
"Terima dia dan belajarlah mencintai dia. Karena sekarang dia adalah istri kamu nak.. Papa harap kamu bisa sabar membimbingnya.. Meski dia terlihat dewasa dan mandiri, tapi dia tetaplah gadis yang memiliki sisi manjanya..” Lanjut pak ak Samsul pada Arif
Arif mengangguk mengerti akan maksud ucapan mertuanya itu.
Arif juga sudah membulatkan tekadnya untuk mengarungi rumah tangganya dengan Aima dengan semestinya.
“Istirahatlah, hari sudah malam..” Ucap pak Samsul kemudian.
“Iya pa.. Aku ke kamar dulu pa, ma..” pamit Arif pada mertuanya.
Bu Ineke mengangguk menanggapi.
“Kamar kalian ada di sebelah kamar Aini, naiklah..” Ucap bu Ineke sekedar memberi info
Dan sesampainya di depan pintu kamar Aima, Arif berdiri diam memandangi pintu kamar itu yang masih tertutup rapat.
Beberapa kali dirinya menarik nafas dalam dan menghembuskannya.
Hatinya tiba tiba merindukan Aini. Matanya menoleh kearah kamar Aini dengan tatapan sendu.
Namun kemudian dia kembali memantapkan lagi hatinya berusaha meyakini bahwa dia bisa menjalani kehidupannya yang sekarang dengan istri pilihan kekasihnya.
Arif merai gagang pintu dan memutarnya dengan sangat pelan agar tak mengusik penghuni kamar.
Kakinya perlahan masuk dan menutup kembali pintu kamar. Suasana ruangan kamar yang temaram, terasa begitu nyaman.
Saat melirik kearah ranjang, terlihat Aima sedang tidur dengan posisi menghadap pintu masuk. Terlihat damai wajah istrinya itu.
Arif kemudian melangka ke arah ranjang dan mengambil selimut serta bantal, kemudian tidur di lantai dengan beralaskan Sleeping bag yang dia lihat disana.
Meski Aima tidak menyuruhnya tidur terpisah, namun Arif yang masih merasa canggung, memilih tidur terpisah dengan istri cantiknya itu.
Subuh menjelang, Aima terbangun lebih dahulu. Dia melihat Arif tidur di lantai samping tempat tidurnya dengan lelapnya.
Di pandanginya wajah lelaki asing yang kini telah resmi menjadi suaminya, suami pilihan adiknya itu dengan seksama.
Aima memang tidak dapat memungkiri bahwa fisik Arif begitu sempurna di pandang mata. Namun hatinya tetap saja belum bisa terketuk oleh pesona suami brondongnya itu.
Aima turun perlahan dari ranjangnya dan berjalan melewati Arif menuju kamar mandi.
Ia berniat wudhu dan menunaikan sholat subuh seperti biasa.
Seusai sholat, Aima menghampiri sang suami berniat membangunkannya untuk menunaikan sholat subuhnya.
__ADS_1
Dengan mata yang masih mengantuk, Arif memaksa membuka matanya. Di pandangnya wajah wanita yang baru saja sah menjadi istrinya itu dengan lembut yang berada tepat di depannya.
Terukir senyum di bibirnya, sontak membuat Aima memalingkan pandangannya kearah lain.
Dengan perlahan Arif bangun dan duduk menghadap Aima. Tangannya terangkat mengusap puncak kepala istrinya yang masih berbalut mukena dengan lembut.
“Sudah sholat..? Tanyanya lembut.
Aima menoleh menatap wajah sang suami.
“Sudah.. Cepatlah wudhu, sebentar lagi matahari terbit..”Jawab Aima mengingatkan.
“Ya sudah, aku ke kamar mandi dulu..” Jawab Arif sambil beranjak.
Sementara Arif ke kamar mandi, Aima turun ke dapur mencari sesuatu di kulkas untuk bisa dia makan.
Perutnya terasa lapar karena kemarin ia langsung ke kamar dan tidur setelah ijab qabul selesai. Dia tidak sempat ikut makan bersama keluarganya.
“Pengantin baru pagi-pagi sudah di dapur aja..” Mbok Lala, asisten rumah tangga yang sudah seperti keluarga mereka itu menggoda anak majikannya itu dengan tertawa kecil.
“Astaghfirullah..” Aima terlonjak kaget dengan tangan mengusap dadanya.
“Mbok.. Kaget tau..” Kesal Aima yang di sambut gelak tawa mbok Lala.
“Maaf neng Aima, mbok lupa kalau neng Aima orangnya kagetan..” Ucap mbok Lala masih dengan tawanya.
Ama mencebikan bibirnya menatap mbok Lala dengan kesal.
“Mau nasi goreng gak neng..?” Tanya balik mbok Lala.
“Mmm, boleh deh mbok..” Jawab Aima sambil mengunyah apel di mulutnya.
“Tunggu sebentar ya neng, mbok ambilkan dulu..”. Ucap mbok Lala sambil mengambil nasi goreng di wajan yang baru saja selesai di masak olehnya.
“Dari kapan ni mbok..?” Tanya Aima menatap mok Lala sambil mendekatkan piring yang berisi nasi goreng ke hidungnya dan mengendusnya.
“Ya barulah neng.. Masa mbok kasih makanan yang sudah dari kemarin..” Tutur mbok Lala dengan mulut maju ke depan.
Tanpa bertanya lagi, Aima langsung menyantap nasi goreng buatan mbok Lala dengan lahap. Rasa lapar yang sejak subuh, membuat ia menghabisi nasi goreng dengan porsi yang banyak.
Mbok Lala yang menyaksikan itu mengerutkan keningnya menatap majikan cantiknya itu.
"Neng Aima.. Emangnya semalam lagi bertempur terus ya sampe bisa makan sebanyak itu kayak kehabisan amunisi..?" Tanya mbok Lala sedikit mengecilkan suaranya.
Takut kalau kalau ada yang mendengar dan membuat nona majikannya itu merasa malu.
Aima yang mendapati pertanyaan konyol dari mbok Lala sedikit tersedak. Matanya memerah karena hidungnya sedikit kepedasan.
__ADS_1
Mbok Lala sigap mengambilkan air minum dan memberikannya pada nona nya itu.
"Mbok jangan mikir yang aneh aneh deh mbok.. Aku tuh laper karna gak makan dari kemaren.." Ucap Aima kesal, membuat mbok Lala tertawa lepas.
“Gak takut gemuk neng..?” Tanya mbok Lala lagi.
“Biarin.. Gak peduli lagi sekarang..” Jawab Aima dengan malas.
Mbok Lala hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan majikannya itu.
“Aima..? Mana suami mu..? ” Tanya bu Ineke yang muncul tiba-tiba dari arah ruang tengah, membuat mbok Lala dan Aima terkejut seketika.
“Mbok, siapkan sarapan ya..? ” Pinta bu Ineke pada mbok Lala.
“Iya bu.. Neng, mbok ke belakang dulu ya..” Pamit mbok Lala yang di angguki Aima.
Bu Ineke yang duduk berhadapan dengan Aima menatap anaknya itu dengan senyum simpul. Ternyata tidak mudah untuknya dan suami mengambil hati anaknya itu.
“Aima, sarapan ko gak ngajak suami kamu sayang..? Dimana dia..?” Tanya bu Ineke dengan lembut.
“Di kamar ma.." Jawabnya dengan datar.
"Kok di tinggal sayang..?" Tanya bu Ineke lembut.
"Tadi aku tinggal karna lapar ma..” Elak Aima tak mau nanti disalahkan.
“Sayang, kamu ini udah jadi seorang istri nak.. kamu udah ada kewajiban yang harus kamu lakukan setiap paginya..” Nasehat bu Ineke.
"Tuh kan?" gumam Aima dalam hati.
Aima menyudahi sarapannya dan duduk diam tanpa ingin menatap sang Ibu.
“Mama mohon sayang.. Kasihan suami kamu. Dia masih baru di rumah ini. Dia disini belum terbiasa. Jangan bikin dia merasa asing di rumah istrinya sendiri..” Lanjut bu Ineke menasehati.
Aima hanya diam menundukkan kepalanya. Dia bingung harus bersikap seperti apa. Batinya sedikit membenarkan ucapan sang Ibu.
Dari arah samping, Arif melihat Aima duduk dengan kepala menunduk. Arif menebak bahwa Aima sedang di tegur oleh mertuanya.
Arif merasa tidak tegah melihat wajah sedih sang istri. Dia tahu, sikap Aima yang belum bisa menerimanya dengan baik itulah yang membuat Ibu mertuanya menegurnya.
Arif kemudian melangkah maju menghampiri sang istri dan mertuanya di meja makan tanpa canggung.
“Pagi ma..” Sapa Arif dan sontak membuat bu Ineke menengok kearah Arif.
Tangan Arif terulur mengelus puncak kepala Aima lembut sebelum ia duduk di kursi samping sang istri.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN YANG SUDAH MAMPIR KESINI.. 🙏🙏💞💞
DAN TERIMA KASIH ATAS BENTUK DUKUNGANNYA JUGA.. 😇🙏🙏💞💞**