
Sebetulnya, persiapan pernikahan antara Aima dan Arif sudah siap sejak 40 hari kepergian Aini.
Namun karena Aima tiba-tiba pergi keluar negeri tanpa kabar berita, maka terpaksa keluarganya mengatur lagi jadwal pernikahannya dalam waktu yang belum bisa di tentukan.
Dan hari ini tepat setelah empat hari berlalu sejak kepulangan Aima di rumah orang tuanya, pernikahan pun kembali di jadwalkan.
Namun Aima meminta syarat kepada kedua orang tuanya dan pihak Arif. Dia hanya ingin menikah siri tanpa ada tamu dari pihak mana pun termasuk keluarga jauh mereka.
Aima hanya mau di hadiri keluarga inti saja.
"Ya gak bisa begitu juga dong sayang.. Kita ini keluarga besar, dan kamu anak mama sama papa satu satunya, Arif juga demikian hanya anak tunggal.. Mana bisa seperti itu sayang.." Protes bu Ineke pada Aima namun dengan nada lembut.
"Ma.. Tolonglah ma, ini keputusan ku.. Aku minta semua yang ada disini untuk menghargai keputusanku ini.." Ucap Aima menatap semua yang ada di ruang tamu itu secara bergantian.
Arif dan kedua orang tuanya hanya diam tanpa niat menanggapi. Mereka menerima keputusan apa saja, gimana inginnya Aima dan orang tuanya.
Sebelumnya Arif juga sudah mengutarakan niatnya untuk membatalkan rencana pernikahan antara dia dan Aima, namun di cegah oleh pak Samsul dan bu Ineke.
Mereka tetap ingin mewujudkan permintaan Aini yang tetakhir untuk menikahkan Aima dan Arif seperti inginnya.
Sebab mereka juga merasa bersalah atas kepeegian Aini yang sebelumnya drop karena bertengkar dengan sang anak.
Terpaksa kedua belah pihak menyetujui syarat yang Aima minta. Mereka mengerti bahwa Aima belum menerima pernikahan ini sepenuhnya.
Arif hanya bisa menatap Aima dengan diam.
***
Hari ini adalah hari dimana pernikahan antara Arif dan Aima akan di gelar.
Menjelang pernikahan yang tinggal beberapa menit lagi, Arif yang awalnya mengendarai motornya sendiri sedangkan orang tuanya sudah lebih dulu berangkat, belum juga nampak kehadirannya.
Raut wajah khawatir terlihat jelas di kedua wajah bu Nana dan pak Malik. Mereka saling lirik menanyakan dimana anaknya saat ini dengan isyarat mata.
Sementara di suatu tempat, Arif sedang mencurahkan semua isi hatinya sebelim dirinya resmi menjadi suami Aima.
“Hari ini aku menikahi kakakmu, hari ini aku akan menjadi milik orang lain dan itu bukan kamu sayang.." Lirihnya.
"Aku terima semua keputusanmu dalam hidup ku.. Akan aku lakukan sesuai permintaanmu, menjaga dan menerima kakakmu sebagai istri dalam hidupku..” Ucap Arif di depan makam Aini.
Arif sengaja ziarah ke makam Aini terlebih dahulu sebelum dia sah menjadi suami Aima, kakak dari kekasihnya Aini yang kini telah tiada.
Dia berniat meminta restu Aini meski pernikahan ini adalah kehendak dari Aini sendiri.
__ADS_1
“Kamu akan selalu ada di hatiku, sampai kapanpun.. Aku hanya akan melanjutkan hidup ku Aini. Dan aku senang karna kamu yang menuntun jalan kemana aku harus berlabuh. Maafkan aku jika aku ada salah. Aku mencintaimu Aini..” Ucapnya lagi dengan lirih
Lama Arif bersimpuh di makan Aini. Hingga akhirnya dia sadar dirinya sudah di tunggui oleh keluarga di hari pernikahannya.
Seusai memanjatkan Doa setelah mencurahkan isi hatinya, Arif akhirnya meninggalkan makam Aini menuju kediaman pak Samsul untuk menunaikan janji pernikahannya dan Aima di gelar.
Semua yang hadir di ruangan tempat menggelar ijab qobul antara Arif dan Aima cemas menunggu Arif yang belum juga hadir.
Pak Malik dan bu Nana terus mengucapkan kata maaf kepada orang tua Aima dan pak penghulu. Mereka merasa tidak enak hati karena ulah anaknya itu.
“Ternyata dia sengaja mempermainkan aku dan keluargaku.. Lihat saja nanti..” Gumam Aima dengan penuh kemarahan dalam hatinya.
“Assalamualaikum..” Dan akhirnya Arif muncul di ambang pintu masuk.
"Maaf menunggu lama." Ucapnya lagi
Arif kemudin langsung bergegas masuk dan salim pada orang tuanya serta seluruh anggota keluarga Aima yang hadir dan meminta maaf atas keterlambatannya.
Aima yang pura pura tersenyum manis saat penghulu menggodanya bahwa pangerannya sudah hadir, untuk mengelabui penghulu dan saksi yang keluarga dari Arif.
"Masya Allah betapa cantiknya dia berhijab.. Persis wajah Aini.. Apakah kamu hadir disini hari ini..?" Gumam Arif dalam hati menatap Aima
Setelah semua syarat telah di penuhi, penghulu mulai membaca Doa khutba dan dilanjutkan dengan proses ijab qobul oleh pak Samsul Ayah dari Aima.
Dengan lugas dan tegas Arif mengucapkan qobul di depan Ayah Aima dan para saksi yang hadir di ruangan tersebut.
“SAH..” Serentak yang hadir mengumandangkan kata sah, tanda ijab qabul berjalan dengan baik seperti yang di harapkan.
Tanpa terasa air mata Arif jatuh menetes di pipinya karena teringat akan senyum Aini.
Sedangkan Aima, hatinya terasa sakit namun ia berusaha ikhlas dengan pernikahan yang tidak ia inginkan ini.
"Dek, sayang.. Kakak sudah mengabulkan keinginanmu.. Maafkan aku yang sebenarnya tidak menginginkan ini, tapi kakak sayang sama kamu.. Semoga kamu bahagia di atas sana.." Gumam Aima dalam hati mengingat sang adik yang telah tiada.
“Baiklah pak Malik, pak Samsul, saya permisi dulu.. Masih ada acara lagi yang harus saya selesaikan hari ini..” Pamit pak penghulu depan pintu setelah semua rangkaian acara selesai.
“Iya pak Ustadz, terima kasih banyak untuk hari ini..” Ucap pak Samsul tulus.
“Sama sama pak Samsul.. Mari pak Malik..” Pamit pak ustadz melangkah keluar menuju kendaraannya yang terpakir di halaman rumah pak Samsul.
Namun pak Ustadz kembali menghampiri tuan hajat yang masih berdiri di teras rumah itu.
“Oh iya pak Samsul, pak Malik, maaf saya melupakan sesuatu..” Tutur pak ustadz tersenyum.
__ADS_1
“Ada apa pak ustadz..?” Tanya pak Samsul dan pak malik hampir bersamaan.
“Apa saya bisa bertemu dengan Arif sebentar pak..?” Pinta pak ustadz.
Pak Malik mengerutkan alisnya menatap pak uatadz tersebut.
“Baiklah pak ustadz.. Sebentar, biar saya panggilkan dulu..” Jawab pak Malik berlalu.
Sesaat kemudian, Arif dan pak Malik berjalan beriringan menghampiri pak ustadz yang menunggu di depan rumah Aima.
“Ada yang bisa saya bantu pak ustadz..?” Tanya Arif sopan.
“Ini buku untuk kamu, boleh kamu kembalikan setelah kamu selesai membacanya. Buku ini banyak sekali nasehat- nasehat untuk berumah tangga." Ucap pak Ustazh
"Kamu sebagai imam, harus banyak belajar.. Bukan saya meragukan, tapi tidak ada salahnya membacanya..”. Jelas pak ustadz panjang lebar sambil memberikan buku yang dia tulis sendiri.
Arif dan pak Malik mau pun pak Samsul saling tatap karena merasa heran dengan perhatian yang di berikan oleh pak ustadz tersebut.
“Terima kasih pak ustadz.. Insya Allah akan saya pelajari dan amalkan nasehat-nasehatnya..” Jawab Arif dengan sopan sembari menerima buku pemberian pak ustadzh.
Pak ustadz tersenyum senang dengan penerimaan Arif.
“Baiklah, saya permisi dulu.. Assalamualaikum” pamit pak ustadz pada ketiganya kemudian.
“Waalaikumsalam” Jawab ketiganya dengan serentak.
“Ayo masuk..” Ajak pak Samsul kemudian.
Setelah kedua orang tua Arif pulang ke rumahnya, kakek dan nenek Aima pun masuk ke kamar untuk beristirahat.
Di ruang tengah, hanya tinggal Arif dan kedua orang tua Aima yang masih asik berbincang bincang tentang keseharian Arif.
Mereka sejujurnya belum banyak mengetahui kehidupan dan keseharian dari anak menantu mereka itu. Sehingga mereka cukup lama terlibat dalam obrolan.
Sedangkan Aima, sejak ijab qabul selesai ia sudah tidak terlihat lagi berada di tengah tengah keluarganya.
“Nak Arif, papa harap kamu bisa menjadi suami yang bisa mengayomi Aima, membimbing Aima dalam segalah hal juga..” Tutur pak Samsul berharap.
“Papa tau kamu lebih muda dari Aima. Tapi kamu sekarang sudah menjadi seorang suami, seorang imam.. Kamu adalah nahkoda dalam rumah tangga kamu.. Kemana kamu membawa arah rumah tanggamu itu semua ada di tanganmu..”
“Tanggung jawab papa sebagai Ayah dari Aima, sekarang sudah papa limpahkan ke pundakmu.. Kamu harus sabar jika ada sikap Aima yang tidak berkenan di hati kamu."
"Kalian masih banyak waktu untuk saling mengenal, berusahalah.." Sambung pak Samsul lagi memberikan nasehat pada menantunya itu
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR MEMBACA.. 🙏🙏💞
__ADS_1
DAN TERIMA KASIH JUGA ATAS BENTUK DUKUNGANNYA DARI TEMAN TEMAN SEKALIAN.. 🙏🙏😇💞💞**