
Bak seorang putri dari kerajaan, Aima di layani dengan baik oleh Arif.
Di buatkan jus alvokad beserta cemilan yang lezat. Aima bukannya tidak bisa bersyukur telah memiliki jodoh yang baik dan begitu sabar seperti Arif.
Hanya saja hatinya yang belum bisa sepenuhnya move on dari masa lalu.
Bertahun tahun menjalani hubungan atas dasar saling cinta, tentu tak akan mudah bagi siapapun untuk langsung lupa begitu saja.
Mungkin saat ini, Aima hanya butuh waktu saja. Terlebih pernikahan yang dia jalani tidak sesuai inginnya.
Seseorang yang tadinya seharusnya menjadi adik iparnya, justru kini menjadi suami sahnya.
"Enak mas.. Mama ya yang ngajarin..?" Tanya Aima sembari fokus pada cemilan buatan suami.
Arif tersenyum melihat istrinya menikmati cemilan buatannya.
"Lupa ya kalau aku ini pengusaha bakso gerobak.." Gurau Arif tersenyum.
Aima tergelak. Tangannya terangkat mengelus pipi sang suami sekilas.
"Aku gak tau malah. Aku pikir kamu cuma nyuci piring doank sama lap meja disana bantu papa.." Gurau balik Aima yang kembali fokus menikmati cemilannya.
Arif terkekeh mendengar candaan balik sang istri.
"Berarti istriku ini harus lebih banyak lagi aku masakin, biar tahu kalau suaminya ini jago soal kuliner nusantara.." Pamer Arif dengan bangga di depan sang istri
Aima menatap wajah Arif dengan senyum mengejek. Seolah meremehkan.
Membuat Arif gemas sehingga tanpa sadar tangannya menyubit kecil lengan sang istri.
"Akkh sakiitt.." Keluh Aima greget dengan ulah sang suami
Arif bukannya minta maaf, justru malah tertawa melihat ekspresi istrinya.
"Kelakuan.." Kesal Aima yang semakin membuat Arif tertawa.
***
"Pah, sebenarnya apa sih yang terjadi antara papa dan Aima..? Gak mungkinkan Aima pulang karena urusan kerjaan tanpa pamit gitu sama kalian..?" Tanya bu Nana menaru curiga pada suaminya.
"Mama ini selalu saja curiga sama papa.." Jawab pak Malik tetap bertahan dengan kebohongannya.
Pak Malik memang tidak ingin mengatakan sebenarnya seperti apa pada bu Nana sebab pak Malik tidak ingin istrinya itu kecewa dengan menantunya itu.
"Pah, terus yang ini gimana..? Menurut papa gimana..?" Tanya bu Nana menunjuk sebuah amplop yang tergeletak di atas meja.
"Papa juga gak tau ma.. Mungkin sebaiknya kita kembalikan saja.." Jawab pak Malik yang juga merasa bingung sama seperti istrinya.
"Anak itu ya pa, segitu mudahnya ngeluarin uang banyak tanpa beban gitu.." Ucap bu Nana berkisah
__ADS_1
"Gimana ya pa perasaan anak kita jika ngasi nafka ke Aima yang bahkan hanya cukup buat dia jajan sehari.. Secara kan menantu kita itu berduit pa.." Lanjutnya lagi.
Pak Malik membuang nafasnya kasar.
"Yang penting Arif sudah berusaha ma.. Selebihnya biar saja itu gimana mereka ngurusinnya.." Jawab pak Malik yang sejujurnya juga bingung
***
"Mas.. Setelah ini mas mau kemana..?" Tanya Aima saat mereka duduk santai di ruang tv sembari Arif menemani Aima minum obat.
Aima yang mengeluhkan sakit pada beberapa bagian tubuhnya di sertai suhu tubuh yang sedikit menghangat, terpaksa Arif mengajaknya berobat di klinik.
"Mau kemana apa..?" Tanya Arif heran
"Iya mau kemana..? Mau balik ke sukabumi atau mau balik ke rumah mama kamu atau gimana gitu.." Tutur Aima santai membuat Arif sontak merubah posisi duduknya menghadap sang istri.
"Kamu ngusir..?" Tanya Arif tanpa menjawab pertanyaan sang istri.
"Kok ngusir sih mas..?" Heran Aima atas pertanyaan sang suami.
"Lah terus tadi apa kalau bukan ngusir..?" Tanya Arif lagi membuat Aima greget
"Iihhh itu bukan ngusir mas Arif.. Itu nanya, gimana sih.." Ungkap Aima greget.
Arif mengubah kembali posisi duduknya menghadap tv yang sejak tadi menyala di depan mereka tanpa berniat menjawab pertanyaan sang istri.
"Mas.." Aima mencubit pelan lengan sang suami
"Nyubit nyubit kamu ini.." Omel Arif tanpa menatap sang istri di smpingnya.
Arif memiringkan posisi duduknya sedikit mengarah ke sang istri. Di tatapnya sedikit lebih lama wajah sang istri lebih dalam lagi.
"Apa kamu mau aku pergi..?" Bukannya menjawab, Arif justru bertanya.
Aima mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan sang suami.
"Apa kamu mau aku disini, nemanin kamu malam ini..?" Arif kembali melontarkan pertanyaan.
"Kamu istriku, aku suamimu. Aku jauh jauh mencari kamu sampe kesini buat apa coba..?"
"Masa setelah aku menemukan istriku lantas aku harus pergi misahin diri lagi gitu..?" Tutur Arif panjang lebar.
Raut wajah Aima yang tadinya penuh kerutan bingung, kini menjadi mulus lagi setelah mendengar ucapan sang suami.
"Kamu gak akan ngusir aku kan..? Atau ngindarin aku kayak kemarin karena bertemu dengan kekasih mu itu..? " Ucap Arif beegurau meski di hatinya ada sedikit kecemburuan.
"Apa sih kamu.. Ya gak lah.. Aku gak kayak gitu.. Gila aja ngusir suami karena pengen ketemuan sama pacar.." Elak Aima sedikit tertawa.
"Kan gak ada yang tau juga.. Siapa tau kan emang begitu..?" Ucp Arif memancing.
__ADS_1
"Mulai deh nyari ribut.. Aneh kamu ini.. Giliran aku pergi, kamu nyusulin sampe minta papa telephonin aku segala.."
"Giliran lagi bareng, ngaco ngajak ribut.. Maunya apa sih..? Mau kita baik baik aja apa gimana..?"
"Becanda sayang.." Elak Arif tersenyum manis
"Mau kita pisah gitu..? Mau aku udahin hubungan ini gitu..?" Gertak Aima.
Sontak membuat Arif kelabakan.
"Ihk apa sih sayang. Becanda kok.." Rayu Arif mengelus pipi Aima
"Aku udah baik baik ni.. Aku udah mau ni mencoba nerima hubungan ini meski belum seutuhnya.. Jangan bikin aku mundur lagi.." Jelas Aima dengan nada kesal.
Mendengar ucapan sang istri, Arif mendadak euforia. Aima bahkan kaget dan merasa aneh melihat tingkah Arif.
Hingga ketika Arif menatap ke arah Aima, tawanya pecah melihat ekspresi sang istri.
"Kenapa sih kamu..?" Tanya Aima merinding
Arif semakin terbahak bahak.
"Gak sayang. Kenapa sih kayak takut gitu..?" Tanya Arif masih dengan tawanya.
"Ya kamunya kenapa jadi aneh gitu..?" Tanya balik Aima masih dengan rasa takutnya.
" Aku cuma senang aja dengar kamu mau membuka hati dengan hubungan kita. Aku merasa lebih unggul aja dengan kekasih kamu itu.." Ucap Arif masih dengan sikap menyebalkannya.
Membuat Aima kembali cemberut Arif masih saja membahas hal yang sudah lewat.
Arif akhirnya menghentikan tawanya dan mengubah wajahnya ke mode serius.
Di raihnya wajah sang istri dengan telapak tangannya sembari tersenyum.
"Makasih ya.. Sudah mau mencoba menjalani hubungan kita dengan rela. Aku gak bisa menjanjikan banyak hal sama kamu.."
"Karna kalau aku janji ini janji itu, takutnya itu justru tidak baik buat kamu, buat hubungan kita juga nantinya.."
"Aku hanya bisa berusaha sebaik mungkin untuk bisa bertanggung jawab atas apa yang sudah aku jalani ini.. Kamu dan rumah tangga kita.. Aku akan berusaha semampuku.."
"Tegur aku jika aku menyimpang.. Ingatkan aku jika aku salah.. Dan, jangan ragukan aku.."
Aima tersentuh akan ucapan Arif yang cukup puitis namun penuh dengan ketulusan di dalamnya. Aima mengangguk mengiyakan.
Apa salahnya memberi kesempatan pada hatinya, pada pasangannya untuk sebuah hubungan yang serius yang mengarah ke arah yang positif.
**BERSAMBUNG..
HAY TEMAN TEMAN, KALI INI AKU AKAN BALIK LAGI BUAT LANJUTIN KISAH CERITA DALAM KARYA AKU INI HINGGA TAMAT NANTI.. INSYA ALLAH 😇😇
__ADS_1
MUDAH MUDAHAN KITA SEMUA SEHAT SELALU YA.. 😊😊😇
BANTU SUPPORT YA TEMAN TEMAN, DAN SEMOGA KALIAN SUKA KISAHNYA.. 💖😇**