
"Aima..? " Sapa Arif dari belakang, membuat Aima terlonjak kaget dan hilang keseimbangan hingga tersungkur jatuh ke dalam kolam ikan.
Arif ikut terlonjak melihat sang istri yang jatuh ke dalam kolam ikan akibat ulahnya.
Dengan sigap Arif melompat terjun menyelamatkan Aima agar tidak tenggelam.
Namun di luar dugaan, Aima justru sudah hampir sampai ke tepian pematang kolam karena kelincahannya dalam berenang.
Arif akhirnya ikut menepi di samping Aima. Sorot matanya menatap Aima dengan kesal.
Sedangkan Aima sendiri malah cuek. Berbeda lagi dengan pak Malik, beliau yang belum terlalu jauh dari tempat itu justru terlihat khawatir melihat Aima yang jatuh dan juga hampir ikut terjun untuk menyelamatkannya.
Setelah keduanya sudah naik ke permukaan, pak Malik menghampiri keduanya dengan raut wajah yang masih terlihat penuh kekhawatiran.
"Nak Aima, kamu nggak apa apa nak..?" Pertanyaan pak Malik membuat Aima tersentuh.
Aima merasa, Ayah mertuanya itu tidak sedang benar benar marah kepadanya. Mungkin hanya karena rasa khawatir, membuatnya ingin melindungi Arif dengan caranya.
"Aku baik baik aja pah.." Jawab Aima tersenyum
Mata pak Malik tanpa sengaja melihat Arif yang menggigil. Bibirnya yang membiru akibat kedinginan, membuat pak Malik merasa heran.
"Arif, kamu sakit..?" Pertanyaan pak Malik membuat Aima mengalihkan pandangannya menatap wajah Arif.
Dengan cepat Aima menghampiri Arif dan mengecek kondisi dan suhu tubuhnya. Aima terkejut saat tangannya merasakan suhu badan Arif yang hangat.
Aima menarik tangan Arif dan pergi meninggalkan pak Malik yang hanya bisa menatap punggung keduanya yang mulai menjauh.
"*Semoga kalian benar benar berjodoh nak.. Papa melihat kalian yang saling peduli seperti ini, saling melindungi, papa yakin akan ada cinta yang akan tumbuh seiring berjalannya waktu.."
"Semoga Allah melindungi kalian dari marabahaya dan orang orang yang zalim, Aamiin*.." Batin pak Malik
***
"Mas, minum obatnya dulu sebelum tidur.." Aima yang membawa obat dan air dalam gelas menghampiri Arif yang sedang berbaring di tempat tidur mereka.
Arif yang mulai di serang kantuk, serta pusing di kepalanya semakin bertambah akibat demam, seolah mengacukan Aima.
Aima kembali dengan sabar mengulangi ucapannya, namun Arif hanya membuka matanya sebentar tanpa berniat bangun.
Aima yang merasa di cuekin mulai merasa kesal pada Arif. Aima meraih selimut dan bantal kemudian keluar dari kamar.
Arif menutup kembali matanya memilih tidur.
__ADS_1
"Ternyata hanya sebatas itu rasa sabarnya menghadapiku" Batin Arif
Mendengar suara pintu yang di tutup dengan keras, Arif membuka matanya kembali.
Perlahan Arif bangun dan turun dari ranjang menuju pintu kamar dan membukanya.
Tidak mendapati sang istri disana, Arif keluar menuju ruang tengah dan ternyata sama, tidak ada Aima disana.
Saat dia berbalik, tidak sengaja ekor matanya menangkap bayangan Aima dari jendela depan.
"Mau kemana dia malam malam begini..? Kebiasaan kalau sudah ngambek, maen pergi pergi aja.." Monolog Arif dalam hati dengan kesal.
Arif mengurut pangkal hidung hingga keningnya bermaksud untuk meringankan rasa pening di kepalanya.
Rasa khawatir pada sang istri lebih besar, membuat Arif terpaksa keluar rumah mencari keberadaannya.
"Kamu ngapain disini..? disini dingin Aima, nanti kamu bisa sakit.." Arif yang sejak tadi mencari keberadaan Aima, akhirnya dia menemukannya sedang berada di saung tengah menggelar tikar dan kelambu.
"Ngapain kesini..? Sana pulang sana.." Arif geleng geleng kepala mendengar ambekan dari sang istri yang sudah seperti anak abg.
Arif duduk di ujung tikar yang di gelar oleh Aima sebagai alas untuknya tidur dan meraih tangan Aima dengan lembut.
Arif melihat mata Aima mulai berkaca kaca. Membuat Arif begitu gemas pada istrinya itu.
Wajah Aima dan Aini memang mirip, tapi sifat mereka sungguh sangat jauh berbeda.
Aini memiliki sifat lembut setiap menanggapi sesuatu, dan selalu memilih mengalah serta tidak terlalu serius menanggapi sesuatu yang ujungnya memicu pertengkaran.
Sedangkan Aima, mendominan sifat manja serta ambekan, hingga membuatnya mudah menangis.
"Kamu kalau aku peduli, kamu cuekin aku. Giliran aku cuek, kamu bilang aku ambekan.." Ujar Aima berkaca kaca.
Arif menarik pelan tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam dekapannya.
"Maafin aku ya.. Bukan maksudku mengacukanmu.. Tadi kepalaku terasa begitu pusing sayang.." Arif mencium pucuk kepala Aima setelah mengungkapkan permintaan maafnya, membuat Aima mengeratkan pelukannya.
"Aku gak suka di gituin.." Ucapnya manja dengan isakan dalam pelukan Arif.
"Iya sayang maaf.." Jawab Arif tulus.
__ADS_1
"Sayang..?" Panggil Arif sembari mengelus pundak sang istri yang masih dalam pelukannya.
"Mmm..?" Jawab Aima bergumam.
"Kamu ternyata bisa renang ya..?" Tanya Arif tiba tiba.
Aima mengurai pelukannya dan menatap Arif sembari menghapus jejak air matanya.
"Bisa. Kenapa..?" Ujarnya
"Aku gak tau. Kalau aku tau, gak perlu aku panik ikut terjun tadi di kolam segala.." jawab Arif menatap Aima serius.
Sontak ucapan sang suami menggelitik perutnya hingga Aima tak mampu menahan tawanya.
Arif yang melihat sang istri tertawa sembari menatap matanya yang sembab akibat sehabis menangis, ikutan tertawa juga merasa lucu.
"Kasihan kamu. Udah demam, ikuta kejebur pula di kolam. lagian kenapa sih nganggetin aja.." Ucap Aima sesekali masih dengan tawanya.
"Ya aku gak tau kamu bisa renang. Aku juga kan gak niat nganggetin kamu.. Orang aku nyariin kamu dari tadi buat minta tolong ngerokin aku kok.." Jelas Arif yang semakin membuat Aima tertawa lepas.
"Kita masuk ke rumah ya..?" Aima mengangguk pelan menuruti Arif, sebab Aima juga merasakan suhu tubuh sang suami yang terasa hangat karena demam.
Sesampainya di kamar, Aima langsung membalut tubuhnya dengan selimut dan tidur membelakangi suaminya.
"Sayang.." Panggil Arif pelan.
"Mmm..?" Aima hanya bergumam, namun dalam hatinya tersenyum mendengar suaminya kembali memanggilnya dengan panggilan sayang
"Sayang..?" Ulangnya
"Mmm..?" Jawabnya bergumam.
.
Merasa di acuhkan, Arif bergerak masuk ke dalam selimut Aima dan memeluknya dengan erat.
Aima terkejut. Saat Aima menoleh kebelakang, dia kembali terkejut saat bibir Arif menempel sempuran tepat di bibirnya.
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH TEMAN TEMAN ATAS KUNJUNGAN BENTUK DUKUNGANNYA.. 🙏🙏💞💞💞**
__ADS_1