
Dari kamar, terdengar sayup sayup suara nyanyian lagu kabayan dari pak Malik serta gelak tawa dari Arif.
Aima begitu tersentuh mendengar kedekatan anak dan Ayah yang begitu hangat di pagi hari.
Tak jarang juga terdengar suara Arif membenarkan syair yang salah, membuat bibir Aima terangkat membentuk senyum.
"Nak, semuanya sudah siap.. Ayo buruan, keburu siang.." Terdengar suara pak Malik memanggil Arif untuk segera berangkat.
Aima yang penasaran akan aktivitas Arif dan orang tua suaminya itu di kebun seperti apa, bergegas beranjak dari tempat tidurnya.
Namun sejenak dia berhenti saat mendengar namanya di sebut.
"Nak, istrinya siapa yang nemanin disini..? Kan mama juga mau ke ladang..?" Bu Nana yang membawa rantang berisi sarapan untuk suami dan anaknya, bingung menatap sang anak.
"Istriku itu bukan anak kecil ma.. Ini juga siang hari, dia gak akan kenapa napa disini.. Nanti aku balik lagi setelah nganter mama sama papa.. Mama tenang aja.." Ucap Arif tersenyum meyakinkan bu Nana.
"Tapi dia itu perempuan Arif.. Dia juga gak tau wilayah sini.. Apa kamu gak takut istrinya di apelin perjaka di wilayah disini..? Pak Malik yang sedang siap naik ke mobil pick up, masih dengan santainya menggoda Arif.
Arif tergelak mendengar candaan sang Ayah. Bu Nana pun juga ikut tertawa mendengar sang suami yang selalu suka menggoda anaknya.
Aima yang masih bisa mendengar dengan jelas obrolan suami dan mertuanya dari kamar, tersenyum hangat.
Dia tidak menyangka, kesederhanaan yang di miliki keluarga suaminya itu membuatnya nyaman.
***
" Ya Allah ya Rabb..
Jika dia, suamiku, adalah jodohku yang telah Engkau tetapkan untukku..
Membimbingku, menuntunku dalam kebajikan, maka mantapkanlah hati ini untuknya ya Allah..
Berilah hati gelap ini cahaya yang indah seperti indahnya langit malam yang bertabur cahaya bintang bintang..
Berilah hati ini kesejukan bak embun di pagi hari dengan pancaran sinar mentari..
Agar aku dapat merasakan, betapa beruntungnya hidup ini karena kehadirannya..
Iya dia, dia suami pilihan adik yang paling ku cinta. "
__ADS_1
"Disini rupanya.. Aku cariin dari tadi, kirain ilang di apelin orang.." Aima terkejut mendengar celotehan tiba tiba Arif.
"Mmceehhh ada ada aja kamu." Cebik Aima.
"Disini dingin, gak baik untuk kesehatanmu.. " Ucap Arif lembut.
"Aku pengen disini dulu. Kalau mau istrahat, duluan aja. Bentar lagi aku nyusul.." Aima menjawabnya dengan nada datar, membuat Arif tersenyum simpul.
"Besok kita pulang ya..?" Ucap Arif.
Aima tersentak kaget mendengar ucapan suaminya.
"Emangnya kenapa..? Katanya seminggu, kok baru sehari udah mau balik..?" Aima sedikit protes dengan keputusan Arif yang mengajaknya pulang.
"Aku liat kamu gak nyaman disini.. Seperti sekarang ini, duduk dan melamun disini seorang diri.." Jawab Arif menatap lembut wajah Aima.
"Ngaco.. Aku disini bukan karena gak nyaman.. Aku disini karena suka dengan suasana malam yang indah ini.." Sarkas Aima
"Suara burung burung malam, langit bertabur bintang.. Indah, damai rasanya.." Ucap Aima menoleh ke arah Arif yang sedang menatapnya.
"Mas.. Apa mas gak menyesal menikah denganku..?" Pertanyaan Aima membuat Arif terkejut.
Dia tidak menyangka Aima akan menanyakan hal yang sama sekali tidak terlintas di benaknya.
"Apa yang mas Arif inginkan dari pernikahan ini..?" Lanjutnya lagi.
"Aima.. " Arif bingung harus menjawab apa.
Di lain sisi, Arif ingin menjawab apa yang ada di dalam hatinya dengan jujur, namun takut Aima salah arti.
Di lain sisi, jika dia menjawab dengan kebohongan, dia takut Aima kecewa.
"Jika aku bertanya demikian pada kamu, jawaban apa yang akan kamu katakan..?" Arif memilih membalikan pertanyaan Aima untuk menghindari kemungkinan yang akan terjadi dari jawabannya.
Memilih tidak menjawab, adalah lebih baik menurutnya.
"Aku ingin tau sesuai hati mas.. Aku ingin tau, bukan ingin memberi tau.." Sarkas Aima mendelik.
Arif menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Sesaat Arif ragu. Arif menatap Aima dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
Bismillah ucapnya dalam hati memantapkan diri.
"Aima.. Jika aku menyesal, tidak mungkin aku bertahan sejauh ini.. Aku menikahimu bukan semata karena janjiku pada Aini." Tutur Arif menatap wajah Aima.
"Tapi karena ingin mendapat ridha Illahi. Aku menerimamu sebagai istriku Lillahi ta'ala.." Arif mengungkapkan isi perasaannya yang selama ini dia pendam.
Dia tidak peduli lagi akan tanggapan yang akan di tunjukan Aima kepadanya setelah ini. Itu resiko.
"Aku pernah meminta dalam sujudku di sepertiga malam, agar Allah meridhai niatku untuk membangun rumah tangga ini dengan penuh kesyukuran." Lanjutnya lagi.
"Aku bersyukur Aini menjodohkan aku dengan kakaknya.. Aini benar, kakak yang dia sayangi ini butuh pelindung, butuh teman, sahabat, dan harus di hargai.." Aima menatap lekat kedua mata Arif.
"Jika aku tidak mau..? Jika aku menolak dan memilih pergi dari peenikahan ini, apa yang kamu lakukan..?" Arif tidak terkejut dengan pertanyaan Aima.
Dia sudah menyiapkan hati untuk segala kemungkinan seperti ini. Arif tahu bahwa Aima tidak mudah di luluhkan.
Dia juga tahu bahwa Aima memiliki kekasih yang di cintainya sebelum dia menikah dengannya.
Fatur. Dia adalah dosen yang mengajar mata kuliah yang sama dengan pak Yusuf.
Arif sebelumnya sudah curiga saat melihat wajah dosen muda itu di kampusnya yang tidak asing lagi baginya.
Dan saat dia menyelidiki, ternyata benar bahwa dia adalah kekasih dari istrinya, Aima.
Arif cukup sadar diri sebenarnya. Dan jika dia boleh jujur, dia sebetulnya cukup merasa minder akan dirinya saat ini.
Jangankan pekerjaan, kehidupan keluarganya pun sangat tidak layak di sandingkan dengan Aima.
Aima yang lahir dari keluarga berada, memiliki perusahaan besar, sungguh bagai langit dan bumi.
Dan kini jika dia menjadi pesaing Fatur, sangat jauh pula menurut Arif. Kehidupan Fatur dan Aima tidak jauh berbeda.
Bahkan kini Fatur adalah dosen yang mengajar di kelasnya. Namun dia menguatkan hatinya lagi, karena tidak ada yang lebih berhak dari pada dirinya yang telah sah menjadi suami bagi Aima.
Saat ini Arif hanya bisa menyerahkan sepenuhnya kepada sang penciptanya, tentang hati dan perasaannya pada Aima.
Karena hanya Allah yang dapat membolak balikkan hati hamba-Nya. Soal harta dan nafkah, Arif akan mengupayakan sekuat tenaganya untuk bisa menafkahi dan memberikan yang terbaik untuk istrinya dengan hasil kerja kerasnya.
Itulah tekad dan harapannya.
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG DI NOVEL SAYA INI.. 😇🙏🙏💞💞
__ADS_1
MOHON DUKUNGANNYA TEMAN TEMAN, TERIMA KASIH SEBELIMNYA..🙏🙏🙏💞💞**