itu adalah bekerja. Apalagi lelaki yang sudah beristri. Sekali pun istrinya itu kaya.." Jelas Arif tak terima.


Aima terlihat menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar. Sesekali matanya menatap ke arah sang suami dalam diam.


**BERSAMBUNG..


MINTA DOA DAN DUKUNGANNYA YA TEMAN TEMAN BIAR BISA UP EPISODE BERIKUTNYA.. 🙏🙏😇

__ADS_1


TERIMA KASIH SEBELUMNYA SUDAH MAMPIR BACA CERITA NOVEL INI.. 🙏😘😘**


__ADS_2