
Hari ini Arif sangat di sibukan dengan sidang akhir studynya. Dimana dirinya harus menyiapkan segala sesuatu dengan baik menginggat tinggal dua hari lagi waktu tersisah.
Arif merasa sedih dimana sang istri yang seharusnya ada untuknya, justru malah berada di malaysia untuk meninjau bisnisnya disana.
Arif sebetulnya cukup sadar diri. Sejak pernyataan Aima beberapa minggu lalu, dimana Aima mengatakan dirinya yang tak pernah merasakan cemburu dan perasaan cinta kepadanya.
Namun biar bagaimanpun, Arif tetap berharap akan perhatian dan kehadiran Aima di moment kelulusannya nanti.
Meski sang ibu dan ayahnya bahkan mertuanya selalu memberi dukungan dan semangat penuh, namun Arif merasa kurang karena tanpa sang istri.
Di tempat lain, tepatnya di negara tetangga, Aima sedang duduk berdua dengan CEO perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.
Mereka yang sedang asik menikmati makan siangnya, mendadak terusik karena dering ponsel milik Aima yang terus berdering.
Hingga dering yang untuk ketiga kalinya, Aima terpaksa harus mematikan ponselnya saat melihat nama pemanggil tertera di layar ponsel.
" Jadi anda sebetulnya indo jerman..?" Tanya Aima yang terkejut saat CEO perusahaan yang akan bekerja sama dengannya adalah keturunan indonesia jerman yang kini menetap di malaysia.
"Iya betul sekali." Jawab CEO tersebut yang bernama Zio Abelard tersenyum menatap Aima.
"Wah saya sangat terkejut pak Zio. Pantas aja dari kemarin saya perhatikan gaya bahasa pak Zio lancar sekali saat ngobrol dengan saya.." Ucap Aima tak kalah tersenyum.
"Wahh rupanya anda diam diam memperhatikan saya ya..?" tutur Zio tersenyum menggoda.
"Ahh bukan begitu. Maksud saya.."
"Saya becanda.." Potong Zio tertawa.
Aima salah tingkah di hadapan Zio yang terus menatapnya dengan senyum manisnya.
"Baiklah pak Zio. Karena kesepakatan kerja samanya sudah selesai di ruang meeting, undangan makan siang juga sudah selesai, sekarang saatnya saya harus kembali ke kantor.." Ujar Aima bergegas
" Masih ada yang ingin saya sampaikan bu Aima.." Cegah Zio dengan gaya santainya menatap Aima.
Aima yang tadinya sibuk bergegas dan hendak berdiri dari kursinya, kini hanya mematung menatap Zio dengan bingungnya.
Zio tertawa geli melihat ekspresi Aima yang terlihat menggemaskan di matanya.
"Kenapa bu Aima terlihat terkejut sekali..? tenang aja, saya tidak akan membatalkan kesepakatan kita.." Ucap Zio menahan tawanya.
"Ahh iya, maaf. Saya, saya tidak berpikir seperti itu.." Ujar Aima mendadak bingung harus bersikap apa.
"Saya boleh minta nomor ponselnya..? Biar nanti saya telepon bu Aima saja apa yang mau saya sampaikan tadi.." Ucap Zio memberikan ponselnya pada Aima.
Aima yang masih belum mengerti arah pembicaraan Zio, hanya menatap ponsel yang berada di tangan Zio.
Zio yang paham, menarik kembali tangannya dan memasukan ponselnya kembali ke dalam saku celana.
"Baiklah bu Aima. Mari kita pulang. Terima kasih sudah memenuhi undangan makan siang saya.." Tutur Zio mengulurkan tangannya untuk di jabat.
Aima yang tak mau berlama lama disana, tanpa pikir panjang langsung menjabat uluran tangan partner kerjanya dengan ucapan yang sama.
Mereka pun kembali ke tujuan masing masing dengan kendaraan mereka masing masing pula.
***
__ADS_1
Setibanya di apartemen, Aima yang awalnya ingin kembali ke kantor setelah makan siang di cafe bersama Zio, mendadak demam dan memutuskan pulang ke apartemen dan istrahat.
Aima tertidur cukup lama hingga waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.
Sementara itu, Zio yang berhasil memiliki nomor ponsel pribadi Aima lewat menejer Aima, bolak balik mengetik kemudian di hapus kembali pesan yang akan di kirim pada Aima hanya karena kurang percaya diri.
"Aarrgghh kenapa susah sekali sih.." Kesal Zio yang sejak tadi belum juga berhasil memantapkan isi pesan yang akan di kirim ke nomor ponsel Aima
Zio yang tak sadar jarinya memencet tombol pesan suara pada aplikasi chat, terkejut poselnya mendapat pesan dari Aima.
"Astagaa. Kenapa ceroboh sekali sih.." Gerutu Zio saat menyadari ulahnya sendiri.
Buru buru Zio membalas pesan Aima.
📱"Apa kabar bu Aima"
Zio harap harap cemas setelah membalas pesan dari Aima.
Sejujurnya Zio adalah orang yang cukup dingin dan tegas serta berwibawa di hadapan orang orang di luar sana.
Tapi entah kenapa, sisi lain dari Zio kini nampak setelah hatinya tertarik pada Aima sejak pertemuan mereka pertama.
Meski sisi lainnya ini tak terlihat oleh siapapun karena saat ini Zio hanya sendirian di apartemennya.
📲"Maaf siapa ya..?" Balasan pesan dari Aima.
Zio tersenyum.
📱"Saya tadi sudah katakan, bahwa saya akan menghubungi bu Aima lagi.. " Basa basi Zio
Zio kesal ketika pesan yang dia kirim hanya centang dua tanpa balasan lagi.
Terlebih sikap Zio siang tadi bisa dengan muda terbaca.
Sementara itu, beberapa panggilan tak terjawab dari telepon rumah orang tuanya, tak sekalipun Aima hiraukan.
Aima berpikir itu hanya panggilan dari mbok Lala untuk mengabari keberadaan orang orang rumahnya seperti biasanya tanpa ada yang perlu di khawatirkan.
Hingga akhirnya Aima kembali melanjutkan istrahatnya setelah makan dan minum obat penurun demam.
***
"Gimana pah, Aima bisa di hubungi gak..?" Tanya bu Ineke pada sang suami dengan penasaran.
Pak Samsul menggeleng dengan raut wajah kecewa.
"Anak itu. Sejak dulu susah sekali di hubungi kalau lagi di luar.." Kesal bu Ineke.
"Anak kamu tuh pah. Nasehati.." Lanjut bu Ineke terbawa kesal.
"Sabar ma. Nanti papa nasehatin kalau dia sudah pulang.." Ucap pak Samsul menenangkan sang istri.
"Yasudah, mama istrahat aja di kamar. Papa harus balik lagi ke rumah sakit. Papa mau lihat kondisi Arif dulu sebentar.." Lanjut pak Samsul lagi.
Flashback On
__ADS_1
"Awas Ndraaaa.."
Braakkkkkhhh
Suara motor sport yang di kemudikan oleh Andra menghantam trotoar sebelum terguling ke sisi jalan.
Andra yang sepanjang jalan terus menjahili Arif karena murung di tinggal istri di hari spesialnya, mendadak membanting stir untuk menghindari pemotor yang tiba tiba saja menyalip dengan kecepatan tinggi.
Beruntung jalanan tidak terlalu ramai. Sehingga tidak membahayakan pengguna jalan lainnya.
Andra yang di larikan oleh warga ke rumah sakit, terus meringis dengan luka di beberapa tubuhnya termasuk di pelipis kanannya.
Sedangkan Arif sendiri sudah tidak sadarkan diri sejak di selamatkan oleh warga. Dan kini Arif tengah berbaring di ruang ICU dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.
Beruntung kakinya hanya mengalami patah tanpa ada tulang yang retak hingga harus di operasi.
Flashback Off
Keesokan harinya, Aima yang sudah membaik dari demamnya, sudah rapih dengan stelan kaos oblong di padukan dengan celana jeans longgar tengah berjalan dengan santainya menuju mobilnya.
Sesaat setelah mobilnya mulai keluar dari parkiran apartemen, dering ponselnya mulai ramai tanpa henti.
Kali ini meski dengan malasnya, Aima terpaksa menerima panggilan setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya adalah sang ibu.
"Astagaa anak ini, susah sekali sih kalau di hubungin..? Dari mana saja kamu Aima..? Gak lihat apa berapa panggilan dari kami yang kamu abaikan..? Gak khawatir kah kamu kalau itu panggilan penting..?"
Belum juga Aima menyapa dengan salam, di seberang sana bu Ineke sudah menyerang Aima dengan segala kemarahannya.
Aima cukup terkejut. Sebab selama ini sang ibu tidak pernah sekali pun marah sekeras itu. Apalagi meninggikan suaranya hingga lima oktaf.
"Ada apa sih ma..? Mama kok marah marah gitu..?" Ujar Aima dengan kesabarannya yang setipis tisu.
"Gimana mama gak marah..? Kamu kalau di hubungi selalu aja susahnya minta ampun. Gak pernah sekali pun menghubungi balik. Terlalu acuh kamu sama keluarga.." Omel bu Ineke dengan nada keras.
"Yasudah ma aku minta maaf. Mama ada apa..? Aku lagi di jalan ni, lagi nyetir.. Nanti aku hubungi lagi ya ma.. Assalamualikum.."
Aima memutus sambungan telepon dari sang ibu secara sepihak tanpa menunggu persetujuan sang ibu.
Hal itu tentu membuat bu Ineke semakin di penuhi amarah.
"Kenapa ma..?" Tanya pak Samsul yang baru saja keluar dari kamar mandi tengah mendapati sang istri yang sedang menggerutu.
"Aima pah.. Belum juga mama ngomong soal suaminya yang sedang koma, anak itu malah matiin telepon mama seenaknya.." Adu bu Ineke.
"Yasudah mama kirim pesan aja. Nanti juga dia baca. Suruh dia balik secaptnya.." Perintah pak Samsul yang di setujui oleh sang istri detik itu juga.
.
.
.
**BERSAMBUNG..
......HAI TEMAN TEMAN, TERIMA KASIH SUDAH MENUNGGU LANJUTAN EPISODENYA.......
__ADS_1
...MAAF AGAK SEDIKIT LAMA DI KARENAKAN SAYA ADA URUSAN YANG SEGERA DI URUS DULU KEMARIN....
...MOHON DUKUNGANNYA TERUS TEMAN TEMAN. SEMOGA TETAP SEMANGAT MELANJUTKAN KISAH DI EPISODE BERIKUTNYA.. 😇😇🙏🙏**...