DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
KERIBUTAN LAGI


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Aima yang malas menyetir, terpaksa di antar oleh Arif, sang suami ke kantornya terlebih dahulu.


Sebenarnya bukan hanya karena malas mengemudi seorang diri. Tapi Aima juga ingin agar suaminya tidak curiga lagi bahwa dia bertemu dengan Fatur lagi pagi ini.


Sesampainya di parkiran, Aima menunggu Arif mengulurkan tangannya untuknya sebelum dirinya masuk ke dalam gedung kantor.


Arif yang kurang peka, hanya menatap bingung padanya yang sejak tadi tak berniat untuk turun.


"Ada apa..? Bukannya katanya ada meeting pagi ini..? Kenapa belum turun..? " Tanya Arif mengerutkan keningnya bingung.


"Boleh aku turun tanpa Ridho suami..?" Tanya Aima tanpa menjawab.


Arif memiringkan posisi badannya menghadap Aima dengan tatapan penuh tannya.


Aima yang greget, langsung mengulurkan tangannya meminta tangan sang suami untuk salim sebagaim mana mestinya.


Arif yang akhirnya peka, sontak mengulurkan tangannya. Sedangkan tanyan kirinya terangkan mengelur lembut pucuk kepala Aima.


"Huuhhhhk dasar.. Kelebihan curigaan ni makanya otaknya gak jalan.." Ujar Aima menyipitkan matanya menatap sang suami.


Arif yang mendengar celotehan Aima, menyubit gemas pipi sang istri cantiknya itu sembari tersenyum.


Arif bahagia. Sebab setidaknya Aima sudah mulai menunjukan sisi hangatnya sebagai seorang istri. Bukan lagi hanya seorang Aima yang dingin dan ambekan.


"Makasih sayang. Baik baik ya kerjanya. Nanti sore aku jemput lagi. Jangan mau di anter mantan, tunggu aku suamimu.." Ujar Arif posesif


"Liat nanti ahhk.. Dah suami posesif.." Ucap Aima sengaja mengundang kekesalan sang suami sembari turun dari mobil dan berlalu tanpa peduli sang suami yang terus menyahut dari balik kemudinya.


Dan benar saja. Baru saja Arif memutar setir menuju pintu keluar, matanya tanpa sengaja melihat sosok lelaki yang selama ini menjadikannya suami posesif pada Aima.


Dengan geram Arif turun dari kemudinya tanpa peduli pada sekitar yang mungkin bakal menjadikan mereka bahan tontonan.


Dengan penuh emosi, Arif menarik kasar lengan Fatur, lelaki yang kini bakal menjadi rifalnya itu.


"Apa mau anda datang kesini..? Mau cari perhatian sama istri saya..?" Ujar Arif pelan namun penuh penekanan.


Melihat amarah yang menyelimuti Arif, Fatur justru terpancing ingin bermain main dahulu pd mahasiswanya itu.


"Istri..? Siapa memangnya istri kamu..?" Fatur tersenyum miring seolah sedang mengejeknya.


"Gak usah sok pikun. Saya harap anda punya rasa malu sedikit. Setidaknya sadar diri kalau posisi anda tidak lebih dari masa lalu yang terbuang.." Celetuk Arif menatap sinis sang dosennya.

__ADS_1


Arif yang sadar sudah terlambat ke kantor, memilih berlalu dari hadapan sang dosennya itu. Namun baru saja ingin memutar badan, Fatur sontak melayangkan pukulan tepat ke wajah Arif.


Arif yang terkejut mendapat pukulan yang begitu keras, seketika oleng dan hampir saja tersungkur.


Arif memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar akibat sobek.


Namun baru saja sang dosen hendak melayangkan pukulan susulan, Arif dengan sigap memutar badannya dan melayangkan pukulan balasan dengan siku tangannya mirip bela diri muay thai.


Dengan akibat pukulan yang keras, membuat Fatur linglung beberapa detik. Hingga sedetik kemudian terlihat darah segar menetes dari sudut kepala Fatur.


Keributan yang terjadi di kantor Aima, membuat suasana menjadi kacau. Beberapa karyawan saling berkerumun karena penasaran apa yang sedang terjadi.


Tak terkecuali satpam yang sedang berjaga di pos depan, langsung ikut mengamankan keduanya.


Fatur yang tak bisa menerima, meminta satpam menghubungi bos mereka. Karena kenal siapa Fatur, salah satu satpam yang bertugas pun langsung masuk dan menemui asisten sang bos.


"Apa..? Fatur berkelahi dengan seseorang di parkiran..?" Tanya Aima memastikan laporan sang asisten.


"Iya bu, tadi satpam langsung yang menemuiku.." Jawab Arjun sang asisten sekaligus teman akrab Aima sejak remaja.


"Kamu temui gi sana.. Suruh mereka kesini.. Aku mau tau apa masalah mereka sampai mau ribut di kantor aku.." Perintah Aima pada Arjun sang asisten.


Aima tidak tahu yang ribut dengan Fatur adalah sang suami. Dia mengira Fatur pasti ribut dengan salah satu staf di kantor karena sikap Fatur yang memaksa masuk menemuinya.


"Mas Arif..? Kok mas masih disini gak langsung balik..?" Keterkejutan Aima.


Arif hanya menatap diam sang istri dari balik punggung Fatur yang berdiri tepat di depannya.


"Arjun, kamu boleh kembali ke ruangan kamu.." Perintah Aima yang di angguki Arjun.


"Silakan duduk kak Fatur. Mas Arif, mas duduk disini aja.." Ujar Aima meminta sang suami duduk di kursi depan mejanya.


Sementara Fatur, di persilakan duduk di sofa yang berada di sudut ruangannya.


Namun melihat Aima yang interaksi Aima pada Arif, membuat Fatur terbakar cemburu. Fatur tak bergeming. Memilih tetap berdiri di tempatnya semula.



"Kak, sini.. Obati dulu luka kakak sebelum kakak pergi.." Ucap Aima mencoba meredahkan emosi Fatur.


Bukan tidak menghargai suami. Hanya saja Aima geram melihat keduanya yang seperti anak kecil. Menggunakan kekerasan hingga menimbulkan luka, Aima sungguh khawatir terjadi apa apa pada Fatur akibat ulah suaminya.


Dia tahu betul Ibu dari Fatur. Tidak akan segan segan melakukan kehendaknya jika sudah menyangkut anak kesayangannya itu.

__ADS_1


"Kak. Kak Fatur kenapa kesini lagi sih kak ..? Kan aku sudah bilang kak, kalau kita sudah seharusnya tak bertemu lagi.." Ujar Aima menghampiri Fatur dengan menyodorkan kotak P3K di tangannya.


Rasa cinta, rindu dan cemburu menyatu dalam benci, Membuat Fatur memilih keluar dari ruangan Aima tanpa satu kata apapun.


Melihat itu, Aima hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya sembari menatap sang suami yang sejak tadi terus memperhatikan gerak geriknya.


"Mas juga kenapa harus ribut di kantor aku..? Ini lihat, luka pula kan..? " Ucap Aima merasa kesal bercampur rasa khawatir.


Arif meringis saat tangan Aima menyentuh sudut bibirnya dengan penuh kekesalan.


"Mas. Bisa gak sih mas percaya sama aku..? Bisa gak mas gak bikin aku kesal apalagi khawtir seperti ini..?"


"Mas bukan lagi anak abg mas yang masih harus di beri nasehat biar benar kelakuannya.." Geram Aima menatap sang suami dengan mata yang mulai berkaca kaca.


"Bukan aku yang memulainya. Aku hanya melindungi diriku. Apa itu salah..?" Celetuk Arif yang tak mau terima.


"Mas pulang saja dulu. Nanti kita bicarakan lagi masalah di rumah.."


Ucap Aima tak mau masalah jadi semakin runyam sementara mereka sedang berada di kantornya. Terlebih karyawan dan staf kantornya tidak ada yang tahu status mereka hingga saat ini.


"Keluarlah dari ruanganku. Aku masih banyak kerjaan.." Ucapnya lagi sembari memunggungi sang suami


"Kamu ngusir..? Takut karyawan di kantor kamu tau hubungan kita ini apa..?" Celetuk Arif menuduh.


"Mas, please deh. Kita bahas nanti di rumah. Aku bentar lagi ada meeting penting mas. Mas jugakan ada kerjaan, sudah di tungguin papa.." Sarkas Aima kesal.



"Okey.." Ucap Arif terdengar tak baik baik saja.


Ketika Arif berbalik, Aima yang sadar akan kemarahan di hati sang suami, terpaksa memeluk Arif dari belakang.


Aima khawatir Arif yang di selimuti amarah, bisa membahayakan dirinya dalam berkendara. Untuk itulah Aima memilih memeluk sang suami sekedar meredahkan hatinya dari rasa amarah.


"Jangan marah ya..? Jemput aku jam 4 sore, kita bahas masalah ini di rumah ya..?" Aima sengaja melembutkan suaranya untuk menenangkan hati sang suami.


Dan benar saja, Arif mengangguk sembari mengelus lembut punggung tangan Aima yang berada di pinggangnya.


**BERSAMBUNG..


HAYY TEMAN TEMAN, MAKASIH YA SUDAH MAMPIR LAGI DI SINI, MELANJUTKAN EPISODE SEBELUMNYA.. 🙏🙏😇


JANGAN LUPA SUPPORT TERUS YA DENGAN BANTU LIKE DAN VOTE.. SEMOGA EPISODE SELANJUTNYA AKAN LEBIH SERU LAGI DAN TENTUNYA BISA MEMBUAT TEMAN TEMAN SUKA.. 😇🙏💖💖**

__ADS_1


__ADS_2