
Pak Haris dan bu Nola merasa tersinggung dengan sikap kedua orang tua Aima. Sejak tadi mereka datang pun merasa suasana sudah mulai tidak bersahabat.
"Ayo Fatur kita pulang.." Bu Nola menatap sinis pak Samsul dan bu Ineke kemudian menarik lengan Fatur keluar dari kediaman orang tua Aima tersebut.
***
Hari sudah malam. Tepat pukul 10 malam, Arif dan Aima beserta pak Malik dan bu Nana, akhirnya sampai juga di tempat tujuan mereka.
Yaitu rumah mendiang kakek Arif yang berada di perkebunan sayur di puncak sukabumi.
Setelah memarkirkan kendaraan mereka, mata Aima sibuk mengamati penampakkan rumah yang terbuat dari kayu, sebagian lagi terbuat dari bata.
Sedangkan di ujung bagian belakang terbuat dari bambu, namun persis seperti sebuah villa.
Cukup nyaman memang di pandang mata. Arif menoleh ke arah Aima, dan mengikuti arah pandang Aima.
"Ada apa..?" Tanya Arif
Aima tersentak spontan menoleh menatap wajah Arif lekat.
"Kita bakal menginap disini..?" Mata Aima kembali sibuk mengamati sekeliling tempat mereka berada.
"Iya, kita tinggal disini selama kita berada disini.." Arif menatap aneh Aima yang seperti terlihat tidak nyaman.
Sementara itu, kedua orang tua Arif sedang sibuk mengangkat barang bawaan mereka satu persatu di bawa masuk ke dalam rumah kakeknya Arif.
Arif kemudian turun dari mobil Aima dan mengambil koper Aima di bangku belakang kemudian membawanya masuk ke dalam rumah meninggalkan Aima sendirian di dalam mobil.
Aima yang menyadari dirinya hanya sendirian di luar rumah, buru buru turun dari mobil dan berlari menuju pintu masuk hingga tak sengaja menabrak Arif yang hendak keluar memanggilnya untuk masuk untuk istrahat.
Aima memekik tanpa sadar.
"Kamu kenapa sih..? Kayak di kejar setan aja." Ucap Arif menatap heran pada sang istri.
"Hari udah malam, ayo istrahat.. Disini aman, gak ada binatang buas atau hantu yang berkeliaran.. Kecuali.." Arif sengaja menggantung ucapannya niat menjahili Aima
Membuat Aima menempel ke tubuh Arif tanpa jarak karena takut.
"Kecuali apa..?" Tanya Aima sambil melirikan matanya ke arah sekelilinhnya.
"Gak ada.. Ayo masuk.." Arif menuntun Aima masuk ke dalam hingga ke kamar mereka.
Aima yang masih merasa ketakutan, tidak mau jauh jauh dari Arif. Hal itu membuat Arif tertawa namun berusaha di tahannya.
"Tidurlah.. Aku akan menjagamu.." Ucap Arif sambil menyelimuti Aima.
__ADS_1
Melihat Aima yang menurut, membuat Arif tersenyum gemas.
"Mas.. Selama kita pisah, mas kalau tidur ingat aku gak sih..?"
Aima yang memang ceplas ceplos tanpa jaim inilah yang membuat Arif sedikit sulit menemukan hati Aima yang sebenarnya seperti apa untuknya.
Terkadang Aima lembut, manja, bahkan memperlakukannya seperti selayaknya suami.
Tapi terkadang pula Aima bersikap acuh akan kehadirannya bahkan menjauhinya.
Arif menatap lembut wajah cantik istrinya itu. Tangannya terangkat mengelus pipinya, turun menyentuh dagunya.
"Jangan di tanya, karna sudah tentu aku merindukanmu.. Kenapa pesanku gak kamu balas..?"
Arif menahan diri untuk tidak melakukan lebih kepada Aima disaat istrinya itu berada satu ranjang dengannya lagi setelah berpisah selama empat hari kemarin.
"Emangnya mas gak ada yang mas sukai gitu di kampus..?" Aima memilih tidak menjawab pertanyaan Arif soal pesan singkatnya yang tidak di balas olehnya.
"Ada, bahkan dia juga suka sama aku.." Arif mencoba menguji perasaan Aima kepadanya itu seperti apa.
Aima cemberut dan membalikan badannya membelakangi Arif. Arif tersenyum kecil menatap punggung Aima.
Arif bukannya tidak percaya akan perasan Aima terhadapnya, tapi karena sikap Aima yang memang terkadang acu terkadang manis itulah yang membuatnya belum yakin ada rasa untuknya meski hanya sedikit.
"Gak baik membelakangi suami kalau sedang tidur berdua.. Apalagi dalam keadaan tidak senang.." Ucap Arif lembut
Aima tidak bergeming. Aima memikirkan Fatur yang siang tadi kerumahnya, juga merindukan adik kesayangannya.
Dirinya bingung akan jalan hidupnya saat ini.
Namun kemudian dia di kagetkan dengan tangan kekar Arif yang melingkar memeluknya.
Aima membiarkan saja Arif terus memeluknya hingga sepanjang malam.
Malam semakin larut.
Aima masih terus terjaga sepajang malam. Matanya belum juga merasa ngantuk barang sedikitpun.
Pikirannya terus melayang jauh. Kerinduannya pada sang adik, terus menggerogoti batinnya hingga tanpa sadar air matanya jatuh di sudut matanya.
Biasanya hampir setiap malam dia menelephone adiknya hanya untuk mendengar suara adik kesayangannya itu, kini tiada lagi.
__ADS_1
Sejak kepergian Aini, Aima merasa sendirian. Dia merasa stres menghadapi persoalan hidup tanpa canda tawa sang adik.
Sejujurnya Aima sedang merasa kesepian saat ini. Sang adik yang pergi meninggalkan mereka semua, hilangnya Fatur di saat dia butuh, serta menikahi pria yang tidak ada dalam kamusnya, sungguh membuatnya frustasi.
Berhari hari Aima menelan kepahitan itu. Hingga akhirinya dia mulai berusaha berdamai dengan keadaan.
Meski dia tidak yakin akan ada kebahagiaan yang lebih besar dia temukan.
***
Fatur merasa kecewa dengan sikap Aima. Dia berencana ingin mencari dimana Aima berada dan menyelidiki kebenaran soal pernikahannya.
Jika benar Aima sudah menikah, siapa lelaki yang bisa mengalihkan perasaan Aima terhadapnya sehingga pernikahan itu terjadi.
Ambisinya kini meluap luap di sertai dengan amarah.
Kegundahan hati Fatur sampai membuatnya mengambil cuti dari pekerjaannya.
Dia berencana berangkat ke sukabumi setelah berhasil mengetahui keberadaan Aima dan keluarga Arif dari orang suruhannya.
"Kenapa kamu menghianatiku Aima.. Aku gak mungkin melepasmu begitu saja.." Gumam Fatur penuh kekecewaan.
Pagi menjelang, Fatur sudah bersiap dengan kendaraannya menuju tempat dimana Arif dan keluarganya berada untuk menemui Aima.
Sedangkan di tempat Arif, Aima yang baru saja terbangun dari tidurnya, menggeliat tanpa niat beranjak dari tempat tidur.
Udara yang sejuk dingin membuatnya bermalas malasan di tempat tidurnya.
Sementara Arif sedang membantu pak Malik menyiapkan keperluan untuk di bawa oleh para pekerja ke ladang.
"Apa semalam aku hanya mimpi..? Tapi kenapa begitu nyata rasanya..?" Aima menyentuh bibirnya yang masih terasa bekas ciuman dari Arif.
Semalam, Arif yang terjaga dari tidurnya, melihat Aima tidur menghadap ke arahnya dan begerak memeluknya
Merasa ada yang terusik dari dalam dirinya karena ulah sang istri, Arif menunduk perlahan mencium bibir Aima dengan lembut.
Awalnya dia ragu dan takut. Sebab penyebab mereka berpisah selama empat hari di karenakan Aima yang tidak suka Arif yang mencuri ciuman darinya.
Namun saat bibir Arif menempel di bibirnya, di luar kesadaran Aima, Aima membalas ciuman hangat dari Arif.
Dan itu membuat Arif berani meneruskannya. Arif baru berhenti ketika dirinya hampir kelepasan untuk bertindak lebih.
__ADS_1
**BERSAMBUNG..
HAII TEMAN TEMAN SEMUA.. TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR KESINI, DAN TERIMA KASIH JUGA ATAS DUKUNGAN YANG KALIAN BERIKAN UNTUK AUTHOR LEBIH SEMANGAT LAGI DALAM BERKARYA.. 🙏🙏💞💞💞😘**