DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
MEMINTA BANTUAN FIKA


__ADS_3

Pukul 5 sore, Aima masih betah berada di rumah sakit. Berbeda dengan bu Ineke yang menemani Aima mengurus semua administra perawtan Arif, sudah pamit pulang pada Aima sebelum besannya datang.


Melihat Aima yang baru saja keluar dari ruang ICU dimana Arif berada, pak Malik mencekal lengan sang istri dan menghentikan langkah mereka dengan tatapan tetap lurus kedepan.


Tatapannya kini beralih pada sang istri dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Aima masih disini ma..?" Tanya pak Malik menatap sang istri.


Tatapan bu Nana yang tadinya menatap sang suami, kini beralih mengikuti arah pandangan sang suami yang tertuju ke depan.


"Seperti yang papa lihat.." Jawab bu Nana pelan.


"Mama fikir Aima sudah pulang.. Ternyata dia masih disini.." bu Nana tak menyangka


Pak Malik akhirnya melanjutkan langkahnya di ikuti oleh bu Nana di belakangnya.


Seperti pak Malik, Aima juga terkejut melihat kedua mertuanya sudah tepat berada di depannya.


"Pah.." Aima mengambil tangan pak Malik dan mencium punggung tangannya.


Bu Nana menatap keduanya secara bergantian. Seolah sedang meneliti raut wajah keduanya yang terlihat sedang menyimpan sesuatu yang terpendam.


"Papa apa kabar..? Maaf pa, aku baru tau kabar mas Arif.. Makanya aku langsung pulang setelah tau.." Tutur Aima pelan.


Aima dapat merasakan aura kekecewaan di raut dan sikap pak Malik kepadanya.


"Alhamdulillah kabar papa baik. Gak apa apa. Yasudah kamu sebaiknya pulang dulu untuk istrahat di rumah. Besok kamu boleh datang lagi.." Ucap pak Malik berusaha bersikap sewajarnya.


Karena biar bagaimana pun, Aima adalah istri dari anaknya. Istri yang saat ini sudah mampu mengisi ruang hati sang anak setelah kepergian Aini, sang kekasih yang di cintainya.


"Tak apa pa. Aku masih mau disini.." Ucap Aima menggeleng pelan seraya menampilkan senyum tipis di bibirnya.


Flashback On


"Mas..? Mas sudah sadar..?" Aima yang sejak tadi menggenggam jemari Arif dan menumpahkan permintaan maafnya, terkejut bukan main saat tangannya di gengggam erat oleh Arif.


"Mas..? Mas, aku panggil dokter ya..?" Aima langsung berlari keluar memanggil dokter untuk memeriksa kondisi sang suami.

__ADS_1


Aima dan dokter beserta 2 petugas medis masuk ke ruang ICU. Namun bukannya raut wajah bahagia yang Aima rasakan, tapi justru kepanikan dan rasa takut.


Sepeninggal Aima, Arif yang tadinya menggenggam tangannya dan sempat membuka mata, ternyata menunjukkan respon yang terbalik.


Dokter dan petugas medis menjadi lebih sibuk setelah Arif mengalami kejang dan penurunan tingkat kesadaran.


"Keluarga pasien..?" Tanya sang dokter setelah pintu masuk di buka dari dalam.


"Saya istrinya dok.." Jawab Aima dengan segera.


"Pasien harus segera di operasi. Ada penggumpalan darah di kepala pasien. Komunikasikan dengan keluarga yang mengurusnya kemarin dan segera temui saya di ruangan saya. Ada yang harus saya jelaskan lebih lanjut mengenai kondisi pasien.." Jelas sang dokter dengan santun.


Bukan tanpa alasan sang dokter menyampaikan demikian. Sebab yang tertulis di administrasi pendaftaran adalah orang tua Arif lah yang sebagai penanggung jawab mengenai perawatan Arif.


"Baiklah dokter.. Nanti saya akan hubungi mertua saya. Tapi bagaimana kondisi suami saya di dalam dok..? Apakah saya boleh masuk dok..?" Ujar Aima dengan ekspresi tak terbaca.


"Pasien sudah kami tangani. Saat ini kondisinya sudah bisa di kunjungi, tapi jangan terlalu lama dulu.." Jawab sang dokter meminta pengertian.


"Baik dok. Terima kasih.." Ucap Aima mengangguk.


"Jika kelurga sudah sepakat, segera temui saya di ruangan saya. Jika tak ada kendala lagi, sore ini operasi pak Arif akan kami lakukan.." Ucap sang dokter sebelum pamit.


Belum juga Aima menyampaikan pesan sang dokter, Aima sudah di kejutkan lagi dengan suara layar monitor tanda vital di ruang ICU.


Beruntung di dalam masih ada satu perawat yang memantau kondisi Arif yang di perintahkan oleh dokter.


Dengan cepat sang dokter kembali berjalan menuju ruang ICU.


Terlihat raut wajah kecemasan pada ketiganya. Terlebih bu Nana. Beliau bahkan sudah menangis di dekapan sang suami.


"Ma, pa, tadi dokter minta papa sama mama menemuinya di ruangannya. Mas Arif harus segera di operasi sore ini. Ada penggumpalan darah di kepala mas Arif.." Ujar Aima menatap keduanya dengan lekat.


Bu Nana semakin terisak disana. Pak Malik pun semakin di landa frustasi. Bahkan biaya perawatan Arif masih belum lunas, kini di tambah lagi dengan biaya operasi.


"Pa, mama gak mau terjadi sesuatu pada Arif pa. Segera temui Fika pa. Hanya itu satu satunya jalan kita saat ini.." Ucap bu Nana putus asa.


Pak Malik mendongak menatap langit langit koridor rumah sakit. Dirinya sendiri masih begitu sulit mengambil keputusan yang mana yang tepat untuk mereka.

__ADS_1


Sementara Aima yang mendengar dengan jelas apa yang terucap oleh mulut bu Nana, membelalakan matanya menatap tak percaya.


"Tadi mama bilang apa ma..? Apa maksud mama meminta papa menemui wanita itu..?" Tanya Aima menahan gejolak di dadanya.


Pak Malik segera sadar akan ucapan sang istri yang kini akan jadi masalah baru.


"Mmm gak ada apa apa nak. Mama cuma salah ucap.." Jawab pak Malik mendahului sang istri yang juga terlihat akan meralat ucapannya.


"Jangan nyembunyiin apa apa dari aku ma, pa.. Aku ini istri mas Arif, menantu kalian.." Ujar Aima tak terima.


"Apa yang mama sama papa sembunyiin dari aku soal mas Arif..?" Desak Aima menuntut jawaban.


Meski gejolak dalam dada Aima kian memburu, Aima tetap menjaga kesopannanya pada mertuanya.


Bu Nana hanya mampu menatap nanar wajah pak Malik. Bibirnya seolah terkunci rapat. Begitupun dengan pak Malik. Tak tahu harus menjelaskan seperti apa pada menantunya itu.


Sedetik kemudian, ruangan ICU di buka dari dslam dan menampakkan wajah sang dokter.


"Pasien harus segera di operasi. Kondisi pasien sudah saya jelaskan sebelumnya. Silakan urus administrasinya agar pasien segera bisa kami tangani.." Ucap sang dokter mendahului sebelum ketiganya bertanya kondisi Arif.


"Pa. Bagaimana ini..?" Keluh bu Nana menghambur di pelukan sang suami.


"Mama sama papa jangan khawatir. Semua biaya rumah sakit, sudah aku tangani. Mama sama papa silakan ke ruangan dokter, biar aku yang akan urus administrasi.." Ucap Aima berlalu tanpa menunggu persetujuan kedua mertuanya.


Bu Nana dan pak Malik hanya saling tatap satu sama lain. Hingga akhirnya pak Malik melangkahkan kakinya menuju ruangan dokter yang menangani sang anak.


Sedangkan Aima sendiri saat ini masih diliputi rasa penasaran dan sakit hati saat mertuanya membahas wanita lain.


Wanita yang Aima sangat kenal baik tujuannya apa. Bahkan Aima melihat Fika sengaja mengambil kesempatan akan situasi yang seolah menyudutkannya.


"Aku tak akan tinggal diam jika dugaanku ternyata benar. Meski aku tidak mencintai mas Arif, tapi aku gak mau di cap sebagai istri yang tak berguna.." Gumam Aima dalam hati.


.


.......


......BERSAMBUNG........

__ADS_1


...Terima kasih atas segalah dukungan dari temab teman semua.. Terima kasih juga karena sudah mampir disini sampai pada episode kali ini.. 🙏🙏💖...


...Mohon dukungannya terus biar lebih semangat lagi UP episode selanjutnya dengan bantu vote, like.. 🙏💖💖💖...


__ADS_2