
Pertemuan yang di rasa percuma oleh Aima, semakin membuatnya frustasi.
Biar bagaimana pun, kemarahan Fatur adalah sebagian dari kesalahannya juga. Aima tidak sepenuhnya menyalahkan keadaan dan Fatur. Dirinya juga ikut andil di dalamnya.
Karena bagaimana pun, kemarahan Fatur terjadi karena adanya hubungan atas dasar cinta antara mereka berdua yang belum tuntas.
Merasa ketakutan akan terjadi sesuatu antara Fatur dan suaminya, Aima memilih membututi mobil Fatur dari arah belakang.
Beruntung Fatur tidak mengenali mobil yang di kendarai Aima. Sebab kali ini Aima mengendarai mobil Arjun sang asisten di karenakan mobilnya masih berada di bengkel.
Bukan tidak memiliki kendaraan lagi. Mobilnya yang lain sedang berada di garasi rumah kakeknya. Sedangkan jarak antara rumah orang tuanya yang saat ini dia tinggal, cukup jauh dari rumah sang kakek, tempatnya tinggal sejak masa kanak kanak.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah cafe milik Andra, Arif yang terpaksa harus ikut ajakan Andra untuk mengambil sesuatu terlebih dahulu sebelum mereka ke alamat yang dikirim oleh Fatur.
Andra tidak ingin Arif mati konyol disana. Maka dari itu, Andra memilih ikut untuk menemani Arif, sang sahabat jeniusnya itu.
"Gimana, sudah siap..?" Tanya Andra memastikan sang sahabat siap bertarung melawan dosen mereka.
"Harus.." Jawab Arif singkat namun penuh keyakinan.
"Okey, gass.." Ujar Andra sembari memakai helm di kepalanya.
Kali ini Andra sengaja meminta Arif memarkirkan mobilnya di cafe dan mengajaknya memotoran.
Andra masih berharap dalam doa, semoga dia bisa mengulur waktu hingga sore nanti. Sungguh dalam benaknya sangat penasaran akan masalah apa antara dosen dan sahabatnya itu.
Di tengah perjalanan, Andara sengaja mampir di pinggir jalan tepat di depan penjual buah. Dengan alasan sudah lama menginginkan buah tersebut.
"Gak usah makan disini juga kali Ndra.." Ujar Arif yang greget ketika Andra duduk santai sembari menikmati buah yang di belinya itu.
"Tanggung lah bro.. Sini dulu, duduk sini.." Ucap Andra santai membuat Arif mengurut pangkal hidungnya karena pusing dengan dramanya Andra.
"Broo.. Aku sebenarnya mau nanya dari tadi tapi gak berani. Tapi kali ini aku beraniin nanya.." Ujar Andra menatap Arif dengan serius.
"Nanya soal apa..?" Penasaran Arif
"Sebenarnya apa sih masalah kamu sama pak Fatur itu..? Kenapa harus adu fisik segala..? Kan bisa tuh aduh otak.. Secara kamu pintar dan dia dosen..?" Tanya Andra panjang lebar.
"Kalau soal itu aku juga gak tau.. Tapi kalau masalah di antara kami, nanti aja aku ceritain. Panjang ceritanya juga. Yang jelas, pak Fatur itu mantan Aima.." Ucapan Arif membuat Andra terkejut.
"Wahh seru ni.. Pantas saja pak Fatur ngajak duel.. Ternyata masalah hati rupanya.." Ujar Andra bertepuk tangan.
"Aku sih gak masalah.. Tapi dianya yang ngotot.. Kemarin aja dia nonjok muka aku gara gara gak terima.." Ucap Arif kemudian
"Yang bener..? Trus kamu diem aja..?" Penasaran Andra.
"Aku cuma ngelindungi diri aja.. Gak sengaja bikin dia luka.." Jawab Arif sedikit terlihat merasa bersalah.
"Wahh mantap.. Gimana kelanjutannya..?" Andra semakin asik dengan rasa penasarannya.
"Aima marah. Dia bahkan bersikap manis pada mantan bucinnya itu depan aku. Tapi ketika mantannya pergi, Aima baru terlihat khawatir sama aku.." Jelas Arif tanpa ragu berbagi cerita pada sahabatnya itu.
"Wahhh ini sih seru.. Berarti judul aduh boxing kali ini bukan lagi masalah hati. Tapi ganti judul menjadi Dendam nyi pelet.." Ucap Andra dengan gaya tengilnya membuat Arif menyentil jidatnya.
__ADS_1
***
"Sial.. Sial.. Sial.. " Emosi Aima meuncak tatkalah dirinya ketinggalan mobil Fatur tepat dirinya tiba di simpang jalan lampu merah.
"Ahk gps.." Aima baru ingat dirinya pernah mengaktifkan gps di mobil Fatur sewaktu mereka masih sering bersama dulu.
Namun sedetik kemudian, Aima kembali memukul setir mobil dengan kedua telapak tangannya melampiaskan amarahnya tatkala pelacakkannya tak membuahkan hasil.
Setelah lampua merah berubah hijau, Aima menancapkan gas tak sabaran ingin segerah menyusul kemana arah mobil Fatur melaju beberapa menit lalu.
Aima akhirnya menepikan kendaraannya di sisi jalanan sepi dan menetralkan perasaannya. Setelah beberapa menit, Aima kembali melajukan kendaraannya menuju kembali ke kantornya.
Kali ini Aima pasrah. Terlebih ponsel milik sang suami tidak dapat di hubungi. Aima hanya bisa berdoa, semoga keduanya dalam kondisi baik baik saja.
***
Andra kalut saat dosen dan sahabatnya sama sama terkapar akibat kehabisan tenaga setelah beberapa ronde saling baku hantam dengan sengitnya.
Ternyata keduanya sama sama memiliki ke ahlian bela diri. Wajah mereka yang tampan, tak luput dari memar dan lebam dimana mana.
Kali ini mereka memilih pertarungan yang adil dengan menggunakan tempat yang semestinya dengan di awasi orang orang profesional.
Bukan seperti kejadian di kantor Aima beberapa waktu lalu.
Pertarungan kali ini imbang. Tak ada yang kalah atau menang. Membuat Fatur yang masih terkapar di lantai ring semakin di penuhi amarah.
Namun apa daya, tubuhnya tak mampu lagi meneruskan pertarungannya.
"Kuat gak..? Kalau gak kuat, kita naik taksi aja. Motor biar aku titip disini dulu.." Ujar Andra penuh pengertian.
"Gak usah broo.. Kita balik aja pake motor.. Aku gak apa apa kok. Masih bisa.." Ucap Arif tersenyum dalam ringisan sembari memegangi perutnya yang sakit akibat pukulan lawan.
"Ya udah ayo naik.. Pegangan yang erat.." Ucap Andra miris akan kondisi Arif.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya sampai di klinik milik ibunya Andra.
Setelah mendapat perawatan, ibunya Andra memintah Arif untuk opname semalam demi memantau kondisi perutnya yang beberapa kali mendapat serangan keras dari Fatur.
"Ndra, tolong chargerin ponsel ku dong.. Aku harus ngubungi Aima biar dia gak nungguin aku pulang.. Aku mau bilang nginep di rumah kamu ya, ada tugas gitu.. Boleh ya..?" Ujar Arif pada sahabatnya itu.
Andra yang mendengar permintaan Arif mendadak menghembuskan nafas kasarnya.
"Sorry broo.. Telat.. Aima sudah tau.. Tadi anak anak udah ngasih tau Aima pertemuan kamu sama pak Fatur.. " Ucap Andra menatap Arif
"Astagaa.. Gimana ini..? Aima pasti akan marah besar.." Gumam Arif
"Bukan kah dengan begini, Aima jadi tau gimana perjuangan kamu mempertahankan dia..?" Ucap Andra enteng.
Arif hanya menatap sekilas wajah Andra. Perasaannya mendadak tak karuan.
"Pinjemin ponselmu.. Aku mau ngubungin Aima.." Pinta Arif menatap Andra.
__ADS_1
Tanpa pikir lagi, Andra segera memberikan ponselnya pada Arif. Dan tak menunggu lama, Arif pun berhasil menghubungi Aima meski di seberang sana Aima sempat menceramahinya panjang lebar.
Beberapa saat kemudian, karena masih terpengaruh efek obat yang di berikan oleh perawat, Arif pun akhirnya tertidur.
Andra yang juga tahu Aima akan datang menjenguk Arif, memilih pulang terlebih dahulu tanpa menunggunya.
Setidaknya dia tahu bahwa sahabatnya malam ini tak sendiri di klinik ibunya.
Tok.. tok.. tokk..
Suara pintu kamar rawat di ketuk beberapa kali dari arah luar. Arif yang masih di bawah pengaruh obat, tidak berkutik sama sekali.
Hingga akhirnya Aima membuka pintu kamar dan menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Astaga mas Arif.." Aima yang melihat kondisi sang suami, bergegas masuk dan menghampiri sang suami yang terbaring di ranjang pasien.
"Ini kenapa bisa bonyok begini sih..? Nyari urusan sih ihhkk.." Kesal Aima bercampur rasa cemas.
"Mas.. Mas Arif.." Panggil Aima pelan ingin memastikan sang suami baik baik saja meski terlihat luka memar di wajahnya.
Arif yang sedikit terusik, hanya mampu menggeliat. Matanya terasa begitu berat akibat ngantuk.
"Masih bisa bisanya dia tidur dengan kondisi seperti ini.." Gumam Aima
"Aaaak di kasih penenang kali ya sama dokter..?". Batin Aima bermonolog
Sejenak Aima menatap wajah sang suami dengan lekat. Ada rasa ragu saat tangannya terangkat ke udara bermaksud mengelus luka memar di wajah sang suami.
Di ulurkannya kembali niat itu. Ada setumpuk rasa penasaran pada benaknya. Apa yang terjadi sebenarnya sehingga Arif dan Fatur harus bertarung seperti itu.
Jika hanya karena dendam dan cemburu Fatur, lantas kenapa Arif bisa sama persisnya dengan Fatur. Kenapa harus melayani Fatur sedangkan dirinya jelas pemenangnya karena memiliki dirinya secara sah.
"Istrahatlah mas. Cepat sembuh.. Ketika bangun nanti, mas harus lunasi hutang penjelasan sama aku.." Gumam Aima menatap wajah sang suami yang tengah terlelap.
.
BERSAMBUNG..
HAY TEMAN TEMAN..
MAKASIH YA MASIH SETIA HINGGA KE EPISODE KALI INI.. 🙏🙏💖
MOHON DUKUNGANNYA TERUS DENGAN BANTU LIKE DAN VOTE..
TERIMA KASIH SEBELUMNYA.. 🙏🙏💖💖
SELAMAT LEBARAN..
MINAL AIDIN WALFAIDZIN, MAAF LAHIR BATIN.. 🙏🙏😇
__ADS_1