DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
KEHADIRAN WANITA LAIN


__ADS_3

Dengan anggunya Fika ikut duduk di sofa tunggal yang berada di ruangan itu.


Berbeda dengan Aima, dirinya yang duduk di sofa panjang dengan cemilan di pangkuannya, dengan santainya tanpa peduli akan sang tamu yang sejak tadi terus mencuri pandang ke arahnya.


Aima sengaja tak peduli apa tujuan wanita manis itu menemui suaminya. Seolah tidak ada perasaan curiga atau pun cemburu yang tersirat di wajahnya.


Begitu pun dengan Fika. Entah apa tujuannya datang ke kediaman Aima. Hanya dirinya yang tahu.


Di ujung anak tangga, Arif melambatkan langkah kakinya ketika sorot matanya menangkap jelas sosok gadis yang sedang duduk tidak jauh dari sang istri.


Melihat tak ada obrolan antara Aima dan gadis di sampingnya, hati Arif mendadak cemas.


"Ngapain dia kesini..? Dari mana dia tau aku disini..? Dari mana dia dapat alamat rumah ini..? Haduuuh bikin masalah aja.." Gerutu Arif dalam hati


Perlahan dirinya pun melangkah maju menuju ruang tengah. Dari ujung ruangan, Fika melihat Arif yang datang menghampiri.


Fika tersenyum sembari berdiri dari duduknya. Membuat Aima spontan menatap ke arah Fika kemudian mengikuti arah pandangnya.


Aima melihat sang suami tengah menatapnya sembari menghampiri. Dengan gerakan selow, Aima bangkit dari duduknya.


"Mas. Ini ada tamu mau ketemu kamu katanya. Silakan ngobrol dulu. Barangkali ada yang penting untuk di bahas.." Tutur Aima tersenyum santai.


Saat Aima melewati Arif, Arif mencekal tangan Aima dengan tatapan sendu.


"Mau kemana..? Disini aja gak apa apa.." Ucap Arif pelan.


Aima tersenyum.


"Aku mau ke kamar. Gak apa apa, kalian ngobrol aja.." Ucap Aima kembali melanjutkan langkahnya.


Arif mendesah menatap punggung Aima yang sudah menjauh. Hatinya resah.


"Kak Arif.." Sapa Fika greget saat Arif tak kunjung menyapanya.


Arif tersentak dari lamunannya. Perlahan diapun menghampiri Fika yang sejak tadi masih setia di posisinya berdiri.


"Hayy.." Sapa Arif canggung.


Fika tersenyum menanggapi.


"Kak Arif apa kabar..?" Basa basi Fika.


"Alhamdulillah baik.. Silakan duduk.." Ujar Arif sopan.


"



"Kak Arif kenapa..? kok kayak gak suka aku disini..?" Tanya Fika menatap lekat wajah Arif yang terlihat datar.


"Oh gak kok. Mungkin hanya perasaan kamu aja.. Duduk dulu.." Ujar Arif mencoba rileks


"Oh iya mau minum apa..?" Tanya Arif ketika sadar sejak tadi Aima tidak menyuguhi tamunya minuman.


"Gak usah kak.. Gak usah repot repot.." Ucap Fika tulus.


"Oh iya. Kok bisa tau saya tinggal disini..?" Akhirnya rasa ingin tahu Arif terucap juga.


Fika tersenyum.

__ADS_1


"Aku tau dari seseorang. Tapi itu gak penting.." Jawab Fika masih terlihat santai.


Arif mengangguk meski benaknya terus berpikir.


"Kamu kesini ada keperluan apa..? ada yang bisa saya bantu..?" Tanya Arif menuju inti tak ingin terlalu lama berduaan.


Fika mencebikan bibirnya.


"Kak Arif. Kak Arif kok bisa nikah sama perempuan tadi tanpa ngomong sama Fika sama papa sih kak..?" Gerutu Fika menatap Arif dengan horor.


"Aima. Namanya Aima.." Ucap Arif datar.


"Gak peduli siapa namanya. Kak Arif tega nikah sama perempuan lain sementara orang tua kita sudah menjodohkan kita.." Ujarnya kesal.


Arif membuang nafas kasarnya.


"Fika. Papa kamu memang datang menemui orang tua saya meminta kita di jodohkan. Tapi pada saat itu, saya tidak ada di rumah.. Saya tidak tau apa apa soal perjodohan itu Fika.." Jelas Arif mencoba membuat Fika mengerti.


"Dan pada saat saya tau, saya sudah menyampaikan pada papa kamu untuk tidak melanjutkan perjodohan itu melalui papa saya sebab saya sudah punya calon istri.."


"Papa kamu sudah tau kok. Kalau gak percaya, tanya aja sendiri.."


Arif melihat raut wajah penuh kemarahan di wajah Fika saat mendengar penjelasannya.


"Kak Arif tau sejak dulu aku menyukai kak Arif. Tapi kenapa kak Arif malah memilih wanita lain. Apa yang kurang dari aku kak..?" Ujar Fika dengan lelehan air mata di sudut pipinya.


Dengan cepat Fika menghapus jejak air matanya dengan kasar.


"Apa karena dia lebih kaya dari aku..?" Ucapnya tanpa di saring membuat Arif terpancing.


"Fika.." Gertak Arif tersinggung.


Arif mendesah. Saat ini yang dia pikirkan adalah perasaan Aima. Dia takut kedatangan Fika akan menjadi masalah baru dalam rumah tangganya.


***


Pukul 18.30 Aima sudah cantik dengan dandanannya.


Arif yang baru akan masuk ke dalam kamar setelah selesai membahas masalah pekerjaan dengan Ayah mertuanya, mengerutkan keningnya menatap sang istri yang melewatinya tanpa pamit.


Arif memutar tumitnya dengan cepat dan meraih tangan sang istri. Aima tersentak dan hampir saja jatuh.


"Apaan sih..?" Sentak Aima kesal.


"Mau kemana..?" Tanya Arif pelan.


Aima menghempaskan tangan sang suami yang masih berada di lengannya.


"Ada urusan.." Jawab Aima dengan nada kesal.


"Malam malam begini..? Sama siapa..?" Desak Arif mengintrogasi.


"Aku gak akan pulang larut.." Jawabnya dengan mata mendelik.


" Iya tapi dengan siapa..? Kemana..?" Desak Arif lagi


"Kamu masih marah sama aku..?" Imbuhnya lagi


Flashback On

__ADS_1


" Sudah pulang tamunya..?" Arif tersentak kaget Aima tiba tiba muncul dari balik pintu saat dia masuk ke dalam kamar.


"Ngagetin aja sayang.." Protes Arif cemberut.


Aima menahan tawanya melihat keterkejutan suami lengkap dengan gerutunya.


"Ngobrolnya enak banget sampe sejam lebih lamanya..?" Ucap Aima bersedekap dada.


"Tadi cuma berapa menit sayang trus dianya pulang. Aku gak lansung naik ke kamar karna tadi ada asisten papa kesini.." Jawab Arif jujur.


Aima menatap nanar wajah suaminya. Rasa tak percaya mendadak menyelimuti perasaannya.


"Kenapa tadi aku gak nguping aja ya mereka ngobrolin apa.. Ahhk kesel.." Batin Aima menggerutu.


Arif meraih tangan sang istri. Dengan cepat Aima menepisnya.


"Aku ngantuk, mau tidur.. Jangan ganggu aku.." Ucap Aima berlalu menuju tempat tidurnya dengan tatapan sinis.


Arif menunduk dengan ******* mencoba menyabarkan hatinya sendiri.


Flashback Off


"Aku ada urusan mas Arif. Aku usahakan pulang cepat.. Udah ahh aku lagi buru buru.." Kesal Aima Arif kembali mencekalnya.


Sesampainya di lantai utama, pak Samsul tak sengaja melihat Aima yang hendak keluar rumah.


Dengan cepat pak Samsul menyapa sang anak dan menanyakan kemana tujuannya keluar pada saat hari sudah malam.


Sementara suaminya tidak ikut bersama sang anak.


"Ada urusan pa sama teman.." Jawabnya tersenyum.


"Boleh, tapi harus makan malam dulu sama papa sebelum pergi.." Nego sang Ayah.


Mau tak mau Aima menuruti sang Ayah. Dengan langkah berat, Aima menyeret kakinya menuju meja makan yang disana ternyata sudah ada bu Ineke di susul kemudian oleh Arif sang suami.


Dengan santainya Arif melayani Aima dengan menyendokkan nasi ke piringnya.


Jujur saja Aima kesal. Sebab tanpa sengaja Arif menyindir Aima dengan sikapnya di depan orang tuanya sendiri.



Ingin protes, namun takut orang tuanya curiga bahwa mereka baru saja berdebat.


Aima memilih diam dan melanjutkan makan malamnya meski tak berselerah dengan sesekali mengecek jarum jam yang menempel di pergelangan tangannya.


Semua itu tak luput dari perhatian Arif maupun pak Samsul.


.


.


.


.


BERSAMBUNG..


JANGAN LUPA MAMPIR JUGA DI NOVEL DI πŸ‘‡INI YA TEMAN TEMAN.. SEMOGA TEMAN TEMAN SUKA ALURNYA.. πŸ˜‡πŸ™πŸ’–πŸ’–

__ADS_1



__ADS_2