
"Papa..? Papa kenapa mukanya di tekuk begitu..?" Heran bu Ineke ketika melihat sang suami di balik pintu.
Pak Samsul hanya menanggapi dengan senyum di gulum sembari duduk di samping bu Ineke.
"Kamu ikut pulang ya nak..? Biar mertua kamu saja yang menginap disini jagain Arif. Besok kita kesini lagi.." Ujar pak Samsul menatap Aima dengan sayang.
"Hhmm yasudah.. Tapi aku mau nunggu mas Arif sadar dulu ya pa..?" Tawar Aima.
"Kata dokter, Arif akan sadar 5 jam lagi.. Ini baru 1 jam berlalu nak.. Kamu bisa larut pulangnya.. Besok pagi kita kesini lagi, ok.." Tawar pak Samsul penuh harap.
Sebab pak Samsul tidak mau sang anak melihat tamu yang datang menjenguk Arif barusan yang saat ini masih bersama mertua Aima.
Sebagai orang tua, pak Samsul hanya ingin yang terbaik untuk rumah tangga anaknya.
Jika Aima melihat Fika dan orang tuanya yang sejauh ini pak Samsul ketahui sebagai wanita masa lalu sang menantu, pasti akan timbul masalah baru lagi.
"Gak apa apa pa. Papa sama mama duluan aja. Nanti minta pak Anto jemput aku ya pa..? Aku capek nyetir sendiri.." Ucap Aima sedikit manja.
Bu Ineke sontak memeluk Aima dengan erat. Sepintas sosok Aini yang manja terbayang di matanya.
Tanpa terasa mata bu Ineke mulai berkaca kaca. Membuat pak Samsul ikut memeluk keduanya haru.
"Yasuda kami pulang dulu ya nak.. Kalau ada apa apa hubungi kami segera.." Ucap bu Ineke melerai pelukannya.
"Iya ma.. Makasih tadi udah bawain baju ganti.." Ucap Aima tersenyum manis yang di balas pula dengan senyuman manis dari sang ibu.
***
Selepas kepergian pak Samsul dan bu Ineke, Aima membaringkan tubuhnya sejenak di sofa.
Rasa letih akhirnya membuat dia ketiduran hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Astaghfirullahaladzim.." Hingga Aima tiba tiba terbangun dari tidurnya.
Dengan nyawa yang belum kembali sepenuhnya, Aima bergegas keluar ruangan menuju ICU dimana sang suami di rawat.
"Ma, pa..?" Sapa Aima setibanya di depan ICU.
"Aima..? Kamu belum pulang nak..?" Sapa balik bu Nana terkejut.
"Belum ma. Aku nungguin mas Arif sadar dulu.." Ucap Aima pelan.
__ADS_1
Bu Nana terharu melihat kesungguhan sang menantu.
"Gimana keadaan mas Arif ma..?" Tanya Aima setelah ingat tujuannya.
"Alhamdulillah masa kritisnya sudah lewat. Arif sudah sadar. Tapi sekarang tidur lagi setelah di beri obat oleh dokter.." Jelas bu Nana tersenyum senang.
"Alhamdulillah.. Aku boleh masuk gak ma..?" Aima kali ini terlihat sungkan.
Terlebih melihat sikap diam pak Malik, semakin membuat Aima serba salah.
Bu Nana mengangguk tanpa berpikir. Sebab bu Nana merasa Aima tak perlu meminta persetujuan karena Arif adalah suaminya.
Tanpa membuang waktu lagi, Aima bergegas masuk ke dalam ruangan ICU.
"Pah. Papa kenapa pa..? Papa masih marah sama Aima..?" Tanya bu Nana menepuk lengan pak Malik yang sejak tadi hanya diam.
Pak Malik bergeming. Terlihat pak Malik membuang nafas beratnya tanpa menanggapi sang istri.
"Biarkan saja pa. Mama lihat Aima memang sedang berusaha menerima pernikahan mereka. Dia juga tidak terlihat buruk sebagai istri. Terbukti setelah dia tau kondisi Arif, dia meninggalkan pekerjaannya.." Ujar bu Nana panjang lebar.
"Papa lihat kan..? Dia bahkan membiayai semua biaya rumah sakit. Dan dia bahkan belum pulang sejak pagi tadi.." Lanjut bu Nana menambahkan.
Tapi entah kenapa hati dan perasaan pak Malik masih menyayangkan sikap sang menantu yang terlalu abai pada rumah tangga mereka.
Sementara di dalam ICU, Aima masih termenung di kursi samping brankar sang suami.
Di tatapnya wajah rupawan sang suami yang terlihat pucat dan ada memar di beberapa bagian.
Terulur tangan lentiknya menyentuh wajah sang suami. Ada rasa menyesal yang hadir di lubuk hatinya saat ini.
Jika seandainya dia terlambat datang, maka bukan tidak mungkin lagi mertuanya menjual rumah mereka bahkan bisa saja menerima bantuan wanita yang saat ini membuat Aima kesal.
"Maafkan aku mas. Aku terlambat datang. Bahkan hari wisuda mas aku gak tau.. Kenapa mas gak ngomong sama aku sebelum aku berangkat.." Keluh Aima.
"Mas cepat sembuh ya..?" Ucap Aima mengelus pipi serta lengan sang suami sebelum dirinya keluar ruangan.
"Ma, pa.. Ruangan inap mas Arif sudah aku siapkan tadi sore. Mama sama papa istirahatlah di sana malam ini. Mari aku antar kesana.." Ucap Aima menghampiri mertuanya yang sedang duduk bersandar di salah satu kursi sembari menutup mata.
"Nak. Memangnya boleh ruang perawatan pasien di pakai untuk kita istirahat..?" Tanya bu Nana ragu.
Aima tersenyum menanggapi. Di raihnya tangan keriput sang mertua dalam genggaman.
__ADS_1
"Ma, ruangan mas Arif malah ada kasurnya untuk mama sama papa istirahat nanti. Jadi mama sama papa gak usah khawatir.." Tutur Aima lembut.
"Terima kasih sebelumnya nak. Tapi apa gak sayang kamu harus mengeluarkan banyak uang hanya untuk Arif..?"
Bu Nana terkejut dengan ucapan sang suami yang ikut menimpali namun dengan kalimat yang seolah menyindir sang menantu.
"Papa kenapa ngomongnya seperti itu pa..? Mas Arif itu suami aku, wajar kalau aku melakukan semua ini.." Ucap Aima menahan gejolak di hatinya.
"Papa tau itu. Tapi papa bicara seperti itu bukan tanpa alasan Aima. Selama Arif sibuk untuk sidang skripsi, sampai dia mau wisuda, istri yang begitu dia harapkan selalu ada dan mendukungnya tidak ada di sampingnya.."
"Bahkan di saat dia sedang menjemput toganya, dia harus mengalami kecelakaan. Dan istrinya masih sibuk dengan pekerjaannya.."
"Nak Aima, papa sama mama menghubungi kamu bukan meminta uang nak untuk biaya rumah sakit. Kami hanya butuh kamu tau apa yang Arif alami.." Ujar pak Malik mengeluarkan semua yang dia pendam sejak siang tadi.
"Pah..?" Tegur bu Nana menghentikan sang suami yang masih terlihat ingin berucap lagi.
Aima sadar akan kesalahannya. Tapi dia tidak menyangka ayah mertuanya begitu marah hingga kalimat yang terucap sangat menyakiti hatinya.
"Maaf. Aku memang terlalu cuek. Tapi bukan berarti aku tidak memikirkan rumah tanggaku. Dan tidak peduli pada mas Arif meski dia bukan pilihanku. Karena bagaimanapun, dia tetaplah suamiku saat ini.." Ucap Aima pelan tapi tegas.
"Maafkan papa nak. Dia tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.." Ucap bu Nana serba salah.
Sedangkan pak Malik sendiri memilih untuk diam. Ada sedikit rasa bersalah sudah mengucapkan kata yang menyakiti perasaan menantunya.
"Mari aku antar di kamar inap mas Arif biar mama sama papa bisa segera istirahat.." Ucap Aima mendahului.
Aima merasa sakit hati dengan apa yang sudah di ucapkan ayah mertuanya.
Meski Aima tahu semua itu bentuk kekecewaan seorang ayah yang menyayangi anaknya, tapi bukan berarti pak Malik menyudutkan dan menyinggung perasaannya tanpa melihat apa yang sudah dia korbankan.
.
.
.
...BERSAMBUNG...
...Terima kasih atas segalah dukungan dari teman teman semua.. Terima kasih juga karena sudah mampir disini sampai pada episode kali ini.. 🙏🙏💖...
...Mohon dukungannya terus biar lebih semangat lagi UP episode selanjutnya dengan bantu vote, like.. 🙏💖💖💖...
__ADS_1