DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
MEMINTAH CERAI


__ADS_3

Di mata Andra, Arif dan Aima adalah pasangan yang romantis dan harmonis meski berawal dari perjodohan ssperti yang dia ketahui.


Sejak dulu ketika pertama kali melihat Aini, dirinya sudah sangat ingin mendekatinya.


Bahkan ketika seiring berjalannya waktu, Andra selalu berusaha mencari cara untuk bisa meluluhkan hati Aini.


Namun sayang, Aima justru lebih tertarik dengan Arif yang terlihat biasa saja dan berasal dari keluarga sederhana.


Dan hal itu baru di ketahui oleh Andra ketika Aini di rawat di rumah sakit pada saat hari terakhirnya.


Kini kerinduan Andra pada Aini sedikit terobati dengan hadirnya Aima. Kemiripan wajah mereka cukup membuat Andra kembali menggebu.


Entah apa yang ada dalam pikiran dan rencananya kini. Tatapannya seperti sangat mendamba.


***


Setelah mobil Arif terparkir aman di garasi, dan sempat masuk dan menerima jamuan dari pemilik rumah, Andra pun pamit setelah jemputannya datang.


Namun ada hal yang menggelitik hati Arif. Ketika Andra pamit pada sang istri, Andra sempat menahan jabatan tangannya cukup lama pada Aima.


Tatapan buayanya seperti yang Arif ketahui selama ini pun tak luput pada Aima.


Meski ingin menegur, Arif nyatanya tak mampu berucap sepatah katapun.


Setelah kepergian Andra dari rumah utama, Arif memilih naik ke kamar untuk istrahat. Aima yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, terlihat acuh dan tak peduli meski Arif berjalan seperti orang pincang.


Mbok Lala yang menyaksikan tuan mudanya menaiki tangga dengan langkah sangat pelan, bergegas menghampiri sang nona mudanya.


"Non, den Arif gak di tolongin dulu no..? Tuh kasihan.." Ujar mbok Lala menunjuk Arif yang sedang menaiki anak tangga.


Aima yang di colek mbok Lala pada lengannya, sontak beralih mengikuti arah pandang mbok Lala.


"Biar saja mbok. Orang dia sendiri kok yang nyari penyakitnya sendiri.. Ngapain di tolong.." Ucap Aima santai dan kembali fokus pada ponselnya.


Arif yang sudah berada di ujung anak tangga, masih sempat mendengar ucapan Aima.


Tak ada sakit hati yang dia rasakan. Karena dia tahu bahwa Aima pasti akan bersikap demikian setelah apa yang dia lakukan.


Bahkan Arif tadinya berfikir Aima akan memusuhinya tanpa sedikitpun peduli.


Namun ternyata Aima masih menunjukan kepeduliannya dengan menjemputnya dari klinik. Meski sikapnya tetap terlihat keras.


"Non ini. Pamali non suami lagi sakit tapi nonnya sebagai istri malah abai begitu.." Nasehat mbok Lala greget dengan sikap nona mudanya itu.


"Sakitnya karna apa dulu lah mbok..? Sakitnya karena sok keren, sok jagoan, gak jemput istrinya karna mentingin berantem, apa aku salah jika aku marah..?" Ujar Aima menatap dingin sang asisten rumahnya itu.


Mbok Lala yang baru tahu alasan Arif sakit dan alasan kemarahan Aima, mendadak ciut tidak berani lagi bersuara.


"Mbok Lala anterin air minum aja sama vitamin tuh di meja.. Pastiin dia minum dulu sebelum mbok turun.." Ujar Aima sembari kembali fokus pada ponselnya.


"Iya non.." Jawab mbok Lala patuh.


"Semarah marahnya non Aima pada den Arif, ternyata non masih tetap peduli.." Gumam mbok Lala dalam hati


Sesaat kemudian, mbok Lala yang baru saja menuruni anak tangga dari kamar Aima, kembali mendapat perintah dari nona mudanya.

__ADS_1


"Kenapa bukan non aja sih non..? Kan non Aima istrinya.. Mbok gak enak lah non.." Mbok Lala cemberut depan Aima.


"Mbok ini.. Cuma bantuin aja kok gak bisa.. Buru mbok, bentar lagi aku mau keluar ni.." Celetuk Aima mendapat penolakan dari sang asisten rumahnya.


"Kalau den Arif nanya, mbok harus jawab apa..?" Tanya mbok Lala cemberut.


"Ya bilang aja aku lagi keluar.. Dan aku udah minta mbok bantu nyiapin air mandi sama nyiapin baju gantinya.." Jawab Aima sembari bergegas keluar rumah.


Mbok Lala yang mengekor dari belakang sang majikan, hanya mendengus dengan perintah sang majikan.


Bukannya tidak patuh pada sang majikan sebagai asisten rumah tangga. Hanya saja mbok Lala merasa gak nyaman jika di minta mengurus suami majikannya yang lagi sakit.


Jelas saja mbok Lala harus membantu mengantarnya hingga ke kamar mandi. Sebab tadi saja mbok Lala melihat Arif sangat kesusahan saat berjalan akibat perutnya yang masih sakit dan pergelangan kakinya yang masih di balut deker lilit pelindung cedera.


Setelah mengantar Aima di depan rumah, mbok Lala kembali masuk ke rumah dan melanjutkan langkahnya menuju kamar nona mudanya.


Sesampainya di depan pintu, mbok Lala mengetuk pintu majikannya dengan ragu.


Terdengar suara dari dalam menyurunya masuk. Dengan ragu mbok Lala pun masuk.


"Maaf den.. Tadi non Aima titip pesan, kalau aden mau mandi, jangan nunggu dianya.. Non Aima lagi ada urusan di luar katanya.." Ujar mbok Lala dengan lancar meski sedikit gugup.


"Iya mbok, makasih ya mbok.." Sambut Arif tersenyum.


"Kalau aden butuh sesuatu, aden panggil mbok aja.. Biar mbok bantu.." Tawar mbok Lala seperti perintah yang dia terima dari Aima.


"Iya mbok makasih.." Jawab Arif menatap sang asisten.


***


Arif sendiri belum berani mendekati Aima setelah beberapa kali sudah mencoba. Aima masih sedingin salju dan tak tersentuh.


Seperti hari ini. Ketika Arif membuka pintu kamar, dia melihat Aima sedang berbaring di ranjang dengan pulasnya.


"Cantik.." Puji Arif dalam hati melihat sang istri yang tengah tidur dengan pulasnya.


Sayangnya Arif tak bisa memeluk sang istri.



Hari ini Arif yang pulang lebih awal dari sebelumnya karena demam, memilih berbaring di sofa yang berada di sudut kamar tak mau membuat sang istri terusik.


Tanpa menunggu lama, Arif pun akhirnya terlelap.


Satu jam berlalu. Aima yang merasa tenggorokannya kering, terpaksa bangun dari tidurnya.


Baru saja hendak turun dari ranjang, ekor mata Aima menangkap sosok Arif yang tengah terlelap di sofa.


Aima menghembuskan nafas kasarnya. Sedetik kemudian dia menghampiri sang suami berniat memintahnya pindah tidur ke ranjang.


" Mas. Ganti baju dulu kalau tidur. Pindah sana ke ranjang.." Ucap Aima datar


"Mas.. Mas.." Aima sedikit menaikan volume suaranya saat Arif tak bergeming.


Aima mengalah. Terlebih saat dia memperhatikan wajah sang suami yang terlihat sedikit memucat.

__ADS_1


"Mas.. Bangun dulu, ganti baju dulu nanti lanjut tidur lagi di ranjang.." Ucap Aima mengulangi namun kali ini dengan nada embut.


Ada rasa ibah yang memcuat di hatinya ketika melihat raut wajah sang suami saat tidur. Terlebih sudah sepekan dirinya bersikap bak orang asing pada sang suami.


Dengan perlahan tangan Aima terangkat menyentuh tangan sang suami.



"Astagfirullah.. Mas..?" Aima tersentak saat tangannya menyentuh tangan sang suami yang terasa hangat.


"Mas..? Mas bangun mas.." Aima kembali mencoba membangunkan Arif.


Kali ini berhasil. Arif mengerjapkan matanya mencoba menyesuaikan pandanganya.


Terasa bagai mimpi, wajah sang istri yang di rindukan kehangatannya kini nampak di depan mata dengan tangan menggenggam jemarinya.


"Mas ganti baju dulu ya..? Aku ambil obat penurun panas dulu sebentar.." Ujar Aima lembut.


Arif yang masih bingung dengan sikap sang istri yang berbeda dari sebelumnya, hanya mampu menatapnya dengan diam.


"Mau aku bantu..?" Tawar Aima saat melihat raut bingung sang suami.


Entah dorongan dari mana, Arif menarik pelan tangan Aima hingga tubuh Aima bisa dia peluk.


Bagai rindu bertahun tahun lamanya, Arif memeluk Aima begitu posesif.


"Mas.. Aku gak bisa nafas mas.. Lepas dulu.." Ucap Aima merengek manja.


"Maafkan aku sayang.. Jangan hukum aku terlalu lama lagi.. Aku gak bisa sayang.." Ujar Arif serak seperti menahan tangis yang hampir pecah.


"Lepas dulu lah mas.." Ucap Aima menjawab.


Karena tak tega, Arif pun melepaskan dekapannya.


"Sayang.." Panggil Arif memohon.


"Aku belum mau memaafkan kamu mas.. Kamu taukan kemarin kita pisah dulu dari papa karena apa..? Karena dia mas.." Ujar Aima kesal.


"Susah payah aku menghalau dan berusaha agar tak lagi berurusan dengannya agar kejadian yang sama tak terulang lagi, tapi di belakang aku kamu malah membuat janji konyol sama dia.."


"Gimana aku gak marah coba..? Belum lagi kamu harus mendapat perawatan, dan sekarang kamu lihat gimana aku di mata orang tua kamu.." Ujar Aima mengeluarkan semua yang tertahan di hatinya sepekan ini


Arif menunduk diam. Arif merasa bersalah dan kini baru menyadarinya.


"Kamu dengar kan apa kata papa di ultah kamu kemarin..? tuntaskan kuliah dan hiduplah dengan normal..? Itukan yang papa ucapkan..?" Lanjutnya lagi


"Kamu bukan orang bodoh yang tak mengerti maksud ucapan papa. Apa kamu memang niat kita pisah..? Ayo setelah ini kita urus perceraian kita di depan orang tua kita.." Ucap Aima kelewat kesal.


.


BERSAMBUNG..


TEMAN TEMAN, TERIMA KASIH YA SUDAH MAMPIR LAGI DISINI.. 🙏🙏💖


TERIMA KASIH JUGA YANG SUDAH BANTU SUPPORT DENGAN LIKE DAN VOTE..

__ADS_1


SEMOGA EPISODE BERIKUTNYA AKAN LEBIH SEMANGAT LAGI.. 🙏🙏💖💖💖


__ADS_2