
"Kamu tau kenapa aku menerima pernikahan yang di siapkan oleh kedua orang tuaku..? Hahh kamu tau gak..?" Bentak Aima yang tidak dapat lagi mengontrol emosinya.
Fatur diam tak bergeming. Tatapannya tak kalah tajam dengan tatapan Aima kepadanya.
"Kamu gak tau kan..? Makanya jangan ngilang. Jangan sok tau juga apa yang aku rasa.." Cebik Aima
Fatur kemudian mencengkram erat lengan Aima dan menariknya agar lebih dekat dengannya.
"Apa.. Apa yang membuatmu meninggalkanku dan menikah dengan laki laki itu..? Hahh..?" Keras Fatur tak kalah emosi
" Boca dengan status mahasiswa, itu yang kamu mau di banding aku..?" Fatur meluapkan amarahnya di depan wajah Aima.
Aima yang merasakan lengannya yang cukup sakit karena cengkraman Fatur yang kian keras seiring meningkatnya emosinya, mencoba tidak terlihat takut di hadapan mantan kekasihnya itu.
"Tuh kan ngaco..? Sok tau segalanya. " Elak Aima.
"Aku menikah pada saat kamu tidak ada kabar.. Disaat aku menghubungimu, disaat pesanku di abaikanmu.."
"Jauh sebelum itu aku memang sudah di jodohkan, tapi aku memilih menghindar hingga ke malaysia.."
"Tapi kamu tetap gak ada kejelasan.. Kamu tau, aku terpaksa menerima pernikahan ini karena tidak ada pilihan lain.."
"Andai kamu ada pada waktu itu, aku akan punya alasan untuk menolak pernikahan yang sudah berbulan bulan di siapkan keluarga untukku.."
"Kamu kemana selama itu..? Pergi kan kamu dari hidup aku..? Trus aku bisa apa..?" Jelas Aima panjang lebar.
Fatur menghempaskan lengan Aima dengan kasar. Fatur tersenyum miring kemudian menatap Aima dengan sinis.
"Dengar Aima, itu bukan pilihan.. Itu hanya sebuah alasan untuk kamu meninggalkan aku dengan caramu yang picik itu.."
" Kamu pikir aku akan tinggal diam kamu sudah mengkhianati aku seperti ini..? Jangan mimpi Aima.." Ucapan Fatur terdengar sebagai ancaman, membuat Aima menatap wajah Fatur tidak percaya.
"Terus aku akan diam aja juga kalau kak Fatur ngancam aku..? Giliran aku yang memilih pergi, kak Fatur marah.. Terus apa kabar aku yang kakak tinggalkan tanpa kabar berbulan bulan..?" Sinis Aima.
Fatur yang selama ini tidak pernah terlihat arogan, kini bagai orang lain yang menjelma sebagai Fatur yang pernah ada di hidup Aima.
Sesaat ketika hening, Aima mencoba mengajak mantan kekasihnya itu berdamai.
"Kak.. Kamu kenapa sih bisa menakutkan seperti ini..? Mana Fatur yang aku kenal..? Istighfar kak istighfar.." Aima mengelus lengan Fatur agar bisa lebih tenang.
Fatur membuka kancing kemejanya karena merasa sesak dengan emosinya.
"Kamu nanya Aima kenapa aku bisa seperti ini..? Hah..? kamu masih bisa nanya..?" Fatur mengacak rambutnya kebelakang menahan emosinya.
__ADS_1
Bahkan air matanya pun jatuh karena luapan emosinya.
Pengkhiatan orang terkasih, kekecewaan akan orang terkasih, membuat Fatur merasa harga dirinya telah tergdaikan.
"Aku seperti ini karena kamu Aima.. Karena perasan aku telah kamu kecewakan.. Cinta aku telah kamu khianati.."
"Aku tidak akan tinggal diam Aima.. Tega kamu.." Fatur berucap pelan seakan tenaganya telah habis terkuras.
"Kakak kenapa gak ngerti ngerti sih..? Udah ahk capek aku.. " Pasrah Aima masa bodoh
Sementara itu, di tempat tinggal kakeknya Arif, bu Nana yang mengahmpiri kamar sang anak dan menantunya, niat mengajak mereka untuk sarapan pagi bersama sebelum ke ladang, terkejut mendapati Aima tidak berada disana.
Buru buru bu Nana keluar mencari keberadaan Aima di sekitar tempat mereka tinggal.
Dari jauh, bu Nana melihat sang suami berjalan sambil menuntun sepeda memasuki perkarangan tempat tinggal mereka dengan raut wajah lesu.
"Pah, dari mana pagi pagi..? aku pikir papa tadi di belakang.." Bu Nana mengekori pak Malik yang kini masuk ke dalam rumah dan menghempaskan tubuhnya di kursi panjang yang berada di ruangan tengah.
"Arif mana..? " Belum juga menjawab pertanyaan istrinya, pak Malik malah memberikan istrinya pertanyaan.
"Arif di kamar, masih tidur.." Jawab bu Nana menatap bingung wajah pak Malik.
Bu Nana hanya mengekor dengan bingung.
"Assalamualaikum.. " Pak Malik dan bu Nana menoleh bersamaan ke arah pintu masuk dan menjawab salam secara serentak pula.
"Dari mana nak..?" Tanya bu Nana saat Aima masuk dan ikut bergabung dengan kedua mertuanya itu.
"Tadi lagi keluar ma, ngirup udara pagi biar sehat.." Jawab Aima sekenaknya aja.
"Iya udah ayo sarapan dulu.." Ajak pak Malik pada istri dan menantunya itu.
Seusai sarapan, Aima kembali ke kamarnya dan Arif. Aima heran kenapa Arif belum bangun juga sejak tadi. Selama ini Arif tidak pernah bangun siang.
Namun kemudian Aima tidak peduli, dia hanya menyimpn kameranya dan keluar lagi menuju saung samping kolam ikan yang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat mereka tinggal.
Ternyata disana, pak Malik juga sedang memberi pakan pada ikan nila di kolam peninggalan Ayahnya pak Malik.
"Tamunya sudah pulang nak..? Kenapa gak di ajak ke rumah..?" Pertanyaan pak Malik yang sedang serius memberi pakan pada ikan tanpa menoleh ke arahnya membuat Aima terkejut.
"Apa papa tadi melihat aku dan Fatur..? Apa papa juga mendengar semuanya..? Astagaa gimana ini..?" Batin Aima bermonolog.
__ADS_1
Pak Malik menghentikan pekerjaannya dan menaru sisa pakan di sampingnya berdiri kemudian menghadap ke arah menantunya itu.
"Nak Aima.. Besok pulanglah dan selesaikan masalah kalian dengan baik baik.. Agar tidak ada lagi yang menyimpan dendam di antara kalian.."
"Tapi papa minta maaf, papa hanya mengijinkan Arif untuk mengantarmu dengan selamat hingga di rumah.. Dia harus kembali lagi kesini setelah mengantarmu.."
" Papa tidak ingin cita citanya Arif hancur hanya karena dendam dosennya itu.. Arif kuliah di kampus impian semua anak muda itu dengan bermodalkan kepintaran yang dia miliki.."
"Jangan sampai apa yang sudah dia perjuangkan hancur begitu saja hanya karena dendam dosennya yang sama sekali dia gak tau menau masalah kalian.."
"Selesaikan dulu masa lalunya nak Aima, barulah minta Arif jemput kembali di sisinya." Ucap pak Malik dengan tenang agar sang menantu mendengarkan tanpa merasa tertekan.
Aima tidak menyangka, pak Malik begitu melindungi anaknya dengan sangat hati hati.
Aima terkejut mendapati sikap Ayah mertuanya itu yang kini terlihat seperti tidak menyukainya seperti sebelum sebelumnya.
"Pah.. Apa sekarang papa membenciku..?" Pertanyaan Aima membuat pak Malik tersenyum.
" Papa gak marah, hanya memberi saran dan mengingatkan agar kedepannya gak ada masalah seperti itu lagi.." Ucap pak Malik yang kembali memberi pakan ikan.
" Papa hanya ingin kamu selesaikan urusanmu dengan pemuda itu saja tanpa niat memisahkan kamu dan Arif.." Lanjutnya lagi menatap teduh wajah sang menantu.
"Terlepas dari adanya cinta atau tidak di antara kalian, papa justru ingin kalian bersama terus. Maaf jika kesannya papa mengusirmu.. Papa harap kamu bisa mengerti akan maksud papa.." Jelas pak Malik lagi.
"Papa ke ladang dulu ya nak.." Pamit pak Malik tersenyum.
Aima diam menatap Ayah mertuanya yang sudah berlalu dari hadapannya. Aima merasa bersalah pada Ayah mertuanya.
Rasa khawatir pak Malik akan masa depan anaknya, wajar menurut pandangan Aima.
Karena bagaimanapun, Arif adalah anak satu satunya, tumpuan harapan pak Malik dan bu Nana.
Aima bimbang. Secara tidak sengaja, Ayah mertuanya mengusirnya pulang ke kediaman kedua orang tuanya. Itu yang dia rasakan saat ini.
Sementara dirinya, sudah mulai merasa betah berada di puncak bersama sang suami dan mertuanya.
"Aima..? " Sapa Arif dari belakang, membuat Aima terlonjak kaget dan hilang keseimbangan hingga tersungkur jatuh ke dalam kolam ikan.
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH ATAS BENTUK DUKUNGAN DARI TEMAN TEMAN SEKALIAN..
INI SUDAH SANGAT MEMBANTU UNTUK LEBIH SEMANGAT LAGI DALAM BERKARYA..🙏🙏💞💞**
__ADS_1