
Entah karena terlalu sibuk atau memang sifatnya yang santai dan cuek, sehingga sampai dua hari berlalu pun Aima belum juga membuka chat di aplikasi hijau yang di kirim oleh ibunya.
Hingga kini waktu semakin bergulir. Dimana Arif sudah hampir dua minggu di ruang ICU dan sampai saat ini pula Arif belum juga bangun dari komanya.
Pak Malik dan bu Nana selaku orang tua dari Arif sudah pasrah akan nasib rumah tangga sang anak.
Sedih sudah pasti. Tapi melihat sikap menantunya yang hingga saat ini belum juga ada kehadiran bahkan sekedar menghubungi mereka untuk menanyakan kondisi Arif, membuat orang tua Arif cukup kecewa.
Pak Malik dan bu Nana bahkan kini sepakat jika Arif sudah sembuh, mereka akan membawa Arif pulang bersama mereka di kampung halaman orang tua pak Maliik, yaitu di jogja.
Pukul tuju malam, ponsel bu Ineke tiba tiba saja rame dengar deringnya.
"Assalamualiakum.."
"Waalaikumsalam.. Mbok, mama kemana sih..? kok gak di angkat angkat sih teleponnya..?" Mbok Lala tersentak saat baru mengucapkan salam, sudah di borong pertanyaan dengan nada panik.
"Ehh non Aima. Itu non, ibu sedang di rumah sakit non sama bapak jenguk den Arif.." Jawab mbok Lala ikutan panik.
"Non kenapa non.. Non baik baik aja kan non..?" Lanjut mbok Lala dengan paniknya.
"Aku baik baik aja mbok.. Yasudah aku telepon papa aja.." Jawab Aima langsung memutus sambungan teleponnya.
" Ya ampun non non.." Gumam mbok Lala mengelus dada.
***
"Ma, mama.." Panggil Aima setengah berteriak dari ujung koridor rumah sakit saat melihat sang mertua yang sedang berjalan menuju keluar.
"Aima..?" Bu Nana menatap nanar sang menantu yang kini sedang berjalan tergesa gesa menuju ke arahnya.
"Ma, mama mau kemana..? Maaf ma, aku aku.." Aima yang masih ngos ngosan belum bisa meneruskan ucapannya.
"Kamu duduk dulu, netralkan dulu nafasnya.." Ucap bu Nana menunjuk salah satu bangku panjang yang berada disana.
Aima menurut di sertai bu Nana yang ikut duduk bersamanya.
Melihat sikap dan tatapan dingin bu Nana, Aima mendadak bungkam. Rasa bersalah semakin memenuhi hati dan perasaannya.
Bahkan Aima merutuki dirinya yang bodoh karena terlalu cuek pada situasi. Padahal sang ibu sudah beberapa kali menghubunginya tapi di anggap cuek.
"Tante..? Tante kok masih disini..? Ayo tante Fika anter pulang.."
Aima sontak berdiri dari duduknya dengan tercengang menatap ke arah wanita cantik yang tentunya Aima kenal siapa dia.
__ADS_1
"Mmm gak usah nak Fika. Tante masih ada urusan sebentar.." Tolak bu Nana sopan.
Fika menatap Aima dengan tatapan tidak suka. Aima mendesah geram serasa ingin menanyakan apa maksud wanita tersebut mengajak mertuanya pergi di saat mereka sedang membicarakan hal yang serius.
Sedangkan bu Nana sendiri tahu akan situasi yang ada. Sehingga bu Nana sengaja mengatakan itu agar Fika segera pergi dari sana sembari menarik tangan Aima untuk kembali duduk.
"Saya rasa anda masih bisa mendengar dengan baik apa yang di ucapkan mertua saya. Atau perlu saya ulangi lagi..?" Celetuk Aima tersenyum mengejek.
"Cihhh.. Sombong sekali anda mengatakan tante Nana mertua anda. Kemana aja anda selama ini..?" Fika tak mau kalah dengan Aima.
Aima merasa terpojok dengan ucapan Fika. Apalagi tepat di depan mertuanya sendiri.
"Sudah sudah. Ini rumah sakit. Nak Fika, nak Fika pulang saja. Dan kamu Aima, kalau mau lihat Arif, silakan ke ruang ICU.. Arif masih disana dan belum sadarkan diri sampai sekarang.." Ujar bu Nana melerai, namun ada kesedihan di raut wajahnya.
"Gak apa apa tante. Perempuan yang sok segalanya ini harus di.."
"Sudah nak Fika. Jangan ribut disini.." Potong bu Nana menarik lengan Fika agar menjauh dari hadapan Aima.
Aima yang geram akhirnya terpancing.
"Kamu fikir kamu siapa hahh..? Anda bukan siapa siapa disini. Jangan ikut campur urusan keluarga saya..?" Ucap Aima menantang.
"Dan anda jangan pura pura lupa kalau anda sebenarnya hanya istri di atas kertas. Jadi jangan pernah melarang saya untuk tidak ikut campur urusan kak Arif, karna kak Arif sejak awal adalah milik saya yang sudah dengan terpaksa menikahi anda.." Ucap Fika lagi dengan senyum sinisnya.
Bu Nana yang sejak tadi berusaha melerai, memilih diam karena bingung harus menyikapi apa lagi.
"Jaga ucapan anda nona yang tidak tau diri. Saya istri sahnya mas Arif. Anda siapa..? bukankah anda hanya wanita yang tak pernah di lirik oleh suami saya jika anda lupa.." Tutur Aima dengan pongahnya.
Fika mengepalkan tangannya karena geram.
"Asal anda tau perempuan sok segalahnya. Sayalah yang selalu ada di saat kak Arif seperti saat ini. Sedangkan anda..? Pikirlah sendiri.." Sarkas Fika kemudian berlalu pergi.
Dalam lubuk hati Aima sungguh dia menyesali sikapnya. Kenapa tidak terfikirkan olehnya tentang puluhan panggilan telepon baik dari sang Ayah maupun ibu bahkan bisa dari asisten rumahnya adalah panggilan penting.
"Ayo mama antar di ruangan Arif.." Ucap bu Nana mendahului Aima yang masih terdiam di tempatnya berdiri.
Aima menghembuskan nafas kasarnya kemudian mengikuti langkah kaki sang ibu mertua.
Hingga kini kakinya terhenti tepat di depan kaca ruangan, dimana Arif terbaring lemah dengan alat alat medis yang menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Hati Aima mendadak nyeri melihat kondisi Arif disana. Bagaimanpun, Arif adalah suaminya. Terlepas ada atau tidaknya rasa cinta di hatinya.
Sejenak terlintas kembali ucapan Fika. Moment wisuda Arif, hingga Arif mengalami kecelakaan yang menyebabkan dirinya kini di rawat, Aima sama sekali tidak ada untuk Arif.
Dan hanya Fika yang ada di saat Arif membutuhkan dirinya. Aima termenung memikirkan semua itu.
"Nak, mama pulang dulu. Ada yang harus mama urus sebentar.." Ucap bu Nana memutus lamunan Aima.
"Ahh iya ma. Maaf ma, aku baru tau kemarin soal mar Arif. Makanya aku langsung pulang setelah tau dan langsung kesini.." Ujar Aima sendu.
"Iya gak apa apa. Kami sadar akan kesibukan kamu sebagai seorang wanita karir. Yasudah, mama pulang dulu. Mama tinggal dulu ya..?" Ucap bu Nana pamit.
Aima hanya bisa menanggapi dengan senyum dan anggukan. Sesungguhnya Aima merasa bersalah melihat raut wajah mertuanya yang terlihat letih dan sedih.
Setelah kepergian bu Nana, Aima baru teringat pada sang ibu yang memintanya untuk berangkat bersama ke rumah sakit.
"Astagaa.. Kok aku bisa lupa ya..?" Gumam Aima dengan bergegas mencari ponselnya yang tersimpan di dalam tasnya.
"Mama, maaf aku udah ada di rumah sakit. Dari bandara aku langsung kesini tanpa pulang terlebih dahulu.." Ucap Aima setelah sambungan telepon terhubung ke ponsel bu Ineke.
"Hmmm.. Ya sudah gak apa apa. Nanti mama nyusul kesana. Sekalian ada yang harus segera kita urus.." Ujar bu Ineke di seberang sana.
"Harus kita urus..? Soal apa ma..?" Tanya Aima dengan penasaran.
"Makanya tunggu mama disana.. Jangan kemana mana, nanti mama jelasin setelah disana.." Bu Ineke memutus sambungan telepon sepihak membuat Aima semakin penasaran.
Di tatapnya kembali sang suami dari balik kaca ruang ICU.
"Maafkan aku mas. Aku terlalu sibuk sendiri sehingga lupa kalau aku sudah bersuami. Aku terlalu acu dengan segala egoku. Maafkan aku.." Gumam Aima dalam hati
.
.
.
.
**BERSAMBUNG..
......Terima Kasih sudah mampir di episode kali ini........
...Mohon dukungannya terus, hingga akhir episode nanti ya teman teman.. 😊😊🙏🙏💖💖**...
__ADS_1