DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
PERASAAN ARIF


__ADS_3

Arif mengantarkan kedua orang tuanya hingga ke depan parkiran rumah sakit setelah orang tuanya berpamitan pada keluarga Aini.


Pak Samsul dan bu Ineke minta maaf akan situasi yang terjadi dan sudah membut orang tua Arif harus menunggu.


"Mama sama papa pulang dulu ya..? Kamu hati hati kalau pulang.. Bawa motornya jangan ngebut.." Pesan pak Malik pada sang anak setelah mereka berada di halaman parkir.


"Iya pa.. Papa sama mama juga hati hati di jalan.. Bentar lagi aku pulang.." Jawab Arif tersenyum.


"Yang sabar ya..? Apapun keputusan mereka, harus kamu terima denga ikhlas.." Tutur bu Nana mengelus lengan sang anak.


" Iya bu.. Aku juga berpikir demikian.. Mau tidak mau, ya harus ikhlas.. " Jawab Arif tersenyum simpul.


"Ya uda kami pulang dulu.. Assalamualaikum.." Ucap bu Nana kemudian.


"Waalaikumsalam.. Hati hati.." Jawab Arif melambaikan tangan.


Setelah orang tuanya berangkat, Arif berjalan menuju kursi yang tidak jauh dari sana, dari area itu.


Arif tertunduk lesuh disana. Bingung harus apa. Kejadian di depan matanya sungguh membuatnya merasa sakit.


“*Ya Allah, entah apa yang aku rasakan saat ini, akupun tak mengerti. Sulit rasanya menerima semua ini."


"Disaat aku dan dia mulai menemukan kebahagiaan dengan orang yang kami cintai, Engkau begitu cepat memberi cobaan seperti ini*.


*Aku tahu, kami hanyalah hamba yang harus menjalani segala takdir dari-Mu. Aapun itu yang telah Engkau kehendaki."


" Ini terlalu sakit ya Allah*..” Jerit hati Arif dengan mata yang mulai berkabut.


Tak bisa Arif bayangkan seperti apa perasaan Aini saat ini. Ketika dirinya harus mendapati takdir hidup seperti ini.


Arif perlahan beranjak dari tempat duduknya menuju Mushola yang masih berada di area rumah sakit tersebut untuk menenangkan hatinya setelah suara adzan berkumandang.


Setelah sampai di depan gerbang mushola, Arif langsung menuju tempat wudhu dan melaksanakan sholat magrib berjamaah dengan para pengunjung lainnya, yang mungkin juga keluarga pasien dari rumah sakit tersebut.


Selesai sholat, Arif masih betah berada di mushola. Dia pun terus memanjatkan Doa untuk kesembuhan Aini.


Dia ikhlas jika Aini menolak lamarannya, yang terpenting baginya adalah pujaan hatinya itu masih terus berada di tengah tengah mereka.


Karena dengan begitu dia masih bisa melihat sosok wanita yang telah berhasil menempati seluruh ruang hatinya itu, meski tak bisa bersatu.


Karena bagi Arif, kehilangan yang paling berat adalah bukan dimana Aini menolak lamarannya, tapi lebih kepada kehilangan Aini di dunia ini untuk selama-lamanya. Maka tak apalah baginya


***

__ADS_1


Ketukan pintu terdengar begitu sangat mengganggu pendengaran Arif yang masih terbuai mimpi dalam tidurnya.


Memaksanya membuka mata yang masih terasa berat.


Semalam dia begadang mengerjakan tugas kampus setelah pulang dari rumah sakit.


Dia sengaja tidak berpamitan kepada Aini dan keluarganya karena masih merasa canggung berada disana.


Bukan karena sikap Aima. Tapi karena Aini tidak merespon apapun yang dia ungkapkan.


Sehingga kejadian di kampus waktu itupun terlintas begitu saja di benaknya. Membuatnya memutuskan untuk pulang setelah dari mushola.


“Rif, bangun Rif.. Sudah siang ini, kamu gak kuliah..?” ucap bu Nana di balik pintu kamar Arif.


Bu Nana terus menggendor pintu kamar anaknya. Hingga akhirnya


“Maaf ma, aku kesiangan..” Jawab Arif saat pintu kamar terbuka, dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


“Iyasudah sana mandi dulu. Sarapan dulu sebelum berangkat. Sarapannya sudah ada di meja.." Ucap bu Nana


"Mama sama papamu mau keluar sebentar, ada undangan dari warga sebelah.. Jangan tidur lagi, nanti kamu kesiangan kuliahnya.." Ucap bu Nana lagi mengingatkan.


"Iya ma.." Jawabnya pelan karena masih mengantuk.


“Mama semalam mampir kemana..? pulang pulang gak ada orang di rumah..” Tanya Arif masih berdiri di ambang pintu.


"Udah ah nanti kita bahas lagi.. Mama udah di tungguin tuh sama papa kamu di depan.." Ujar bu Nana.


“Iya ma. Aku juga mau mandi dulu, takut telat ada kuliah jam 8 pagi ini..” ucapnya kemudian berlalu ke kamar mandi.


"Jngan lupa kunci pintu rumah kalau berangkat.. Mama berangkat dulu, Asaalamualikum.." Bu Nana menaikan volume suaranya saat Arif berlalu menuju dapur.


"Iya mama.. Waalaikumsalam.." Jawab Arif dari arah dapur.


Rumah Arif memang terbilang sederhana. Meski lantainya sudah beralaskan keramik, namun kamar mandi masih berada di bagian belakang, tepatnya di dapur samping ruang makan.


Ruang tamu berukuran 4 x 5. Ruang tengah sedikit lebih luas karena memanjang dengan dapur yang tanpa sekat.


Sedangkan kamar hanya ada 2 kamar. Dan perabotan pun di rumahnya biasa-biasa saja dan tidak banyak.


Tidak ada yang mewah. Termasuk tv yang berada di ruang tengah hanya 21 inc.


Namun Arif dan kedua orang tuanya sangat bahagia menjalani kehidupan mereka karena rasa syukur yang selalu mereka terapkan dalam keseharian mereka.

__ADS_1


Selesai sarpan, Arif bergegas menuju kampus dengan mengendarai motor maticnya.


Di tengah perjalanan menuju kampus, handphone Arif terus berdering. Entah sudah berapa banyak panggilan disana.


Namun Arif memutuskan mengangkat panggilan itu setelah tiba di kampus saja.


Karena memang memburu waktu yang sudah sangat telat. Mengingat jam sudah menunjukan pukul 08.10.


Setibanya di parkiran kampus, Arif langsung bergegas lari menuju kelas.


Dengan nafas tak beraturan, Arif langsung masuk kelas dan mencari kursi yang kosong setelah mengucapkan salam.


“Maaf pak, saya telat..” ucap Arif setelah duduk dan sibuk mengeluarkan buku dari dalam tas ranselnya.


“Yasudah gak apa-apa.. Langsung menyesuaikan saja sama yang lain.. Hari ini saya kesini hanya menyampaikan kalau saya mau keluar kota selama dua minggu." Ucap pak Yusuf, sang dosen.


"Tugas mata kuliah dari saya, akan tetap berjalan.. Nanti ada pak Fatur yang akan menggantikan saya selama saya berada di luar kota.. Sekian terima kasih, selamat pagi..” Jelas pak Yusuf Santoso dosen dari mata kuliah manajemen kinerja.


Penyampaian pak Yusuf langsung di tanggapi suara riuh mahasiswa sekelas.


“Udah capek buru-buru taunya gak ada kelas..” gumam Arif menggerutu.


Teringat pada ponselnya yang terus berdering selama perjalanan menuju kampus tadi, Arif langsung mengecek handphone nya.


Melihat nama pemanggil yang sangat dia kenal, Arif langsung menghubungi balik nomor tersebut.


Dua tiga kali panggilan belum juga di angkat. Merasa bersalah, tanpa pikir panjang Arif langsung berlari menuju parkiran mencari motornya disana.


“Kemana bro..? gak ada kelas emang..?” Tanya Andra salah satu sahabatnya sedikit berteriak karena jaraknya sedikit jauh dari parkiran tempat Arif berada.


Arif menoleh mencari sumber suara.


“Ada urusan penting Ndra, titip absen ya sama bu Yayu..” Sahut Arif sambil menjalankan motornya keluar parkiran kampus.


“Gila tuh anak, masih pagi udah kabur aja.. Untung pinter.. Coba kalau kayak otak ku ini, bisa bisa jadi mahasiswa abadi..” Gumam Andra memandangi punggung Arif yang perlahan mulai hilang dari pandangan matanya.


Andra dan Arif adalah dua sahabat yang sangat kompak. Mereka bersahabat sejak awal masuk kuliah.


Dengan Arif yang pintar dan Andra yang kocak serta suka bergaul dengan siapa saja tanpa pandang bulu, membuat persahabatan mereka makin dekat hingga sudah seperti saudra.


Tapi sampai saat ini, Andra tidak tahu bahwa wanita incarannya kini sedang di lamar Arif.


**BERSAMBUNG..

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR MEMBACA..


MOHON DUKUNGANNYA TEMAN TEMAN.. 😇🙏🙏💞💞**


__ADS_2