
Setelah menunggu beberapa menit lamanya, saat Aima tak juga mau menerima amplop yang di berikan oleh ayahnya itu, pak Samsul pun terpaksa meraih tangan sang anak dan memberikan dengan lembut.
" Kalau sudah di baca, dan kamu sudah siap cerita, papa ada di ruang kerja. Papa tunggu disana.." Ujar pak Samsul sembari mengelus puncak kepala putri kesayangannya itu.
Aima tak bergeming. Hati dan pikirannya masih sibuk bercengkrama disana.
Aima menerka, apa karena wanita lain yang tak lain adalah Fika atau karena sikapnya yang terlambat datang disaat suaminya di rawat, yang menjadi pemicunya atau karena ada sebab lain.
Sungguh Aima tersulut emosi saat ini. Harga dirinya merasa di sentil. Tapi bukan berarti dia tidak mengakui kesalahannya yang terlalu cuek dan terkadang dingin pada suaminya.
***
" Alhamdulillah ya pa, sekarang kita bisa jualan disini tanpa harus kehujanan lagi di luar.." Ucap bu Nana ketika mereka selesai menata semua perabotan di ruko yang baru saja mereka beli beberapa waktu lalu.
Sudah sepekan sepasang suami istri itu bolak balik mengambil perabot di rumah mereka yang saat ini sudah terjual untuk di pindahkan ke tempat baru itu.
Hasil penjualan rumah dan hasil kebun yang mereka garap kemarin berhasil terkumpul untuk membeli sebuah ruko yang tidak jauh dari kawasan perkantoran juga masih di kawasan tempat mereka kemarin manjajakan kuliner.
Ruko berlantai dua. Dimana di lantai satu hanya khusus untuk kedai bakso, sedangkan lantai dua terdapat dua kamar dan satu ruang keluarga.
Cukup sederhana memang, tapi nyaman untuk di huni.
" Iya ma, Alhamdulillah. Maaf kalau papa belum bisa memberikan yang terbaik.." Ucap pak Malik tersenyum simpul.
" Ini sudah lebih dari cukup pa. Mama juga senang karena mama akhirnya bisa membantu papa disini. Kalau kemarin kemarin mama hanya di rumah menyiapkan bahan untuk esoknya dan papa sama Arif sibuk jualan di luar.." Ucap bu Nana tersenyum.
" Iya ma. Semoga Allah melimpahkan rejeki kita ya ma. Agar papa bisa membantu Arif nanti.." Ucap pak Malik mengelus lengan sang istri yang tersenyum menatapnya.
" Aamiin Allahuma Aamiin.." Timpal bu Nana mengaminkan doa sang suami.
Dia pun berharap demikian. Agar sang anak tidak merasa kecil hati karena belum mampu membeli rumah untuknya dan sang istri.
Sebetulnya pak Samsul dan bu Nana tidak berniat untuk menjual rumah dan pindah ke tempat mereka saat ini.
Hanya saja sewaktu Arif di rawat dan membutuhkan biaya lumayan banyak, membuat pak Malik dan bu Nana terpaksa mengiklankan rumah mereka untuk di jual.
Aima datang dan melunasi semua biaya rumah sakit dan perawatan lanjutan Arif, ketika rumah mereka sudah ada pembeli dan sudah di sepakati dengan bukti hitam di atas putih.
Karena kesepakatan tersebut sudah terlanjur di tanda tangani, uang pun sudah di terima pada saat itu, maka mau tidak mau mereka segera mencari tempat baru.
Beruntung mereka mendapatkan tempat yang cocok untuk kondisi mereka saat ini.
" Ma, pa, Arif keluar dulu ya sebentar..?" Ucap Arif menghampiri kedua orang tuanya yang sedang asik bercengkrama.
" Mau kemana nak..? Kamu masih dalam pemulihan loh.." Ucap bu Nana khawatir.
" Ini pake jacket, pake topi juga, aman ma. Aku ada keperluan sebentar sama teman, gak lama.. Jam 5 aku pulang.." Ucap Arif memastikan dirinya baik baik saja hingga tak membuat sang ibu cemas.
" Jangan pake motor ah. Mama gak izinkan.." Cemas bu Nana.
__ADS_1
" Aku di jemput ma. Tuh di depan.." Tunjuk Arif pada sebuah mobil mewah di seberang jalan.
Pandangan kedua orang tuanya spontan mengikuti arah telunjuk Arif. Sejenak kemudian pak Malik dan bu Nana saling melirik dengan kening mengkerut.
Melihat reaksi kedua orang tuanya, Arif paham apa yang ada di benak mereka.
" Itu Andra, teman kuliah aku. Kami ada bisnis sebuah proyek di perusahaan ayahnya. Doakan semoga semuanya lancar, biar kita bisa punya rumah lagi.." Ucap Arif tersenyum lebar.
" Tapi nak, mama khawatir jika kamu terlibat yang macam macam nantinya.." Ucap bu Nana khawatir.
Sebab bu Nana bukan hanya sekali dua kali membaca sebuah berita tentang dunia bisnis. Dimana para CEO perusahaan saling menyerang satu sama lain karena persaingan.
" Mam tenang aja. Pasti aman kok.." Jawab Arif meyakinkan.
"Yasudah, kamu hati hati di jalan. Ingat kesehatan kamu dan cepat pulang jika audah selesai.." Ucap pak Malik menimpali.
Arif pun mengangguk serambi meraih tangan keduanya untuk di salim sebelum keluar.
***
"Nak, jam segini kamu kok sudah pulang..? Kamu sakit..? " Tanya bu Ineke ketika melihat Aima dengan wajah lesunya di meja makan.
Aima yang terkejut karena sedang fokus melamun, sontak menatap wajah sang ibu dan dengan cepat merubah mimik wajahnya menjadi ceria.
"Gak ma. Kerjaan hari ini gak begitu banyak. Ada Fatir juga yang menghandle, jadi aku bisa pulang cepat.." Ucap Aima tersenyum.
" Oh gitu. Kamu sudah makan? Mama ada salad buah di kulkas, ambilah kalau mau.." Tawar sang ibu tersenyum.
Bu Ineke menaruh curiga pada gelagat putrinya tersebut yang tidak biasanya. Dengan langka pelan, bu Ineke akhirnya memilih menyusul sang anak di kamarnya.
Dan tanpa mengetuk pintu, bu Ineke mendorong pintu kamar yang tidak terkunci dengan sempurna.
Bukannya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya seperti yang Aima katakan tadi, Aima justru berbaring dan menarik selimutnya untuk menutupi sebagian tubuhnya.
" Aima..?" Panggil bu Ineke menghampiri.
Aima yang mendengar ibunya menghampiri, tak kuasa menahan air matanya. Ingin rasanya dia mengadu. Tapi bibirnya seolah keluh.
Aima akhirnya hanya bisa menangis dalam diam. Memilih diam dan menyimpannya untuk saat ini.
***
Setelah tiga hari berlalu, bisnis yang di janjikan oleh pak Roy pada anaknya Andra untuk di kelola bersama Arif yang saat di interview olehnya, sangat memenuhi kriteria yang di harapkan pak Roy untuk menangani bisnis tersebut.
Untuk itulah Andra dan Arif mulai mempersiapkan segala sesuatunya sesuai bimbingan dan arahan pak Roy.
Andra yang tadinya tidak suka dengan dunia bisnis yang di geluti oleh ayahnya, mendadak menerima tawaran sang ayah dengan syarat yaitu dia bebas mencari asisten untuknya.
__ADS_1
Maka sebab itulah Arif kini bisa berada di perusahaan milik keluarga sahabatnya itu dengan posisi yang cukup menjanjikan masa depannya.
Sedangkan Andra sendiri, lebih memilih menjalankan cafenya. Kecintaanya pada musik yang sempat di tentang oleh ayahnya, membuat dia mendirikan cafe dengan rentetan alat musik dan dirinya sebagai vocalis disana serambi memantau kinerja para karyawannya.
Tentu saja hal tersebut tanpa sepengetahuan ayahnya. Dan dengan adanya Arif, Andra merasa posisinya aman terkendali.
Arif yang menjalankan semua urusan perusahaan yang di percayakan oleh ayahnya, dan dirinya hanya cukup menerima laporan.
Dengan kejeniusan Arif yang di ketahui Andra sejak semasa kuliah, dia yakin Arif mampu dan amanah tentunya.
Dan tepatnya di siang ini, pak Roy memberikan sebuah berkas yang sudah di sepakati bersama pemilik perusahaan AK Gemilang untuk di tanda tangani oleh Andra sebagai penanggung jawab kerja sama tersebut.
Arif yang tidak mengetahui nama CEO perusahaan yang di maksud, hanya berusaha menerima perintah dan segera menghubungi sahabatnya tersebut tanpa membuka isi map yang berada di tangannya.
" Yasudah biar aku saja yang kesana sekarang.." Ucap Arif pada Andra lewat telepon.
Arif pun tak menunggu lama dan bergegas menuju kafe Andra untuk menemui sahabatnya itu.
Tak butuh waktu lama, Arif yang sudah berada di kafe Andra, bergegas menemui sahabatnya itu setelah Andra selesai melantunkan lagu untuk pengunjung seperti biasa.
" Ini buruan tanda tangan. Bokap kamu udah menunggu.. Aku gak punya banyak waktu.." Ucap Arif menyodorkan map di depan Andra.
"Weiss sabar dong bro. Baru juga nyampe, buru buru aja. Makan dulu kek.." Ujar Andra dengan gaya menyebalkannya seperti biasa.
" Masalahnya bokap situ lagi nunggu ini sekarang.." Kesal Arif yang merasa di terdesak.
Dengan kesal pula, Andra pun akhirnya membubuhkan tanda tangan disana.
Dan saat melihat isi berkas tersebut, tanpa sengaja mata Arif melihat nama pemilik perusahaan AK Gemilang terpampang nyata disana.
Gejolak di dadanya kian memburu. Andra yang sejak tadi memperhatikan Arif, tersenyum kecil sembari menutup map dan menyerahkannya kembali pada Arif.
" Silakan kembali sebelum singa marah karena menunggu terlalu lama.." Ucap Andra mengetuk ngetukkan jarinya di meja menatap Arif.
Arif tersentak akan lamunannya. Ada banyak pertanyaan yang tiba tiba muncul di benaknya begitu saja. Namun dia urungkan kembali.
Tanpa menunggu lama, Arif pun pamit kembali ke kantor dengan segera.
" Melihat gelagat Andra, aku yakin dia sudah tau soal pemilik perusahaan itu. Apa sebenarnya tujuan Andra.. Aku yakin ada maksud tertentu kenapa dia menawarkan pekerjaan ini kemarin.." Batin Arif bermonolog.
.
.
......BERSAMBUNG........
...Terima Kasih sudah mampir di episode kali ini.. 🙏🙏...
...Mohon dukungannya terus, hingga akhir episode nanti ya teman teman.. 😊😊🙏🙏💖...
__ADS_1
Jangan lupa like, and vote nya, Terima kasih.. 🙏💖