
Ke esok harinya, Aima kembali lagi ke rumah sakit dengan harapan hari ini sang suami akan jauh lebih baik dari hari kemarin.
Dengan langkah kaki pasti, Aima menuju ruang ICU dimana sang suami berada.
Dan tepat di waktu tibanya di sana, sang dokter pun keluar dari ruangan tersebut lengkap dengan stetoskop di tangannya.
" Selamat pagi dok. Kebetulan sekali dok, saya mau nanya kondisi suami saya.." Ujar Aima santun.
" Iya bu, pagi. Kondisi pasien sudah mulai stabil, jadi hari ini sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan.." Jawab sang dokter tak kalah ramah.
" Alhamdulillah.. Terima kasih banyak dok.." Ucap Aima tersenyum.
" Sama sama bu. Mari bu, saya permisi.." Pamit dokter tersenyum yang di angguki oleh Aima.
Selepas kepergian sang dokter, pintu ruang ICU pun di buka dari dalam. Menampakan sang suami yang terbaring di brankar di dorong oleh 2 petugas medis.
Tak lupa di belakangnya sudah ada kedua mertuanya di sana mengikuti langkah ketiga perawat tersebut.
Pandangan Aima sejenak bertemu dengan pandangan mata sang suami. Arif yang baru kali ini melihat sang istri disana, sekejap matanya berkaca kaca.
Entah apa yang ada di benak dan perasaannya. Yang jelas Arif hanya terus memandangi sang istri tanpa berucap apapun.
Melihat tatapan dan diam sang suami, Aima hanya bisa tersenyum. Aima berniat akan menunggu moment yang tepat untuk mengajak sang suami bercengkrama.
" Nak, ayo.." Ajak sang ibu mertua ketika mereka sudah mulai menuju kamar perawatan Arif.
" Iya ma.." Ucap Aima mengiyakan
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya sampai di kamar perawatan. Dimana setelah pintu terbuka, suasana kamar serasa bukan seperti kamar perawatan untuk pasien. Melainkan seperti kamar apartemen mewah.
Aima sengaja memilih kamar VVIP untuk sang suami agar nyaman selama menjalani perawatan.
Arif masih belum membuka bibirnya untuk sekedar mengucapkan satu katapun. Dia seolah membisuhkan mulutnya meski banyak yang ingin dia ungkapkan.
Termasuk mengenai kamar rawat yang mewah yang kini dia tempati saat ini.
" Baik bu, kami permisi dulu.." Ucap salah satu perawat ketika semua tugas mereka sudah selesai.
" Iya sus, terima kasih.." Jawab Aima sopan.
" Nak, mama sama papa keluar sebentar ya..?" Ujar bu Nana sembari memberi kode pada sang suami.
Aima yang mengerti bahwa ibu mertuanya sengaja memberikan waktu untuknya dan Arif mengobrol, hanya bisa tersenyum kecil sembari mengangguk.
" Kalau ada apa apa, kami ada di kantin rumah sakit.." Ucap pak Malik kemudian.
" Iya pa.." Jawab Aima singkat.
Setelah kepergian mertuanya, Aima menaruh tasnya di atas meja sofa yang berada di ruangan tersebut.
Di liriknya sang suami yang sejak tadi hanya diam saja, sembari menarik nafas pelan sebelum menghampiri.
Aima sengaja duduk di bibir ranjang samping Arif. Aima tahu Arif tidak tidur meski matanya tertutup rapat.
Di raihnya tangan sang suami yang tidak terhubung selang infus ke dalam genggamannya.
" Mas. Aku tau mas belum tidur.." Tutur Aima pelan.
__ADS_1
" Aku minta maaf baru datang di saat kamu sudah beberapa hari di rawat. Aku beneran baru tau kemarin. Makanya aku langsung kesini setelah tau.." Imbuhnya lagi.
Melihat Arif tak bergeming. Aima jadi gemas sendiri. Sengaja Aima mencubit lengan Arif sedikit lebih sakit agar sang suami mau membuka matanya atau sekedar menanggapinya.
Dan benar saja. Tindakan Aima tersebut berhasil. Terlihat dari kerutan wajahnya yang seperti sedang berusaha menahan sakit.
Aima tersenyum. Dia memang sengaja tidak ingi menyelesaikan masalah diam diaman antara dirinya dan sang suami dengan segala drama dan kalimat penegas.
Dia lebih suka menyelesaikan dengan caranya sendiri. Seperti yang saat ini yang sedang dia lakukan.
"Masih sakit gak mas kepalanya..?" Tanya Aima sembari tangannya mengelus kepala sang suami yang masih terbungkus perban.
"Cepat sembuh ya mas..? Kalau mas sudah sembuh nanti, mas gak usah kerja sama papa. Mas ikut aku aja, biar kita bareng terus.." Ujar Aima memancing atensi sang suami.
Aima tersenyum lembut tatkala sang suami membuka mata menatapnya.
" Cubitan aku sakit gak mas..?" Tanya Aima mengalihkan pandangannya pada lengan Arif yang di cubitnya tadi.
" Kamu baru datang disaat aku seperti ini dan seolah lupa apa apa. Kamu sengaja mengalihkan semuanya tanpa mau tau gimana aku dan perasaanku..?" Ujar Arif dingin
Bukannya terpancing amarah, Aima justru tersenyum lembut.
" Maaf mas. Tadi aku sudah jelaskan kalau aku gak tau. Aku baru tau tiga hari yang lalu. Makanya aku sekarang ada disini.." Jelas Aima lagi.
Arif diam tanpa kata lagi. Tidak ingin berdebat disaat lagi sakit, diapun memilih memejamkan matanya kembali.
Aima tahu Arif kecewa. Dan memilih menghindari perdebatan. Aima cukup peka akan hal itu.
Tidak kehabisan akal, Aima merebahkan kepalanya di lengan Arif. Arif sedikit meringis merasakan sakit di bagian dadanya yang memar.
" Yang mana mas..?" Tanya Aima pura pura
Arif memicingkan matanya ke arah Aima karena kesal. Dengan lembut Aima mengecup dada Arif yang sakit kemudian tersenyum menatap sang suami.
" Aku bukan ngerayu loh mas.." Ujar Aima tersenyum geli melihat reaksi Arif yang salting.
" Kamu benar benar ya Aima?" Ucap Arif yang bingung mengambil tindakan.
" Mas cepat sembuh. Biar kita bisa cepat punya anak." Ucap Aima spontan sembari beranjak dari duduknya.
Arif tak begitu menanggapi. Sebab dia tahu Aima pasti hanya sedang mencandainya. Arif tahu karakter sang istri seperti apa.
Yang ketika becanda, hal apa saja akan terlontar dari mulutnya tanpa di pikir efeknya.
Melihat reaksi Arif yang santai, Aima menoleh ke arah Arif dengan tatapan menelisik.
" Mas gak dengar apa yang barusan aku bilang tadi?" Tanya Aima menelisik wajah sang suami.
Arif mendesah. Tidak ingin menanggapi kekonyolan sang istri, Arif menulikan telinganya kembali.
" Okey. Awas saja kalau sudah sembuh dan mas minta hak mas." Ucap Aima kembali memancing.
" Aima. Kepalaku sakit. Jangan menambah rasa sakitnya lagi. Aku baru saja selesai operasi dan kamu.. Ahk sudahlah, aku mau istirahat.." Ucap Arif menahan amarahnya.
Aima akhirnya menghampiri sang suami karena tidak tega.
" Iya mas istirahatlah. Maaf sudah bikin kesal." Ucap Aima lembut mengecup pipi Arif dan merapihkan selimutnya.
__ADS_1
Karena benar benar sakit, Arif Pun memilih tidur dan mengabaikan Aima yang berada di sampingnya.
" Maafkan aku mas. Mungkin aku memang sangat keterlaluan. Aku akan menjadi istri yang baik setelah ini." Batin Aima.
Aima sendiri tidak mengerti perasaan apa yang kini dia rasakan untuk Arif sang suami.
Disaat dia jauh, perasaannya terbilang biasa saja. Namun ketika berdekatan dengan Arif, dirinya seolah tidak ingin melihat sang suami kecewa apalagi mendiaminya.
***
Tanpa terasa hari sudah mulai menjelang magrib. Aima yang tadinya pulang ke rumahnya untuk mandi dan mengganti pakaian ketika mertuanya sudah kembali dari kantin, kini sudah berada di area parkiran rumah sakit dengan membawa makanan untuk mertua dan sang suami.
"Loh ma..? Mama mau kemana..?" Tanya Aima ketika tanpa sengaja bertemu dengan bu Nana di lobi rumah sakit.
"Nak..? Ini mama mau pulang sebentar mau ambil baju ganti mama sama papa.." Jawab bu Nana yang sempat terkejut dengan sapaan sang menantu.
" Yasudah ayo ma biar aku antar aja.." Tawar Aima tulus.
" Ehk gak usah nak. Mending kamu ke kamar Arif sekarang. Minta papa aja yang antar mama. Kan udah kamu yang menemani Arif sekarang.." Tawar bu Nana kemudian.
" Oh yasudah ma kalau begitu. Aku ke kamar mas Arif dulu ya.." Ucap Aima bergegas menuju kamar inap Arif.
Sesaat kemudian, Aima pun sampai di kamar inap Arif dan langsung menyampaikan pesan bu Nana pada Ayah mertuanya. Dan akhirnya di ruangan inap Arif pun kembali hanya ada dirinya dan Arif.
Berniat ingin menghampiri Arif di ranjangnya, ponselnya tiba tiba saja berdering. Dengan nada pelan Aima menyapa pemanggil dari seberang telepon hingga terlibat obrolan yang cukup serius.
Arif yang saat itu yang terbangun saat mendengar dering ponsel Aima, tentu saja telinganya mendengar dengan jelas apa yang Aima bahas bersama dengan seseorang di seberang sana.
" Pergilah. Jangan menjadikan sakit ku sebagai penghalang kerjaan mu.." Ucap Arif tiba tiba saat Aima mengakhiri panggilan ponselnya.
Aima tersentak mendengar ucapan Arif yang tadinya di pikir Arif sedang dalam keadaan tidur.
Aima menghampiri sang suami.
" Ngomong apa sih mas..? Gimana keadaan mas sekarang..? Mana yang sakit mas..?" Ujar Aima cukup perhatian.
Arif hanya menatap diam sang istri.
" Kamu mau aku beneran pergi? Memangnya kamu tau tadi yang nelpon siapa dan dia bahas apa? " Tanya Aima dengan serius.
Melihat ekspresi Aima yang serius, Arif mendadak gelisah.
" Kalau aku bilang yang nelpon tadi ngajak aku kencan, kamu tetap menyuruh aku pergi?" Lanjutnya lagi.
Arif sontak membuang muka ke arah samping. Mendadak hatinya di liputi rasa cemburu.
Arif tahu seperti apa Aima dan hubungan mereka. Arif takut Aima benar benar melakukan hal itu, terlebih dirinya yang memberinya akses.
.
.
...BERSAMBUNG...
...Terima kasih atas segalah dukungan dari teman teman semua.. Terima kasih juga karena sudah mampir disini sampai pada episode kali ini.. 🙏🙏💖...
...Mohon dukungannya terus biar lebih semangat lagi UP episode selanjutnya dengan bantu vote, like ya.. 🙏💖💖...
__ADS_1