
Dengan gagap mbok Lala mencoba menjelaskan kronologi yang sesungguhnya.
Aima dengan tatapan datar dan sikap santainya dengan bersedekap dada, menatap mbok Lala yang semakin di landa cemas.
"Sayang. Mbok Lala benar. Tadi gak gitu. Aku benar benar gak tau kalau itu mbok Lala. Aku terbawa suasana mimpi.." Imbuh Arif
Aima masih saja dengan sikap santainya seolah tak tertarik dengan penjelasan kedua insan yang berada di depannya.
Arif memilih diam. Sedikit Arif sudah mulai paham sifat Aima. Jika menjelaskan tak mampu merubah keadaan, diam lebih baik.
Setelah keheningan beberapa saat ketika mbok Lala kehabisan kata lagi, Aima mengambil kembali gelas yang berisi ramuan di tangan sang asisten.
Mbok Lala tersentak dan mendongak menatap Aima yang lebih tinggi darinya.
"Sudah..? sudah selesai penjelasannya..?" Tanya Aima datar.
Mbok Lala cemberut kesal. Kali ini dia memilih terserah akan sikap nona mudanya itu.
"Mas, ni buruan minum sebelum dingin.." Ucap Aima memberikan segelas ramuan pada Arif.
Tanpa kata dan penolakan, Arif meraih gelas di tangan Aima dan meneguknya hingga tandas.
"Mbok, aku laper mau acar.. Bikinin ya..? Sama salad buah juga.." Tutur Aima manja pada sang asisten.
Mata mbok Lala membulat sempurna mendengar nada manja nona mudanya dengan segala permintaannya.
Aima tahu apa yang ada di pikiran asistennya itu. Begitu juga sang suami yang menatapnya dengan tatapan bingung.
Namun dia memilih tak peduli. Karena sesungguhnya dia hanyalah sedikit bermain main dengan kedua manusia itu. Kapan lagi dia bisa mengerjai keduanya jika bukan karena kebetulan itu.
"Mas mau makan apa..? Selingkuhan mas mau kok masakin mas.. Iyakan mbok..? Ya iyalah masa nggak.." Ujar Aima tersenyum menatap keduanya secara bergantian.
"Ngaco kamu ahk.. Aku mau istrahat. Aku gak mau ikut campur urusan kalian.." Ucap Arif terlanjur kesal.
"Ya udah mbok Lala, masakin yang aku minta tadi aja.. Makasih sebelumnya.." Ucap Aima yang langsung di angguki mbok Lala.
"Permisi ya non.." Pamit mbok Lala
Setelah pintu kamar di tutup kembali oleh mbok Lala, Aima kembali fokus pada suaminya yang berbaring di ranjang.
Aima memilih duduk di tepi ranjang samping suaminya. Tangannya terulur mengecek suhu badan sang suami dengan punggung tangannya.
"Udah gak hangat. Udah sembuh ya karena pelukan..?" Ucap Aima menatap mata sang suami.
Arif mendesah. Dia memilih diam tak menanggapi celotehan Aima.
__ADS_1
Aima yang gemas melihat ekspresi diam Arif, melabuhkan kecupan hangat di pipi kanannya.
Perlakuan Aima itu tentu saja membuat jantung Arif berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
"Jangan menggodaku. Aku lelaki normal. Meski kondisi aku kurang fit, aku bisa menerkammu tanpa ampun.." Tutur Arif menatap datar wajah Aima.
Aima tersenyum menanggapi Arif. Belum puas rasanya mengerjai suaminya hingga benar benar kesal.
"Jalan aja sempoyongan.." Ledek Aima yang kembali melabuhkan kecupan.
Arif yang greget, sontak melingkarkan kedua tangannya di leher Aima dan mendekapnya erat.
Aima yang merasa dekapan Arif begitu kencang, menjerit sembari menepuk nepuk lengan sang suami memohon di lepaskan.
Tak mau Aima lepas begitu saja, Arif menggulingkan tubuh Aima hingga posisi berbalik.
"Lepas mas. Awas ihk.." Dorong Aima mencoba meloloskan diri.
Arif menangkap kedua tangan Aima dan menguncinya ke atas kepalanya.
"Masih berani bermain main dengan ku..? Masih mau mengusik macam yang sedang tidur..?" Ujar Arif menyeringai menang.
Aima yang tadinya seperti cacing kepanasan, kini memilih diam menatap wajah sang suami. Otaknya terus bekerja mencari cara untuk membalas sang suami.
"Mas.. Sakit.. Tangan aku sakit mas.. Tega kamu ihk.." Rengek Aima manja.
Mata Arif terangkat menatap tangan sang istri yang di kunci olehnya. Memang terlihat cengkraman Arif cukup kuat akibat Aima yang tadinya terus mencoba meloloskan diri.
Jantung Aima mendadak tak aman. Sejujurnya dia takut Arif benar benar membuktikan omongannya.
"Mas.."
Baru saj Aima hendak memohon di lepaskan, ucapannya sudah terpotong dengan kecupan Arir yang tepat di bibir tipisnya.
Mata Aima membelalak tak percaya. Aima mencoba menghindari ciuman Arif dengan memalingkan wajahnya ke samping, Namun Arif terus memburunya hingga Aima menjerit dengan menutup rapat bibirnya.
Bukannya berhenti, Arif justru terpancing oleh ulah mereka sendiri yang awalnya hanya saling membalas kejahilan yang di mulai oleh Aima.
Aima yang mulai kelelahan, perlahan melemah namun tetap berusaha menghindar. Arif mengangkat kepalanya sembari terus menatap wajah sang istri.
"Nyerah..? Makanya jangan usil.." Ucap Arif menatap Aima dengan senyum manisnya.
Aima tak menyahut. Dia masih lelah karena ulah suaminya. Namun sedetik kemudian, ketika dirinya lengah saat mengatur nafas, bibir Arif kembali menempel indah tepat di bibirnya.
Tak ingin membuang kesempatan, Arif memperdalam kecupannya menjadi sebuah ciuman hangat.
Entah setan apa yang mempengaruhi pikiran Aima. Sehingga dirinya memilih diam dengan apa yang di lakukan oleh suaminya.
__ADS_1
Sadar akan ulahnya, Arif menghentikan pangutannya pada bibir sang istri.
Melihat tatapan mata Aima yang tak tertebak antara marah atau pasrah, Arif melepaskan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan sang istri sembari bangkit.
"Maaf.. Aku gak bermaksud.." Sesalnya setelah duduk di samping Aima yang masih terbaring.
Aima perlahan bangun dan menyesuaikan posisi duduknya dengan suaminya. Aima meremas ujung bantal dalam pelukannya untuk menetralkan perasaannya.
"Kamu gak tahan karena nafsu..?" Tanya Aima tanpa di duga.
Arif menatap wajah Aima. Bingung harus menjawab apa.
Tangan Aima terangkat mengelus pipi sang suami dengan senyum tipisnya.
"Aku bukannya tak sudi kamu sentuh. Tapi aku belum siap melakukannya. Beri aku waktu. Aku yakin jika sudah saatnya, semua akan terasa indah jika kita melakukannya dengan hati, bukan semata karena nafsu belaka.." Tutur Aima bijak
Arif tersenyum mengangguk setuju dengan pemikiran Aima. Di kecupnya kening sang istri sembari mengucapkan kata maaf.
***
Saat Aima sedang menyantap salad buatan sang asisten sembari menonton acara tv kesukaannya di ruang tengah, dirinya di kejutkan dengan kehadiran seorang gadis seksi berparas cukup ayu.
"Siapa mbok..?" Tanya Aima menatap sang tamu dan sang asisten bergantian.
"Katanya teman aden non.." Jawab mbok Lala sedikit berbisik.
Mata Aima menelisik sosok yang kini sedang berdiri tak jauh darinya berada. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum tanpa menyapa sang empuh rumah.
"Yasudah tolong mbok panggilan mas Arif di kamar.." Ucap Aima pada mbok Lala
"Silakan duduk dulu. Mas Arifnya lagi di panggil dulu.." tutur Aima sopan.
"Iya terima kasih.." Jawab sang tamu dengan sopan.
"Cantik dan kaya. Pantas saja kak Arif tergoda. Tapi jangan senang dulu, aku gak akan tinggal diam.. Kak Arif sejak dulu hanya milikku.."
.
.
.
.
BERSAMBUNG..
__ADS_1
Terima kasih atas segalah dukungan dari temab teman semua.. Terima kasih juga karena sudah mampir disini sampai pada episode kali ini.. 🙏🙏💖
Mohon dukungannya terus biar lebih semangat lagi UP episode selanjutnya dengan bantu vote, like.. 🙏💖💖💖