DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
RENCANA FATUR


__ADS_3

"Mas ihk.. Kebiasaan deh.." Ambek Aima mendorong tubuh sang suami menjauh


"Halal kok, bukan dosa.." Ucap Arif santai kembali menempelkan bibirnya.


Aima diam mematung dalam posisi serba salah. Jika dia bergerak, akan ada yang terusik.


Jika dia diam, suaminya tidak akan menarik kecuapan bibirnya dan akan terus menciumnya.


Sementara Arif sendiri, dalam keraguannya, pelan dan lembut menggerakan kecupannya pada bibir indah sang istri saat melihat sang istri yang hanya diam saja.


Arif menghentikan kegiatannya saat Aima memalingkan mukanya. Arif menarik nafas untuk menetralkan gejolak yang timbul dalam dirinya akibat ulahnya sendiri.


Sementara Aima sendiri bingung harus bagaimana. Dirinya memang sudah menjadi hak penuh Arif, sang suami.


Namun di sisi lain, hatinya belum siap jika Arif menyentuhnya meski hanya sekedar ciuman.


Otaknya akan selalu berusaha mencari ide untuk menolak dengan halus tanpa membuat sang suami tersinggung.


"Mas.. Mas lagi sakitkan..? tidurlah, mas harus banyak istrahat biar cepat sembuh.." Arif tersenyum mendengar ucapan dari Aima.


Arif tahu, Aima bukan bermaksud memberinya perhatian. Akan tetapi ingin menghindarinya agar tidak bertindak semakin jauh.


"Kenapa..? Meski aku kurang fit, tapi aku masih kuat.." Arif bermaksud ingin menggoda sang istri yang selalu menghindar setiap Arif mengecup bibirnya.


"Jangan aneh aneh mas.." Jawab Aima ketus tanpa menoleh ke arah sang suami.


"Aneh aneh gimana..? Kamu istriku, aku suamimu, kita halal jika melakukan apapun.. Iyakan..?" Arif tersenyum di balik punggung Aima.


Arif yakin, istrinya itu pasti akan mengacukannya lagi seperti sebelum sebelumnya.


Tapi Arif akan terus menjahili istrinya itu sampai dia puas. Entah kenapa, Arif seperti menemukan kebiasaan baru saat ini.


Kebiasaan membuat istri manjanya itu kesal akan ulahnya, adalah hobbi barunya saat ini.


"Aima, apa kamu gak ingin kita menjadikan pernikahan kita seperti pernikahan orang orang di luar sana..?" Arif bergerak maju, sehingga tubuh keduanya semakin menempel dalam balik selimut.


Aima semakin was was mendapati pergerakan dari Arif. Aima masih belum siap menerima Arif sepenuhnya. Entah kenapa, hatinya masih ragu.


"Apa maksud kamu mas..?" Aima pura pura tidak mengerti dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Arif.


Arif semakin mengeratkan pelukannya karena merasa gemas akan sikap jaim sang istri.


"Sayang.. Aku ingin kita melanjutkan dan menjadikan rumah tangga kita ini rumah tangga yang semestinya.." Ucap Arif sedikit berbisik.


"Iya nanti bikin rumah yang banyak tangganya.." Aima menanggapi dengan candaan.


"Ihk kamu.. Serius sayang.." Gemas Arif

__ADS_1


"Aku ingin menjadi suami seutuhnya untukmu.. Aku gak ingin main main lagi Aima, aku ingin pernikahan ini adalah pernikan yang pertama dan terakhir untukku.." Jelas Arif


Aima memilih tak peduli. Dia bahkan memilih melanjutkan tidurnya yang sempat terusik oleh sang suami.


Arif mencium lembut punggung Aima. Menyalurkan bentuk perasaan dan kesungguhan dari ucapannya pada istrinya itu.


Merasa terusik oleh ulahs ang suami, Aima menggerakan lengangnya bermaksud melepaskan diri dari ulah sang suaminya itu.


"Kenapa sayang..?" Tanya Arif menahan tawanya.


Aima membalikan tubuhnya hingga kini mereka menjadi saling hadap hadapan. Aima menatap kedua mata Arif, seperti sedang mencari sesuatu di dalamnya.


***


Sepulang dari pertemuannya dengan Aima, Fatur memilih pulang meninggalkan sukabumi dan menyusun rencana untuk Arif dan Aima.


Fatur kini merasa hancur. Sakit hati dan kekecewaan yang dia dapatkan karena di tinggalkan wanita yang dia cintai, membuatnya berubah menjadi emosional.


Dirinya seakan lupa akan keegoannya pada Aima.


Bukankah secinta cintanya seseorang pada pasangannya, namun jika hatinya di buat lelah akan kepastian yang tak kunjung dia dapatkan, maka cinta itu bisa membuatnya pergi juga.


Toh buat apa bertahan pada cinta yang melelahkan..? Sampai kapan pun tidak akan ada ujungnya.


Yang ada hati akan rusak seiring waktunya berjalan.


Karena yang namanya kepastian itu adalah rumahnya cinta. Cinta tanpa kepastian, maka ibarat rumah tanpa atap. Percuma berteduh



Fatur tersenyum miring setelah obrolannya dengan seseorang by phone selesai.


Fatur bergegas meraih jaket dan tas ranselnya kemudian keluar menuju mobilnya meninggalkan penginapan.


Fatur tahu, ini bukan dirinya. Tapi sakit hati dan cemburu membuatnya tetap melanjutkan rencananya itu.


***


"Apa mas mendengar obrolan antara aku dan papa di kolam ikan tadi..?" Pertanyaan Aima membuat Arif mengerutkan alisnya.


"Papa minta aku pulang.. Papa ingin kita pisah dulu, aku di rumah orang tuaku dan kamu di rumah orang tuamu.."


"Dan aku sudah terlanjur menerima keputusan papa.." Arif terkejut mendengar apa yang telah di ucapkan Aima.


"Mas.. Aku gak tau, apakah aku mulai suka sama kamu atau aku hanya menghargaimu saja sebagai suamiku.." Jlebb, kejujuran Aima membuat Arif bergeming.


"Pada saat papa kamu minta kita pisah, aku merasa sedih.. Tapi pada saat bersama kamu, berdekatan seperti ini, aku malah kesal sama kamu.." Lanjutnya lagi

__ADS_1


"Tunggu dulu Aima.. Aku belum bisa mengerti apa maksudnya. Apa yang membuat papa seperti itu..?" Ucapan Aima terpaksa di potong oleh Arif.


Perasaannya mulai tidak karuan lagi.


Aima menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Di tatapnya kembali wajah sang suami.


"Tadi pagi, aku ke tepi tebing yang berada di ujung jalan arah ke kebun sana loh.."


"Aku keluar cuma niat menghirup udara segar aja sih sebenarnya tanpa tujuan apapun.."


"Tapi gak sengaja, aku ketemu sama seseorang disana. Mungkin karena papa ngeliat itu kali makanya papa ngomong gitu sama aku.." Ucap Aima


"Gak mungkin hanya karena itu papa bisa meminta kamu tinggal terpisah sama aku, suami kamu.." Elak Arif.


"Tolong jujur, ada apa sebenarnya.." Arif yang memang tahu betul Ayahnya, tidak menelan mentah mentah ucapan Aima.


Aima yang tidak tahu harus bagaimana cara menjelaskannya agar suaminya tidak berpikiran negatif terhadapnya, memilih tidur membelangi suaminya.


Arif gemas bercampur kesal melihat Aima tidak mau menuntaskan bahasan mereka.


"Kak Aima.." Arif sengaja memancing emosi istrinya dengan panggilan yang tidak Aima sukai.


Dan benar saja, Aima sontak bangun dan bergegas turun dari ranjang bermaksud keluar dari kamar mereka.


Namun sebelum Aima berdiri, Arif menarik tangan Aima hingga Aima jatuh terlentang.


Dengan gerakan cepat Arif mengukung Aima, membuat Aima ketakutan.


Dengan sekuat tenaga, Aima mendorong tubuh Arif menggunakan kakinya hingga Arif terpental ke lantai.


Aima duduk dan mendumel sesuka hatinya. Arif yang juga kesal, mengambil air dalam gelas dan menyodorkannya ke Aima.


"Ni minum, biar syetan dalam hatimu hilang.." Arif memang kesal pada Aima, tapi tetap tidak tega melihat mata istrinya yang mulai berkaca kaca.


"Aima, tolonglah sikapnya di benerin lagi kalau sedang di ajak ngobrol sama suami.." Pinta Arif sedikit memelas.


"Hargai sedikit saja kalau suaminya ngomong atau bertanya sesuatu.. Jangan sebentar sebentar ngambek, cuek, sebodo aja.. "


"Terlepas dari apapun aku di mata kamu, aku tetaplah suami kamu yang sah secara agama.. " Kesal Arif.


Entah bisa masuk di dalam hati dan pikiran Aima atau tidak, Arif terus mencoba mengutarakan isi hatinya dengan nada pelan.



Tidak ada lagi cara buat menyadarkan istrinya itu menurut Arif. Mengalah sudah, menuruti inginnya sudah, keras sudah, lembut pun sering, tapi Aima tetap saja susah di tebak oleh Arif.


Membuatnya sungguh harus terus belajar lagi untuk lebih sabar.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH SEBELUMNYA BUAT TEMAN TEMAN YANG MASIH MENUNGGU KELANJUTAN CERITA DALAM NOVEL INI.. 🙏🙏💞💞


__ADS_2