
"Sudahlah kak. Aku mohon pergilah dari sini." Frustasi Aima.
"Iya tapi kenapa Aima? " Tanya Fatur mendesak membuat Aima emosi
"Kamu tau, gara gara kamu yang ngilang gak jelas, datang dan pergi sesuka hatimu, ini semua gara gara salah kamu aku jadi men.." Ucap Aima menggantung kalimat terakhirnya
Aima hampir saja mengungkapkan identitasnya depan Fatur yang sudah menikah karena luapan emosi yang berlebih.
Aima mengusap air matanya dengan kasar.
Jika boleh jujur, Aima kecewa padaFatur yang hilang tanpa kabar begitu saja disaat dia butuh.
"Aku minta sekali lagi pada kak Fatur, tolong pergi dari sini.." Ucap Aima pelan dengan sorot mata tajam.
"Gak sayang.. Aku.." Belum selesai ucapan Fatur, Aima menarik tangan Fatur keluar rumah hingga ke pos depan rumahnya.
"Sekarang silakan kak Fatur keluar dari sini.. Aku gak mau papa sama mama melihat kak Fatur di rumah ini.." Ucap Aima dengan nada tinggi meluapkan emosinya.
Fatur yang memang tidak suka menyimpan masalah berlarut larut, memilih duduk di teras pos satpan rumah Aima.
Dia bahkan nekat menunggu pak Samsul dan bu Ineke pulang. Aima yang kehabisan kesabaran meneriaki Fatur dengan kata benci.
"Aima.. Jaga sikapmu sayang.. Aku kesini dengan niat baik sama kamu.. Kamu masuklah ke dalam." Ucap Fatur santai
"Aku mau nunggu papa sama mama kamu, aku mau hubungan kita jelas biar kamu percaya bahwa aku serius dalam hubungan kita.." Ucap Fatur dengan entengnya.
Aima menangis tersedu sedu dan berlari masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Dia menumpahkan semua kekesalannya disana.
"Kenapa kamu datang disaat aku sudah di miliki orang lain kak.. Kenapa disaat aku mau melupakanmu, kamu muncul di hadapanku.. Kenapa kak, kenapa..? " Batin Aima menjerit
Di kampus, Arif yang sedang berada di perpustakan, sedang fokus mengerjakan tugasnya disana.
Sesekali dia melirik arloji yang berada di tangannya.
📱
" Assalamualaikum.. Aku hari ini pulang ke rumah orang tuaku.. Kalau papa sama nanya, tolong ingatkan mereka soal bahasan kita pagi tadi di meja makan.." Arif mengirimi Aima pesan untuk sekedar mengingatkan kembali bahasan mereka sebelumnya.
Aima sengaja menyetel ponselnya dalam mode pesawat saat dia memutuskan untuk tidak berangkat ke kantornya.
Sehingga pesan singkat yang Arif kirim hanya centang satu.
__ADS_1
"Broo mampir sebentar yuk ke rumahku.. Sekalian mau aku ketemuin sama bokap. Kan katanya kamu butuh kerja setelah lulus nanti.." Tutur Andra setelah mereka berada di parkiran kampus.
"Lain kali aja ya..? Aku ada urusan soalnya, lagi buru buru juga.." Tolak Arif sembari memakai helm.
"Okelah bro.. Kabari aja kapan bisa.." Ucap Andra yang sudah siap melucur dengan motor sportnya.
"Gampang." Jawab Arif
Berbeda dengan Arif yang hanya menggunakan motor matic hasil dari dagang bakso kaki lima milik Ayahnya, sahabatnya Andra justru memiliki motor yang bernilai fantastis.
Arif tidak pernah sekalipun malu. Baginya terpenting adalah perut terisi dan hutang tidak mengejar alias setoran sudah lebih dari segalanya.
***
Malam pun tiba, dimana Aima sedang terbangun dari tidurnya. Sore tadi Aima ketiduran karena terlalu lama menangis.
Sampai sampai dia belum sadar bahwa suaminya tidak pulang kerumahnya hari ini.
Setelah mandi, dia menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim terlebih dahulu kemudian turun dari kamarnya menuju dapur.
Aima yang melihat kedua orang tuanya berada di ruang tv, memilih menghampiri.
"Ma, pa.. " Sapa Aima.
"Loh Aima..? Mama pikir kamu gak di rumah.. Mama panggil pangil di kamar gak ada jawaban.." Ucap bu Ineke menatap Aima.
"Arif mana..? " Tanya pak Samsul.
"Lohh aku malah mau nanya mama sama papa dia kemana..? Apa dia di pos satpam apa ya..?" Ucap Aima heran sama seperti papanya.
Aima lantas langsung keluar mencari suaminya di depan rumahnya lebih tepatnya di pos satpam rumahnya.
"Pak Randu, liat mas Arif gak..?" Tanya Aima pada satpam rumahnya.
"Gak non.. Saya gak liat den Arif seharian ini.." Jawab pak satpam jujur.
"Kemana dia.. Kenapa gak bilang kalau mau keluar.." Gumam Aima dengan kesal.
Aima baru ingat pagi tadi Arif pamit pada orang tuanya untuk pulang ke rumah mertuanya.
Aima duduk di bangku taman rumahnya dengan lesuh. Hari ini hatinya cukup terkuras.
"Mas Arif beneran pulang ternyata." Gumamnya
Sementara di rumah Arif, Arif yang baru pulang dari menemani Ayahnya berdagang bakso di samping taman kota seperti biasa, menatap sendu layar ponselnya yang tidak ada panggilan telephone dari istrinya itu.
__ADS_1
Bahkan pesan yang di kirimnya siang tadi masih bercentang satu.
Arif menyeret langkah kakinya menuju jendela kamar dan membuka lebar pintu jendela tanpa penerangan dalam kamar.
Gemerlap bintang bintang yang bertaburan di langit malam, mampu mengalihkan perhatiannya sejenak.
Arif ingat Aini sangat menyukai langit malam. Dimana disana dia selalu merasa punya kawan seperti dalam dongeng.
Aneh memang menurut Arif, tapi itulah Aini yang senang berimajinasi ke dalam dunia dongeng.
"Sayang, sedang apa kamu disana..?
Apakah kamu bisa merasakan rinduku..?
Apakah kamu disana bahagia..?
*Kamu tahu sayang..? Seandai hidup ini seperti cerita dalam dongeng, Ingin rasanya aku masuk kesana menemuimu..
Aku ingin melihat wajahmu, senyummu, yang selalu ku rindu*..
Seandainya disana kamu sedang berkawan dengan para malaikat malaikat syurga, aku ingin memilihkan salah satu yang terbaik untuk didaulat menjadi pendampingmu di syurga..
*Seperti halnya aku yang telah kau beri pendamping pilihanmu. Seorang kakak yang awalnya sangat dingin, namun ternyata cukup perhatian.
Terima kasih sayang, aku akan menjaga amanahmu dengan sebaik mungkin disini*..
Namun maaf, kali ini aku sengaja memberinya waktu untuk hubungan kami.. Semoga dengan ini, dia bisa menentukan sikapnya agar hubungan kami bisa terarah lagi seperti inginmu..
Aku merindukanmu.. Bahagialah disana.. Tersenyumlah sayang, amanahmu akan ku genggam dengan baik disini..
Batin Arif. Pandangannya masih terus setia menatap langit malam yang cerah itu.
Sementara di rumah mertuanya, Aima yang baru sadar sang suami tidak berada di rumah, mulai merasa kesepian dan resah.
Keresahannya bertambah ketika mengingat kejadian tadi siang dimana dirinya bertemu dengan Fatur.
Untuk Fatur, hati Aima merasakan antara cinta dan benci. Sedangkan untuk Arif, dia merasakan kesepian karena mulai terbiasa dengan perlakuan hangat darinya serta kejahilannya.
Dan soal cinta, Aima belum tahu seperti apa sebetulnya perasaannya pada suami sirinya itu. Yang dia tahu, dia mulai nyaman dengan kehadirannya.
**BERSAMBUNG..
HAII TEMAN TEMAN, TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR KESINI.. 🙏🙏💞💞
MOHON DUKUNGANNYA YA, BIAR LEBIH SEMANGAT LAGI BUAT UP EPISODE BDRIKUTNYA.. 🙏🙏💞💞💞**
__ADS_1