
Karena kesal bercampur amarah, Aima memilih pulang istrahat di rumah. Lagi pun di ruangan perawatan pun tidak tersedia sofa untuknya bisa istrahat disana.
Aima bermaksud menjemput suaminya di pagi besok seperti saran dokter untuk opname malam ini saja.
Ke esokan harinya, Aima sudah siap menjemput sang suami. Sementara Fatur sendiri sudah memarkirkan mobil milik Arif yang di titipkan di cafenya saat kemarin sebelum mereka ke tempat boxing.
Sesampainya di klinik, Aima dengan elegannya masuk menuju kamar perawatan dimana sang suami berada.
Dari luar, Aima dapat mendengar canda tawa yang begitu riuh di dalam kamar pasien.
Dengan kesal karena merasa sang suami masih bisa bisanya happy dengan apa yang sudah dia lakukan hingga mendapat perawatan, membuat Aima mendorong pintu kamar dengan keras.
Kedua lelaki yang sedang asik bercanda itupun sontak terkejut dengan ulah Aima.
"Loh sayang..? Kok marah marah..?" Ucap Arif spontan tanpa sadar menyebut kata sayang.
Andra yang mendengar kata sayang yang du ucapkan Arif sontak menatap keduanya secara bergantian.
"Wahhh romantis juga sahabatku ini. Dan tunggu dulu, tadi dia manggil sayang, artinya mereka memang menjalani pernikahan mereka dengan bahagia meski di jodohkan dong.." Monolog Andra dalam hati.
Sesaat Andra memandang wajah Aima dengan lekat. Ini pertemuan mereka pertama kalinya.
Dan kali ini juga dia di buat terkejut saat dengan seksama meneliti wajah istri dari sahabatnya itu.
"Aini..? Dia Aini.." Batin Andra menatap lekat wajah Aima yang kini berada di depannya.
Rasa tak percaya. Andra masih terus menelisik. Aima memang sekilas memiliki kemiripan wajah dengan sang adik, Aini.
Hanya saja Aini lebih muda dan berhijab. Sedangkan Aima terlihat dewasa dengan penampilannya yang tanpa hijab.
"Masih happy dengan kondisi benyok begini..?" Kesal Aima menatap sang suami
"Masih happy setelah bikin orang khawatir..?" Tambahnya lagi
"Gak gitu sayang. Nanti ya marah marahnya..? Ada teman aku disini, nanti saja di rumah aku jelasin ya.." Ucap Arif lembut, berusaha menenangkan sang istri.
Arif sudah prediksikan akan kemarahan Aima ketika tahu apa yang sudah dia lakukan. Arif pun sudah mempersiapkan diri untuk kemarahan sang istri.
Kesalahannya kemarin bukan hanya satu saja. Selain duel fisik dengan Fatur, juga tidak menjemput sang istri dari kantor juga tanpa kabar.
"Ehk iya sayang. Ini kenalkan teman aku, Andra.. Dia yang bawa aku kesini. Ini klinik mamanya dia.." Ucap Arif mencoba mengalihkan kemarahan sang istri.
Sementara Andra sendiri masih diam di rempatnya dengan pandangan tanpa putus ke arah Aima.
Rasa rindunya pada Aini kini bisa sedikit terobati dengan adanya Aima. Jika saja Aima bukan milik sahabatnya, tentu Andra sudah berhambur memeluk Aima saat itu juga.
__ADS_1
"Saya Andra, temannya Arif, pengaggum adik kamu Aini.." Ucap Andra tanpa sadar dengan mata terus menatap wajah Aima.
Hal itupun tak luput dari perhatian Arif. Mendengar kejujuran Andra tentang rasanya pada Aini, Arif merasa sedikit terusik. Namun dia memilih diam.
"Iya saya Aima.." Ucap Aima datar
Andra tersenyum kecut melihat dinginnya Aima.
"Jadi kamu juga tau kejadian kemarin..? Kalian sudah merencanakan ini sejak kapan..? Seharusnya sebagai teman yang baik, kamu mencegahnya, bukan mendukungnya jika membahayakan nyawanya seperti ini.." Ucap Aima tanpa kontrol.
Sayang.. Sudah sudah, jangan salahkan Andra.. Dia tidak tau apa apa sayang.." Cegah Arif menenangkan sang istri.
"Gak tau apa apa gimana..? Kan dia yang bawa kamu kesini.." Ucap Aima marah.
Arif menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal karena bingung mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskan agar sang istri mengerti.
"Saya yang kemarin meminta Inaya sama Maya meloprkan pada Aima. Saya juga yang mencoba mengulur waktu agar pertemuan mereka gagal. Tapi malah rencana saya yang gagal.." Jelas Andra jujur.
Aima menatap lekat wajah Andra mencari kejujuran atas ucapannya itu.
"Saya menemani dia karena khawatir dia kenapa napa disana. Dan benar saja, keduanya yang memang sama sama memiliki ke ahlian bela diri, terkapar tanpa ada yang menang."
"Saya langsung bawa dia kesini agar lukanya bisa di obati sebelum pulang. Tapi mama saya meminta agar opname satu malam.." Lanjut Andra menjelaskan.
"Administrasinya juga sudah saya bereskan. Tinggal pulang sekarang, tadi juga sudah di periksa sama mama saya.." Imbuhnya lagi.
Jujur saja, Andra merasa iri dan cemburu melihat Arif bisa memiliki hati Aini dan Aima sekaligus.
Akankah Andra bisa berubah pada Arif setelah mengetahui bahwa Aini yang dia sukai kini masih ada dengan versi Aima..? Tidak ada yang tahu.
"Terima kasih.. Maaf tadi saya terbawa emosi.." Ucap Aima tulus.
Andra hanya bisa mengangguk menerima maaf Aima. Perasaannya masih menerawang pada Aini yang kini hadir di depannya dengan penampilan yang berbeda.
"Habiskan sarapan kamu dan kita pulang.." Ucap Aini datar menatap sang suami.
Arif tercengang melihat sikap Aima yang dingin seperti awal mereka bertemu dulu.
"Kenapa bengong aja..? Cepat habiskan.." Ujar Aima memerintah
"Aku sudah kenyang.. Kita boleh pulang sekarang kok.. " Jawab Arif tersenyum mengalah.
"Yasudah sekarang ganti baju kamu, ni aku sudah bawakan.." Ucap Aima memberikan paper bag berisi pakaian Arif yang siapkannya dari rumah. Arif mengangguk tersenyum.
"Mobil kamu di depan gimana..?" Tanya Andra mentapa Arif.
__ADS_1
Hatinya berharap Arif maupun Aima memintanya mengantarkannya hingga ke rumah Aima.
Dan benar saja, Arif meminta tolong padanya untuk itu. Dengan senang hati Andra mengiyakan.
***
Hari ini pak Malik dan bu Nana, Ayah dan Ibunya Arif sudah tiba di rumah mereka.
Kejadian yang menimpah sang anak sama sekali tidak mereka ketahui.
Dan rencananya mereka sengaja pulang tanpa kabar untuk memberi kejutan pada sang anak tepat di hari ultahnya malam nanti.
Sementara Arif maupun Aima sendiri sengaja tidak memberi tahu pak Malik dan hu Nana karena tidak ingin membuat mereka khawatir.
Jika mereka tahu Arif berduel dengan dosen mereka hanya karena Aima lagi, orang tua Arif akan memisahkan mereka lagi seperti waktu itu.
Entah seperti apa nanti ketika orang tua Arif tahu kondisi sang anak. Meski kini memar di wajahnya mulai memudar, namun sakit di sekujur tubuhnya belum sembuh total.
Terlebih bagian perut yang sering mendapat serangan dari tenaga dalam Fatur.
Fatur sendiri juga tak kalah tragisnya seperti kondisi Arif. Meski wajahnya tak seperti Arif, namun tenaga dalam Arif yang lebih unggul mampu membuat tubuhnya tak berdaya.
Bahkan bagian perutnya masih terasa sakit dan sulit bergerak.
Tak berselang lama, Arif kini sudah berada di dalam mobil yang di kendarai oleh Aima.
Sesekali Arif melirik ke arah sang istri yang berada di balik kemudinya. Dingin dan tanpa ekspresi. Itulah yang terlihat di diri Aima saat ini.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di depan rumah orang tua Aima. Dimana Arif dan Aima tinggal bersama.
"Mereka tinggal di rumah orang tua Aima ternyata.." Gumam Andra di balik kemudi memperhatikan rumah mewah yang berada di depannya.
"Aini, aku merasa kamu hidup kembali sekarang.. Kamu dan kakakmu sungguh sangat mirip meski memiliki penampilan yang berbeda.." Gumamnya lagi.
Dari arah depan, Andra dapat melihat Arif yang turun dari mobil di papah oleh Aima.
Hatinya melongos melihat pemandangan di depannya yang terlihat romantis di matanya. Andra tidak tahu kalau Aima disana sedang mencubit lengan Arif karena kesal.
Ringisan Arif yang terlihat oleh Andra bukanlah ringisan kesakitan dari lukanya. Tapi akibat lampiasan kekesalan Aima.
.
BERSAMBUNG..
HAYY TEMAN TEMAN, MAKASIH YANG SUDAH MENUNGGU DAN SUDAH SELESAI BACA EPISODE INI.. 🙏🙏💖
MINTA DUKUNGANNYA DARI TEMAN TEMAN DENGAN BANTU LIKE DAN VOTE YA.. 🙏🙏💖
SEMOGA EPISODE BERIKUTNYA AKAN LEBIH MENARIK LAGI.. 💖💖💖
__ADS_1