DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
BERTEMU DALAM MASALAH


__ADS_3

Seminggu berlalu.


Rupanya permasalahan perkelahian antara Fatur dan Arif di kantor Aima masih terus berlanjut.


Fatur yang sama sekali tidak bisa menerima apa yang sudah terjadi belakangan ini termasuk Aima yang menghindarinya, masih terus mencari cara untuk menghancurkan Arif.


Perasaan cinta yang begitu dalam pada Aima, membuat Fatur frustasi. Fatur merasa bahwa Arif lah pemicu semua ini. Arif lah yang banyak mengatur hidup Aima sehingga Aima menjauhinya.


Dan hari ini, tepat dimana dosen sebelumnya yaitu pak Yusuf telah kembali aktif, membuat Fatur semakin frustasi.


Arif yang masih berada di kelas dan baru saja mengikuti mata kuliah dari pak Yusuf, sedikit terganggu dengan dering ponselnya yang ternyata pesan dari Fatur.


Tidak ada cara lain lagi untuk memberi pelajaran pada Arif menurutnya selain mengajak Arif untuk berduel.


Namun kali ini Fatur mengajaknya di ring boxing. Jika Arif tak datang, Fatur menganggap Arif telah setuju untuknya bertemu dengan Aima selayaknya kekasih.


Pilihan kedua, jika Arif datang dan dapat mengalahkannya, maka dirinya akan mundur dan tak akan menemui Aima lagi.


Andra yang kebetulan duduk berada di samping Arif, jiwa penasarannya tiba tiba muncul ingin segera di tuntaskan.


Dengan sedikit mengintip isi chat ketika Arif sedang fokus pada ponselnya, Andra jadi bisa membaca dengan jelas apa isi chat dan dari siapa chat itu berasal.


Karena tak mau ikut campur secara langsung, namun ingin mencegah, Andra terpaksa meminta bantuan ketiga sahabat Aini.


Dengan sigap pula ketiga sahabat Aini langsung menghubungi Aima dan memberi tahukan pertemuan Arif dan dosen mereka Fatur di ring boxing siang nanti.


Beruntung saat Aima tanyakan apakah mereka tahu apa masalah Fatur dan Arif sehingga keduanya merencanakan pertemuan itu, tak satupun dari mereka yang tahu. Sehingga Aima cukup merasa aman.


Setelah mendapat laporan dari ketiga sahabat sang adik di kampus, Aima cukup pusing mencari cara bagaimana untuk menggagalkan pertemuan keduanya.


Bukan karena apa. Saat ini Fatur dan Arif sama sama sedang berada di kampus.


Sungguh membuat Aima pusing memikirkan kelakuan keduanya yang semakin hari semakin membuatnya pusing kepala.


"Aku harus menemui kak Fatur. Jangan sampai mereka bertemu dan ribut lagi.. Ya Tuhan kayak boca banget deh.." Gerutu Aima kesal.


Sejurus kemudian Aima terpaksa menghubungi Fatur dan mengajaknya bertemi di salah satu cafe tak jauh dari kantornya.


Sedetik kemudian, Fatur membalas chat Aima dan menyanggupi permintaan Aima.


"Bismillah.." Ucap Aima menetralkan perasaannya dari segala rasa yang mampir.


Tak butuh waktu lama, Fatur pun akhirnya muncul dan menghampiri Aima yang sudah tiba terlebih dahulu.


"Udah lama nunggunya..?" Sapa Fatur tersenyum sembari menarik kursi yang berada di depan Aima membuat Aima yang sedang asik dengan ponselnya sedikit terkejut.


"Ehhk kak. Gak kok aku juga baru datang.." Jawab Aima gugup.


Pasalnya pertemuan mereka kali ini bukan lagi sebagai sepasang kekasih seperti sebelumnya.


Terlebih Aima disini sudah menjadi istri orang lain. Dan pertemuan kali ini pun karena ingin menyelasaikan masalah yang belum selesai di antara keduanya.


"Belum pesan makan..? Mau pesan apa..?" Basa basi Fatur dengan lembut mencoba mengajak Aima bernostalgia.


Namun Aima menolak dengan lembut dan penuh ke hati hatian agar Fatur tidak tersinggung dengan penolakannya.

__ADS_1


"Kak. Aku ngajak kakak ketemuan, karena ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan kak Fatur." Ucap Aima mengawali obrolan serius.


Fatur terlihat santai menanggapi. Barangkali dia sudah bisa menebak isi pikiran Aima saat ini.


"Mau bicara apa, lanjutkan.." Ujar Fatur mempersilahkan.


Kali ini Fatur duduk bersandar pada kursi dengan tangan bersedekap menatap lurus ke arah Aima siap mendengarkan.


Dengan tarikan nafas dan sedikit gugup, Aima mengucap basmalah.


"Kak. Sebelumnya aku minta maaf. Aku akui aku salah menikah tanpa menyelesaikan hubungan kita terlebih dahulu.." Ucap Aima


Aima menjeda ucapannya sekedar memastikan ekspresi apa yang akan Fatur tunjukan.


"Mukanya diam, datar, tapi kok serem ya..? Bismillah. Ini harus selesai.." Batin Aima bermonolog.


"Kak. Kak Fatur barangkali belum tau yang terjadi di keluarga aku kemarin. Dan apa yang membuat aku menikah dengan Arif.." Lanjut Aima.


"Aini sakit leukimia kak. Dan kagetnya kita, keluarga termasuk Aini sendiri baru tau dia mengidap penyakit itu ketika sudah stadium 3. Pertumbuhannya cepat sekali.."


"Dan ketika Arif berniat melamarnya di rumah sakit, Aini justru memberi kami permintaan terkahir sebelum dia pergi.." Aima memelankan suaranya ketika di ujung kalimat.


Dapat di lihat bahwa Aima berusaha menahan kesedihannya mengenang adik tercintanya itu. Fatur sedikit bisa memaklumi itu.


"Terus kenapa tuh boca bisa sampai menikah denganmu..? Permintaan Aini..?" Tebak Fatur yang di angguki oleh Aima


"Tapi aku tak langsung menerima keinginan terskhir Aini begitu saja. Aku mencarimu kak.." Ucap Aima menatap lekat wajah Fatur.


"Aku berusaha terus menghubungimu tiap hari. Bahkan kak Fatur bisa lihat, sehari aku bisa mengirimi kakak berapa banyak pesan, berapa banyak panggilan.."


"Aku frustasi kak Fatur gak ada kabar sama sekali. Bahkan di saat aku sangat membutuhkan kak Fatur.."


"Apa salah kak jika pada akhirnya aku lelah..? Aku pasrah dan ikut apa yang sudah keluargaku siapkan untuk hidupku..?"


"Aku tanya sekali lagi sama kakak, apa aku salah memilih pilihan adik dan orang tuaku dalam kondisi yang aku sendiri bingung harus mencari alasan apa lagi sebab kakak sendiri sudah berbulan lamanya tanpa kabar..?"


Fatur yang merasa terpojokan dengan semua penuturan Aima, hanya bisa diam menatap wajah Aima dengan tatapan yang sulit di artikan.



"Kak. Kali ini aku minta dengan sangat sama kakak. Tolong kak, jangan ngajak Arif berantem lagi. Dia juga sama seperti aku, hanya terpaksa menerima pernikahan ini.." Air mata Aima akhirnya lolos juga di hadapan Fatur


Namun bukannya ibah, Fatur justru menatap benci pada Aima. Bukan pada diri Aima, tapi lebih tepatnya pada permohonan Aima.


***


Di kampus, Arif sejak tadi tidak sabar lagi menunggu balasan pesan dari Fatur, kemana mereka akan bertemu.


Sedangkan Andra sahabat Arif, terus berusaha mengalihkan perhatian Arif dengan mengajak ketiga sahabat Aini demi untuk mengulur waktu yang ada.


Karena menurut penyampaian Inaya dan Maya, pukul 04 sore ini Arif harus menjemput Aima di kantornya sebab mobil Aima sedang berada di bengkel milik kakaknya Inaya.


"Kita ke cafe depan aja dulu, sambil nunggu pacarnya Inaya. Kan sejak dulu kami berempat dengan Aini sudah sepakat kalau ada di antara kami yang punya pasangan, harus di rayakan.." Ujar Maya sekenaknya.


Sebab sejak mereka bersahabat, tidak ada kesepakatan apapun yang mereka buat tentang pasangan seperti yang Maya katakan.

__ADS_1


Semua itu hanya untuk mengulur waktu agar Arif tak punya waktu lagi untuk bertemu dengan dosen mereka itu.


Padahal tanpa mereka mencegahpun, Arif dan Fatur tak akan bisa bertemu. Sebab saat ini Fatur sedang bersama dengan Aima di sebuah cafe.


"Itukan kesepakatan kalian. Kenapa saya sama Indra harus ikut.?" Tolak Arif.


"Ihk kak Arif kan sudah jadi bagian dari kami, ya harus ikutlah.. Ya gak kak Andra..?" Ucap Inaya memberi kode lewat matanya pada Andra.


"Mana ada..? Aku mah bukan geng kalian ya..?" Ucap Arif tetap pada penolakannya.


Sedangkan Andra hanya bisa menahan tawanya melihat perdebatan antara Arif dan ketiga sahabat Aini itu.



***


"Jika memang yang terjadi dalam hidupmu adalah karena kesalahanku, lantas apa aku harus ihklaskan kamu sama dia begitu saja.." Ucap Fatur yang mulai terbawa emosinya lagi.


"Aku gak nyalain kakak sepenuhnya. Aku hanya ngomong apa yang terjadi. Yang aku harapkan dalam masalah ini hanyalah, kak Fatur tolong memgertilah posisi aku saat ini.."


"Aku cuma minta kak Fatur menghargai keputusan aku. Aku salah, kakak juga salah. Kita saling nerima saja kak.." Ujar Aima sedikit bingung bagaimana mencari pemberndaharaan kata agar Fatur bisa mengerti maksudnya.


"Aima. Aku masih mencintaimu. Bahkan sangat. Aku gak bisa melepasmu begitu saja. Aku juga tau kamu masih mencintaiku. Aku gak akan menyerahkan kamu begitu saja pada boca itu.." Ujar Fatur keras kepala.


"Kak.." Kesal Aima.


"Tolonglah kak jangan kayak anak kecil gini..? Gak lucu tau kak kalau kalian berantem beranteman sampai luka kayak kemarin lagi.. Kak Fatur gak malu apa jika staf kampus dan mahasiswa kakak pada tau gitu..?" Ucap Aima mulai kesal.


"Kamu jangan ikut campur lagi urusan aku sama dia. Kita ya kita, dia ya dia. Urusan aku sama dia itu adalah urusan lelaki sejati. Kamu gak usah tau soal itu.." Ujar Fatur penuh penekanan.


"Dia suami aku, mana mungkin aku gak ikut campur.." Ujar Aima geram.


Mendengar ucapan Aima, sontak membuat Fatur mengeraskan rahangnya karena menahan emosi yang memuncak.


Dengan kasarnya Fatur mendorong kursi saat berdiri dan berlalu meninggalkan Aima dengan tatapan tajam tanpa suara.


Melihat kemarahan Fatur, Aima terpaksa mengejarnya.



"Kak.." Aima menarik pelan lengan Fatur saat di depan pintu keluar cafe


" Jangan ngomong lagi. Maaf aku harus pergi, aku ada urusan yang harus aku urus.." Ucap Fatur yang membuat Aima ketakutan.


.


**BERSAMBUNG..


HAYY TEMAN TEMAN..


SELAMAT IDUL FITRI BAGI YANG MERAYAKAN.. SEMOGA LEBARAN KALI INI, MEMBAWAH KEBERKAHAN DAN SEGALAH KE KHILAFAN DAPAT DI MAAFKAN.. 😇💖


JANGAN LUPA SUPPORT TERUS YA DENHAN BANTU LIKE DAN VOTE. SEMOGA EPISODE BERIKUTNYA LEBIH SEMANGAT LAGI..


TERIMA KASIH SEBELUMNYA.. 🙏😘💖**

__ADS_1


__ADS_2