
Arif hanya tersenyum menanggapi tingkah Mila.
“Bang Arif kami duluan ya..” Pamit Mila dengan gaya centilnya.
"Iya hati hati.." Jawab Arif tersenyum.
“Uuuh manis sekali senyumnya..” Ucap Inaya menatap Arif yang di tanggapi gelengan kepala oleh Arif.
Rani langsung menarik tangan Inaya dan pergi meninggalkan area parkiran rumah sakit.
Arif terbahak melihat tingkah dari sahabat Aini yang selalu mengundang gelak tawa di setiap mereka bertemu. Dan semua itu tak luput dari pandangan Aima.
"Ada ada aja" Gumam Arif menatap ketiganya yang sudah semakin menjauh.
“Genit juga kamu ternyata" ketus Aima sengaja menabrak lengan Arif dan melewatinya.
Arif mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Aima. Sejurus kemudian dia berlari mengejar Aima sebelum Aima semakin jauh.
“Bukan begitu kak.. Saya gak ada niat genit atau apapun itu.. Maaf kak kalo tadi salah..” jelas Arif, dia khawatir Aima mengadukannya ke Aini.
Namun Aima tak merespon ucapan Arif tersebut. Membuat Arif merasa tidak enak hati.
Di ruangan rawat Aini, Aini membahas banyak hal kepada orang tuanya. Termasuk keinginannya soal lamaran Arif tiga hari lalu yang belum di jawab olehnya.
Aini mencoba meyakinkan kedua orang tuanya dengan keputusannya. Apa yang dia putuskan itu sudah tepat untuknya dan keluarganya.
“Ini sudah yang terbaik pa, ma..” ucap Aini meyakinkan pak Samsul dan bu Ineke.
“Aini akan sangat bahagia jika papa sama mama mau mengabulkan permintaan Aini. Ini permintaan Aini yang terkahir..” Lanjutnya
"Kamu bicara apa si sayang..? Kamu pasti akan sembuh.." Ucap bu Ineke sedih.
Aini tersenyum menatap sang Ibu. Di raihnya tangan bu Ineke kedalam genggamannya.
“ Aini juga ingin.. Tapi jika ternyata tidak, maka Ini adalah permintaan Aini yang terakhir ma, pa."
__ADS_1
"Aini gak akan meminta apa-apa lagi dari mama dan papa selain ini..” lanjut Aini lagi terus memohon meski dengan suara pelan karena kondisinya yang terus melemah.
Melihat keinginan anaknya yang tidak ingin di tolak, pak Samsul dan bu Ineke saling pandang satu sama lain.
Bu Ineke tak bisa lagi menahan air matanya. Dengan tangis yang terisak, bu Ineke menggangukan kepalanya ketika pak Samsul memandangnya meminta pendapat lewat isyarat matanya.
Pak Samsul menarik nafas dan menghebuskannya pelan.
“Jika kakakmu setuju, maka kami selaku orang tua juga akan merestuinya.. Papa sama mama gak bisa mengambil keputusan secara sepihak sayang.. Semua gimana kakak kamu..” Jawab pak Samsul pada akhirnya.
"Iya pa.. Kakak sudah setuju.." Jawab Aini.
“Papa belum bisa mengambil keputusan apapun sebelum papa mendengar langsung apa pendapat kakakmu soal ini sayang..” Tegas pak Samsul.
“Soal apa pa..?” celetuk Aima dari arah pintu masuk.
Aima sengaja tak mengetuk pintu sebelum masuk. Karena sudah tahu akan ada bahasan soal lamaran Arif ke adiknya siang ini ketika orang tuanya datang.
Dan benar saja. Dia tidak sengaja mendengar pembahasan mereka dari balik pintu.
Dia pun berhak tahu selain dari Aima.
“Eh nak Arif.. Aima..” Ucap Ineke kaget akan kedatangan mereka secara tiba tiba.
“Assalamualaikum tante, om..” Sapa Arif menunduk sopan.
Sementara Aima langsung masuk menghampiri orang tuanya dan Aini.
“ Waalaikumsalam.. Mari masuk..” ucap pak Samsul
“Nak Arif, Aima, berhubung kalian sudah ada disini, ada yang mau papa sama mama bahas sama kalian..” Tutur pak Samsul setelah mereka duduk di sofa dalam ruangan kamar rawat Aini.
Arif mengangguk pelan. Arif begitu penasaran perihal apa yang akan mereka bahas yang ikut melibatkan dirinya, sebab dia bukan bagian dari keluarga mereka.
Sedangkan Aima, dia sudah bisa menebak. Maka itulah dia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan santai.
__ADS_1
“Begini Nak Arif.. Soal lamaran kamu berapa hari yang lalu pada anak kami Aini, hari ini Aini sudah memberikan jawabannya..” Ucap pak Samsul
“Apapun keputusan Aini, kami harap nak Arif mau menerimanya dengan ikhlas..” Timpal bu Ineke menambahi.
Arif terlihat semakin penasaran
“Apa nak Arif mencintai anak kami Aini..?” tanya Ineke memastikan.
“Iya tante.. Sudah lama saya mempunyai perasaan pada Aini. Cuma saya pendam aja selama ini karena saya merasa tidak pantas karena saya banyak kekurangannya tante..” Jawab Arif sopan.
Bu Ineke menoleh menatap wajah pak Samsul mendengar jawaban dari Arif.
“Nak Arif, jika benar nak Arif mencintai Aini dengan tulus, Apa nak Arif mau menerima apa yang akan menjadi keputusannya..?” Tanya pak Samsul menatap wajah Arif serius.
Arif menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan.
“Insya Allah, saya akan berusaha sebisa yang saya mampu..” jawab Arif gugup.
Pak Samsul akhirnya bisa bernafas lega. Begitupun dengan bu Ineke.
“Nak, apa adikmu sudah menyampaikan sesuatu sama kamu..?” Tanya pak Samsul menatap Aima yang duduk di samping Ineke ibunya.
Aima mengangguk lemah dengan menundukan kepalanya. Ini sangat sulit baginya.
Dulu dia punya impian bisa menikah dengan kekasih hatinya tepat di hari tunangan adiknya.
Karena dia mau merasakan hari bahagianya dan hari bahagia adiknya secara bersamaan.
Sebuah impian yang sederhana baginya. Namun apa dikata, semua tak akan terlaksana seperti yang dia impikan. Pupus sudah harapannya saat itu juga.
“Bagaimana nak, apa kamu setuju..?” Tanya bu Ineke dengan lembut.
“Kak Aima sudah setuju ma..” Jawab Aini yang sejak tadi greget dengan diamnya Aima.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN YANG SUDAH MAMPIR DAN MEMBERIKAN DUKUNGANNYA JUGA.. 😇🙏🙏💞💞💞**