
Keesokan harinya, mereka tengah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi.
Kali ini tidak ada drama dramaan seperti pagi mereka sebelumnya.
Arif yang sudah rapi dengan pakaian casual, serta kacamata silindernya terlihat begitu tampan.
Rencananya hari ini Arif menghadiri acara temannya setelah dari kampus.
"Coba rambutnya jangan rapi rapi amat kalau pake kacamata.. Biar gak terlihat begitu culun.." Ucap Aima sambil mengacak rambut Arif asal.
Pak Samsul dan bu Ineke saling lirik melihat tingkah keduanya yang seperti anak remaja yang baru pacaran.
Mereka berharap, hubungan keduanya harmonis dan bisa saling menerima satu sama lain.
"Nahh kalau begini kan masih enak liatnya.." Ujar Aima membuat Arif menunduk malu.
Pasalnya Aima bertingka tepat di depan kedua orang tuanya.
"Rif, nanti kamu ikut kerja di tempat papa ya..? Bantu papa disana. Papa udah mulai tua, udah capek ngurus hotel sendirian.." Ucap pak Samsul di sela sela sarapan mereka.
Arif melirik ke arah Aima mendengar permintaan Ayah mertuanya itu. Aima terlihat biasa saja dan tetap fokus dengan sarapan.
"Kalau aku iyakan, gimana dengan Aima..? Mana udah sepakat lagi aku pulang ke rumah.." Monolog Arif dalam hati.
"Mmm, Iya pa tapi nanti dulu ya pa..? Aku lagi ada tugas yang harus aku selesaikan dulu minggu ini." Ujar Arif sungkan.
" ini juga sekalian mau izin, mau nginap dulu di rumah mama seminggu.." Ucap Arif sedikit was was, takut jika mertuanya curiga.
Dan benar saja, kedua mertuanya sontak menatap Aima yang sejak tadi terlihat cuek dengan pembahasan mereka.
Aima yang menyadari itu, menatap balik orang tuanya secara bergantian.
"Kenapa mama sama papa menatap aku kayak gitu..?" Tanya Aima melirik ke arah Arif sekilas.
"Apa ada yang kalian sembunyikan dari kami..?" Tanya bu Ineke menyelidik.
"Ma, Arif itu mau nginep karena dia ada tugas kampus sama teman temannya. Jadi gak mungkin teman temannya nginep disini buat ngerjain tugas bareng bareng kan..?" Ujar Aima menatap sang Ibu menutupi kecurigaan Ibunya.
Arif sedikit lega mendengar ucapan Aima. acting yang sangat bagus menurut Arif.
Pak Samsul dan bu Ineke saling menoleh memdengar penjelasan Aima.
"Tanya aja orangnya kalau gak percaya." Ucapnya lagi karena mendapat tatapan tak percaya dari sang Ibu.
"Iya ma, Aima benar." Ucap Arif menimpali kebohongan sang istri.
Arif terpaksa mengajak sang istri berbohong demi menutupi pertengkaran mereka di depan orang mertuanya.
Bukan tanpa alasan. Banyak alasan di balik semua itu. Salah satunya menghindari kemarahan dan kesedihan mertuanya pada sang istri.
Setidaknya, Arif ingin memberi ruang pada Aima. Agar mereka saling memperbaiki diri dan menyadari peran mereka masing masing untuk kedepannya.
Akhirnya pak Samsul maupun bu Ineke menyetujui Arif nginap di rumah orang tuanya karena penjelasan Aima cukup bisa mereka terima.
Aima menarik nafas lega melirik ke arah Arif yang menunduk diam. Mungkin merasa tak enak harus berbohong segala.
***
"Ndra, bagi tugas yang kemarin dong.. Aku udah sempat ngerjain tapi tugasku ketinggalan di rumah ist.." Ucap Arif menggantung ucapannya yang hampir keceplosan menyebut kata istri depan Andra.
__ADS_1
Andra yang melihat gelagat aneh Arif setelah menggantung ucapannya membuat Arif semakin was was.
"Di rumah istanaku.. Aku males balik lagi cuma buat ngambil tugas yang ketinggalan.." Ucapnya meralat ucapannya agar tidak ketahuan oleh sahabatnya itu.
"Mceehhh dasar otak ecer.. Ini namanya peledekan buat aku tau.." Celetuk Andra mencebik.
"Peledekan gimana maksudnya?" Tanya Arif serius.
"Kamu hanya minta soal, terus mau ngerjain tugasnya dadakan gini. Lah aku, udah dua hari tau ngerjainnya belum tentu benar ini." Jelas Andra kesal.
"Iya mau gimana lagi.. Masa iya aku mendustakan nikmat Allah yang sudah memberi kemampuan ini..? Kan gak mungkin.." Jawab Arif tergelak menepuk lengan Andra begitu keras, membuat Andra mengadu kesakitan.
"Ni, sekalian juga buat aku.. Aku belum sempat nyelesainnya gara gara semalam si tuan putriku ngambek gak di apelin kemarin.." Ucap Andra beralasan.
"Hhmmm sudah ku duga.." Celetuk Arif.
"Makan nya gak usah banyak pacaran.. Nikah sana biar tinggal serumah, gak ada alasan lagi ngulur waktu buat ngerjain tugas.." Celetuk Arif
"Hampir tiap tugas gak kamu kerjakan dengan alasan yang aneh aneh.." Sambungnya lagi.
Arif sudah tahu watak sahabatnya itu. Ada saja alasan yang di buatnya.
Hampir setiap tugas yang terbilang rumit, Andra selalu bergantung pada Arif. Meski Arif tidak pernah merasa keberatan.
Arif kuliah di kampus ternama itu karena beasiswa berprestasi. Bahkan karena kejeniusannya itu, membawanya mendapat beasiswa melanjutkan S2 ke negara luar.
Namun imbalannya adalah dia harus kembali mengabdi di kampus asalnya sebagai dosen disana.
Sementara saat ini, Arif yang sudah menikah, merasa harus memikirkannya lagi kedepannya seperti apa nanti kelanjutan pendidikannya itu.
Di rumah, Aima yang sedang malas masuk kantor, tengah bersantai di ruang keluarga dengan membaca novel dari penulis favoritenya.
"Sayang.."
Aima terkejut mendengar suara bariton yang begitu dia kenal tengah memanggilnya dari arah belakangnya.
Dengan pelan dia menutup buku novel yang berada di tangannya dan perlahan membalikan badannya menatap ke arah suara tadi berada.
Aima tersentak tak percaya sosok yang selama ini dia rindukan kini berada di rumahnya bahkan sedang menyapanya.
Aima berjalan maju menghampiri sosok yang dia rindukan itu.
"Kak Fatur..?" Aima masih tidak percaya Fatur kini berada di rumahnya lebih tepatnya berada di depannya.
"Haii.. Apa kabar sayang..?" Sapa Fatur dengan lembut.
Aima yang awalnya merasa bahagia melihat orang yang dia rindukan kini berada di hadapannya, tiba tiba menghentikan langkahnya saat menyadari bahwa kini dia sudah sah menjadi seorang istri dari Arif. Lelaki pilihan adiknya sendiri.
Fatur yang melihat perubahan Aima yang biasanya suka memeluknya ketika mereka tidak bertemu dalam waktu lama karena kesibukan masing masing, mengerutkan keningnya bingung.
"Kak Fatur kemana aja selama ini..? Kenapa telephone ku gak pernah di angkat, pesan yang aku kirim juga kenapa gak ada satu pun yang kakak balas..? " Ucap Aima menatap Fatur dengan amarah tertahan.
Sungguh hatinya begitu kesal. Sebab karena Fatur yang tak ada kabar itulah yang membuat dirinya dilema menentukan arah hidupnya.
Dengan ketidak pastian Fatur lah yang membuatnya harus menerima pernikahan.
__ADS_1
"Maaf sayang.. Aku sibuk sampe gak sempat balas pesan kamu.. Aku sudah menghubungi kamu berkali kali tapi nomor handphone mu gak aktif.." Jawab Fatur beralasan.
"Sibuk? hanya karena sibuk? terus apa kabar dengan aku yang juga sangat sibuk tapi masih bisa memberi kabar pada kak Fatur. " Sarkas Aima kesal.
"Kak Fatur pikir hanya kak Fatur saja yang mempunyai kesibukan? " Lanjutnya lagi
"Jangan beralasan. Pesan ku bahkan sudah berhari hari, masa gak ada semenit pun kak Fatur sekedar membalas sepata dua kata. Alasan klasik." Lanjut Aima
Aima memang memblokir nomor handphone milik Fatur sejak dia menikah. Kekecewaan yang dia rasakan pada Fatur kekasihnya itu membuatnya menutup semua akses Fatur.
"Kakak tau dari mana aku disini..?" Tanya Aima masih dengan nada amarah.
"Aku sudah ke rumah kakekmu, dan kata mereka kamu sedang nginap disini di rumah orang tuamu.. Makanya aku kesini.." Jelas Fatur
"Kakak mau apa kesini..?" Tanyanya lagi belum puas.
"Aku kesini mau ketemu kamu. Aku minta maaf sudah terlampau sibuk dan mengabaikanmu." Ujar Fatur lembut.
Fatur mencoba merai tangan Aima dan membawa dalam genggamannya.
"Nanti malam, aku mau ngajak kamu dinner atau nonton seperti biasa. Kamu mau kan? " Ucap Faturn berharap.
Aima menatap manik mata Fatur tanpa berniat menjawab.
" Sayang..? Mau kan..?" Ulangnya lagi
Aima menarik tangannya dari genggaman Fatur dengan pelan.
"Maaf kak, aku gak bisa.." Jawab Aima menatap ke arah lain.
Ingin rasanya dia menerima ajakan Fatur kekasih yang di cintainya itu. Namun di lain sisi dia sadar bahwa kini dia sudah menjadi istri orang lain.
"Kenapa sayang..? Kenapa gak bisa..?" Tanya Fatur mengerutkan keningnya menatap wajah Aima.
Aima tidak berniat menjawab pertanyaan Fatur. Tidak sanggup baginya membahas pernikahanya pada kekasih yang di cintainya itu.
Terlebih pernikahan yang dia jalani adalah pernikahan yang terpaksa dia terima karena permintaan terakhir dari mendiang adiknya.
"Maaf kak. Kakak pulang aja. Aku gak enak nanti sama mama dan papa karena ada kamu disini saat mereka gak ada di rumah." Ucap Aima beralasan.
Saat Aima membalikan badan menuju kamarnya menghindari Fatur, tangannya di cekal oleh Fatur begitu erat.
Membuat Aima memekik kesakitan.
"Kakak ihh sakit. Apaan sih..?" Kesal Aima
"Kak Fatur silakan pulang.. Aku pengen sendiri.. Dan kak Fatur aku minta tolong jangan datang lagi ke rumah ini.. Kalau mau ketemu, kita bisa ketemu di luar saja.." Tutur Aima menatap wajah Fatur.
Jelas Aima tidak ingin orang tuanya tahu kehadiran Fatur di rumahnya. Dia juga tidak mau Arif dan Fatur sampai bertemu di rumahnya.
Bisa perang dunia pikirnya dan kesehariannya tidak merasa damai.
Saat ini yang dia inginkan adalah ketenangan hatinya yang masih sangat kehilangan adik satu satunya.
Aima juga ingin menjaga perasaan Arif yang sejak beberapa hari terakhir sudah mulai membuatnya nyaman berada di sisinya.
"Sayang.. Kamu sebenarnya kenapa..? Apa kamu begitu marah sama aku..? Aku minta maaf kalau soal itu, aku juga ingin memperbaikinya sayang.." Ucap Fatur mulai frustasi melihat sikap Aima yang berbeda kali ini.
__ADS_1
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA NOVEL SAYA INI.. TERIMA KASIH JUGA BAGI TEMAN TEMAN YANG SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGANNYA.. 😇🙏🙏🙏💞💞**