DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
RASA BERSALAH


__ADS_3

"Iya papa masih di ladang.. Aku yakin pasti ada obrolan antara papa dan Aima yang membutanya pergi.. Karna semalam Aima sempat bahas meski gak semuanya.." Jelas Arif lagi


"Papa kamu..? Bahas sesuatu sama Aima..?" Tanya bu Nana dengan nada tidak percaya suaminya bisa menyebabkan Aima pergi.


Arif mengangguk mengiyakan. Dia yakin ada sesuatu hal yang di katakan oleh Ayahnya hingga membuat Ayana pergi tanpa pamit.


"Oh iya Rif, tadi Aima ngasih ini ke mama.. Katanya mama boleh buka nanti kalau papa udah balik dari kebun.." Ucap bu Nana menunjukan sebuah amplop.


Arif langsung meraih amplop di tangan bu Nana dan membukanya tanpa menunggu sang Ayah.


Bu Nana hanya menatap sang anak dan amplop di tangan sang anak dengan tatapan bingung sekaligus penasaran.


Dan benar saja. isi amplop tersebut adalah selembar surat tulisan tangan dari Aima tentang permintaan maafnya serta penjelasannya tentang kenapa dia bisa berdua dengan Fatur pagi kemarin.


Dan ada satu lagi isi amplop tersebut yang membuat Arif mengusap wajahnya dengan kasar.


Dimana selembaran kertas itu adalah hasil transaksi jual beli lahan kebun seluas 20 hektar tiga hari sebelumnya.


Di dalam surat, Aima juga mengatakan bahwa kebun tersebut dia berikan kepada kedua mertuanya agar mertuanya bisa berkebun sayur tanpa harus menunggu giliran dari kakak dan adik adik Ayah mertuanya itu seperti saat ini.


Di akhir kalimat Aima memberi tahukan bahwa dia menyimpan sertifikat tanah kebun tersebut di lemari pakaiannya di rumah itu.


"Ma, aku jemput papa dulu.." Ucap Arif bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari bu Nana.


Arif tidak sabar ingin tahu masalah sebenarnya lewat mulut sang Ayah. Dan Fatur, kenapa dosennya itu bisa ada disana bersama Aima.


***


Pukul 05 pagi Aima baru sampai di apartemennya. Aima memilih langsung ke apartemennya daripada ke rumah orang tuanya.


Aima tidak ingin orang tuanya tahu akan masalahnya dengan Ayah mertuanya itu. Memilih menutupi lebih baik menurutnya.


Keesokan harinya, Aima merasa tubuhnya begitu letih. Nyetir seharian penuh seorang diri membuat hampir seluruh badannya merasa pegal.


Aima bahkan hanya memesan sarapan via online untuk mengganjal perutnya.


Sementara di kediaman mertuanya, Arif yang baru saja sampai setelah tahu permasalahan kenapa Aima pergi, tanpa pikir panjang lagi langsung menyusulnya saat itu juga.


Pak Samsul dan bu Ineke kaget saat mengetahui Aima yang pulang tanpa Arif saat Arif sampai di rumah mertuanya.


Mau tidak mau Arif menceritakan duduk permasalahannya tanpa di kurangi dan di lebih lebihkan.


Pak Samsul mengerti. Arif pun akhirnya tahu siapa Fatur dan apa maksud Fatur mengejar istrinya dari kedua mertuanya itu.


Kini Arif paham kenapa sikap Aima masih belum menerimanya sebagai suami seutuhnya.


Di apartemen, Aima yang masih betah di balik selimut, di usik dengan suara dering ponsel yang tiada hentinya.


Aima yang merasakan badannya semakin pegal, memilih tidak mempedulikan panggilan telephone itu yang entah sudah keberapa kali.


Pukul 02 siang, Arif baru tahu Aima ternyata memiliki sebuah apartemen mewah dari mertuanya setelah mertuanya menghubungi sang kakek untuk menanyakan keberadaan Aima apakah berada di rumah kakeknya atau tidak.

__ADS_1


Dan ternyata Aima tidak berada disana. Tujuan terakhir untuk mencarinya adalah apartemen milik Aima.


Karena tidak mungkin Aima ke luar negeri hanya karena persoalan kecil menurut pak Samsul dan bu Ineke.


"Ini alamat apartemennya Aima. Kamu susul dia kesana siang ini juga.. Papa udah telephone dia berkali kali tapi tidak di angkat juga.." Ujar pak Samsul memberikan selembar alamat.


"Papa khawatir terjadi sesuatu sama dia.. Ingat ya, jangan berantem lagi.. Selesaikan baik baik.." Ucap pak Samsul menepuk pundak sang menantu.


"Iya pa.. Terima kasih sebelumnya.." Jawab Arif sopan.


"Oh iya, kalau Aima tidak membuka pintu, kamu masuk aja. Nanti mama coba hubungi pihak apartemen untuk membantu kamu membuka pintunya.." Sambung bu Ineke.


"Iya ma, terima kasih sebelumnya.. Iyaaudah ma, pah, aku langsung berangkat sekarang ya.." Tutur Arif pamit dan bergegas keluar rumah menuju mobil setelah mendapat anggukan dari mertuanya.


Pukul 03 sore hari, Arif baru sampai di sebuah gedung tinggi, dimana salah satu penghuni gedung itu adalah istrinya sendiri.


Apartemen di sebuah kawasan elit, yang tidak mungkin di miliki orang sepertinya, monolog batin Arif.


Semakin kesini, semakin tumbuh dan berkembang rasa minder Arif pada sang istri.


Ternyata istrinya memang bukan wanita biasa. Kekayaan yang berlimpah dari hasil kerja kerasnya sendiri, membuat Arif semakin merasa hanya sekecil biji kenari. Apalah dia, pikirnya.


Dengan perasaan tidak karuan, Arif tetap melangkah masuk ke dalam gedung tersebut demi permintaan mertuanya untuk mencari keberadaan dan kondisi istrinya tersebut.


Arif terpaksa menghubungi bu Ineke karena tidak ada respon dari dalam apartemen Aima setelah beberapa kali ia memencet tombol bel.


Dan setelah mendapat bantuan dari pihak apartemen, akhirnya Arif bisa masuk.


Saat masuk kedalam, Arif langsung tercengang melihat betapa mewahnya ruangan itu.


"Aima.. Aima.." Arif langsung bergegas mencari istrinya di setiap ruangan hingga ke ruangan dapur.


Merasa ada suara yang memanggil manggil namanya, Aima membuka matanya dan bangun terduduk di tempat tidurnya dengan menajamkan pendengarannya untuk memastikan apakah itu hanya ilusinya saja atau tidak.



"Mas Arif..? Apa itu dia..?" Gumam Aima saat kembali mendengar Arif memanggil namanya.


Saat pintu kamarnya di buka, Aima melihat Arif sang suami berdiri di ambang pintu tengah menatapnya dengan tatapan sendu.


Rasa bersalah sangat jelas terlihat di wajah sang suami. Sementara Aima yang melihat suaminya berdiri membisu di ambang pintu seperti itu, merasa berdosa karena pergi tanpa pamit.


"Mas, mas kenapa bisa berada disini..?" Hanya itu kalimat yang berhasil lolos dari bibir Aima.



"Kamu kenapa pergi tanpa pamit dulu sama aku sih..? Apa aku sebegitu tidak di anggap sehingga pamit lewat pesan pun gak kamu lakukan..?" Tutur Arif dengan suara bergetar menahan gemuru di hatinya.


Aima hanya diam membisu.


"Walaupun kamu tidak menganggap aku suami kamu, paling gak kamu kirimin lah aku pesan saat kamu pergi.. "

__ADS_1


"Atau gak minta aku nganterin kamu pulang.. Biar bagaiman pun, kamu adalah tanggung jawabku Aima.."


"Jika terjadi sesuatu sama kamu, apa yang harus aku katakan pada orang tuamu, pada keluargamu..? Haa..???" Arif menatap wajah Aima dengan kesal bercampur sedih.


Tidak dapat di bayangkan olehnya jika seandainya Aima tidak berada di apartemennya dan justru mendapat halangan di perjalanan saat dia pulang tanpanya.


Aima melangkah maju dengan pelan. Tatapannya terus terarah di wajah sang suami.


Mata Aima mulai berkaca kaca melihat raut wajah khawatir di wajah sang suami. Rasa bersalah menyelimuti hatinya.



"Maafin aku mas.. Aku gak ada niat membuat kamu panik dan khawatir seperti ini.. Aku hanya gak mau merepotkan kamu aja.." Ucap Aima memeluk sang suami.


Arif yang memang rindu bercampur cemas pada istrinya itu, mau tidak mau dia membalas pelukan sang istri yang anggapnya langka.


Tangannya bahkan terangkat mengelus kepala Aima dengan lembut.


Aima mendongak menatap wajah Arif dan meminta maafnya sekali lagi.


"Iya sayang.. Jangan di ulangi lagi ya..?" Ucap Arif menerima permintan maaf sang istri.


Aima tersenyum mengangguk.


"Sayang.. Kamu sakit..? Badan kamu kok hangat sayang..?" Aima tersenyum geli mendengar suaminya memanggilnya dengan kata sayang.


"Aku cuma kecapean aja mas.. Nyetir sendirian tanpa kamu bikin badan aku pegal pegal semua tau mas.." Jawab Aima


Arif menyentil gemas kening sang istri, membuat Aima cemberut mengadu sakit.


Arif yang semakin gemas, spontan mencium bibir Aima.


Arif yang sadar tindakannya akan membuat istrinya marah, langsung menutup bibirnya dengan telapak tangannya.


Aima yang tahu maksud suaminya itu, menurunkan tangan sang suami dan membalas kecupan suaminya dengan lembut.


Arif tercengang.


"Udah ya..? Aku laper mas.. Pengen ngemil.." Ucap Aima mengalihkan rasa malunya yang sudah berani mengecup bibir sang suami.


" Aku buatin sesuatu mau..?" Tanya Arif serius, Aima mengangguk


"Tapi ganti bajunya dulu, jangan bikin aku khilaf.." Ucap Arif tersenyum, membuat Aima mencubit perut Arif karena malu.


"Mas juga mandi dulu.. Baju mas basah sama keringat gini.. Tuh di lemari ada kaos oblong punya aku.." Ucap Aima menatap Arif.


"Baiklah.." Jawabnya singkat sembari menuju kamar mandi


Tidak butuh waktu lama, Arif sudah berhasil membuat cemilan dari olahan dari bahan tepung yang di beri isi sayuran.


Aima hanya di minta menunggu di meja makan dengan sabar oleh Arif.

__ADS_1


Tercium aroma wangi dari masakan sang suami membuat Aima tak sabar ingin menyicipinya.



__ADS_2