DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
NASEHAT BU NANA


__ADS_3

" Maaf.." Ucap Arif merasa bersalah


Aima membuang muka dan menepis tangan Arif yang berada di kedua lengannya.


Arif sungguh merasa bersalah karena tanpa sadar, dia sudah membuat istrinya merasa terabaikan.


"Sarapan dulu ya..? Setelah sarapan, kita ke ladang sama mama juga.." Arif mengusap lembut lengan Aima, berharap istrinya itu bisa luluh dan memaafkannya.


Aima tidak menjawab. Dia justru berbalik dan pergi meninggalkan Arif di tempat itu.


Arif menghembuskan nafasnya dan menunduk menatap tanah yang penuh dengan rerumputan.


Dia mengumpati dirinya yang tidak sadar telah membuat istrinya seperti itu. Arif pikir selama ini Aima biasa saja setiap dia tinggalkan, ternyata salah.


Saat sarapan, Aima yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, tidak berniat ikut bergabung dengan mertuanya juga Arif sumainya yang kini sudah menunggunya di meja makan.


Aima memilih ke saung samping kolam ikan dengan kantong kresek yang berisi berbagai macam cemilan yang dia bawah dari rumah.


"Arif, kenapa Aima diam saja sejak sepulang tadi..? Kamu apakan dia..?" Bu Nana menatap tajam ke arah Arif.


"Aku gak apa apain dia.. Kami cuma sedang ada masalah kecil aja ma.. " Jawab Arif jujur, namun dia tidak berani menatap wajah sang Ibu.


"Arif.. Kamu itu laki laki, seorang suami, ya kamu harus banyak ngalah sama istri kamu.. Masa istri yang ngalah sama suami..?" Kesal bu Nana pada sang anak.


"Kalau papa kamu dan mertua kamu tahu, mereka akan kecewa sama kamu.." Bu Nana terlihat begitu emosional menghadapi anak sulungnya itu.


Memang di usia Arif masih sangat butuh arahan dalam membina rumah tangga. Tapi yang bu Nana lihat hari ini, sangat membuat emosionalnya meledak.

__ADS_1


"Cepat sana temui istrimu.. Jangan biarkan air mata jatuh di mata istrimu karena sikapmu.. Malaikat akan melaknatmu.." Ucap bu Nana meminta.


"Bukankah kamu juga tau, bahwa jika suami membuat istrinya menangis, maka neraka tidak akan diharamkan lagi kepada suami tersebut..?" Bu Nana memang kecewa pada sikap Arif, di luar dari apa yang bu Nana ketahui.


"Iya ma.." Ucap Arif pelan


"Istri kamu itu baik Arif. Dia masih memikirkan bagaimana dirimu. Karna kalau tidak, dia pasti sudah memilih pulang sendiri berhubung dia bawa kendaraannya sendiri disini."


Arif menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal akibat ibunya yang masih manjang bahasannya.


"Iyasudah ma. Aku temui Aima dulu sebentar." Ucap Arif memilih menghindar dari amukan emosi sang Ibu.


Bu Nana hanya ingin rumah tangga anaknya harmonis, dan Arif sebagai seorang suami, harus lebih paham lagi atas hak hak istrinya.


Terlepas daripada itu, bu Nana berharap anak satu satunya itu bisa menjadi kebanggaan keluarga, menjadi solehnya dia dan sang suami serta bisa membimbing istrinya dengan baik.


Udara yang begitu dingin dengan terpaan semilir angin, membuat suasana malam di puncak semakin nyaman bagi Aima.


Suara gemercik air yang jatuh ke dalam kolam ikan, suara jangkrik yang saling sahut sahutan, menambah syahdunya suasana.


Arif yang sedang mencari keberadan Aima, menangkap bayangan sesorang yang sedang berada di tepian kolam ikan yang sepi.


Penerangan yang kurang membuat Arif mendekat dengan langkah kaki penuh hati hati untuk memastikan.


"Aima..? Astagaa kenapa disini..? Disini dingin sayang..? Nanti kamu sakit.." Arif tidak sadar menyematkan kata sayang di karenakan terlalu greget dengan istrinya itu.


Ada saja kelakuan Aima yang membuatnya mengelus dada.

__ADS_1


Aima yang terkejut, mendongak menatap wajah Arif. Aima masih sempat mendengar dengan jelas kata sayang yang terlontar untuknya.


"Ayo bangun.. Kita masuk ke dalam ya.. Nnati kamu masuk angin sayang.." Ucap Arif mengulurkan tangannya.


Aima menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar sembari bangkit dari duduknya tanpa menyambut uluran tangan sang suami.


Aima bukannya masuk ke dalam rumah, tapi justru duduk dengan santainya di kursi kayu yang berada tidak jauh dari kolam tersebut.


Arif terpaksa mengalah dan ikut duduk menghadap Aima.



"Ada apa..? Aku bukan peramal loh yang bisa menebak isi hati istriku.. Aku hanya manusia biasa sayang.." Ucap Arif selembut mungkin.


Arif tidak sedang berusaha jaim seperti biasanya. Dia akan tampil apa adanya seperti apa yang dia rasakan.


Tidak peduli lagi apa respon yang dia dapat dari istrinya itu.


Sedangkan Aima yang mendengar ucapan lembut Arif, serta kata sayang yang di ucapkan Arif, membuat matanya berkaca kaca.


Aima menoleh menatap wajah Arif. Aima sadar, Arif sudah cukup sabar menghadapi segalah sikap kerasnya.


Sementara dia, hanya mementingkan perasaannya sendiri yang ambekan sejak dulu.


Hanya karena perihal dirinya merasa di abaikan dengan tidak di ajak setiap suaminya keluar, dirinya sampai harus ngambek begitu lama.


**BERSAMBUNG..

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG DI NOVEL SAYA INI.. 😇🙏🙏💞💞**


__ADS_2